Home > AQIDAH >

September 30, 2010 Leave a comment Go to comments

Keutamaan Sahabat Ali

Oleh : Afifullah

 A. Lafadz hadist:

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوع  رضي الله عنه قَالَ : « كَانَ عَليّ رضي الله عنه تَخَلَّفَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي خَيْبَرَ، وَكَانَ بِهِ رَمَد ، فَقَالَ : آَنا أَتَخَلَّف عَنْ رَسولِ اللّهِ صلى الله عليه وسلم ؛ فَخَرَجَ عَلِي فَلَحِقَ بالنَبِي صلى الله عليه وسلم . فَلَما كَانَ مَسَاء اللَّيْلَةِ الَّتِي فَتَحَهَا فِي صَبَاحِهَا، فَقَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” لَأعْطِيَنَّ الرَّايَةَ- أَوْ قَالَ : لَيأخذَنَّ- غَدا رَجل يحِبّه اللّه وَرَسوله، أَوْ قَالَ : يحِبّ اللّهَ وَرَسولَه، يَفتح اللّه عَلَيْهِ ” . فَإِذَا نَحْن بعَلِيٍّ وَمَا نَرْجوه . فَقَالوا : هَذَا عَلِيّ، فَأَعْطَاه رَسول اللّهِ صلى الله عليه وسلم فَفَتَحَ اللّه عَلَيْهِ »

Dari salamah bin aqwa’.ra berkata:

”Pada perang Khaibar, Ali bin Abu Thalib telah tertinggal dari pasukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena terserang penyakit mata. Dia berkata: Aku tertinggal dari pasukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Akhirnya Ali keluar menyusul Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Pada waktu sore di mana keesokan paginya Allah memberikan kemenangan kepada pasukan Islam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sungguh akan aku berikan bendera ini atau bendera ini akan dipegang besok oleh seorang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya serta mencintai Allah dan Rasul-Nya. Mudah-mudahan saja Allah memberikan kemenangan padanya. Tiba-tiba kami bertemu dengan Ali dan hilanglah harapan kami untuk diberi bendera tersebut. Para sahabat berkata: Inilah Ali. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memberikan bendera tersebut kepada Ali. Dan akhirnya Allah memberikan kemenangan padanya “…[1].

B. Kedudukan hadits

Hadist ini termasuk silsilah hadist shahih diriwayatkan oleh bukhari dalam kitab keutamaan para sahabat nabi r bab. Keutamaam Ali bin abi thalib alquraisy al hasimy abi al hasant jus 4 hal 247 no hadist: 3702 ,dalam kitab jihad bab perang khaibar jus 5 hal.90 no hadist: 4209. Dan diriwayatkan oleh muslim dalam kitab keutamaan para sahabat nabi r bab. Keutamaam Ali bin abi thalib t jus 4 hal.1872 no hadist: 2407.

C. Penjelasan hadist

Makna وَكَانَ بِهِ رَمَد :artinya artinya beliau mengalami sakit mata yang cukup parah di dalam riwayat yang lain dijelaskan sampai-sampai beliau tak mampu melihat sesuatu. maka Ali bin Abi Thalib dibawa kehadapan Rasulullah SAW, lalu beliau meludahi kedua matanya, berdo’a dan seketika itu pula sembuh, seakan-akan dia sama sekali tidak pernah merasakan sakit mata, setealah beliau SAW menyerahkan bendera kepadanya. [2]

: آَنا أَتَخَلَّف عَنْ رَسولِ اللّهِ صلى الله عليه وسلم ؛ فَخَرَجَ عَلِي فَلَحِقَ بالنَبِي صلى الله عليه وسلم

Artinya; dia meyakini bahwa dirinya masih ada kesempatan untuk menyusul Nabi dan pasukannya (dia tidak benar-benar tertinggal) dan sampai bersama Nabi dan pasukannya sebelum perang itu terjadi.

فَلَما كَانَ مَسَاء اللَّيْلَةِ الَّتِي فَتَحَهَا فِي صَبَاحِهَا

Artinya: ketika malam sudah berlalu Allah memberikan kemenangan kepada jama’ah kaum muslimin di pagi harinya.

لَأعْطِيَنَّ الرَّايَةَ- أَوْ قَالَ : لَيأخذَنَّ- غَدا رَجل يحِبّه اللّه وَرَسوله artinya pada malam penyerbuan benteng, beliau bersabda “ besok aku benar-benar bendera kepada sesorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, juga dicintai Allah dan Rasul-Nya”[3] lafadz ini juga terdapat dalam riwayat  ahmad, nasai’, dan ibnu hibban dari hadist buraidah bin khasib  berkata ketika perang khaibar abu bakar mengambil bendera tersebut kemudian pergi berperang dan beliau kembali tidak membawa kemenangan begitu juga dengan umar sampai sahabat Mahmud bin maslamah terbunuh pada waktu itu, kemudian Nabi SAW bersabda:” sungguh bendera ini akan dipegang oleh seorang lelaki besok”

Dalam riwayat yang lain pada perang khaibar  Rasul menyerahkan bendera kepada Abu Bakr supaya memasuki benteng Na’im. Tetapi setelah terjadi pertempuran ia kembali tanpa berhasil menaklukkan benteng itu. Keesokan harinya pagi-pagi Rasui menugaskan Umar bin’l-Khattab. Tetapi dia pun mengalami nasib yang sama seperti Abu Bakr. Sekarang Ali b. Abi Talib yang dipanggilnya seraya katanya:

“Pegang bendera ini dan bawa terus sampai Tuhan memberikan kemenangan kepadamu.”[4]

: يحِبّ اللّهَ وَرَسولَه، يَفتح اللّه عَلَيْهartinya allah dan Rasul-Nya benar-benar mencintainya, sehingga beliau tidak mau berhenti dari peperangan sebelum Allah memberikan kemenagan kepadanya

. فَإِذَا نَحْن بعَلِيٍّ وَمَا نَرْجوهartinya: ketika para pasukan bermalam, mereka mengira pada malam itu juga nabi SAW akan memberikan panji/bendera tersebut kepada salah satu dari mereka, maka ketika sahabat Ali datang di tengah-tengah mereka mereka langsumg pesimis kalau bendera tersebut akan di berikan kepada salah satu diantara mereka.[5] adapun dalam riwayat yang lain keesokan harinya orang-orang mengerumuni beliau dan masing-masing berharap agar diserahi bendera[6]

Pelajaran yang bisa diambil dari hadist ini diantaranya:ٍٍٍٍٍٍٍٍٍٍٍٍٍِD.

  1. Metode da’wah dengan menggunakan bahasa sindiran.(obyektif)

Artinya seorang da’I harus menggunakan bahasa penyampaian sehalus mungkin agar yang dida’wahi yaitu mad’u tidak tersinggung atau menolak kebenaran yang disamapaikan oleh seorang da’I,jangan sampai menggunakan bahasa yang kasar yang mengakibatkan mad’u marah. Atau seorang da’I  harus menyampaikan materinya secara obyektif.

  1. Bersabar terhadap cobaan merupakan sifat para dai

Dalam menyampaikan kebenaran tidak semudah yang kita bayangan, tentu banyak rintangan,ujian dan cobaan yang harus dihadapi oleh para da’I yang di maksud sabar disini

yaitu Bersabar atas berbagai ganguan dan rintangan dalam menuntut ilmu, beramal serta berdakwah.
Allah Ta’ala berfirman:

ΎóÇyèø9$#ur ÇÊÈ   ¨bÎ) z`»|¡SM}$# ’Å”s9 AŽô£äz ÇËÈ   žwÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# (#öq|¹#uqs?ur Èd,ysø9$$Î/ (#öq|¹#uqs?ur Ύö9¢Á9$$Î/ ÇÌÈ

1. Demi masa.

2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al ‘Ashr : 1-3)

Apa perkatan Imam As Syafi’i رحمه الله تعالى tentang surat ini ?

” لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم

“Seandainya Allah tidak menurunkan satu hujjah kepada makhluknya kecuali surat ini niscaya telah cukup bagi mereka”[7]

Maka seorang da’i ke jalan Allah hendaknya tidak berkeinginan selain memperbaiki saudara-saudaranya serta menunjukkan mereka pada kebenaran. Namun bersama ini saya juga mengatakan kepada sang penanya : ‘Bersabarlah dan berihtisablah (mengharapkan pahala), dan ketahuilah bahwa setiap gangguan yang menimpamu dalam berdakwah ke jalan Allah maka anda akan diberi pahala. Dan seorang da’i ke jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala jika dakwahnya diterima ia telah melaksanakan kewajibannya dan meraih ganjaran akibat hidayah yang diperoleh oleh orang lain (melalui tangannya) sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada Ali bin Abi Thalib.  “Artinya : Majulah dengan tenang, maka demi Allah ! Sungguh jika Allah memberikan hidayah seseorang melalui dirimu maka itu lebih baik bagimu daripada seekor unta merah” Jika dakwahnya  ditolak dan ai disakiti di jalan Allah, maka sesungguhnya hal itu juga pahala baginya, bahkan dua pahala ; untuk dakwahnya ke jalan Allah, dan untuk cobaan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala .  Dan para rasul ‘alaihimushalatu was salam telah disakiti namun mereka bersabar, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada NabiNya.  “Artinya : Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (uang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan  sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu” [Al-An’am : 34]  [8]

  1. ikhlas dalam berda’wah

Diantara tanda manhaj dakwah para Nabi yang jelas adalah Ikhlas .Mereka ikhlas berdakwah dengan hanya mencari wajah Allah. Ikhlas merupakan ruh amal shalih, sedangkan dakwah kepada Allah merupakan amal shalih dan ketaatan yang paling utama yang bisa mendekatkan seorang da’i kepada Allah. Demikian Allah memerintahkan kita berbuat ikhlas.  Ikhlas merupakan syarat diterima dan selamatnya suatu amalan. Allah tidak akan menerima satu perbuatanpun kecuali dengan keikhlasan mencari wajah Allah.

.  Dalam sebuah hadits shahih, yang maknanya :  “Tiga orang yang pertama menjadi bahan bakar neraka adalah : orang berilmu, orang yang mati syahid dan orang yang dermawan. Orang alim yang Allah berikan ilmu dan hikmat. Dia dibawa dihadapan Allah. Allah menyebutkan nikmat-nikmat lalu dia mengakuinya. Allah berkata kepada orang itu  “Hai hambaku, Aku telah memberikan ilmu kepadamu. Apa yang dilakukan dengannya ? Orang itu menjawab : “Wahai Rabbku, aku telah mempelajari dan mengajarkan!”. Lalu Allah berfirman : “Engkau bohong ! Engkau belajar dan mengajarkannya agar engkau disebut orang berilmu dan ucapan tersebut sudah terucap”. Lalu Allah mengambil wajah orang tersebut dan mencampakkannya di neraka Jahannam. Demikian juga yang Allah lakukan kepada orang yang mati syahid berjuang bukan untuk mencari wajah Allah dan tidak untuk meninggikan kalimat Allah. Dia berjuang supaya disebut pemberani. Demikian juga Allah memperlakukan orang yang dermawan namun dia dermawan bukan karena Allah, dia berbuat demikian supaya disebut dermawan”.

Keikhlasan itu harus ada  pada diri seorang da’i. Jika seorang da’i tidak jujur dan tidak ikhlas, maka dia tidak mendapat taufik dari Allah dalam dakwahnya dan tidak mendapatkan pertolongan, pemeliharaan serta Allah tidak akan memperdulikannya. Bertolak dari ini Allah berfirman tentang hak Yusuf ‘Alaihissallam seorang pemuda yang mempunyai kleikhlasan.  “Artinya : Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih” [Yusuf : 24]

Seorang da’i harus ikhlas supaya mendapatkan taufik dalam berdakwah dan diterima masyarakat. Orang ikhlas dicintai Allah dan dicintai manusia. Jika Allah suka kepada seorang hamba, dia akan memanggil Malaikat Jibril : ‘Ya Jibril saya suka kepada si fulan, hendaklah kalian mencintainya!” kemudian Jibril memanggil para malaikat : “Sesungguhnya Allah suka kepada si fulan, maka cintailah dia !” Kemudian ia diterima di muka bumi. Orang ikhlas diterima hati banyak orang. Dengan sebab mereka dan dakwah mereka ini, Allah berkenan membuka hati yang tertutup, telinga yang tuli dan mata yang buta.  [2]. Ilmu Dan Bashirah Allah berfirman : “Katakanlah, ‘Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan  hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” [Yusuf : 108][9]

  1. Sifat da’iyah yaitu mencintai Allah dan Rasul_Nya

Seorang da’I harus benar-benar mencintai Allah  agar Allah pun benar-benar mencintainya dan memberikan pertolongan-Nya dalam berda’wah.dan diantara tanda cinta Allah kepada hamaba-Nya ialah sebagaimana yang Rasulullah sabdakan:”sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba maka Allah mengujinya” HR.at-tirmidzi[10]

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

]ومن الناس من يتخذ من دون الله أندادا يحبونهم كحب الله والذين آمنوا أشد حبا لله[

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang mengangkat tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintaiNya sebagaimana mencintai Allah, adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al Baqarah, 165).

]قل إن كان آباؤكم وأبناؤكم وإخوانكم وأزواجكم وعشيرتكم وأموال اقترفتموها وتجارة تخشون كسادها ومساكن ترضونها أحب إليكم من الله ورسوله وجهاد في سبيله فتربصوا حتى يأتي الله بأمره[

“Katakanlah jika babak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai, itu lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya, dan daripada berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya” (QS. At taubah, 24).

Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Anas Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين”.

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya”.

Juga diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Anas Radhiallahu’anhu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

[11]“ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان : أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أن أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار”. وفي رواية : ” لا يجد أحد حلاوة الإيمان حتى … إلى آخره.

“Ada tiga perkara, barang siapa terdapat di dalam dirinya ketiga perkara itu, maka ia pasti mendapatkan manisnya iman, yaitu : Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari pada yang lain, mencintai seseorang tiada lain hanya karena Allah, benci (tidak mau kembali) kepada kekafiran setelah ia diselamatkan oleh Allah darinya, sebagaimana ia benci kalau dicampakkan kedalam api”.

Dan disebutkan dalam riwayat lain : “Seseorang tidak akan merasakan manisnya iman, sebelum …”dst.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata :

“من أحب في الله، وأبغض في الله، ووالى في الله، وعادى في الله، فإنما تنال ولاية الله بذلك، ولن يجد عبد طعم الإيمان وإن كثرت صلاته وصومه حتى يكون كذلك، وقد صار عامة مؤاخاة الناس على أمر الدنيا، وذلك لا يجدي على أهله شيئا” رواه ابن جرير.

“Barangsiapa yang mencintai seseorang karena Allah, membenci karena Allah, membela Karena Allah, memusuhi karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan Allah itu diperolehnya dengan hal-hal tersebut, dan seorang hamba tidak akan bisa menemukan lezatnya iman, meskipun banyak melakukan sholat dan puasa, sehingga ia bersikap demikian. Pada umumnya persahabatan yang dijalin di antara manusia dibangun atas dasar kepentingan dunia, dan itu tidak berguna sedikitpun baginya”.

Ibnu Abbas menafsirkan firman Allah Subhanahu wata’ala :

]وتقطعت بهم الأسباب[ قال : المودة.

“ … dan putuslah hubungan di antara mereka” (QS. Al baqarah, 166). Ia mengatakan : yaitu kasih sayang.[12]

  1. Urgensi   panji/bendera  dalam berperang di jalan Allah ‘azza wa jalla.

Dr. ‘Abdullah bin Muhammad bin Sa’d al-Hujailiy menyerukan, “Meskipun bendera-bendera ini hanyalah secarik kain yang berkibar bila tertiup angin, akan tetapi di hati musuh-musuhnya laksana sambaran tombak dan panah yang melesat secepat kilat. Sedangkan kecintaan pembawa bendera melebihi cintanya orang yang dimabuk asmara.”. Dapat dipahami mengapa beliau menuliskan demikian karena di masa Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, panji dan bendera ini memiliki kedudukan yang sangat mulia, sebab didalamnya bertuliskan kalimat tauhid, ‘Laa Ilaha illa al-Allah’.

Ada 3 point penting yang bisa dari buku beliau yang berjudul “al-‘Alamu nabawiy asy-Syariif wa Tatbiqatihi al-Qadimatu wa al-Ma’ashiratu” Versi bahasa Indonesianya berjudul “Bendera Nabi SAW” diterjemahkan oleh al-Ustadz Syamsuddin Ramadhan,yaitu:

1. Melegalisasi bendera dan panji merupakan Sunnah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam sekaligus syi’ar yang harus dicontoh oleh setiap negeri Islam dan kaum muslimin, baik dahulu maupun sekarang, dan berjuang menerapkan institusi yang menggunakan bendera dan panji ini secara benar merupakan sebuah kewajiban, institusi itu tidak lain adalah Daulah Khilafah Islamiyah.

2. Berdasarkan pendapat-pendapat yang diketengahkan oleh para fuqaha’, seharusnya benderanya (liwaa / al-liwa) berwarna putih, sedangkan panjinya (raayaah / ar-raya) berwarna hitam. Sebab, hal ini merupakan perbuatan dan perkataan Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.

3. Bendera Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bertuliskan kalimat ‘Laa Ilaha illa al-Allah Muhammad Rasulullah (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam).”[13]

  1. Mu’jizat nabi yaitu: mampu memberikan khabar  yang ghaib.

Bukti rasulullah dalam mengetahui hal yang ghaib dalam hadist di atas adalah dia mampu memastikan bahwa bendera itu akan dipegang oleh sahabat Ali dan dengan perantara beliau pula kaum muslimin mendapatkan kemenangan.

  1. seorang da’I harus memiliki sifat pemberani

seorang da’I harus benar-benar meyakini bahwa yang disampaikannya adalah  kebenaran dan harus berani serta percaya diri dalam menyampaikan kebenaran tersebut, jangan sampai ada rasa  takut, malas , minder, malu dan sebagainya, kecuali kalau kebenaran itu disampaikan akan menimbulkan kemudharatan yang lebih besar bagi diri seorang da’i, maka seorang da’I boleh takut dalam kondisi sepert itu.[14]

Seorang da’I juga tidak boleh terlalu berani dalam memutuskan suatu hukum atau memberikan fatwa.  Sebagaimana Rasulullah bersabda:

أَجْرَؤُكُمْ عَلىَ اْلفُتْيَا أَجْرَؤُكُمْ عَلىَ النَّارِ

“Yang paling berani di antara kalian dalam memberi fatwa, berarti ia yang paling berani di antara kalian masuk ke dalam neraka.” [15]

“Wallahu ‘Alam Bisowab”

E. Referensi:

  1. Fatwa Hai’ah Kibaril Ulama, Syaikh Ibnu Baz.
  2. kitab tauhid oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi.
  1. Fathul barri,syarh shahih bukhari , karya ibnu hajar astqolany.
  2. tashil al-ushul ats-tsalatsah, karya Syaikh Shalih Bin Abdillah Al ‘Ashiimy.
  3. sejarah hidup muhammad SAW, karya muhammad Husain haekal.
  4. fiqhu Da’wah,karya Ali bin wahf alkhathany.
  5. Rahikul makhtum, karya syaifiurahman mubarakfury.
  6. Shahih muslim, syarh imam muhyidin an-nawawi.
  7. kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan. Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
  8. minhajul qosidin,karya ibnu qudamah.

al-‘Alamu nabawiy asy-Syariif wa Tatbiqatihi al-Qadimatu wa al-Ma’ashiratu,karya  Dr. ‘Abdullah bin Muhammad bin Sa’d al-Hujailiy edisi Indonesia”bendera Nabi SAW”.


[1] Diambil dari kitab fiqhu da’wah karya ali bin wahf al-khathany

[2] Rahikul mahtum, syaifiurahman mubarakfury.hal.485

[3] Rahikul mahtum, syaifiurahman mubarakfury.hal.484-485

[4] .sejarah hidup muhammad SAW.muhammad Husain haekal.

[5] Fathul barri,ibnu hajar astqolany,bab perang khaibar jus:12 hal.29

[6] Rahikul mahtum, syaifiurahman mubarakfury.hal.485

[7] “ tashil al-ushul ats-tsalatsah” Syaikh Shalih Bin Abdillah Al ‘Ashiimy

[8] Dinukil dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, terbitan Darul Haq]

[9] Dinukil dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VI/1423H/2002M Rubrik Liputan Khusus yang diangkat dari ceramah Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr Tanggal 3-6 Muharram 1423H

[10] Minhajul qosidin,ibnu qudamah, bab cinta, kerinduan, kebersamaan dan ridha,hal.446

[12] . kitab TAUHID oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi

[13] .al-‘Alamu nabawiy asy-Syariif wa Tatbiqatihi al-Qadimatu wa al-Ma’ashiratu, Dr. ‘Abdullah bin Muhammad bin Sa’d al-Hujailiy

[14] .Fiqhu da’wah,Ali bin wahf al khathany

[15] . adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abdurrahman Ad-Darimi dalam kitab Sunannya dari Abduillah bin Abi Ja’far Al-Mishri secara mursal.

Categories: AQIDAH
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: