Home > AQIDAH >

September 30, 2010 Leave a comment Go to comments

Keberhasilan Seorang Da`i Dalam Berdakwah Di Jalan Allah

Oleh : Piji Yanto

 I. Pendahuluan

Dakwah merupakan aktivitas yang teramat mulia. Dimana orang-orang yang berjuang di dalamnya akan mendapatkan kebaikan yang berlipat dari sisi Allah Ta’ala. Bahkan Allah Ta’ala telah memberikan gelar ‘khairu ummat’ atas umat ini (Islam) salah satunya karena aktivitas dakwah yang berada di pundak kaum Muslimin.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Qs. ‘Ali Imran : 110).

Adapun tentang sesuatu yang didakwahkan, maka wajib bagi para da’i untuk menerangkannya kepada manusia sebagaimana para rasul -’alaihimush shalatu was sallam- menerangkannya. Ia adalah dakwah kepada jalan Allah I yang lurus, ia adalah Islam dan ia adalah agama Allah I yang haq. Dakwah kepada aqidah shahihah (yang benar), dakwah secara ikhlas lillah ta’ala (hanya untuk Allah semata) dan pentauhidan kepada-Nya di dalam beribadah, mengimani Allah I dan rasul-rasul-Nya dan mengimani hari akhir dan semua yang Allah I dan Rasul-Nya beritakan. Inilah asas jalan yang lurus, yaitu dakwah kepada syahadat laa ilaaha illahahu wa anna Muhammadar rasulullah.

  1. II. Pokok Pembahasan

Dari Abu Hurairah t[1] berkata, “Kami pernah menyertai Rasulullah r (dalam suatu peperangan). Maka ketika itu beliau berkata tentang seseorang yang mengaku-ngaku dirinya orang Islam, “(Orang) ini termasuk penghuni neraka.” Maka ketika peperangan telah dimulai, laki-laki tersebut berperang dengan sangat gigih sehingga mengakibatkan dirinya terluka. Maka aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, seseorang yang engkau mengatakan bahwa dirinya termasuk penghuni neraka, sesungguhnya pada hari ini dia telah berperang dengan sangat gigih, dan pada akhirnya meninggal dunia. Maka Nabi rpun bersabda, “Dia masuk ke dalam neraka.” Maka hampir saja sebagian orang ragu-ragu (tentang hal itu). Ketika mereka dalam keadaan seperti itu, maka dikatakan kepada mereka bahwa sesungguhnya (ketika itu) dia belum meninggal, akan tetapi dirinya menderita luka yang sangat pedih. Maka pada malam harinya, dia tidak mampu untuk bersabar terhadap luka yang dideritanya sehingga dia membunuh dirinya sendiri. Nabi rpun diberi kabar tentang hal itu, lantas beliau bersabda, “Allah Maha Besar, aku bersaksi bahwa sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan utusan-Nya.” Kemudian beliau memerintahkan Bilal agar menyeru kepada manusia, “Sesungguhnya tidak akan masuk surga selain orang beriman, dan sungguh, Allah I memberikan dukungan (pertolongan) kepada agama ini (Islam) dengan seorang yang fajir (tidak adil, tidak taat).”[2]

Dalam riwayat yang lain,

“Kami pernah menyertai Rasulullah r pada waktu perang Khaibar. Maka ketika itu Rasulullah bersabda tentang seorang laki-laki yang mengaku-ngaku dirinya Islam, ‘(Orang) ini adalah penghuni neraka.’ Maka ketika peperangan telah dimulai, laki-laki tersebut berperang…………………”[3]

  1. III. Uraian Pembahasan

Dari hadits di atas, kita dapat mengambil beberapa pelajaran yang ada kaitannya dengan dakwah, yakni :

  1. Pokok pembicaraan dakwah.
  • Ø Mendorong keimanan terhadap takdir dan beramal yang menjadikan faktor keberhasilan.

Syaikh Shalih bin Fauzan –rahimahullah ta’ala– mendefinisikan tentang beriman terhadap takdir yang baik maupun yang buruk adalah meyakini dengan sepenuh hati bahwasanya Allah I mengetahui takdir seluruh makhluk-Nya sebelum diciptakan,[4] mengetahui apa-apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi kemudian menentukan dan menulisnya dalam Lauhul Mahfudz.[5] Dan bahwasanya segala sesuatu yang terjadi, baik maupun buruk, kafir, iman, ta’at, maksiat itu telah dikehendaki, ditentukan dan diciptakan-Nya, dan bahwasanya Allah itu mencintai keta’atan dan membenci kemaksiatan.

Sedang hamba Allah I itu mempunyai kekuasaan, kehendak dan kemampuan memilih terhadap pekerjaan-pekerjaan yang mengantar mereka pada keta’atan atau maksiatan, akan tetapi semua itu mengikuti kemauan dan kehendak Allah I. Berbeda dengan pendapat golongan Jabariyah yang mengatakan bahwa manusia terpaksa dengan pekerjaan-pekerjaannya tidak memiliki pilihan dan kemampuan. Sebaliknya golongan Qadariyah[6] mengatakan bahwasanya hamba itu memiliki kemauan yang berdiri sendiri dan bahwasanya merekalah yang menciptakan pekerjaan dirinya, kemauan dan kehendak hamba itu terlepas dari kemauan dan kehendak Allah I.[7]

Allah I benar-benar telah membantah kedua pendapat di atas dengan firman-Nya:

وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Dan kamu tidak bisa berkemauan seperti itu kecuali apabila Allah menghendakinya”. (Qs. at-Takwir : 29)

Dengan ayat ini, maka Allah I menetapkan adanya kehendak bagi setiap hamba sebagai bantahan terhadap Jabariyah yang ekstrim, bahkan menjadikannya sesuai dengan kehendak Allah I, hal ini merupakan bantahan atas golongan Qadariyah.

Maka merupakan sesuatu yang sangat urgen bagi seorang da’i untuk menyampaikan permasalahan iman kepada takdir Allah kepada masyarakat karena hal ini dapat menumbuhkan sikap sabar sewaktu seorang hamba menghadapi cobaan dan menjauhkannya dari segala perbuatan dosa dan hal-hal yang tidak terpuji. Disamping itu seorang da’i harus memberikan motivasi kepada masyarakat tentang pentingnya meningkatkan amalan. Karena kedua hal itu sangat berkaitan erat untuk mendorong masyarakat agar giat dalam bekerja dan menjauhkan diri mereka dari sikap lemah, takut dan malas.

  • Ø Mendorong manusia agar meluruskan niat dalam beramal dan memberikan peringatan agar tidak berdusta dalam beramal.

Niat adalah dasar segala perbuatan. Oleh karena itu setiap perbuatan manusia diterima atau tidaknya di sisi Allah I tergantung niatnya. Maka barangsiapa yang mengerjakan sesuatu pekerjaan dengan melandaskan niatnya murni karena Allah I semata dan mengharapkan ridha-Nya dan perbuatannya itu sesuai dengan tuntunan Rasulullah r, maka amalnya akan diterima oleh Allah I. Akan tetapi barangsiapa melandaskan niatnya untuk selain Allah atau tidak ikhlas karena Allah, maka segala perbuatan yang ia lakukan akan ditolak dan akan menjadi bencana baginya.

Yang menjadi tolak ukur diterimanya suatu amalan adalah baiknya (kualitas) suatu amalan tersebut, bukan banyaknya (kuantitas).

Maka ketika Imam Fudhail bin ‘Iyadh –rahimahullah– ditanya tentang makna لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا, beliau menjawab, “Ikhlas dan benar.” Kemudian beliau ditanya lagi, “Wahai Abu ‘Ali, apa yang dimaksud dengan ikhlas dan benar?” Maka beliau mengatakan,

إن العمل إذا كان خالصا ولم يكن صوابا، لم يقبل وإذا كان صوابا ولم يكن خالصا لم يقبل، حتى يكون خالصا صوابا والخالص: أن يكون لوجه الله، والصواب: أن يكون متبعا فيه الشرع والسنة.

“Setiap amalan jika dikerjakan dengan ikhlas namun tidak benar, maka amalan itu tidak akan diterima. Demikian pula jika dikerjakan dengan benar tapi tidak ikhlas, maka tidak akan diterima juga hingga amal tersebut dikerjakan dengan ikhlas dan benar. Ikhlas yakni amalan itu dikerjakan hanya untuk mengharap wajah Allah, sedangkan benar artinya amalan yang dikerjakan mengikuti syari’at (Allah) dan sunnah (Rasulullah).”[8]

Ikhlas dalam berdakwah di jalan Allah I merupakan adab yang paling agung dan merupakan esensi dakwah serta merupakan pondasi keberhasilan amal dakwah. Dakwah ke jalan Allah I adalah ibadah untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah I, sedangkan ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya suatu ibadah. Allah r berfirman:

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (Qs. al-Bayyinah : 5)

Maka wajib bagi setiap da’i supaya mengikhlaskan dakwahnya hanya kepada Allah I, janganlah ia beramal atas dasar riya’ (pamer agar dilihat orang) dan sum’ah (pamer agar didengar orang), dan jangan pula untuk mengambil dunia dan reruntuhan yang fana (tidak kekal) lagi akan lenyap. Namun hendaklah lisannya senantiasa mengucapkan:

Katakanlah: Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah.” (Qs. al-Furqan : 57).

Maka janganlah ia di dalam dakwahnya mencari bagian (harta), kedudukan dan jangan pula syuhrah (popularitas), namun wajib baginya beramal hanya mengharapkan wajah Allah I semata.

  • Ø Mendorong manusia agar mereka mampu meraih husnul khatimah (akhir yang baik) dalam perkataan maupun perbuatan.

Husnul khatimah merupakan kehidupan yang baik, yaitu suatu akhir kehidupan yang selalu diharapkan manusia sebelum menghadap Allah I. Manusia yang meninggal dalam keadaan husnul khatimah menunjukkan sebagai cermin bahwa dirinya akan memperoleh kebahagiaan di alam akhirat.

Maka seorang da’i harus senantiasa memberikan motivasi dan dorongan kepada orang-orang yang diserunya agar mereka mampu untuk meraih husnul khatimah ketika meninggal dunia nanti, diantaranya:

  1. Dengan memberikan arahan dan bimbingan kepada ketaatan kepada Allah I dan bertaqwa kepada-Nya. Asas dari itu semua adalah merealisasikan tauhid, menghindari perbuatan-perbuatan yang diharamkan, bersegera bertaubat dari perbuatan dosa yang mengotorinya, dan yang lebih besar adalah syirik baik besar maupun kecil. Firman Allah I:

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيماً

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (Qs. an-Nisaa’ : 48).

  1. Memberikan pengarahan kepada manusia agar mereka berdo’a kepada Allah I agar dimatikan dalam keadaan iman dan taqwa.
  2. Mengarahkan agar seorang muslim beramal dengan ikhlas karena Allah I dan bersungguh-sungguh di dalamnya serta berusaha untuk memperbaiki amalan yang kurang baik. Sehingga ketika kematian datang menjemputnya, maka dirinya telah siap untuk menghadapinya kapanpun dan di manapun berada.

Oleh karena itu seorang muslim harus mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian dengan perkara-perkara sebagai berikut:

–          Senantiasa beriman dengan kalimat tauhid dan mengamalkan tuntutannya.

–          Senantiasa menjaga shalat lima waktu secara berjama’ah, diiringi dengan sunah rawatib, nawafil, qiyamullail, menjaga witir dan menjaga sunah-sunah yang lain.

–          Senantiasa membaca Kitabullah, mentadaburi dan mengamalkan isinya. Menjaga dalam membacanya pada malam dan siang hari serta mengkhatamkan sekali atau dua kali dalam sebulan.

–          Membaca perjalanan Rasulullah r dan mengikuti apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarangnya.

–          Senantiasa bermajelis bersama orang-orang shalih dan mengambil manfaat darinya untuk memperbaiki agama dan dunianya sesuai yang telah disebutkan dalam al-Kitab dan as-Sunnah.

–          Bersemangat mendatangi majelis-majelis dzikir dan senantiasa mencarinya.

–          Selalu menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

–          Berinfaq di jalan Allah I pada semua jalan kebaikan bagi siapa yang diberikan harta oleh Allah I. Jika tidak memiliki harta, maka baginya sedekah dengan anggota badannya, karena setiap kalimat thayibah sedekah, senyum pada saudaranya adalah sedekah dan lainnya.[9]

  1. Sifat da’i.
  • Ø Mampu menghimpun antara perasaan takut dan harap dalam dirinya.[10]

Sebagai seorang da’i dirinya harus berharap dan cemas atas setiap amalan baik yang ia kerjakan. Ia berharap mendapatkan rahmat Allah I dan cemas seandainya amalan baik yang ia kerjakan tidak diterima di sisi Allah I.

Imam al-Bukhari –rahimahullah ta’ala– menulis sebuah bab dalam kitab al-Iman, yakni بَاب خَوْفِ الْمُؤْمِنِ مِنْ أَنْ يَحْبَطَ عَمَلُهُ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ (Bab takutnya seorang mukmin kalau amalannya terhapus sedang dirinya tidak menyadarinya). Kemudian beliau mengambil ucapan Ibrahim at-Taimi –rahimahullah ta’ala– secara mu’allaq.[11] Ibrahim at-Taimi –rahimahullah ta’ala– berkata, “

مَا عَرَضْتُ قَوْلِي عَلَى عَمَلِي إِلَّا خَشِيتُ أَنْ أَكُونَ مُكَذِّبًا.

“Apabila aku mempertimbangkan antara ucapanku dan amalanku, maka diriku takut seandainya aku termasuk seorang pendusta.”[12]

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani –rahimahullah ta’ala– mengatakan bahwa bab tersebut sebagai bantahan terhadap Murji’ah[13] pada khususnya. Walaupun sebelumnya banyak bab yang membahas bantahan terhadap paham mereka ini, akan tetapi bab-bab tersebut mencakup bantahan terhadap paham-paham ahlu bid’ah yang lain.

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani –rahimahullah ta’ala– mengatakan, “Ucapan beliau, ‘Dan Ibrahim at-Taimi berkata,’ dia termasuk ahli fiqih dan ahli ibadah di kalangan tabi’in. Dan ucapannya مُكَذبًا)) diriwayatkan dzal-nya berfathah, yakni aku takut orang yang melihat amalanku bertentangan dengan ucapanku akan mendustakanku. Maksudnya ia berkata, ‘Jika engkau benar tentu perbuatanmu tidak bertentangan dengan ucapanmu.’ Ia mengatakan demikian ketika sedang memberikan nasehat kepada manusia. Adapun dalam riwayat yang lain, dzalnya berkasrah (dan ini paling banyak diriwayatkan) maksudnya, meskipun ia seorang pemberi nasehat kepada manusia, dirinya merasa bahwa amalannya belum mencapai target yang semestinya. Dan Allah mencela orang yang beramar ma’ruf nahi munkar, sedangkan dirinya lalai dalam amalannya. Sebagaimana dalam firman Allah, yang artinya, “Amat besar kebencian di sisi Allah, kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” Maka dia takut seperti para pendusta yakni menyerupai orang yang suka berdusta.[14]

Selanjutnya Imam al-Bukhari –rahimahullah– menyebutkan ucapan Ibnu Abi Mulaikah secara mu’allaq juga, “Dan Ibnu Mulaikah berkata, ‘Saya mendapatkan tiga puluh orang dari para shahabat Nabi r, mereka semuanya takut kalau terjangkit penyakit nifak. Tidak ada seorangpun dari mereka yang mengatakan bahwa dirinya seperti imannya Jibril dan Mikail.’”[15]

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani –rahimahullah ta’ala– berkata, “Yang demikian dikarenakan orang mukmin mungkin sesekali datang kepadanya sesuatu yang menodai amalannya sehingga merubah niatnya menjadi tidak ikhlas. Tidak berarti mereka terjerumus kepada kemunafikan dikarenakan ketakutan mereka tersebut. Akan tetapi ini menunjukkan keutamaan mereka dalam hal wara’ dan taqwa. Semoga Allah meridhai mereka semuanya.”[16]

  • Ø Mampu berinteraksi baik dengan masyarakat dan tidak menjauh dari individu yang fajir (banyak melakukan pelanggaran syari’at secara terang-terangan) karena Allah I terkadang mengokohkan (menguatkan) agama Islam ini lewat simpatisan dakwah yang fajir.

Dalam masalah ini, maka akan dibahas 3 point penting, yakni:

Masalah Pertama:

Dalam kitab Riyaadhu ash-Shaalihiin, Imam Nawawi t mengatakan demikian, “Bab keutamaan ikhthilath (bercampur baur dan bergaul di tengah-tengah masyarakat), menghadiri shalat Jum’at bersama mereka, berjama’ah bersama mereka, menghadiri berbagai momentum kebaikan bersama mereka, menghadiri majelis dzikir mereka, menjenguk orang sakit, menghadiri penyelenggaraan jenazah, membantu yang membutuhkan, membimbing yang tidak tahu, dan kebaikan-kebaikan atau kemaslahatan-kemaslahatan lainnya, bagi yang memiliki kemampuan untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar, menahan diri untuk tidak menyakiti dan bersabar atas rasa sakit yang mungkin ia dapatkan dari mereka.”

Maka dari pendapat beliau, kita mengetahui beberapa hal yakni:

  1. Bergaul di tengah masyarakat lebih utama dari pada ‘uzlah.
  2. Bentuk pergaulan dengan mereka diantaranya adalah menghadiri shalat Jum’at bersama mereka, berjama’ah bersama mereka, menghadiri berbagai momentum kebaikan bersama mereka, menghadiri majelis dzikir mereka, menjenguk orang sakit, menghadiri penyelenggaraan jenazah, membantu yang membutuhkan, membimbing yang tidak tahu, dan kebaikan-kebaikan atau kemaslahatan-kemaslahatan lainnya.
  3. Keutamaan ini berlaku bagi yang memiliki kemampuan untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar, menahan diri untuk tidak menyakiti dan bersabar atas rasa sakit yang mungkin ia dapatkan dari mereka.

Oleh karena itu, bergaul bersama mereka dan lakukanlah amar ma’ruf nahi munkar sedikit demi sedikit, serta bersabar dalam hal ini merupakan kebaikan bagi mereka yang mampu. Semoga Allah I memberikan kekuatan, taufiq dan hidayah kepada kita semua. Amin.

Masalah Kedua:

Terdapat beberapa nash dan cerita yang menguatkan hadits di atas, diantaranya:

  1. Dari ‘Umar bin al-Khaththab t, ia berkata, “Ada seorang lelaki bernama ‘Abdullah. Ia digelari Himar (keledai). Rasulullah r ditertawakan olehnya dan beliau r telah mencambuknya karena ia meminum khamar (miras). Berkali-kali ia dibawa kepada Nabi r untuk dicambuk karena kasus yang sama. Maka ada seorang sahabat yang mengatakan, ‘Ya Allah, laknatilah dia. Betapa seringnya ia terkena kasus hukum ini!’ Maka Rasulullah r bersabda, ‘Janganlah kalian melaknatinya. Demi Allah, saya tidak mengetahui darinya selain bahwa ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.’ (Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari).
  2. Saat terjadi Perang Qadisiyah ada seorang yang bernama Abu Dujanah. Ia berkali-kali dicambuk oleh Sa’ad bin Abi Waqqash t (komandan kaum muslimin saat itu) karena menenggak minuman keras, sampai akhirnya ia dikurung dalam penjara. Namun, setelah ia berhasil melobi istri Sa’ad agar dikeluarkan dari kurungan untuk berjihad fie sabilillah, ia menunjukkan prestasi berjihad yang luar biasa, yang membuat kagum banyak kaum muslimin, termasuk Sa’ad bin Abi Waqqash sendiri.

Dari hadits yang telah disebutkan di atas, maka ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil, di antaranya adalah:

–       Para simpatisan dakwah yang kita seru, insya Allah bersimpati kepada kebaikan yang kita bawa, walaupun bisa jadi, sampai sekarang mereka belum bisa lebih baik dari yang kita harapkan. Insya Allah, ke depan bisa lebih baik. Wallahu a’lam.

–       Sangat mungkin juga dari tangan dan melalui mereka, Allah I memberikan dukungan dan kemenangan untuk dakwah ini.

Masalah Ketiga

Ada seorang da’i berpesan kepada seorang dai lainnya seperti ini, “Jadikanlah jama’ah atau organisasi dakwah Anda seperti rumah sakit, di mana semua orang memasukinya: ada yang paling sehat dan ada pula yang paling sakit. Namun dengan memasuki rumah sakit ini, mereka akan keluar sebagai orang yang sehat. Dan jangan kamu jadikan organisasi dakwah atau jama’ah Anda kumpulan orang-orang yang sehat saja, akan tetapi tidak mampu menjaga kesehatannya atau malah tidak mampu menyehatkan orang lain.[17]

  1. Metode dakwah.
  • Ø Menghukumi sesuatu yang secara dhahir (yang nampak) karena hanya AllahIlah yang lebih mengetahui perkara yang tersembunyi.

Hal ini telah diterapkan oleh Rasulullah r dalam menyebarkan dakwah Islam ini semenjak beliau di Madinah. Ketika itu muncul orang-orang munafik yang dipimpin oleh ‘Abdullah bin Ubay bin Salul. Mereka menampakkan keimanan di hadapan Rasulullah r dan menyembunyikan kebusukan hati mereka. Walaupun pada dasarnya Rasulullah telah mengetahui hakekat mereka melalui kabar yang disampaikan oleh Allah I. Sampai-sampai anaknya sendiri meminta izin Rasulullah r untuk membunuhnya. Akan tetapi Rasulullah r tidak memberikan izin kepadanya karena beliau menghukumi orang-orang munafik tersebut secara dhahir. Adapun secara bathin, hanya Allah I sajalah yang mengetahui mereka.

Tentang hal ini terdapat kisah, sebagaimana yang dituturkan oleh Usamah bin Za’id –radhiyallahu ‘anhuma-. Ia bercerita, “Suatu ketika Rasulullah r mengutus kami ke Khuraqah (untuk mengadakan penyerangan). Manakala ketika menjelang pagi, kami menyerang mereka. Saat itu diriku dan seorang dari ‘Anshar bertemu dengan seorang laki-laki dari mereka (pihak musuh). Ketika kami telah menjatuhkannya, ia berkata, ‘Laa ilaa ha illallahu’. Maka seorang dari ‘Anshar tersebut membiarkannya, adapun aku menikamnya (membunuhnya) dengan tombak sampai dirinya terbunuh. Maka ketika kami telah menemui Rasulullah r (kami mengabarkan hal itu kepada beliau). Maka beliau bersabda, ‘Wahai Usamah, apakah dirimu membunuhnya setelah ia mengucapkan ‘Laa ilaa ha illallahu’?’ Aku menjawab, ‘Dia hanya mencari perlindungan aja.’ Beliau masih mengulang-ulangi perkataannya tersebut sehingga seolah-oleh diriku belum masuk Islam sebelumnya.”[18]

  • Ø Memberikan kabar gembira dan ancaman.

Ini merupakan methode yang digunakan oleh Rasulullah r ketika beliau menyerukan Dienul Islam pertama kalinya kepada kaum musyrikin Makkah.

Suatu ketika tatkala turun ayat ke-214 dari Surat Asy-Syu’ara’, maka Rasulullah r naik ke bukit Shafa. Lalu beliau menyeru kepada marga-marga Quraisy. Ketika semuanya telah berkumpul, termasuk Abu Lahab dan pemuka-pemuka Quraisy yang lainnya, maka Rasulullah angkat bicara, “Bagaimana menurut pendapat kalian seandainya aku beritahukan bahwa ada segerombolan pasukan kuda di lembah sana yang ingin menyerang kalian, apakah kalian mempercayaiku?’ Mereka menjawab, “Ya! Kami tidak pernah mengetahui darimu selain kejujuran.” Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kapada kalian akan adzab yang pedih.” Maka seketika itu Abu Lahab menanggapi, “Celakalah engkau sepanjang hari ini! Apakah hanya untuk hal ini engkau mengumpulkan kami.” Setelah itu Allah menurunkan surat Al-Masad.[19]

Adapun Imam Muslim –rahimahullah ta’ala– meriwayatkan satu sisi yang lain dari kisah tersebut.

Dari Abu Hurairah t, ia berkata, “Tatkala ayat  وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ turun, Rasulullah r mendakwahi mereka, sesekali bersifat umum, dan sesekali yang lain bersifat khusus. Beliau berkata, “Wahai kaum Quraisy! Selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Bani Ka’ab! Selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Fathimah binti Muhammad! Selamatkanlah dirimu dari api neraka. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak memiliki sesuatu apapun (untuk menyelamatkan kalian) dari adzab Allah, hanya saja kalian mempunyai ikatan kerabat (denganku) yang senantiasa akan aku sambung.”[20]

  1. Salah satu mukjizat Rasulullah r adalah pengetahuan beliau tentang berita-berita yang bersifat ghaib.

Rasulullah r pernah mengabarkan sebagian perkara ghaib kepada para shahabatnya. Beliau mengabarkan tentang hal-hal yang terjadi jauh darinya dengan segera setelah kejadiannya. Beliau juga pernah mengabarkan tentang perkara-perkara ghaib yang belum terjadi, lalu terjadi setelah itu sebagaimana yang dikisahkan dalam hadits di atas. Akan tetapi Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa Rasulullah r tidak mengetahui masalah-masalah yang ghaib semasa hidupnya kecuali Allah I telah mengajarkan hal itu kepadanya, apalagi setelah beliau wafat.[21]

Allah I telah berfirman, yang artinya:

“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” (Qs. al-An’am : 50)

Kalau Rasulullah r tidak mengetahui perkara yang ghaib, lantas bagaimana halnya dengan orang lain. Karena yang mengetahui perkara yang ghaib hanyalah Allah I semata.

Allah I berfirman, yang artinya:

“Katakanlah, ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (Qs. an-Naml: 65).

  1. Besarnya keyakinan para shahabat terhadap kebenaran kabar ghaib yang datang dari Rasulullah r.

Para Shahabat adalah orang-orang yang paling mulia di sisi Rasulullah r, yang membela dan menolong Rasulullah r ketika beliau menghadapi berbagai serangan dari orang-orang musyrik, munafik, ahli kitab dan musuh-musuh beliau yang lainnya. Merekalah yang pertama-tama mempercayai dan membenarkan kabar yang datang dari Rasulullah r ketika kaum musyrikin dan munafikin mendustakan beliau. Baik kabar tentang kejadian yang telah terjadi atau akan terjadi. Hal ini disebabkan keimanan yang menancap kuat dalam dada-dada mereka.

Sebagaimana dalam hadits di atas, ketika Rasulullah r mengabarkan bahwa ada salah seorang diantara orang-orang yang ikut andil dalam peperangan akan masuk ke dalam neraka. Ketika itu sebagian shahabat hampir ragu terhadap berita yang disampaikan oleh Rasulullah r, walaupun pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang kuat keimanannya terdapat Rasulullah r. Sebagian shahabat beranggapan bahwa orang tersebut tergolong orang yang gigih dalam berperang dan akan mendapatkan syahid yang nantinya akan mengantarkan ke dalam surga. Maka setelah terjadi peperangan, kabar yang disampaikan oleh Rasulullah r tersebut benar-benar terjadi.

Ataupun kabar tentang akan hancurnya kekuasaan Kisra (Raja Persia). Ketika utusan Rasulullah r menyampaikan surat kepada Kisra yang pada intinya beliau mengajak kepada Kisra agar masuk Islam. Maka setelah membaca surat Rasulullah r, Kisra langsung mencabik-cabik surat itu. Setelah mendengar apa yang dilakukan oleh Kisra, Rasulullah bersabda, “Allah akan mencabik-cabik kerajaannya.” Akhirnya Kira benar-benar mengalami seperti apa yang disabdakan beliau ini.[22]

Adapun kabar yang telah terjadi sebagaimana halnya Abu Bakar Ash-Shiddiq t. Ketika beliau mendengar berita perjalanan Rasulullah r dari Masjidil Haram di Makkah sampai Masjidil ‘Aqsa di Palestina pada malam hari (isra’) dan naiknya Rasulullah r ke Sidratul Munthaha (mi’raj), maka Abu Bakartlah orang yang pertama kali menbenarkan perkataan Rasulullah r.[23]

Maka sebagai seorang da’i hendaknya memberikan pengetahuan dan pengarahan kepada masyarakat tentang keimanan kepada yang ghaib, disamping dirinya sendiri harus mempunyai keimanan yang penuh terhadap hal ini. Sehingga dirinya akan selalu kuat dan tegar ketika menghadapi berbagai ujian dan cobaan dalam dakwahnya, karena ia akan merasa bahwa Allahlah yang akan menjadi penolong baginya.

  1. IV. Penutup

Setelah mengkaji hadits di atas, maka kita banyak sekali mengambil pelajaran darinya. Diantara pelajaran yang dapat kita petik adalah tentang tema yang harus disampaikan oleh seorang da’i kepada masyarakat berupa keikhlasan dalam beramal hanya semata-mata kepada Allah dan tentang pentingnya keimanan kepada Allah I dan kepada hal-hal yang ghaib. Adapun sebagai seorang da’i hendaknya menghukumi seseorang secara dhahirnya karena Allah I sajalah yang mengetahui batin seseorang.

Pelajaran lain yang dapat diambil dari hadits di atas bahwasannya janganlah seorang da’i meremehkan dan menjauh dari simpatisan dakwah yang fajir (yang sering melakukan perbuatan dosa) karena boleh jadi agama ini dimenangkan dan diangkat derajatnya oleh Allah I lewat orang tersebut.

Demikianlah pembahasan singkat mengenai hadits di atas. Semoga Allah I memberikan kesabaran dan kekuatan kepada kita semua untuk tetap istiqamah dalam meniti jalan dakwah ini, walaupun banyak godaan, rintangan dan tantangan menghadang di tengah jalan ini.

REFERENSI

al-Qur’an al-Kariim.

Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di. Taisiiru al-Kariimi ar-Rahmani fie Tafsiiri Kalaami al- Mannaan. Beirut: Daar Ibnu Jauzi,  1424 H/2003 M. cet. Ke-1.

Abu Fidaa’ ‘Isma’il bin Katsir. Tafsiiru al-Qur’ani al-‘Adzimi. Riyadh: Maktabah Daar as-Salaam, 1418 H/1998 M. cet. Ke-2.

Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani. Fathu al-Baari Syarhu Shahiihi al-Bukhaari. Beirut: Daar al-Maktab al-‘Ilmiyyah, 1410 H/1989 M. cet Ke-1.

Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Isma’il al-Bukhari. Shahiihu al-Bukhaari. Beirut: Daarul Fikri, 1419 H/1998 M.

Shalih bin Fauzan al-Fauzan. Syarah al-‘Aqidah al-Waasatiyyah lie Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Daar Ibnu Jauzi-Kairo.

Shafiyurrahman al-Mubarakfuri. ar-Rahiiqu al-Mahtuum, Riyadh: Daar as-Salaam, 1418 H. cet ke-1.

Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas. Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 1427 H/2006 M. cet. Ke-4.

Abu Zayid bin Muhammad bin Muhammad Maki. Maadatu Maqaalati al-Firaq bag. ke-1. Daarul Kharraz, 1429 H/2008M. cet Ke-1.

Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Kitaabu at-Tauhiid.

Dr. Mahmud at-Thahan, Taisiiru Musthalahi al-Hadits, Surabaya, Toko Buku Hidayah.

www.dakwatuna.com.


[1] Namanya pada masa jahiliyah (menurut pendapat yang rajih) adalah ‘Abdu Syams, sebagaimana yang ditetapkan oleh Imam al-Bukhari, at-Tirmidzi dan Hakim. Adapun setelah masuk Islam, namanya telah dirubah oleh Nabi Muhammad r. Beliau r memberinya nama ‘Abdurrahman (pendapat yang lebih rajih). ‘Abu  Hurairah adalah orang Dausi, berasal dari Bani Daus bin ‘Adtsan. Kabilah Daus ini berasal dari Bani al-Azd. Sedangkan al-Azd sendiri merupakan kabilah Yamaniyah Qathaniyyah. Abu Hurairah terkenal dengan kuniyyah (julukannya). Tentang julukan beliau, maka Imam al-Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, ”Mereka memberikan gelar dan julukan kepadaku Abu Hurairah, penyebabnya tidak lain kerena aku pernah menggembalakan kambing untuk keluargaku. Dan saat itu kudapati anak kucing liar, lalu aku masukkan ke kantong lenganku. Ketika aku pulang kembali ke rumah, mereka mendengar suara kucing di kamarku, kemudian bertanya, ’Suara apakah itu, wahai ‘Abdu Syams?’ Akupun menjawab, ’Anak kucing yang kutemukan (saat menggembala kambing)’. Mereka berkata, ’Kalau begitu, engkau adalah Abu Hurairah.’ Semenjak itu, julukan dan gelar itu terus melekat padaku.”

[2]HR. al-Bukhari dalam kitab: al-Jihad wa as-Sair, bab: Innallaha yu’ayyidu ad-dien bir rajul al-fajir (no. 3062). Juga diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab: al-Iman, bab: ‘Ghalatu tahriimi qatli al-insaan nafsiihi wa inna man qatala nafsahu bie sya’iin ‘udz-dziba bihi fie an-naar wa ‘annahu laa yadhulu al-jannata illa nafsun muslimatun, (I/105 – no, 111).

[3]HR. al-Bukhari dalam kitab: al-Qadar, bab: al-‘amal bi al-khawatim (no. 6606).

[4] Allah telah menuliskan takdir seluruh makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. (HR. Muslim, no. 2653).

[5] Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Syarah al-‘Aqidah al-Waasatiyyah lie Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, (Kairo: Daar Ibnu Jauzi), hal. 44.

[6] Qadariyah adalah Majusi ummat ini. Apabila mereka sakit, maka jangan dijenguk. Jika mati jangan diiringi jenazahnya. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim).

[7] ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Taisiiru al-Kariimi ar-Rahmani fie Tafsiiri Kalaami al-Mannaan, (Beirut: Daar Ibnu Jauzi, 1424H/2003M ), cet. Ke-1, hal. 30.

[8] Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Taisiiru al-Kariimi ar-Rahmani fie Tafsiiri Kalaami al-Mannaan, hal. 353.

[9]Abdurrahman bin Abdullah al-Ghaits, alWijazah fie Tajhizi al-Janazah,  hal. 40.

[10]Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Shahiihu Riyaadhi as-Shaalihiin dalam bab: al-jam’u baina al-khauf wa ar-raja’.

[11]Mu’allaq adalah hadits yang dihilangkan seorang perawi atau lebih secara berurutan dari awal sanad. (Lihat: Dr. Mahmud at-Thahan, Taisiiru Musthalahi al-Hadiits, (Surabaya: Toko Buku Hidayah), hal. 69).

[12]HR. al-Bukhari dalam kitab: al-Iman, bab: Khauful mu’min min an yahbatha ‘amaluhu wa huwa la yasy’uru.

[13]Murji’ah berasal dari kata al-irja’ yang berarti mengakhirkan dan meremehkan. Adapun secara istilah, maka Ibnu ‘Uyainah mengatakan, “Murji’ah terbagi menjadi dua: kaum yang meremehkan keputusan ‘Ali dan ‘Utsman, dan mereka itu telah berlalu. Adapun yang kedua yakni mereka yang mengatakan bahwa iman itu cukup dengan perkataan tanpa perbuatan. Maka janganlah duduk-duduk, makan-makan, minum-minum bersama mereka dan janganlah mensholatkan mereka.” Ibrahim an-Nakha’i mengatakan, “Sungguh fitnah yang paling diriku takutkan pada umat ini dibandingkan dengan fitnah Azaariqah (kelompok Khawarij) adalah Murji’ah.” (Lihat: Abu Yazid bin Muhammad bin Muhammad Maki, Maadah Maqaalat al-Firaq bag. ke-1 (Daarul Kharraz, 1429 H/2008M),  cet Ke-1, hal. 60 – 62).

[14]Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fathu al-Baari Syarhu Shahiihi al-Bukhaari. (Beirut: Daar al-Maktab al-‘Ilmiyyah, 1410 H/1989 M), cet Ke-1, juz I, hal. 148.

[15]HR. al-Bukhari dalam kitab: al-Iman, bab: Khaufu al-mu’mini min an yahbatha ‘amaluhu wa huwa la yasy’uru.

[16]Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fathu al-Baari Syarhu Shahiihi al-Bukhaari, hal. 148.

[17] Diambil dari www.dakwatuna.com, pada (4/11/2009, 1: 31 PM).

[18]HR. al-Bukhari dalam kitab: al-Maghazi, bab: Rasulullah r mengutus Usamah bin Yazid ke Kharaqat Bani Juhainah, (no. 4269), dan dalam kitab: ad-Diyaat, bab: Firman Allah I, “Wa man ahyaahaa.” (no. 6872), Muslim dalam kitab: al-Iman, bab: Haram Membunuh Orang Kafir setelah Mengucapkan ‘Laa ilaa ha illallahu.’ dan Ahmad.

[19]HR. al-Bukhari (VI/19-20) dalam kitab: Tafsiiru al-Qur’an, bab: Walaa tukhzunii yauma yub’atsuun, (no. 4770), dan Muslim dalam kitab: al-Iman, bab: Firman Allah I, “Wa andir ‘asyiirataka al-aqrabiin.”

[20]HR. Muslim, dalam kitab: al-Iman, bab: Firman Allah I, “Wa andir ‘asyiirataka al-aqrabiin.”

[21]Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas, Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, (Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 1427 H/2006 M),  cet. Ke-4, hal. 251.

[22]Syafiyyurahman al-Mubarakfury, ar-Rahiiqu al-Mahtuum, (Riyadh: Daar as-Salaam, 1418 H), cet ke-1, hal. 336.

[23]Syafiyyurahman al-Mubarakfury, ar-Rahiiqu al-Mahtuum, hal. 135.

Categories: AQIDAH
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: