September 30, 2010 Leave a comment Go to comments

Nafkah Istri-Istri Nabi Sepeninggal Beliau

Oleh : Fadhilah Rahim

حدّثنا عبد الله بن أبي شيبة : حدّثنا أبو أسامة : حدّثنا هشام، عن أبيه، عن عائشة رضي الله عنها . قالت: « “توفّي رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم وما في بيتي من شيء يأكله ذو كبد، إلّا شطر شعير في رف لي، فأكلت منه حتّى طال علي، فكلته، ففني

Dari ‘abdullah bin abi syaibah, dari abu Usamah: dari hisyam dari bapaknya, dari ‘aisyah ra berkata: Rasulullah SAW meninggal sedangkan di dalam rumahku tidak ada yang bisa dimakan manusia, kecuali hanya sedikit gandum yang disimpan di laciku, kemudian aku makan dari roti tersebut dengan waktu yang sangat lama, kemudian aku menakarnya ternyata sudah habis. (HR. Muslim).


Dalam mengomentari hadits ini, ulama’ mengambil pelajaran dari berbagai sudut pandang yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan hadits ini sebagai hujjah bahwasanya kita dianjurkan untuk miskin, ada juga yang mengatakan bahwa barakahnya makanan itu terletak pada yang sedikit, ini bukti bahwa hadits ini memiliki banyak faidah yang bisa kita ambil.

Pada kesempatan ini kami ingin membatasi pembahasan ini terkhusus hanya belajaran yang dapat diambil bagi seorang da’i demi meneladani Rasulullah SAW, beserta orang yang mengikuti jejak beliau, dalam hal ini perowi hadits.

Kita telah mengetahui bersama bahwa keberadaan seorang da’I dihadapan mad’unya adalah sekaligus berstatus sebagai pemimpin. Oleh sebab itu dengan status sebagai pemimpin seorang da’i dituntut setidak-tidaknya memahami leadershif dan bagaimana seharusnya bersifat dan akhlaq seorang pemimpin.

Hadits di atas sangat bermanfaat terkhusus pada seorang da’i, dalam berakhlak hendaknya meniru Rasulullah SAW, karena tidak ada panutan yang lebih selamat daripada Rasulullah SAW.

Dalam hadits di atas ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil bagi seorang da’i, diantaranya adalah:

  1. 1. Anjuran para salaf untuk mengajarkan anak-anaknya.

Para salafush sholeh mereka sangat menjaga anak-anaknya dan keluarga terdekatnya untuk mempelajari ilmu yang bermanfaat, sebagai contoh dalam sanad hadits ini urwah bin zubair bin ‘awwam mengajarkan anaknya Hisyam, sebagaimana hadits ‘aisyah ra di atas.

Oleh karena itu dianjurkan kepada para da’I untuk mengajarkan anak-anaknya dan keluarganya apa yang bermanfaat bagi mereka, karena inilah nanti akan menjadikan amalan kita mengalir. Sebagaimana sabda Nabi SAW yang bunyinya:

إِذَا مَاتَ اِبْن آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ

” Apabila anak adam meninggal dunia terputuslah amal-amalnya kecuali hanya tiga hal, shodakah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. 2. Diantara salah satu sifat da’I adalah, zuhud

A. Menurut bahasa adalah

1. Lawan kata dari menyenangi, [1]

2. Meninggalkan sesuatu dan berpaling darinya,[2]

3. Berpalingnya kecintaan terhadap sesuatu kepada yang lebih baik darinya[3]

4.Berpaling dari sesuatu untuk membebaskannya, menghinakannya, dan mengangkat keinginan    darinya [4]

B. Menurut istilah adalah tak tergantungnya keinginan hati dan jiwa dengan kenikmatan kehidupan dunia, kegemerlapannya dan keindahannya.[5]

C.   Dalil disyare’atkannya zuhud

A. Al Qur’an

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا {16} وَاْلأَخِرَةُ خَيْرُُوَأَبْقَى {17}

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Al A’la :16-17)

B. Al Hadits:

عَنِ الْمُسْتَوْرِدِ بْنِ شَدَّادٍ أَخِي بَنِي فِهْرٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ .

Dari al Mustaurid bin Saddad alfahri berkata, bersabda Rasulullah saw. : ”Tidaklah dunia dibanding dengan akherat kecuali seperti salah seorang darimu mencelupkan jarinya dilaut maka lihatlah apa yang tersisa (HR. Muslim)

C. perkataan salaf:

Berkata Abu Muslim Al Kholani,: Bukanlah kezuhudan di dunia itu dengan mengharamkan yang halal, dan membuang harta akan tetapi kezuhudan di dunia itu jika apa yang ada ditangan Allah lebih diyakini dari pada apa yang ada ditangannya, dan jika kamu terkena musibah kamu lebih berharap kepada pahalanya dan simpanan modal musibah itu.”[6]

Zuhud adalah salah satu sifat yang terpuji yang menghiasi bagi setiap muslim yang mempunyai sifat tersebut. Dalam hadits di atas sangat nampak sekali tentang kezuhudan nabi di dunia, sebagaimana kata ‘aisyah ra:

“توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم وما في بيتي من شيء يأكله ذو كبد إلا شطر شعير في رفّ لي

“Rasulullah SAW meninggal sedangkan di dalam rumahku tidak ada yang bisa dimakan untuk mengenyangkan perut, kecuali hanya sepotong roti yang disimpan di laciku” (HR. Muslim)

Rasulullah juga membersihkan hati para pengikutnya dengan zuhud, sebagaimana firmannya:

“انظروا إلى من أسفل منكم، ولا تنظروا إلى من هو فوقكم، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

”lihatlah kepada orang di bawah kalian, dan jangan melihat pada orang yang berada di atas kalian, maka itu lebih utama agar kalian tidak mencela nikmat Allah.(HR. Bukhari)

  1. 3. Diantara sifat da’I juga, sabar dengan ujian dan cobaan yang menimpanya.

A. Menurut bahasa

Asal kata sabar adalah al man’u (menahan) dan al Habsu (Mencegah) jadi sabar adalah  menahan jiwa dari cemas, lisan dari mengeluh, dan organ tubuh dari menampar pipi, merobek-eobek baju, dan  lain sebagainya.[7] Allah ta’ala berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ … {28}

“ Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang yang menyeru tuhannya.”(Qs. Al Kahfi : 28)

B. Menurut Ulama’ salaf

1. Al Junaid bin Muhammad pernah ditanya tentang sabar, ia menjawab sabar ialah meneguk sesuatu yang pahit tanpa memberengut.

2.  Dzun Nun berkata: “Sabar ialah menjahui larangan, tenang ketika menenggak.

Pada hadits di atas sangat nampak sekali, bahwasanya diantara sifat da’I adalah sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan. Dan ini telah dicontohkan oleh nabi saw dalam kehidupannya beliau bersabar meskipun mengalami kesempitan dalam hidupnya. Sepeninggal beliau juga tidak ada sesuatu yang ditinggal untuk diwariskan kepada keluarganya, sebagaimana kata ‘aisyah:

توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم وما في بيتي من شيء يأكله ذو كبد إلا شطر شعير”.

Rasulullah SAW meninggal sedangkan di dalam rumahku tidak ada yang bisa dimakan untuk mengenyangkan perut, kecuali hanya sepotong roti. (HR. Muslim)

Oleh karena itu hendaknya bagi setiap muslim, terkhusus pada da’I untuk bersabar terhadap ujian yang menimpanya baik dalam keadaan bahagia atau sedih, dalam keadaan mudah atau sulit.

  1. 4. Pentingnya tawakkal kepada Allah SWT.

Pada hadits di atas kita bisa memahami bahwa tawakkal kepada Allah merupakan susuatu yang sangat urgen dan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti tawakkalnya ‘Aisyah ra beliau hanya memakan sedikit dari gandum yang sudah lama tersimpan di laci.

  1. A. Definisi Tawakkal
    1. Definisi tawakkal secara bahasa;

Menurut Ibnu Mandhur[8] tentang definisi tawakkal dalam lisanul arab ia berkata “dapat dikatakan tawakkal terhadap suatu perkara bila telah diadakan usaha terhadapnya” jika dikatakan “wakakkaltu amri ila fulan” makna adalah aku menyerahkan urusanku kepada fulan dan aku bersandar kepadanya. Dan fulan bertawakkal kepada fulan jika ia merasa cukup dengannya karena kelemahannya untuk melakukan perkara itu sendiri”.Ar-Rozi berkata dalam mukhtaru shohah bahwa yang dimaksud dengan tawakkal adalah menampakkan kelemahan dan bersandar kepada selainnya.[9] sedangkan dalam mu’jamul wasith yaitu harus dilakukan usaha terlebih dahulu. Tawakkal kepada Allah artinya menyerahkan kepadanya.[10]

  1. definisi tawakkal secara istilah

banyak sekali ulama yang mendefinisikan tawakkal diantaranya sebagai berikut:

–          Syeikh Shalih Al Fauzan dalam kitab “Qoulu Al-mufid” mendefinisikan tawakkal adalah : bersandar kepada Allah dalam memenuhi segala kebutuhan dan menghadapi kesusahan.

–          Ibnu rajab mendefenisikan tawakkal yaitu : bersandarnya hati dengan sebenar-benarnya kepada Allah ‘azza Wajalla dalam memperoleh kebaikan dan menolak kemudharatan  bawik dalam urusan dunia dan akhirat.[11]

–          Syaikh Utsaimin Rahimahullah berkata : tawakkal adalah bersandar kepada Allah subhanahu Wa ta’ala dalam memenuhi kebutuhan dan menghilangkan segala hal yan dibenci dengan melakukan sebab. Inilah yang yang paling mendekati kepada ta’rif.

Hal ini harus memenuhi dua perkara sebagai berikut:

Pertama: bersandar kepada Allah dengan sebenar-benar penyandaran.

Kedua   : melakukan sebab yang mendukung kepadanya.

  1. B. Dalil-Dalil Tentang Tawakkal Dari Al-Qur’an Dan As-Sunnah

Dalil dari Al-Qur’an

Banyak ayat-ayat al-qur’an yang menerangkan tentang tawakkal salah satunya;

Allah berfiman :

’n?tãur «!$# (#þqè=©.uqtGsù bÎ) OçGYä. tûüÏZÏB÷s•B ÇËÌÈ

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.

Dalil dari As-Sunnah

Rosululloh r bersabda :

لو توكلواعلى الله حق توكل لرزقكم كما يرزق الطير،يغدوا حماصاوطروح بطانا

“Seandainya engkau bertawakkal dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah akan memberi rizki kepadammu rizki sebagaimana ia memberi rizki pada seekor burung,pergi diwaktu pagi dalam keadaan lapar, pulang disore hari dalam keadaan kenyang“.( HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Perkataan salaf

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah berkata : Sungguh telah jelas bahwa tawakkal merupakan asas bagi seluruh bangunan keimanan dan ihsan, asas bagi semua amal-amal. Kedudukannya sebagaimana kedudukan kepala atas badan. Tidaklah tgak badan yang tidak memiliki kepala, begitu pula keimanan tidak akan tegak pada diri seseorang tanpa dibangun diatasnya tawakkal[12].

Ia menambahkan bahwa tawakkal adalah separuh dari keimana sedang separuhnya lagi adalah inabah. Kedudukan tawakkal dalam dien ini lebih luas di bandingkan seluruhnya dikarenakan ketergantungan yang lain kepadanya.

Mungkin ini saja yang dapat kami paparkan pada kesempatan ini, semuga penulis dan pembaca makalah ini dapat mengambil faedah kemudian sama-sama merealisasikan dalam kehidupan masing-masing.

Referensi:

  1. Fiqhud da’wah fies shoheh imam Bukhari, Sa’id bin Ali bin wahaf Al-Qohthoni.
  2. Lisanul ‘arab, Ibnu Mandzur.
  3. Tazkiyatun nafs, Ahmad farid.
  4. Jami’ul ulum wal hikam, Ibnu Rajab Al-Hambali.

Uddatus Shobirin wa Dzakirotus Syakirin, Ibnul Qoyyim.


[1] Kitab Misbahul Munir, Ahmad bin Muhammad Ali Al Fayumi Al Mukri, hal.  98

[2] Kitab Al Akhlak Al Islamiyah, DR Abdurrohman Hasan Habanakah Al Maidany, II/528

[3] Kitab Tahdzib Mauidlotul Mukminin, hal. 204

[4] Kitab Tazkiyatun Nufs, DR Ahmad Farid, hal.  65

[5] Kitab Al Akhlaq Al Islamiyah, DR Abdurrohman Hasan Habanakah Al Maidany, hal. 2/528

[6] Jamiul Ulum Wal Hikam, II/180

[7] Uddatus Shobirin wa Dzakirotus Syakirin, 15

[8] Lisanul arab :XXX/387

[9] Mukhtaru Shohah bagian “وكل”

[10] Mu’jamul Wasith : bab wau

[11] Tazkiyatun Nafs : hal 98, dan dalam “Jami’ul ulul wal hikam” hal 497.

[12] Tafsir ‘Azizil hamid fi syarh Attauhid : 497

Categories: MUSLIMAH
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: