Home > AQIDAH >

September 30, 2010 Leave a comment Go to comments

Hukum Bepergian Membawa Mushaf al-Qur`an Ke Negri Musuh

Oleh : Hendra Prasetya

 عَنْ عَبْدِ اللّهِ بْن عمَرَ رضي الله عنهما : « أَنَّ رَسولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى أَنْ يسَافَرَ بالْقرآنِ إِلَى أَرْضِ العَدوِّ. (رواه البخاري)

Dari Abdullah bin Umar ra, “ Bahwasanya Rasulullah saw melarang seseorang bepergian dengan membawa Al-Qur’an ke negeri musuh.”[1]

 Pelajaran dan faedah dakwah yang terkandung dalam hadits :

  1. Salah satu materi dakwah, yaitu anjuran untuk mengagungkan Al-Qur’an.

Alqur’an adalah kitab (kalam) yang diturunkan oleh Allah swt mealalui Jibril kepada Nabi Muhammad saw[2] yang merupakan kitab paling lengkap, di dalamnya mencakup segala hal yang dibutuhkan oleh manusia, dari keyakinan, ibadah, muamalah, sosial dan yang lainnya. AlQur’an adalah kitab pedoman umat Islam yang wajib diikuti, dan dipegang erat-erat.  Maka dari itu ijma’ telah sepakat bahwasanya barang siapa yang melecehkan AlQur’an sedangkan ia mengetahui hukumnya maka ia telah kafir menurut kesepakatan ulama’, meskipun dia hanya bermain-main dan bercanda. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ. لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu) tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersendagurau  dan bermain-main saja.” Katakanlah apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?  Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu sudah kafir sesudah beriman. Jika kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka taubat), niscaya kami akan mengadzab golongan yang lain disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.”[3]

Dari ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwasanya mafhum mukhalafah dari ayat tersebut adalah perintah untuk mengagungkan dan memuliakan AlQur’an dan larangan untuk meremehkan dan melecehkannya. Kewajiban seorang da’I adalah memberitahukan kepada manusia bahwasanya hukum meremehkan dan melecehkan AlQur’an adalah haram, dan sebaliknya hukum mengagungkan dan memuliakannya adalah sebuah keharusan dan kewajiban, maka dari itu agar manusia tidak terjerumus ke permasalahan yang kelihatan remeh ini akan tetapi berakibat sangat fatal yaitu mengeluarkan seseorang dari Islam. Untuk menghindarkan hal tersebut dibutuhkan seorang yang memahamkan kepada manusia dan orang tersebut adalah tugas seorang da’I.

  1. Termasuk sifat  seorang da’i adalah sangat memuliakan dan mengagungkan Al-Qur’an.

Pada dasarnya mengagungkan Alqur’an adalah sifat yang harus dimiliki oleh setiap pribadi muslim baik laki-laki maupun wanita, namun sifat ini sangat ditekankan bagi seorang dai, karena seorang dai adalah merupakan sosok yang ditiru dan diikuti, dan Ia merupakan cerminan bagi madunya. Mana mungkin ia akan berhasil dan orang-orang akan mengikutnya dakwahnya apabila ia menyuruh manusia untuk mengagungkan Alqur’an namun ia tidak melakukannya, yang ada hanyalah Allah akan sangat membencinya dan semua mahluk akan melaknatnya sebagaiman firman Allah swt .

  1. Kerasnya permusuhan para musuh-musuh Islam dan bahaya mereka terhadap Islam dan pemeluknya.

Penjelasan hadits

Hadits ini menjelaskan bahwasanya termasuk materi dakwah  yang terpenting di dalam dakwah kepada Allah adalah anjuran kepada seseorang untuk menjaga Al-Qur’an memuliakan dan mengagungkannya, dengan demikian Rasulullah saw melarang bepergian membawa Al-Qur’an ke negeri musuh. Imam Ibnu Abdil Bar berkata, “Para ulama’ telah sepakat supaya tidak bepergian dengan membawa Al-Qur’an ke negeri musuh di dalam sariyah (perang yang tidak diikuti Rasulullah saw) dan ketika tentara dalam jumlah sedikit yang ditakutkan akan serangan musuh, dan mereka berselisih  dalam bolehnya membawa Al-Qur’an ketika tentara (pasukan)  berjumlah banyak yang dirasa aman..”

Di dalam sarh muslim disebutkan, “bahwasanya larangan ini hanya berlaku apabila pasukan berjumlah sedikit dan diperbolehkan apabila pasukan dalam jumlah yang banyak.  hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,

عن نافع عن عبدالله بن عمر  : عن رسول الله صلى الله عليه و سلم أنه كان ينهى أن يسافر بالقرآن إلى أرض العدو مخافة أن يناله العدو.(رواه مسلم)

Dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar ra dari Rasulullah saw , “beliau melarang seseorang pergi dengan membawa Al-Quran ke negeri musuh, ditakutkan musuh akan mendapatkannya.” Dan juga sabda Nabi saw yang lainnya,

عن نافع عن ابن عمر قال  : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( لا تسافروا بالقرآن فإني لا آمن أن يناله العدو ) .(رواه مسلم)

Dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar ra ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian pergi dengan membawa AlQur’an maka sesungguhnya aku tidak merasa aman kalau musuh mendapatkannya.” Imam Nawawi berkata, “Dalam hadits ini terdapat larangan membawa AlQur’an ke negeri musuh dengan alasan yang disebutkan dalam hadits di atas yaitu ditakutkan musuh akan mengambilnya dan kemudian menghilangkan kehormatannya, namun jika tidak khawatir musuh akan mengambilnya, karena ia berada dalam pasukan kaum muslimin yang Nampak (jumlah besar), maka hukumnya tidaklah makruh dan tidak ada larangan dalam keadaan seperti ini. ini merupakan pendapat yang paling benar. Dan ini pendapat yang diambil Imam Bukhari, Abu Hanifah dan yang lainnya.

Dari ketiga hadits dia atas dapat diambil kesimpulan bahwasanya hukum membawa Al-Quran ke negara musuh (kafir) adalah makruh kalau ditakutkan musuh akan mengambil dan melecehkannya. Namun diperbolehkan kalau dirasa aman dan orang muslim dalam jumlah yang banyak. Sebagaimana sabda Nabi saw yang menjelaskan bahwa Nabi saw dan para sahabatnya suatu kali pernah membawa AlQur’an.

عَنِ ابْنِ عمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم .« وَقَدْ سَافَرَ النَّبِيّ صلى الله عليه وسلم وأَصْحَابه فِي أَرْضِ العَدوِّ وَهمْ يَعْلَمونَ الْقرْآنَ » .)البخاري)

Dari Ibnu Umar dari Nabi saw, “Rasulullah saw dan para sahabatnya pernah melakukan perjalanan ke negeri musuh dan mereka mengetahui AlQur’an.”

Imam Bukhari menyebutkan bahwa maksud dari larangan seseorang membawa Alqur’an ke negeri musuh adalah dikhawatirkan musuh akan mengambil dan mendapatkannya, bukan karena dzat dari AlQur’an itu sendiri.[4]

Kemudian muncullah pertanyaan ditengah-tengah masyarakat tentang hukum membawa AlQur’an ketika berdakwah ke negeri musuh atau negeri bukan Islam? Maka apabila seorang berdakwah ke negeri musuh atau negeri kafir kalau ia merasa aman dan tidak khawatir musuh atau orang-orang kafir akan mengambil dan melecehkannya, maka hukumnya boleh. Hal ini dikuatkan dengan hadits Nabi saw, ketika mengutus Muadz bin Jabal ke negeri Yaman.


[1] . Bukhari Fathul Bari Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqaolani jil 6 hal 151 no. 2990. Cetakan 2004 M/1424 H. Darul Hadits Kairo.

[2] . Mabahis fi Ulumil Qur’an Mana’ Al-Qatthan hal 21. Cetakan tahun 1973 M/ 1392 H. Alhidayah Suria.

[3] . At-Taubah : 65-66.

[4] . Fathul Bari Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqaolani jil 6 hal 151.

Categories: AQIDAH
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: