Home > AQIDAH >

September 30, 2010 Leave a comment Go to comments

Jangan Berharap Bertemu Musuh

Oleh : Muhammad Showam

و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ عَنْ أَبِي النَّضْرِ
عَنْ كِتَابِ رَجُلٍ مِنْ أَسْلَمَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَالُ لَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أَوْفَى فَكَتَبَ إِلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ حِينَ سَارَ إِلَى الْحَرُورِيَّةِ يُخْبِرُهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي بَعْضِ أَيَّامِهِ الَّتِي لَقِيَ فِيهَا الْعَدُوَّ يَنْتَظِرُ حَتَّى إِذَا مَالَتْ الشَّمْسُ قَامَ فِيهِمْ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَاسْأَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ ثُمَّ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ

Hadis riwayat Abdullah bin Abu Aufa رضي الله عنه: ia berkata:Dari Abu Nadhr, dari sepucuk surat yang ditulis oleh seorang lelaki kaum Aslam, yang termasuk sahabat Nabi صلی الله عليه وسلم  yang bernama Abdullah bin Abu Aufa. Kemudian ia mengirim surat kepada Umar bin Ubaidillah ketika berangkat menuju Haruriah untuk memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم ketika bertemu dengan musuh, beliau menunggu sampai matahari condong ke arah barat, lalu beliau berdiri di tengah-tengah pasukan dan bersabda: Hai manusia sekalian! Janganlah kamu mengharapkan pertemuan dengan musuh dan mohonlah kesehatan kepada Allah. Namun apabila kamu bertemu dengan mereka, maka bersabarlah. Dan ketahuilah sesungguhnya surga itu berada di bawah bayang-bayang pedang. Nabi صلی الله عليه وسلم melanjutkan: Ya Allah, Tuhan Yang menurunkan kitab Alquran, dan Tuhan Yang menjalankan awan serta Tuhan Yang mengalahkan pasukan-pasukan musuh, berikanlah mereka kekalahan serta berikanlah kami kemenangan![1]shahih bukhari bab larangan untuk berharap bertemu musuh 22/195, muslim 9/169.

Takhrij Hadits

Dia adalah Alqamah bin Khalid bin Harits al A’slamy. Dia seorang shahabat Nabi dalam thabaqah pertama. Beliau wafat tahun 87Hijriyah di Kufah.

Amru bin Ali berkata,” Dialah shahabat terakhir yang meninggal di Kufah.”

Di antara murid beliau : Ibrahim bin Muslim, Hakam bin Utaibah, Ismail bin Abi Khalid, Sulaiman al A’masy, Ady bin Tsabit dan Atha’ bin Saib dan  lainnya.

Dalam hadits ini terdapat pelajaran yang bisa kita ambil dari sisi da’wah :

Salah satu materi dakwah :

Larangan untuk berharap bertemu musuh.

Rasulullah Saw menjelaskan larangan untuk berharap bertemu dengan musuh, dan memerintahkan untuk bersabar ketika dalam peperangan.  Seorang muslim hendaknya memohon keselamatan dan pertolongan, dan tidak mencari bahaya dan fitnah (dosa). Karena ia tidak mengetahui besarnya bahaya yang akan ditimbulkan oleh musuh. Dalam hadits yang lain, Rasulullah memerintahkan untuk menghindarkan diri dari bahaya dan senantiasa meminta keselamatan kepada Allah.[2]

Salah satu sifat seorang da’I :

Bersabar menghadapi musuh.

Setiap manusia akan menghadapi cobaan. Cobaan beragam jenisnya, bisa berupa rasa takut, kekurangan harta, kelaparan maupun kematian. Untuk menghadapinya diperlukan kesabaran. Karena dengan kesabaran, Allah akan memberikan kekuatan untuk melaluinya. Dengan kesabaran pula Allah akan menolong hamba-Nya untuk mengalahkan musuh. Kemenangan bukanlah karena banyaknya jumlah tetapi kemenangan adalah karunia Allah. Meskipun jumlah sedikit mampu mengalahkan jumlah banyak dengan kehendak-Nya. Sebagaimana firman-Nya :

$£Jn=sù Ÿ@|Ásù ßNqä9$sÛ ÏŠqãZàfø9$$Î/ tA$s% žcÎ) ©!$# Nà6‹Î=tFö6ãB 9ygoYÎ/ `yJsù z>ΎŸ° çm÷YÏB }§øŠn=sù ÓÍh_ÏB `tBur öN©9 çmôJyèôÜtƒ ¼çm¯RÎ*sù ûÓÍh_ÏB žwÎ) Ç`tB t$uŽtIøî$# Opsùöäî ¾Ínωu‹Î/ 4 (#qç/Ύ|³sù çm÷YÏB žwÎ) WxŠÎ=s% öNßg÷YÏiB 4 $£Jn=sù ¼çny—ur%y` uqèd šúïÏ%©!$#ur (#qãZtB#uä ¼çmyètB (#qä9$s% Ÿw sps%$sÛ $uZs9 tPöqu‹ø9$# |Nqä9$yfÎ/ ¾ÍnϊqãZã_ur 4 tA$s% šúïÏ%©!$# šcq‘ZÝàtƒ Nßg¯Rr& (#qà)»n=•B «!$# NŸ2 `ÏiB 7pt¤Ïù A’s#ŠÎ=s% ôMt7n=xî Zpt¤Ïù OouŽÏWŸ2 ÈbøŒÎ*Î/ «!$# 3 ª!$#ur yìtB tûïΎÉ9»¢Á9$# ÇËÍÒÈ

“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. dan Barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, Maka Dia adalah pengikutku.” kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama Dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan Kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”[3]

Bertawakal kepada Allah.

Kemenangan bukan karena banyak jumlah atau kekuatan tetapi datangnya dari Allah. Seorang mukmin hendaknya bertawakal kepada Allah agar diberikan kemenangan. Sejarah telah membuktikan bahwa kemenangan kaum muslimin pada perang Hunain adalah buktinya. Meskipun jumlah kaum muslimin berlipat tetapi belum mampu mengalahkan musuh yang lebih sedikit. Di karenakan tidak adanya tawakal kepada Allah. Mereka merasa bahwa dengan jumlah yang besar mampu mengalahkan musuh dengan mudah. Tetapi Allah berkehendak lain dengan menunda kemenangan untuk kaum muslimin. Sehingga dengan kembalinya rasa tawakal kepada Allah, datanglah pertolongan dan kemenangan dari-Nya. Allah mengabadikan kisah ini dalam firman-Nya :

ô‰s)s9 ãNà2uŽ|ÇtR ª!$# ’Îû z`ÏÛ#uqtB ;ouŽÏWŸ2 tPöqtƒur Aû÷üuZãm øŒÎ) öNà6÷Gt6yfôãr& öNà6è?uŽøYx. öNn=sù Ç`øóè? öNà6Ztã $\«ø‹x© ôMs%$|Êur ãNà6ø‹n=tæ Ùßö‘F{$# $yJÎ/ ôMt6ãmu‘ §NèO NçGøŠ©9ur šúï̍Î/ô‰•B ÇËÎÈ

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai Para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, Yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang Luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.”[4]

Dalam kitab tafsir Fathul Qadir dijelaskan, -ketika perang Hunain- kaum muslimin merasa kuat dengan banyaknya jumlah mereka yang mencapai dua belas ribu atau enam belas ribu. Sehingga di antara mereka ada yang berkata,” Kita tidak akan dikalahkan musuh yang –jumlahnya- sedikit.”. Mereka merasa bangga dengan banyaknya jumlah dan lupa bertawakal kepada Allah. Maka, tidaklah berguna jumlah mereka yang banyak bahkan mereka lari tercerai berai.[5]

Dalam ayat lain, Allah secara jelas menjelaskan akan hakekat kekuatan. Kekuatan hanyalah milik-Nya dan tiada yang memilikinya kecuali atas izin-Nya.

öNn=sù öNèdqè=çFø)s? ÆÅ3»s9ur ©!$# óOßgn=tGs% 4 $tBur |Mø‹tBu‘ øŒÎ) |Mø‹tBu‘ ÆÅ3»s9ur ©!$# 4’tGu‘ 4 u’Í?ö7ãŠÏ9ur šúüÏZÏB÷sßJø9$# çm÷ZÏB ¹äIxt/ $·Z|¡ym 4 žcÎ) ©!$# ìì‹ÏJy™ ÒOŠÎ=tæ ÇÊÐÈ

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”[6]

Larangan untuk lari ketika bertemu musuh.

Ketika seorang mukmin bertemu musuh dan tidak ada jalan untuk menghindari peperangan, maka ia harus bersabar dan tidak lari dari medan peperangan. Karena hal ini dapat melemahkan kekuatan kaum muslimin. Sebagaimana petunjuk dari al-Qur’an yaitu firman Allah:

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) óOçGŠÉ)s9 Zpt¤Ïù (#qçFç6øO$$sù (#rãà2øŒ$#ur ©!$# #ZŽÏWŸ2 öNä3¯=yè©9 šcqßsÎ=øÿè? ÇÍÎÈ

“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”[7]

Rasulullah mengkategorikan lari dari peperangan sebagai dosa besar. Rasulullah bersabda :

“اجتنبوا السبع الموبقات”. قيل: يا رسول الله، وما هن؟ قال: “الشرك بالله، والسحر، وقتل النفس التي حرم الله إلا بالحق، وأكل الربا، وأكل مال اليتيم، والتَّوَلِّي يوم الزحف ، وقَذْفِ المحصنات الغافلات المؤمنات”

jauhilah oleh kalian tujuh hal yang merusak; apakah itu wahai, Rasulullah, Rasulullah menjawab,” Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan kecuali atas haknya, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang dan menuduh wanita mukminah lagi suci berzina.”[8]

Tetapi ada pengecualian jika hal itu dilakukan untuk siasat perang karena perang adalah tipu daya. Allah juga berfiman:

$yg•ƒr’¯»tƒ z`ƒÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) ÞOçGŠÉ)s9 tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. $Zÿômy— Ÿxsù ãNèdq—9uqè? u‘$t/÷ŠF{$# ÇÊÎÈ   `tBur öNÎgÏj9uqム7‹Í´tBöqtƒ ÿ¼çntç/ߊ žwÎ) $]ùÌhystGãB @A$tGÉ)Ïj9 ÷rr& #¸”ÉiystGãB 4†n<Î) 7pt¤Ïù ô‰s)sù uä!$t/ 5=ŸÒtóÎ/ šÆÏiB «!$# çm1urù’tBur ãN¨Yygy_ ( š[ø©Î/ur 玍ÅÁpRùQ$# ÇÊÏÈ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, Maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, Maka Sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. dan Amat buruklah tempat kembalinya.” (Q.S Al-Anfal : 15-16)

Dalam kitab tafsir Ibnu Katsir dijelaskan tentang penjelasan ayat ini.

إِلا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ : lari dari musuh sebagai tipudaya. Sehingga musuh menyangka sedang ketakutan dan mengejarnya. Kemudian dengan mudah menyergap musuh dan membunuh mereka.

أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَى فِئَةٍ : lari dari peperangan untuk bergabung dengan pasukan lain. Sehingga di antara pasukan saling menguatkan.[9]

REFERENSI

  1. 1. AL QURA’N AL KARIM
  2. 2. TAFSIR IBNU KATSIR
  3. 3. FATHUL QADIR
  4. 4. KITAB SHAHIH BUKHARI

SYARH SHAHIH MUSLIM


[1] Ibnu Hajar, Fathul Bari, (Lebanon : Dar Kutub Ilmiyah,1998 ), cet. Ke-1, hal.102 hadits no. 2716

[2] Imam an Nawawi, Syarh Shahih Muslim, ( Lebanon : Dar Kutub Ilmiyah, 1996), cet.Ke-6, juz VI,hal.183

[3] Al Baqarah : 245

[4] At Taubah :25

[5] Imam Syaukani, Fathul Qadir, ( Kairo : Dar Salam,2007 ), cet.Ke-8,juz V, hal.190

[6] Al Anfal :17

[7] Al Anfal : 45

[8] Muhmamad bin Ismail, Shahih Bukhari, (Kairo : Dar Salam, 1997), cet.Ke-4, juz III, hadits no. 2766

[9] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, (Damaskus : Dar Fiha ), cet.Ke-1, juz I, hal.178

Categories: AQIDAH
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: