Home > AQIDAH >

September 30, 2010 Leave a comment Go to comments

Bersikap Baik Kepada Siapapun Dalam Berdakwah

Oleh :  Nafi’ al-Faruq

 Pendahuluan

Banyak jalan menuju Roma demikianlah kata pepatah, namun jalan menuju kesuksesan dalam berdakwah adalah dengan bercermin kpada jalan dakwah Rasulullah saw. Dakwah ke jalan Alloh Ta’ala merupakan ketaatan yang paling mulia dan qurobah (pendekatan diri/ibadah) yang paling agung. Dakwah merupakan seutama-utama pergerakan yang mengarahkan semangat yang tinggi dan kemauan yang kuat, sebagaimana firman Alloh Ta’ala :

ô`tBur ß`|¡ômr& Zwöqs% `£JÏiB !%tæyŠ ’n<Î) «!$# Ÿ@ÏJtãur $[sÎ=»|¹ tA$s%ur ÓÍ_¯RÎ) z`ÏB tûüÏJÎ=ó¡ßJø9$# ÇÌÌÈ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS Fushshilat : 33).

Alloh pun  telah menyediakan bagi (orang yang) berdakwah, ganjaran yang besar dan pahala yang berlimpah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه دون أن ينقص من أجورهم شيء

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya tersebut sedikitpun.” (HR Muslim).

Berdakwah ke jalan Alloh merupakan jalannya para nabi dan rasul, dan jalannya orang-orang yang mengikuti mereka dari para ulama dan para du’at yang mushlihin (reformis/melakukan perbaikan). Alloh Azza wa Jalla bahkan telah memilih makhluk pilihan-Nya untuk berdakwah, yang Alloh sifati sebagai makhluk-Nya yang paling mulia serta nabi dan rasul-Nya yang paling utama, yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam, di dalam firman-Nya :

$·ŠÏã#yŠur ’n<Î) «!$# ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ %[`#uŽÅ ur #ZŽÏY•B ÇÍÏÈ

“Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (QS al-Ahzab : 46)

Wajib bagi para da’i yang berdakwah di jalan Alloh, agar berhias dengan adab-adab yang dapat menghantarkan dakwahnya kepada kesuksesan, dan diantara adab-adab tersebut trcermin dari pelajaran yang dapat diambil dari hadits Rasulullah:

أن اليهود دخلوا على النبى -صلى الله عليه وسلم- فقالوا: السام عليك. فلعنتهم. فقال: ما لك؟ قلت: أوَلَمْ تسمعْ ما قالوا؟ قال: فلم تسمعى ما قُلتُ : وعليك

Dari Aisyah ra mengabarkan bahwa:

Sekumpulan yahudi mendatangi  Rasulullah kemudian mereka mengatakan kepada Rasulullah:”kehinaan atasmu, maka aku (‘Aisyah) melaknat  mereka kemudian Rasulullah bertanya kepadaku apa untuknya bagimu?,aku (Aisyah) pun  bertanya kepada Rasulullah :”Apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka ucapkan wahai Rasulullah? Rasulullah balik bertanya: “Apakah engkau tidak mendengar aku mengatakan “Dan atas kalian”[1]

وفى رواية: «… فقالت عائشة: عليكم ولعنكم الله وغضب الله عليكم. قال: مهلا يا عائشة ، عليك بالرفق، وإياك والعنف والفحش. قالت: أولم تسمع ما قالوا ؟ قال: أولم تسمعى ما قلت؟ رددت عليهم ، فَيُستجاب لى فيهم، ولا يستجاب لهم في.

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Aisyah mengatakan kepada orang yahudi tersebut atas kalian laaknat dan kemarahan Allah, maka Rasulullah berkata kepada Aisyah:”Hati-hati wahai Aisyah, hendaklah engkau berlaku baik dan janganlah kamu berlaku bengis dan jahat” maka Aisyah mengatakan:”Apakah engkau tidak mendengar perkataan mereka?” Rasulullah bertanya :”Apakah engakau tidak mendengar perkataanku? Aku telah menjawab perkataan mereka, sungguh perkataanku telah mengenai mereka dan tidak demikan halnya dengan perkataan mereka.

Pembahasan hadits

Hadits diatas juga dikeluarkan oleh bukhory dalam “al-Adabul mufrad” dengan nomor hadits 311 dari jalur Muhammad bin Salam,sementara dalam musnad Imam Malik  Aisyah menambahkan kalimat السام عليكم يا إخوان القردة والخنازير ولعنة الله وغضبه.

السام yaitu kematian, kehancuran

فلعنتهم yaitu perkataan Aisyah yang melaknati mereka (orang Yahudi) karena ucapannya yang mencela Rasulullah[2]

Hadits ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh berlebihan dalam memperlakukan orang-orang Yahudi selama mereka tidak menyakiti kita.

Pelajaran yang dapat kita ambil dari hadits di atas ditinjau dari sisi dakwah adalah:

  1. Permasalahan penting yang harus diperhatikan dalam berda’wah adalah, mengajak objek dakwah dengan lemah lembut baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Hal ini sebabagaimana yang  dilakukan oleh Rasulullah ketika orang  Yahudi mengatakan kepada beliau “kecelakaan atasmu” maka jawab beliau:”dan Atas kalian” beliau hanya mengembalikan celaannya tanpa menambahkan celaan yang lainnya. Hal ini juga seperti   yang Allah perintahkan kepada Musa dan Harun:

!$t6ydøŒ$# 4’n<Î) tböqtãöÏù ¼çm¯RÎ) 4ÓxösÛ ÇÍÌÈ Ÿwqà)sù ¼çms9 Zwöqs% $YYÍh‹©9 ¼ã&©#yè©9 ㍩.x‹tFtƒ ÷rr& 4Óy´øƒs† ÇÍÍÈ

Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, Sesungguhnya dia Telah melampaui batas;

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Toha:43-44)

Berdasarkan ayat diatas, Allah telah memerintahkan kepada Musa dan Harun agar berbicara kepada Fir’aun dengan lemah lembut. Ikrimah mengatakan makna dari “قولا لينا” adalah kalimat tauhid, sementara Sufyan Atsaury meriwayatkan bahwa makna kalimat tersebut adalah dengan menggunakan “kun-yah”[3]

  1. Penjelasan sifat-sifat yang harus dimiliki seorang da’I diantranya; ramah tamah, al-Hilm (sabar dan murah hati), pemaaf,

“Hilm” adalah Sabar dan murah hati, ini merupakan sifat yang agung nan mulia, sebagai buktinya adalah apa yang dicontohkan Rasulullah, beliau tidak marah sama sekali ketika orang-orang Yahudi mengatakan kepada beliau “kecelakaan bagimu”.  Allah telah memerintahkan kepada kita agar bersikap seperti ini dalam firman-Nya:

“Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”. (Al-A’rof: 199)

Ayat diatas adalah perintah agar kita berprilaku dan berperanga baik terhadap orang lain, Dan seorang da’I juga harus bisa menahan dirinya ketika marah, tentu hal ini akan memerlukan usaha keras dan kesabaran yang tinggi. Kemarahannya tidak ia luapkan keculi jika emang sangat diperlukan.

Apa yang terjadi pada Rasulullah seakan Rasulullah benar-benar membebaskan orang Yahudi yang telah mencelanya dan memaafkan begitu saja. Namun hakikatnya jika ada orang Yahudi atau orang kafir mencela Rasulullah maka berarti batal ikatan perjanjian antara kaum muslimin dengannya dan hendaklah ia diperangi setelah sebelumnya ditawarkan kepadanya untuk masuk Islam, jika dia menolak maka diperangi, dan jika dia menirama maka Alhamdulillah.

Sementara jika yang melakukannya adalah orang muslim maka langsung diperangi karena hal itu sangat berbahaya. Maka dari itu ia harus dubunuh, masalah dia mau bertaubat (mengakui kesalahannya) ataupun tidak itu diserahkan kepada Allah. Jika dia bertaubat dengan sungguh-sungguh maka Allah akan menerima taubaatnya, namun pengakuan dan taubatnya tidaklah menjadi alasan baginya di dunia untuk tidak dibunuh.

Sabar merupakan penopang yang paling kuat bagi seorang da’i yang sukses. Seorang da’i itu membutuhkan kesabaran sebelum, ketika dan setelah berdakwah. Dengan inilah Alloh memerintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, Ia berfirman :

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُوْلُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ

“Bersabarlah kamu sebagaimana bersabarnya ulul azmi dari para rasul.”

Sabar di dalam dakwah kedudukannya bagaikan kepala terhadap jasad. Maka tidak ada dakwah bagi orang yang tidak memiliki kesabaran sebagaimana tidak ada jasad bagi orang yang tidak memiliki kepala.

Seorang da’i haruslah bisa bersabar atas dakwahnya dan terhadap apa yang ia dakwahkan, karena dakwah ke jalan Alloh adalah jalan yang dipenuhi dengan kesukaran-kesukaran dan kesulitan-kesulitan. Seorang da’i, ia pasti akan menghadapi berbagai bentuk gangguan, hinaan dan cercaan, apabila ia sabar terhadapnya, maka ia adalah seorang imam yang patut diteladani, Alloh Ta’ala berfirman :

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” (QS as-Sajdah : 24)

Telah ada pada kekasih kita Shallallahu ‘alaihi wa Sallam uswah hasanah (panutan yang baik) bagi diri kita, beliau telah melangsungkan dakwahnya selama 23 tahun, berdakwah menyeru kepada Alloh siang dan malam, secara diam-diam maupun terang-terangan. Namun, tidak ada satupun yang dapat memalingkan beliau dari dakwahnya dan tidak ada pula yang dapat mengehentikan upaya beliau.

Beliau mendapatkan berbagai kesulitan dan gangguan dari kaumnya, sampai-sampai gigi seri beliau patah dan pipi beliau terluka serta pedang telah dihunuskan pada dada beliau, namun beliau tetap bersabar dengan kesabaran yang belum pernah nabi sebelum beliau mengalaminya. Beliau senantiasa menyebarkan agama Alloh dan menegakkan jihad terhadap musuh-musuh Alloh, bersabar atas segala gangguan yang menimpa beliau, sehingga Alloh kokohkan kedudukan beliau di bumi dan Alloh menangkan agama beliau dari semua agama serta Alloh menangkan umat beliau dari seluruh ummat.

  1. Beberapa adab yang harus diterapkan seorang da’I; menyebarkan salam bagi sesama muslim, dan jika orang kafir yang mengucapkan salam kepadanya maka ia menjawab dengan  (وعليكم), menjaga lisan dalam bertutur kata, menjaga diri dari prilaku buruk, menjauhkan diri dari kebodohan dan orang yang bodoh,

Bergaul dengan orang bodoh tidak akan banyak mendatangkan manfaat, namun menghindar darinya akan lebih menjaga muru’ah,  Maka dari itu lebih baik kita tinggalkan mereka jika duduk atau bergaulnya kita bersama mereka justru akan menimbulkan banyak madhorot. [4]

Allah berfiman:

y7Í´¯»s9’ré& tböqs?÷sムNèdtô_r& Èû÷üs?§¨B $yJÎ/ (#rçŽy9|¹ tbrâäu‘ô‰tƒur ÏpuZ|¡ysø9$$Î/ spy¥ÍhŠ¡¡9$# $£JÏBur öNßg»uZø%y—u‘ šcqà)ÏÿYムÇÎÍÈ #sŒÎ)ur (#qãèÏJy™ uqøó¯=9$# (#qàÊtôãr& çm÷Ztã (#qä9$s%ur !$uZs9 $oYè=»uHùår& öNä3s9ur ö/ä3è=»uHùår& íN»n=y™ öNä3ø‹n=tæ Ÿw ÓÈötFö;tR tûüÎ=Îg»pgø:$# ÇÎÎÈ

Mereka itu diberi pahala dua kali  disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang Telah kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan.

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”.(Al-Qoshos 54-55)

ߊ$t7Ïãur Ç`»uH÷q§9$# šúïÏ%©!$# tbqà±ôJtƒ ’n?tã ÇÚö‘F{$# $ZRöqyd #sŒÎ)ur ãNßgt6sÛ%s{ šcqè=Îg»yfø9$# (#qä9$s% $VJ»n=y™ ÇÏÌÈ

63.  Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (QS. Al-Furqan:63)

Ini adalah sifat orang-orang yang beriman, yang berjalan daiatas muka bumi penuh dengan kewibawaan, tanpa otoriter dan tidak menyombongkan diri. Hal ini senada dengan firman Allah :

Ÿwur öÏiè|Áè? š‚£‰s{ Ĩ$¨Z=Ï9 Ÿwur Ä·ôJs? ’Îû ÇÚö‘F{$# $·mttB ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä† ¨@ä. 5A$tFøƒèC 9‘qã‚sù ÇÊÑÈ

18.  Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Luqman:18)

Abdullah bin Mubarak berkata dari hasan Al-Bashri tentang “Ibadurrahman” :”sesungguhnya orang-orang yang berriman adalah kaum yang merendahkan diri. Pendengaran, pengelihatan dan anggota tubuh mereka sederhana, sampai orang-orang jahil menyangka bahwa mereka orang-orang sakit, padahal diantara mereka tidak ada yang terkena penyakit.[5]

Sesungguhnya orang yang tidak merasa mulia dengan kemulian Allah niscaya jiwanya akan terputus akan kehidupan dengan kerugian.

Makna dari:

#sŒÎ)ur ãNßgt6sÛ%s{ šcqè=Îg»yfø9$# (#qä9$s% $VJ»n=y™

“dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan”

yaitu jika orang-orang jahil mengumpat mereka dengan ucapan yang buruk mereka tidak membalasnya dengan ucapan buruk pula, akan tetapi mereka memaafkan, membiarkan dan tidak membalas melainkan dengan perkataan yang baik.[6]

Demikianlah modal yang harus dimiliki oleh seorang da’I, karena ia juga merupakan ibadurrahman yang mnjadi contoh bagi umat.

  1. Siap menghadapi objek da’wah dalam segala aspek

Kesiapan seeorang da’I dalam menghadapi mad’u (objek da’wah) juga akan sangat menetukan pada kesuksesan dakwahnya, sering kali seorang da’I merasa minder menghadapi mad’u yang mungkin memiliki derajat yang lebih tinggi dari sisi ilmu, iman atau lebih tua umurnya. Maka dari itu seyogyanya seorang da’I memiliki materi yang telah benar-benar matang yang bisa dihidangkan kepada semua kalangan (Muda,Tua, Laki, perempuan dll)

  1. Diantara metode da’wah adalah dengan “bisyaroh” memberikan kabar gembira.

Ummumnya manusia lebih senang diajak atau disuruh dengan  diberikan janji dari amalannya jika ia mau menuruti ajakannya. Oleh sebab itulah berdakwah dengan memberikan kabar gembira akan membuat mad’u ataupun objek dakwah menjadi tertarik dan terikat.

  1. Penjelasan bahwa mad’u kita bukan hanya orang muslim namu juga orang yahudi dengan segala keburukan akhlaknya.

Maka terhadap orang Yahudi yang suka mentahrifkan ayat Allah dan menyembunyikan serta menolak kebenaran ada lima metode untuk menyampaikan hujjah kepada mereka:

Jelaskan kepada mereka dengan dalil baik Akli maupun naqli bahwa Islam telah menghapuskan syari’at-syari’at terdahulu.

Manjelaskan adanya tahrif pada taurot.

Menguatkan pengakuan ulama-ulama Yahudi tentang kebenaran Islam.

Menguatkan risalah yang dibawa oleh Isa as.

Memberikan dalil naqli, aqli maupun bukti yang menguatkan kerasulan Muhammad saw.

Penutup

Jika setiap detail dari jalan dakwah, metode, dan segala aspek yang berkaitan dengan dakwah telah kita kuasai dan kita kukuhkan niatan kita insyaallah dakwah ini akan mmeperoleh hasil yang maksimal.

Referensi :

  1. Al-Quran al-Karim
  2. Tafsir Ibnu Katsir
  3. Shohih Bukhori
  4. Musnad imam malik
  5. Al-Adabul mufrod

Fiqhudda’wah fi shohih Imam al-Bukhori


[1] Muhammad bin Isma’il Abu Abdullah al-bukhori, Al-Jami’ As-Shohih al-Bukhori, Beirut, Daar Ibnu Katsir, cet. Ke-3,  th.1407H/1987M, juz III, hal. 1073

[2] Muhammad bin Isma’il Abu Abdullah al-Bukhori, Al-Jami’ As-Shohih al-bukhori, Beirut, Daar Ibnu Katsir, cet. Ke-III th.1407H/1987M, juz III, hal. 1073

[3] Ibnu katsir Tafsir al-quran Al-Adzim, Riyadh, Darussalam, cet. Ke-II, Th. 1418H/1998M, jilid 2, hal. 208

[4] Sa’id bin Ali bin Wahab al-Qohtony, Fiqhudda’wah fi shohih imam Al-Bukhori, jilid II, hal. 266

[5] Ibnu katsir Tafsir al-quran Al-Adzim, Riyadh, Darussalam, cet. Ke-II, Th. 1418H/1998M, jilid 3, hal. 433

[6] Ibid

Categories: AQIDAH
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: