Home > AQIDAH >

September 30, 2010 Leave a comment Go to comments

Keputusan Bani Quraizhah Diserahkan Kepada Bani Sa’ad

Oleh : Zahid Muhyiddin

حدثنا سليمان بن حرب : حدثنا شعبة ، عن سعد بن إبراهيم وعن أبي أمامة هو ابن سهل بن حنيف , عن أبي سعيد الخدري  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال : « لما نزلت بنو قريظة على حكم سعد  بعث رسول الله – صلي الله عليه وسلم – وكان قريبا منه – فجاء على حمار ، فلما دنا قال رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّم : ” قوموا إلى سيدكم ” ، فجاء فجلس إلى رسول الله – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّم , فقال له : ” إن هؤلاء نزلوا على حكمك”. قال فإني أحكم أن تقتل المقاتلة وأن تسبى الذرية , قال : ” لقد حكمت فيهم بحكم الملك ».

Makna Hadits

Sulaiman bin Harb berkata, Syu’bah menyampaikan dari Sa’ad bin Ibrahim, dari Abu Umamah (Ibnu Sahl bin Hanif) dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra dia berkata, “Ketika Bani Quraizhah menyerang pemerintahan Sa’ad[1], Rosulullah saw keluar menujunya dengan menunggangi keledai (jaraknya tidak jauh). Ketika sudah dekat, beliau saw bersabda, “Berdirilah untuk menghormati tuan kalian.” Kemudian dia datang dan menghadap Rosulullah saw, maka beliau bersabda, “Sesungguhnya mereka telah menyerang pemerintahan kamu.” Dia berkata, ‘Saya memutuskan agar musuh (para penyerang) dibunuh dan keturunannya ditawan.’ Rosulullah saw bersabda, “Sungguh, engkau telah memutuskan perkara mereka dengan hukum Al-Malik.”[2].

Dalam riwayat yang lain, “Penduduk Quraizhah menyerang pemerintahan Sa’ad  bin Muadz, maka Rosulullah saw keluar menuju Sa’ad dengan menunggangi keledai. Ketika mendekati masjid, beliau saw menyeru orang-orang Anshar; ““Berdirilah untuk menghormati tuan kalian atau orang yang terbaik di antara kalian.” Beliau bersabda lagi, “Mereka (Bani Quraizhah) menyerang pemerintahanmu.” Maka Sa’ad berkata, ‘Musuh harus dibunuh dan keturunan mereka ditawan.’ Nabi saw bersabda, “Engkau telah memutuskan dengan hukum Allah” atau bersabda, “dengan hukum Al-Malik.”

Syarah Hadits:

  1. Ditawan: ghonimah untuk dijadikan budak.
  2. Keturunan: dari kalangan wanita dan anak-anak.

Pelajaran Hadits Dari Segi Dakwah:

  1. Pentingnya seorang alim untuk memutuskan sebuah hukum dengan keridhoan dua orang yang bersengketa.

Dalam memutuskan suatu perkara yang di padanya terdapat perselisihan, maka seorang da’i harus mengembalikannya kepada kitab Allah dan sunnah Rosul-Nya, hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikannya ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rosul (As-Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa’: 59).

Allah Ta’ala memerintahkan untuk mengembalikan segala sesuatu yang manusia berselisih di dalamnya, baik itu permasalahan aqidah ataupun permasalahan furu’iyah, yaitu harus dikembalikan kepada hukum Allah dan sunnah Rosul-Nya. Sebagaimana dalam ayat yang lain Allah berfirman: “Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (QS Asy-Syura: 10).[3]

Sebagaiman juga terjadi pada Sa’ad bin Muadz ketika memutuskan perkara Bani Quraizhah, yakni dengan membunuh para laki-lakinya yang sudah dewasa serta menawan anak-anak dan para wanitanya. Maka hendaknya bagi seorang imam, jika memutuskan suatu perkara, dia memutuskannya dari orang yang berilmu, ahli fiqih, dan ahli hukum sehingga apa yang dia putuskan membawa maslahat kaum muslimin; baik dengan dibunuh, ditawan, atau membayar jizyah. Dan ternyata apa yang diputuskan Sa’ad, Rosulullah saw menyetujuinya sehingga ia bisa dikategorikan sebagai sebuah hadits yaitu hadits taqriri.

  1. Di antara trik-trik dakwah adalah berdiri untuk penyambutan dengan mengucapkan salam, berjabat tangan.

Hadits ini menjelaskan bahwa berdiri dalam rangka menyambutan dengan memberikan salam, berjabat tangan, mengucapkan selamat, turun dari kendaraan, merupakan trik-trik dakwah. Nabi saw bersabda, “Berdirilah untuk menghormati tuan kalian.” Dan Rosulullah saw pun pernah berdiri untuk menyambut para sahabatnya ketika mereka datang. Aisyah ra mengatakan, “Saya tidak mendapati seseorang yang lebih menetapi jalan dan mengikuti petunjuk Rosulullah saw dalam berdirinya, duduknya selain dari Fathimah binti Rosulullah saw, dia (Fathimah) jika mengunjungi Nabi saw, maka Nabi saw berdiri untuk menyambutnya kemudian mempersilahkan duduk kepadanya, Nabi saw pun demikian, jika mengunjungi Fathimah maka Fathimah berdiri menyambutnya dan mempersilahkan duduk kepadanya.”[4]

Dari sini tampak jelas bahwa berdiri untuk menyambut orang yang baru datang dengan ucapan selamat, berjabat tangan, dengan merangkul ataupun dengan mempersilahkan duduk merupakan bagian daripada trik-trik dalam berdakwah. Adapun berdiri sebagai penghormatan tanpa diiringi salam, jabat tangan, tanpa merangkul maka hukumnya tidak dibolehkan, karena hal demikian merupakan kebiasaan orang-orang Persia sebagai bentuk pengagungan kepada pembesar-pembesar mereka. Dan Nabi saw telah bersabda:

مَنْ أحبَّ أنْ يُمثَّل له الرجال قياما فليتبوَّأْ مقعده من النار

“Barangsiapa yang menginginkan supaya orang-orang berdiri dengan maksud tunduk kepadanya, maka bersiap-siaplah untuk menempati tempat duduknya di neraka.”[5]

Untuk itu Anas ra berkata: “Tidak ada seorang yang lebih dicintai para sahabat Nabi selain daripada Rosulullah saw, jika mereka melihatnya, mereka tidak berdiri karena mereka mengetahui bahwa beliau saw tidak menyukainya.” Sebagai ringkasan, maka berdiri dalam rangka penghormatan terbagi menjadi tiga macam:

  1. Tunduk dengan menempelkan kepala ke kaki. Ini adalah perbuatan orang-orang yang sombong.
  2. Menghormati ketika melihatnya atau berdiri dari majlis sebagai penghormatan kepadanya. Ini ada perselisihan di dalamnya, tetapi yang benar tidak dibolehkan.
  3. Berdiri untuk menyambut kedatangannya dengan berjabat tangan, merangkul, mengucapkan salam, mempersilahkan duduk di tempatnya. Ini tidak mengapa bahkan termasuk trik-trik dalam berdakwah. Ibnu Qoyyim berkata, “Maka berbeda antara berdiri sebagai penghormatan kepada seseorang yang itu terlarang, kemudian berdiri yang menyerupai perbuatan orang-orang Persia dan Romawi, dengan berdiri sebagai penyambutan yang merupakan kebiasaan orang-orang Arab.”[6]
  4. Di antara sifat-sifat seorang da’i adalah tawadhu.

Hadits ini juga mencantumkan beberapa sifat tawadhu di antaranya, sikap beliau saw yang sepakat dengan keputusan Sa’ad bin Muadz ra, dengan sabdanya saw, “Engkau telah memutuskan perkara mereka dengan hukum Allah.”

Dan di antara tujuan Allah Ta’ala mewahyukan kepada Rosulullah saw adalah agar manusia bersikap tawadhu kepada yang lainnya. Rosulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kamu sekalian saling bertawadhu sehingga tidak ada seorang pun yang melampaui batas terhadap yang lain.” (HR Muslim).

Hadits-hadits yang menunjukkan sikap tawadhu Rosulullah saw juga sangat banyak di antaranya, “Allah Ta’ala tidak mengutus seorang Nabi pun kecuali pernah mengembala kambing.” (HR Al-Bukhori). Dan juga sabdanya, “Jika aku diundang kepada satu tulang hasta atau tulang betis, pasti aku datangi.” (HR Al-Bukhori).

Ciri-Ciri Orang Yang Bertawadhu:

  1. Orang yang menghindari rasa ingin dikenal/dipuji.
  2. Orang yang berdiri dari tempat duduknya karena datangnya seorang alim, dan mempersilahkannya duduk di tempatnya maka dialah orang yang tawadhu.
  3. Orang yang memenuhi undangan fakir miskin, membantu kebutuhan mereka dan berjalan bersama mereka, dan tidak menganggap dirinya lebih baik dari mereka.
  4. Termasuk juga orang yang makan dan minum tanpa berlebihan, dan orang yang berpakaian tidak sombong.[7]
  5. Di antara sifat-sifat seorang da’i adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya dengan penuh keadilan.

Yang demikian bisa tercermin dari sikap Sa’ad bin Muadz, sehingga Nabi saw bersabda kepadanya: “Engkau telah memutuskan perkara mereka dengan hukum Allah.” Ini merupakan karunia Allah. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata: Ini merupakan taufiq dari Allah yang diberikan kepada Sa’ad ra, sehingga dia memutuskan dengan hukum Allah Ta’ala, maka Nabi saw pun membunuh para laki-laki yang sudah dewasa serta menawan anak-anak dan para wanitanya.”

Pada pembahasan ini, sangat erat kaitan dengan pembahasan amanah dan tidak bisa dipisahkan dengannya. Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rosul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu menghianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal: 27).

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala memrintahkan kepada hamba-hambaNya untuk menunaikan amanah yang Allah berikan kepada mereka, baik melaksanakan perintah-Nya atau pun meninggalkan larangan-Nya. Dan sesungguhnya amanah ini pernah Allah tawarkan kepada langit, bumi serta gunung, namun semuanya menolak. Kemudian ditawarkan kepada manusia lalu manusia-lah yang menyanggupinya. Maka barangsiapa yang menunaikan amanah, niscaya ia akan mendapati balasan kebaikannya di sisi Allah.[8] Maka dari itu Sa’ad memutuskan permasalahan Bani Quraizhah sesuai dengan hukum Allah Ta’ala sebagaimana dalam hadits di atas.

  1. Di antara sifat-sifat seorang da’i adalah sangat teliti dalam mengambil sebuah hadits.

Hadits menunjukkan bahwa seorang da’i yang mukhlis harus teliti dalam mengambil sebuah riwayat, makanya rowi hadits ini mengatakan, “Berdirilah untuk menghormati tuan kalian” atau “Berdirilah untuk menghormati orang yang terbaik di antara kalian.”

  1. Di antara sasaran dakwah adalah orang-orang yahudi.

Hadits ini juga menunjukan bahwa orang-orang yahudi bagian daripada sasaran dakwah. Maka dari itu, Nabi saw mengajak mereka kepada Islam, kemudian mengadakan perjanjian dengan mereka. Akan tetapi ketika mereka menghianati perjanjiannya, Nabi saw mengepung mereka. Dan ini terjadi pada diri Muadz, maka dia pun memutuskan supaya mereka dibunuh sedangkan para wanita dan anak-anaknya ditawan.

Begitu juga hadits yang menyatakan bahwa Rosulullah saw mendakwahi ahlu kitab (baik yahudi ataupun nasrani) adalah hadits Muadz bin Jabal. Muadz berkata, Rosulullah saw mengutusku, kemudian beliau bersabda:

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi ahlu kitab, maka serulah mereka kepada Syahadat La Ilaha Illallah dan aku (Muhammad) adalah Rosulullah, jika mereka taat maka ajarilah bahwa Allah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam, . . .” (Muttafaq ‘Alaih).

Hadits ini menunjukkan bahwa tauhid -dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala dan meninggalkan segala bentuk kekufuran- adalah kewajiban pertama kali. Maka dari itu, pertama kali yang diserukan para Rosul adalah “Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan selain-Nya” (QS Al-Mukminun: 32).[9]

Referensi:

  1. Fiqih Dakwah Fi Shahih Imam Al-Bukhori, Sa’id bin Ali bin Wahab Al-Qahthani.
  2. Minhajul Muslim, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi.
  3. Tafsir Al-Qur’anul Azhim, Ibnu Katsir,
  4. Taisirul Karim Ar-Rahman, Abdurrahman As-Sa’di.

Fathul Majid, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh.


[1] Sa’ad bin Muadz bin Nu’man Al-Anshari. Dia adalah pemuka suku Aus yang masuk Islam lewat Mus’ab bin Umair. Dia juga termasuk daripada ahli Badar, Uhud, Khondaq, dan Quraizhah. Dia syahid sebulan setelah perang Khondaq, kemudian Rosulullah saw bersabda: “Arsy Ar-Rahman bergoncang karena kesyahidan Sa’ad bin Muadz.”

[2] HR Muslim dalam Kitab Jihad Wa Siyar Bab Bolehnya Memerangi Siapa Yang Membatalkan Perjanjian, No. 1768.

[3] Tafsir Al-Qur’anul Azhim, Ibnu Katsir, Cet Maktabah Darus Salam, I/689.

[4] HR Abu Dawud 5217, Tirmidzi 3872, dan dishahihkan Al-Bani dalam Shahih Sunan Tirmidzi III/241, dan Shahih Sunan Abu Dawud III/979

[5] HR Abu Dawud dan Tirmidzi, dia berkata: Hadits Hasan.

[6] Al-Marja’ As-Sabiq 8/93.

[7] Minhajul Muslim, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Cet PT Megatama Sofwa Pressindo, hal 267-268.

[8] Taisirul Karim Ar-Rahman, Abdurrahman As-Sa’di, Cet Muassasah Ar-Risalah, hal 319.

[9] Fathul Majid, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, Cet Darus Salam-Riyadh, hal 86.

Categories: AQIDAH
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: