September 30, 2010 Leave a comment Go to comments

Wajib Berpuasa Bilamana Terlihat Hilal Ramadhan

Oleh : Walad bin Haris

 Redaksi hadits

 حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَاعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ

 Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami, ia berkata: “Aku membaca di hadapan Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat Hilal dan jangan pula berbuka hingga melihatnya (terbit) kembali. Namun, jika bulan itu tertutup dari pandanganmu, maka hitunglah.”[1].

Rawi a’la

Rawi a’la disini ialah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Umar bin al-Khathab al-Qurasyi al-‘Adawi, beliau dijuluki dengan Abu Abdirrahman al-Makki al-Madani. Beliau tingkat pertama dari kalangan Sahabat, wafat pada tahun 13 atau 14 H. Yang meriwayatkan ke beliau ialah: al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa`i dan Ibnu Majah.

Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan, “Beliau adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ad-Dzahabi mengatakan, “Beliau pernah mengikuti perang Ahzab dan perang Hudaibiyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Abdullah adalah orang yang shalih.”[2]

Makna secara umum

Islam memiliki ikatan erat antara hamba dan Rabb-nya dengan ibadah-ibadah wajib dalam waktu-waktu tertentu. Maka ada ibadah yang diwajibkan bagi yang mampu melaksanakannya, yaitu haji, waktu ibadah tersebut dilaksanakan pada bulan-bulan tertentu, kemudian kewajiban ibadah dalam sebulan pada tiap tahun sekali, yaitu puasa Ramadhan, kemudian diwajibkan shalat sekali dalam sepekan, yaitu shalat Jum’at dan juga diwajibkan shalat lima waktu sehari semalam.

Maka, ibadah yang terkait pada waktu memiliki batasan syar’iat; kapan dilaksanakan dan kapan diselesaikan. Dan yang sudah menjadi maklum bahwa waktu-waktu kita di dunia ini memiliki kaitan erat dengan peredaran matahari, bulan dan bintang dalam orbitnya. Sungguh Allah Ta’ala telah menciptakan semua makhluknya secara sempurna dalam aturan-aturan yang sempurna, tidak sebagai tipu daya, tidak menjadi ragu terhadap peredaran terbit maupun terbenamnya, tidak terlewatkan dalam masa-masa yang panjang dan tidak ada penambahan atau pengurangan.

Sesungguhnya ketahanan yang telah dibuat oleh makhluk sangat berpengaruh terhadap perbuatan-perbuatan yang bukan darinya, adapun buatan Allah, maka tidak berpengaruh kecuali yang Ia kehendaki.

Allah Ta’ala berfirman:

uqèd “Ï%©!$# Ÿ@yèy_ š[ôJ¤±9$# [ä!$u‹ÅÊ tyJs)ø9$#ur #Y‘qçR ¼çnu‘£‰s%ur tAΗ$oYtB (#qßJn=÷ètFÏ9 yŠy‰tã tûüÏZÅb¡9$# z>$|¡Åsø9$#ur 4 $tB t,n=y{ ª!$# šÏ9ºsŒ žwÎ) Èd,ysø9$$Î/ 4 ã@Å_ÁxÿムÏM»tƒFy$# 5Qöqs)Ï9 tbqßJn=ôètƒ ÇÎÈ

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui.”[3]

Firman Allah Ta’ala lainnya:

$uZù=yèy_ur Ÿ@ø‹©9$# u‘$pk¨]9$#ur Èû÷ütGtƒ#uä ( !$tRöqysyJsù sptƒ#uä È@ø‹©9$# !$uZù=yèy_ur sptƒ#uä ͑$pk¨]9$# ZouŽÅÇö7ãB (#qäótGö;tGÏj9 WxôÒsù `ÏiB óOä3În/§‘ (#qßJn=÷ètGÏ9ur yŠy‰tã tûüÏZÅb¡9$# z>$|¡Ïtø:$#ur 4 ¨@à2ur &äóÓx« çm»oYù=¢Ásù WxŠÅÁøÿs? ÇÊËÈ

“Dan kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu kami hapuskan tanda malam dan kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Rabb-mu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. dan segala sesuatu Telah kami terangkan dengan jelas.”[4]

Dan ketika seorang itu ingin mengetahui awal dan batas akhir waktu; ia menggunakan sarana alat bantu yang mudah baginya, diantaranya menggunakan jam dengan bayangan sinar matahari untuk mengetahui batas waktu-waktu shalat, kemudian menggunakan sarana-sarana ilmu yang canggih untuk mengetahui batas-batas waktu yang lama dan juga menggunakan alat-alat yang modern untuk melakukan hisab yang sebelumnya tidak dapat diketahui sampai berhari-hari atau bertahun-tahun kecuali dengan alat bantu tersebut.

Pada bulan Ramadhan Allah Ta’ala telah mensyari’atkan puasa dan batas awal dan akhirnya dilakukan dengan salah satu sarana diantara sarana-sarana lainnya yang mampu bagi orang Islam.

Allah Ta’ala berfirman:

… Ÿw ß#¯=s3è? ë§øÿtR žwÎ) $ygyèó™ãr 4 …

“…seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya…”[5]

Dan ketika dulunya umat Islam tidak dapat membaca, menulis dan menghitung sekaligus tidak mempelajari kedudukan-kedudukan bintang dan ilmu falak, maka ibadah ini dikaitkan dengan ru`yah al-Hilal (melihat bulan), maka diberikanlah sumber tasyri’ ilahi kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاَثِيْنَ يَوْماً

“Jika kalian melihat Hilal, maka berpuasalah dan jika kalian melihatnya (terbit) kembali, maka berbukalah, namun bila ia tertutup dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah bilangan tersebut menjadi tiga puluh hari.”[6]

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bulan Ramadhan dan memperumpamakannya dengan kedua tangannya; seraya bersabda:

الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا } ثُمَّ عَقَدَ إِبْهَامَهُ فِي الثَّالِثَةِ { فَصُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ ثَلَاثِينَ

“Hitungan bulan itu begini, begini dan begini[7] (beliau menekuk jempolnya pada kali yang ketiga). Karena itu, berpuasalah kalian setelah melihat (hilal) -nya, dan berbukalah pada saat kaliat melihatnya (terbit kembali). Dan jika bulan tertutup dari pandanganmu, maka hitunglah menjadi tiga puluh hari.”[8]

Inilah yang diumpamakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka terkadang dalam sebulan itu ada yang tiga puluh hari dan ada yang duapuluh sembilan hari. Dengan demikian bahwa kaum muslimin itu dikenakan kewajiban puasa; karena telah masuknya waktu bulan Ramadhan dan melihat hilal, dan memutuskan akhir daripada bulan Ramadhan tersebut dengan ketentuan melihat hilal kembali.[9] Dan tidak dibenarkan bagi yang mengatakan bahwa belum boleh melakukan puasa kecuali dia sendiri telah melihat hilal. Dalam artian bahwa masing-masing individu sesuai dengan ru`yahnya, kalau dia itu belum melihat hilal, dia belum boleh melaksanakan ibadah puasa dan jika dia telah melihatnya baru dia boleh berpuasa. Bahwa makna daripada hadits diatas adalah perintah untuk umum, walaupun yang melihat hilal tersebut hanya satu orang yang adil dari kalangan Muslim[10]

Pembahasan kalimat arab

لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ

Maksudnya adalah, “Janganlah kalian berpuasa Ramadhan hingga kalian melihat hilal.” Kalimat Ini diperintah kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi sudah cukup jika yang melihat hilal itu hanya satu orang atau dua orang saja.

وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ

Maksudnya adalah, “Janganlah kalian berbuka pada akhir Ramadhan, kecuali kalian melihat hilal syawal.” Dalam riwayat lainnya disebutkan, “Apabila kalian melihat hilal, maka berpuasalah, dan apabila kalian sudah melihatnya, maka berbukalah.”

فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ

“Namun, jika bulan itu tertutup dari pandanganmu.” Maksud dari tertutup disini adalah bulan itu tidak kelihatan, karena tertutupi oleh awan, maka jika langit tidak kelihatan dikarenakan tertutupi oleh awan.

فَاقْدِرُوا لَهُ

Huruf daripada dal disini bisa dibaca dengan dhammah dan juga bisa dibaca dengan kasrah, faqdiruu atau faqduruu.

Menurut sebagian kelompok mengatakan bahwa maknanya adalah; hitunglah dengan hisab, yaitu perkirakanlah dengan menggunakan hisab dan diwajibkan bagi mereka berpuasa pada malam yang mendung. Sebagian lainnya mengatakan, “Maknanya adalah menentukannya dengan hisab dan juga dengan kedudukan-kedudukannya, dalam artian kedudukan-kedudukan qamar (tanggal bulan) dan maknanya juga ialah menghitungnya dengan menyempurnakan bilangan tiga puluh hari. Maka banyak riwayat-riwayat yang menyebutkan mengenai hal ini, diantara Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang mengatakan: (فاقدرواله ثلاثين) “Maka hitunglah bulan itu tiga puluh hari” dalam redaksi lainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan: (فإن غم عليكم فصوموا ثلاثين يوماً) “Jika tertutupi oleh kalian, maka berpuasalah tiga puluh hari”, dalam redaksi lainnya dikatakan: (فأكملوا العدد) “Maka sempurnakanlah bilangan-bilangan tersebut”. Kemudian yang terakhir dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan: (فعدوا ثلاثين) “Makan jadikanlah bilangan tiga puluh”.

Fiqih hadits

Hadits ini berkaitan dengan hilal, maka pembahasan ini diambil secara global dalam empat pembahasan:

  1. Kapan ditetapkannya hilal Ramadhan?
  2. Perbedaan mengenai tempat kemunculan hilal.
  3. Puasa yaumu asy-Syak.
  4. Pelajaran yang dapat diambil dari ketetapan hukum yang berbeda-berbeda.
  1. 1. Kapan ditetapkannya hilal Ramadhan?

Melihat dari sisi zhahir hadits, maka cukup menetapkan hilal dengan sebatas melihat saja; kemudian puasa menjadi wajib. Akan tetapi jika tidak melakukan ru`yah tersebut, maka puasa dilarang, karena sudah ada dalil yang melarangnya jika tidak melihat hilal, seperti hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma: (لاتصوموا حتى تروا الهلال), “Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal (Ramadhan)”. (ولاتفطروا حتى تروه), “Dan Janganlah kalian berbuka kecuali kalian sudah melihat hilal (Syawal)”. Kemudian dalam riwayat Abdullah bin Umar disebutkan:( إذا رأيتم الهلال فصوموا) , “Apabila kalian melihat hilal (Ramadhan), maka berpuasalah”. Dalam riwayat Abu Hurairah: (وإذا رأيتموه فأفطروا), “Dan jika kalian melihat hilal (Syawal), maka berbukalah”. Dalam riwayat Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum: (صوموا لرؤيته), “Berpuasalah karena melihatnya”.

Dengan demikian tidak ada perbedaan dalam kata perintah pada shumuu dan wala tashumuu bagi umat, tetapi secara pasti perintah dalam kata تروا artinya tidak ditujukan kepada keseluruhan umat, akan tetapi maksudnya adalah sampai ada satu orang yang menetapkan dengan ru`yah tersebut secara adil diantara kalian atau dengan dua orang yang adil atau juga dengan keseluruhan dari kalian. Maka dari sini ada perbedaan dikalangan fuqaha` dengan beberapa pendapat:

Pertama : ketetapan dan diterimanya hilal Ramadhan dengan adanya satu orang laki-laki yang adil yang melihat, sebagaimana dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

تراءى الناس الهلال، فأخبرت النبي صلى الله عليه وسلم أني رأيته، فصام النبي وأمر الناس بالصوم

“Orang-orang pada memperhatikan hilal, lalu kuberitahukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku telah melihat hilal, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan segenap sahabat agar berpuasa.”[11]

Maka dengan satu orang laki-laki dapat diterima, adapun bagi perempuan tidak dapat diterima, karena baginya persaksian itu seperti seluruh persaksian-persaksian yang lainnya, maka disyaratkan laki-laki dengan mengucapkan persaksiannya dan terlebih khusus lagi di dalam majlis hakim.

Adapun dengan hilal Syawal tidak akan diterima persaksiannya kecuali dengan dua orang saksi yang adil, dan ini yang paling benar dari kalangan Madzhab Syafi’iyyah. An-Nawawi mengatakan, “Tidak diperbolehkan berbuka, dikarenakan ada satu orang adil yang melihat hilal Syawal dan ini pendapat dari kalangan jumhur ulama, kecuali pendapat Abu Tsaur, beliau membolehkan hanya dengan satu orang yang adil.

Kedua : pendapat kedua ini sama seperti pendapat pertama, hanya saja wanita diterima persaksiannya; atas dasar bahwa masuk dari bagian riwayat, seperti riwayat hadits-hadits. Dan ini pendapat dari Syafi’iyyah.

Ketiga : tidak boleh menetapkan hilal Ramadhan kecuali dengan persaksian dua orang yang adil, bagi wanita tidak termasuk dari bagian saksi, dan diharuskan dengan melafalkan persaksiannya, terlebih lagi dalam majlis hakim, ini adalah pendapat dari sebagian kalangan Syafi’iyyah.

Keempat : sudah menjadi syarat ketetapan hilal Ramadhan dengan persaksian dua orang atau satu orang laki-laki atau dengan dua orang perempuan. Pendapat ini dikatakan oleh Ibnu al-Mundzir dari ats-Tsauri.

Dan perkara ini tidak menjadi perbedaan dari kalangan Syafi’iyyah antara keadaan langit itu cerah atau mendung.

Kelima : pendapat Abu Hanifah, beliau megatakan, “Jika langit itu mendung, maka ditetapkan bagi satu orang saksi dan tidak ditetapkan pada selain Ramadhan kecuali dua orang saja, beliau mengatakan, “Jika langit itu cerah, maka tidak ditetapkan Ramadhan dengan satu atau dua orang, kecuali dengan tersiar luas.” Ia berhujjah seperti itu karena melihat jauh pandangan jama’ah yang besar terhadap ketentuan munculnya hilal dan pandangan-pandangan mereka yang benar, bahwa sebenarnya tidak ada larangan dari ru`yah jika yang melihatnya satu atau dua orang dari mereka.

Imam an-Nawawi menjawab mengenai masalah ini, “Hujjah tersebut adalah menyelisihi sunnah yang benar, maka tidak boleh diambil pendapat tersebut. Jadi yang dibolehkan adalah mengambil pendapat sebagian dari mereka tanpa mengambil pendapat keseluruhan, karena melihat pandangannya yang baik atau melihat dari sisi yang lainnya, hal ini tidak ada larangan, walaupun yang melihat hilal tersebut dua atau satu orang, maka ini tidak membatalkan menurut ijma’, dan wajib puasa menurut ijma’.

Keenam : pendapat Imam Ahmad, beliau mengatakan, “Ketika langit tidak mendung, maka berpuasa dengan satu orang saksi dan berbuka dengan adanya saksi dari satu atau dua orang budak dari laki-laki. Adapun jika langit itu mendung, maka bagi orang yang menguasai tentang ilmu ini mengabarkan, bahwa persaksiannya itu harus lima puluh orang, ada yang mengatakan seratus orang, dan ada yang mengatakan lebih dari itu, maka yang benar adalah bahwa kabar dari anak kecil yang belum baligh tidak bisa, adapun bagi orang kafir, fasik dan bagi orang yang jahil, maka tidak dapat diterima persaksian mereka menurut ijma’. Dan tidak ada khilaf dalam persyaratan adil yang jelas dan adanya khilaf dalam persyaratan adil yang belum diketahui.

Imam an-Nawawi mengatakan, “Jika kita menetapkan hilal Ramadhan dengan satu orang yang adil, maka kita wajib berpuasa selama tiga puluh hari, tetapi jika tidak terlihat hilal pada malam ketigapuluh, maka apakah boleh berbuka?. Ada dua pendapat, tetapi pendapat yang benar adalah boleh berbuka, hal tersebut pendapat dari jumhur ulama fuqaha` yang mengatakan, “Sempurnakanlah menjadi tigapuluh hari, dengan mengamalkan hadits yaitu: “فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين”, dalam lafazh riwayat lain disebutkan “فاقدروا له”.[12]

Menetapkan hilal sesuai dengan ru`yah, sedangkan menetapkan puasa itu dengan hilal. Maka dilarang melaksanakan puasa ketika tidak melakukan ru`yah dan jumhur ulama mengambil pendapat ini. Mereka mengatakan, “Kita tidak menetapkan ibadah (puasa) kecuali dengan ru`yah, dengan alasan bahwa hisab, ramalan, perkiraan atau penaksiran tidak diperbolehkan.

Penjelasan kalimat ) ( فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ

Imam an-Nawawi mengatakan, “Apabila hilal tidak kelihatan dan diketahui ada seseorang yang melakukan hisab, maka menanggapi masalah ini ada beberapa pendapat: Ibnu Suraij mengatakan, “Wajib berpuasa, karena ia mengetahuinya.” Yang lain mengatkan, “Tidak boleh puasa, karena kita tidak boleh menetapkannya kecuali dengan meru`yahnya.” Ad-Darimi mengatakan, “Tidak boleh melakukan puasa dengan melakukan ramalan.” Sebagian kaum mengatakan, “Diwajibkan puasa.” Pengarang kitab al-Bayan mengatakan, “Jika mengetahuinya dengan hisab bahwa besok sudah masuk bulan Ramadhan atau dikabarkan oleh yang lebih tahu tentang itu kemudian ia dibenarkan, lalu ia berniat dan puasa, maka dengan perkataannya itu ada dua sisi, pertama: mengambilnya, ini pendapat dari Ibnu Suraij dan dipilih oleh hakim Abu at-Thayyib, karena perkiraannya itu benar.” Kedua: tidak mengambilnya, karena dengan ahli nujum dan hisab tidak termasuk dari bagian ibadah, maka dikatakan, “Apakah wajib puasa?”, Ibnu ash-Shabagh mengatakan, “Adapun hisab tidak diperbolehkan dengan tidak ada perbedaan.” Kemudian Pengarang kitab al-Muhadzab mengatakan, “Bahwa dengan kedua sisi tersebut diwajibkan puasa.” Sedangkan pengarang kitab al-‘Uddah mengatakan, “Bahwa hisab dan ramalan tidak boleh dilakukan.” al-Mutawali mengatakan, “Tidak boleh melakukannya kecuali dengan hisab.”

Oleh karena itu apakah diwajibkan puasa dengan sebatas mengetahui hisab saja? Masalah ini ada dua pendapat, pertama: pendapat dari ar-Ruyani yang mengatakan, “Bagi siapa saja yang mengetahui kedudukan-kedudukan qamar (bulan), maka tidak diwajibkan puasa.” Kedua: pendapat al-Baghawi, “Tidak diperbolehkan bertaqlid kepada ramalan dalam menghisabnya, baik dalam menetapkan puasa maupun ‘idul fitri.”

Penjelasan kalimat) ( فاقدروا له

Al-‘Aini mengatakan, “Yang dimaksud dengan “faqdiruu lahu” disini ialah menyempurnakan bilangan tiga puluh hari dan tidak boleh melakukannya dengan hisab perbintangan, karena sekiranya orang-orang dibebani dengannya, maka mereka tidak akan mampu dan juga tidak dapat diketahui, kecuali beberapa orang saja.[13] Imam Ahmad dan yang lainnya mengatakan, “Hitunglah dengan hisab.” Maka mereka termasuk membolehkan melakukan puasa pada malam hari yang mendung di bulan Ramadhan. Ibnu Suraij dan jama’ah dari mereka, yaitu Mutharif bin Abdullah, Ibnu Qutaibah dan yang lainnya mereka juga mengatakan, “Hitunglah ia dengan kedudukan hisab.” Sedangkan Malik, Syafi’i, Abu Hanifah dan jumhur ulama salaf maupun khalaf, mereka berpendapat bahwa maknanya adalah hitunglah dengan sempurna hingga bilangan tigapuluh hari.[14]

Dan dikatakan bahwa pada dasarnya tidak boleh menggantungkan hukum kepada hisab, karena jika menggunakan ilmu tersebut pasti akan mengatakan, (فاسألوا أهل الحساب). Kemudian dikatakan oleh Ibnu Bazizah, “Bahwa syari’at melarang bercampur dengan ilmu perbintangan, karena hal itu hanya menurut perkiraan atau penaksiran dan seperti itu tidak jelas dan pasti.

Ibnu Bathal mengatakan, “Sesungguhnya kami tidak membebankan untuk mengetahui waktu-waktu puasa kami dan ibadah-ibadah kami dan kami tidak memerlukan untuk mengetahuinya dengan menggunakan hisab maupun tulisan, sesungguhnya ibadah kami diketahui dengan ilmu-ilmu yang jelas dan perkara-perkara yang konkrit.

Maka ringkasnya adalah bahwa tidak boleh bersandar kepada ilmu falak dan hisab dalam menentukan hilal, dengan demikian ada beberapa catatan, yaitu:

  1. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ( إنا أمة أمية لا نكتب ولا نحسب الشهر هكذا وهكذا يعني مرة بتسعة وعشرين ومرة ثلاثين ) , “Kita ini adalah umat yang ummi, yang tidak biasa menulis dan juga tidak biasa menghitung satu bulan itu jumlah harinya segini dan segini, yaitu sekali berjumlah dua puluh sembilan dan sekali berikutnya tiga puluh hari.”[15]

Umat Islam sekarang tidak seperti umat dahulu, akan tetapi sudah menjadi umat yang dapat menulis dan menghitung, maka tidak bisa dijadikan sebagai sandaran hukum setelahnya mengenai ru`yah hilal. Secara jelasnya hadits ini tidak boleh meru`yah hilal dengan hisab. Al-‘Aini mengatakan, “Mengaitkan syari’at puasa dan yang lainnya dengan ru`yah, maka akan menghilangkan dosa dari umatnya daripada bantuan hisab yang mempermudah.[16]

  1. Tidak menetapkannya kecuali dengan ru`yah, ini adalah perkara yang tidak diperbolehkan, karena kebanyakan umat Islam menetapkan dengan hisab pada waktu-waktu shalat dan mereka tidak bersandar kepada ru`yah fajr shadiq dan kadzib, sampai jelas bagi mereka itu benang putih dari benang hitam pada waktu fajar dan juga melakukan ru`yah pada waktu sinar merah matahari sebelum terbenam dan pada waktu malam setiap saat.
  2. Mereka mengambil dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu: ( فإن غم عليكم فاقدروا له ), yang meriwayatkan hadits ini adalah Ibnu Umar dan Ubaidillah radhiyallahu ‘anhum. Bahwa maksud hadits tersebut adalah menyempurnakannya dengan bilangan tiga puluh hari, maka bersandarlah kepadanya. Al-‘Aini mengatakan, “Bahwa hadits ini tidak berkaitan dengan hisab secara pastinya, sekiranya hukum tersebut dilakukan dengan hisab pasti mereka bertanya kepada ahli hisab.

Dan perkara ini menjadi hukum pada riwayat-riyawat pertama bermakna sedikit, yaitu ( فاقدروا له), dan ini ada perbedaan dengan makna ( فأكملوا العدة ), karena menyempurnakan bilangan itu tidak memerlukan kepada ketentuan, jadi menentukan hisab dengan adanya ulama dan keadaannya juga sulit untuk menentukannya, maka disempurnakanlah bilangan tersebut menjadi tiga puluh hari jika hal itu memungkinkan. Imam Ahmad dan yang lainnya menafsirkan “faqdiruu lahu” maksudnya adalah “Hitunglah dengan hisab.”

Ibnu Bazizah mengatakan, “Syari’at melarang mencampuradukan dengan ilmu perbintangan, karena hal tersebut adalah didasari dengan perkiraan atau penaksiran dan itu tidak pasti dan tidak menjadi suatu perkiraan yang benar.

Menjadikan ilmu falak dan ilmu hisab sebagai ilmu yang dalam, karena memiliki kaidah-kaidah dan ushul-ushul yang menjadikannya pasti, yaitu ketika memberitahukan tentang waktu kejadian gerhana bulan dan matahari sebelum mencapai satu tahun atau lebih, maka tidak bisa disalahkan dengan batasan perkiraan tersebut, karena hal itu bersandar kepada rotasi bintang-bintang pada orbitnya.

Allah Ta’ala berfirman:

uqèd “Ï%©!$# Ÿ@yèy_ š[ôJ¤±9$# [ä!$u‹ÅÊ tyJs)ø9$#ur #Y‘qçR ¼çnu‘£‰s%ur tAΗ$oYtB (#qßJn=÷ètFÏ9 yŠy‰tã tûüÏZÅb¡9$# z>$|¡Åsø9$#ur 4 …

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui.”[17]

Ibnu Bathal dan yang lainnya mengatakan, “Kami tidak memberikan beban untuk mengetahui waktu-waktu puasa dan ibadah-ibadah lainnya dengan bantuan hisab maupun tulisan.” Mereka mengatakan, “Sekiranya orang-orang dibebani dengan hisab tersebut, pasti mereka tidak sanggup.

Ini adalah perkara yang tidak dapat diterima, karena manusia juga tidak dapat dibebankan secara keseluruhan dengan meru`yah, jika dibebankan kepada mereka semua, pasti mereka juga tidak akan sanggup, karena tidak memungkinkan, kecuali dengan beberapa orang saja, makanya syari’at menetapkan cukup dengan satu atau dua orang saja dari mereka, lagi pula ulama yang mengerti tentang hisab tersebut ada ratusan.

Jika ingin selamat, maka kita tidak membebankan dalam ibadah dengan mempersulit. Allah Ta’ala telah berfirman:

$tBur Ÿ@yèy_ ö/ä3ø‹n=tæ ’Îû ÈûïÏd‰9$# ô`ÏB 8ltym 4

“…Dia Telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…”[18]

Akan tetapi jika kita dapati dengan melakukan hisab tersebut secara dalam tanpa ada kesulitan lalu apakah kita meninggalkannya dan membebankan kepada yang sulit dalam melihat hilal? dan apakah diantara kita menemukan batasan-batasan arah kiblat lalu meninggalkannya dan melihat kepada timur dan barat, selatan dan utara dan apakah kita berijtihad saja mengikuti ka’bah?, manakah yang lebih mudah? Dan manakah yang lebih dalam? Dan juga manakah yang lebih banyak salahnya?, maka seratus orang yang adil mengatakan, “Kami tidak melihat hilal? Atau perkataan ahli hisab yang mengatakan; belum dapat diketahui.

Maka untuk menduduki masalah ini ada beberapa pokok masalah, yaitu seharusnya yang pertama kali meletakan dalam mempertimbangannya adalah sekiranya ru`yah dengan hisab itu sudah disepakati dan ditetapkan, maka tidak menjadi masalah, dalam artian jika yang melakukan hisab mengatakan, “Bulan sudah kelihatan dilangit.” Dan yang meru`yah mengatakan, “Kami telah melihatnya dilangit.” Maka hal tersebut tidak masalah dan puasa sama-sama menjadi wajib. Maka sandaran kita kepada hisab saja dan ru`yah saja atau kepada keduanya dengan hisab dan ru`yah bersamaan, kalau sudah menjadi kesepakatan dari hisab dan dua orang yang meru`yah ditiadakan, dikarenakan mereka mengatakan, “Kami belum melihat hilal”, dan yang melakukan dengan hisab mengatakan, “Hilal tidak ditemukan pada malam hari dilangit”, maka tidak menjadi masalah dengan menggunakan hisab.

Akan tetapi jika hisab dan ru`yah berbeda pendapat secara ketetapan atau peniadaan, maka manakah yang dijadikan sandaran?.

Kebanyakan orang menuruti apa yang telah diputuskan oleh hakim dan hakim sendiri bertanggungjawab dihadapan Allah Ta’ala dari keputusan ijtihadnya dan hukumnya, maka jika ia menetapkan hukum atas persaksian orang yang melihat, ia harus menetapkan hukum tersebut sesuai dengan ketetapan hilal, kalau dia itu tidak menggunakan hisab. Dan apabila ia menetapkan kebenaran dengan hisab karena tidak terlihatnya hilal, maka ia harus memutuskannya, kalau dia itu tidak menggunakan ru`yah.

Keputusan hakim wajib untuk ditaati dalam kebenaran bukan kepada yang meru`yah dan juga bukan kepada yang menghisab, ini adalah kesepakatan para ulama. Adapun bagi orang yang melakukan ru`yah dan yang melakukan hisab, maka wajib bagi mereka mengamalkannya dengan perbuatan mereka.

Ibnu Qudamah mengatakan, “Puasa pada bulan Ramadhan wajib dilaksanakan dengan salah satu dari tiga kondisi dibawah ini:

Pertama : jika hilal Ramadhan sudah terlihat, maka wajib melaksanakan puasa.

Kedua   : jika menyempurnakan bulan Sya’ban tigapuluh hari, maka wajib melaksanakan  puasa, dikarenakan bahwa ia yakin telah masuknya bulan Ramadhan.

Ketiga  : ia tidak melihatnya pada malam ketigapuluh dari Bulan Sya’ban, dikarenakan mendung atau hujan, maka wajib baginya melakukan puasa.[19]

Dengan demikian bahwa memulai puasa Ramadhan boleh dilakukan hanya dengan satu orang saksi berdasarkan hadits  dari Ibnu Umar. Tinggallah masalah  menyudahi puasa Ramadhan, karena tidak ada dalil yang membolehkan berbuka puasa dengan kesaksian satu orang laki-laki.[20]

  1. 2. Perbedaan dari sisi tempat kemunculan hilal.

Terdapat riwayat yang jelas,  yaitu:  dari Muhammad bin Abu Harmalah dari Kuraib bahwasanya; Ummu al-Fadhl binti al-Harits mengutusnya menghadap Mu’awiyah di Syam. Kuraib berkata; Aku pun datang ke Syam dan menyampaikan keperluannya kepadanya. Ketika itu aku melihat hilal awal Ramadhan pada saat masih berada di Syam, aku melihatnya pada malam Jum’at. Kemudian aku sampai di Madinah pada akhir bulan. Maka Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma bertanya kepadaku tentang hilal, ia bertanya, “Kapan kalian melihatnya?” Aku menjawab, “Kami melihatnya pada malam Jum’at.” Ia bertanya lagi, “Apakah kamu yang melihatnya?” Aku menjawab, “Ya, orang-orang juga melihatnya sehingga mereka mulai melaksanakan puasa, begitu juga dengan Mu’awiyah.” Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Akan tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu. Dan kami pun sekarang masih berpuasa untuk menggenapkannya menjadi tiga puluh hari atau hingga kami melihat hilal.” Aku pun bertanya, “Tidakkah cukup bagimu untuk mengikuti ru’yah Mu’awiyah dan puasanya?” Ia menjawab, “Tidak, beginilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada kami.”[21]

Bahwa para sahabat mereka bersandar dan mengamalkan tentang perbedaan mathali’, karena setiap daerah ada mathla’-nya masing-masing, yaitu jika dikatakan Mu’awiyah dan penduduk Syam berpuasa pada hari Jum’at dengan keyakinan bahwa itu awal Ramadhan, berarti mereka berdasarkan ru`yah hilal mereka. Adapun penduduk Madinah mereka berpuasa pada hari Sabtu, dengan keyakinan bahwa itu sudah masuk awal Ramadhan, dan mereka berdasarkan ru`yah hilal mereka. Dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tetap berpuasa, karena penduduk Madinah melihat hilal, maka ketika beliau ditanya, “Apakah tidak cukup dengan ru`yah hilal Mu’awiyah dan puasanya? Ia menjawab atas ru`yah bagi penduduk Madinah, yaitu: “Tidak, beginilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami.”

Maka dari sini ada beberapa pembahasan masalah dari kalangan ulama, yaitu:

Pertama : apabila ada dua orang telah melihat hilal Ramadhan dalam satu negeri, maka wajib berpuasa bagi penduduk negeri tersebut, karena telah sepakat atas ru`yah itu, dan bukan pada negeri lainnya yang terlambat melihat hilal. Maka diwajibkan berpuasa bagi yang mendahuluinya, karena jika membiarkannya, maka akan bertentangan dengan yang sudah pasti atas kemunculan hilal tersebut, dan ini adalah pendapat mayoritas Syafi’iyah. Imam an-Nawawi mengatakan, “Ini adalah pendapat yang paling benar.”

Imam al-Mawardi mengutarakan pendapatnya, “Sebenarnya kemunculan dan terbenamnya terkadang menjadi perbedaan, bukan perbedaan negeri, akan tetapi penduduk itu sesuai dengan mathla’ mereka masing-masing. Bukankah fajar itu terkadang lebih dahulu muncul dalam suatu negeri dan terakhir terbit pada negeri lainnya?, begitu pula dengan matahari; terkadang lebih cepat tenggelamnya di suatu negeri dan terlambat tenggelamnya di negeri lain, maka kemudian setiap negeri itu berbeda dari segi terbitnya fajar dan terbenamnya matahari.

Kedua : apabila satu orang yang melihat hilal Ramadhan di suatu negeri, maka puasa wajib dilaksanakan bagi penduduk yang telah melihat ru`yah, bukan melihat kepada negara lain, karena kewajiban itu diatas keputusan hakim berdasarkan persaksian satu orang yang adil atau dua orang yang adil.

Ketiga : dan jika telah ada yang melihat hilal Ramadhan di suatu negeri, maka puasa wajib dikerjakan bagi masing-masing negeri yang telah melihat hilal diantara mereka tanpa melihat jauh dan dekatnya jarak negeri tersebut. Dan ini pendapat dari kalangan jama’ah Syafi’iyah dari mereka, kemudian juga dari pendapat al-Faurani, Imam al-Haramain, al-Ghazali, al-Baghawi dan yang lainnya dari penduduk negeri Khurasan. Dan bagi masing-masing negeri ada yang melakukan hisab bahkan memutuskannya dengan ahli-ahli perbintangan, menurut syari’at perbuatan tersebut tertolak. Maka diwajibkan mengikuti perhitungan jauh dan dekatnya jarak yang mengandung keterangan dari hukum-hukum syari’at.

Imam an-Nawawi mengatakan, “Perbuatan ini adalah dha’if, karena menentukan hilal tidak boleh bergantung kepada jauh dan dekatnya jarak, maka yang benar adalah sesuai dengan mathla’ masing-masing daerah.

Keempat : jika hilal Ramadhan sudah terlihat di suatu negeri, maka tidak diwajibkan puasa kecuali bagi penduduk negeri yang melakukan ru`yah. Dan pendapat ini dinukil dari pendapat Ibnu al-Mundzir dari ‘Ikrimah, Qasim, Salim dan Ishak bin Rahuyah.

Kelima : apabila hilal Ramadhan sudah terlihat dalam suatu negeri dari negeri-negeri Muslim lainnya, maka bagi kaum muslimin seluruh dunia diwajibkan melaksanakan puasa, karena kewajiban puasa Ramadhan itu tidak ada kaitannya dengan perbedaan negeri, dikarenakan Ramadhan sudah ditetapkan.

Ibnu al-Mundzir mengatakan dari al-Laits, Syafi’i dan Ahmad, “Aku tidak mengetahuinya kecuali perkataan orang Madinah dan Kuffah.”[22]

Dari penjelasan perkara ini sangat luas, begitu juga dengan hisab sangat luas pembahasannya, maka dengan mengambil pendapat yang mana saja dari pendapat-pendapat ulama yang ada; insya`Allah diterima.

  1. 3. Puasa yaumu asy-Syak (hari yang diragukan)

Puasa yaumu syak adalah puasa pada tanggal duapuluh sembilan pada bulan Sya’ban. Dr. Musa Syahin Lasyin[23] mengatakan, “Kami tidak mengatakan bahwa itu adalah bagian dari Sya’ban dan tidak pula dari bagian bulan Ramadhan, akan tetapi kalau ketetapannya itu adalah bulan Ramadhan dan itu sudah pasti, maka puasa wajib dilaksanakan. Dan apabila ketetapannya itu adalah bulan Sya’ban dan itu sudah jelas, maka dilarang melaksanakan puasa, karena telah ada hadits yang menerangkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ

“Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari, kecuali bagi seseorang yang telah terbiasa berpuasa sebelumnya, maka lanjutkanlah puasanya itu.”[24]

An-Nawawi mengatakan, “Hadits ini telah jelas bahwa tidak diperbolehkannya mendahulukan puasa Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali hanya kebetulan saja, seperti puasa Senin dan Kamis yang biasa ia lakukan sebelumnya, akan tetapi kalau itu tidak, maka haram baginya berpuasa.[25]

Kemudian dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلَا تَصُومُوا

“Apabila telah berlalu setengah dari bulan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa!”[26]

Maka tidak diperbolehkan melaksanakan ibadah puasa; hingga masuk kepada bulan Ramadhan, kecuali ia meneruskan puasa yang ia lakukan sebelumnya, seperti puasa pada setiap hari Senin dan Kamis, maka itu diperbolehkan. Karena puasa yang ia lakukan pada hari Senin dan Kamis pada bulan tersebut adalah sebuah keringanan, ini adalah pendapat ijma’ lama. Dan Ibnu Hajar mengatakan, “Bahwa hikmahnya ialah bahwa hukum daripada puasa itu bergantung kepada ru`yah hilal, maka barangsiapa mendahulukannya dengan melakukan puasa sehari atau dua hari, sungguh ia telah melanggar hukum tersebut.[27]

Perbedaan dari kalangan fuqaha` mengenai puasa pada yaumu syak

Melihat dari sisi zhahir hadits, yang berbunyi:

لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ

“Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat Hilal…”[28]

Hadits ini menunjukkan atas larangan melakukan ibadah puasa pada yaumu syak, dan Imam al-Bukhari beristidlal kepada hadits tersebut dengan perkataan ‘Ammar, bahwa “Barangsiapa yang berpuasa pada yaumu syak, maka sungguh ia telah berbuat maksiat kepada Abu Qasim.”[29] Begitu juga dengan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani; beliau beristidlal bahwa diharamkan puasa pada yaumu syak, karena para sahabat tidak pernah mengatakan hal itu, ketika mereka meru`yah hilal.

Al-‘Aini mengatakan, “Dan ini telah disepakati oleh mayoritas sahabat dan tabi’in dan para generasi setelah mereka, bahwa dimakruhkan berpuasa pada yaumu syak atas dasar bahwa bulan Ramadhan sudah masuk. Dan jama’ah dari kalangan sahabat ada yang membolehkannya, seperti riwayat dari Amru bin al-‘Ash dari Mu’awiyah ia berkata, “Karena aku melakukan puasa sehari pada bulan Sya’ban lebih aku sukai daripada aku berbuka pada hari bulan Ramadhan.[30] Ibnu Umar mengatakan, “Jika hilal belum kelihatan atau tertupi oleh awan, maka berpuasalah dan jika kelihatan atau tidak tertutupi oleh awan, maka berbukalah. Dan Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, “Puasa yaumu syak lebih disukai, maksudnya adalah bahwa puasa yang ia lakukan merupakan bagian dari bulan Ramadhan, kalau itu adalah benar bulan Ramadhan.[31] Hal tersebut berdasarkan kepada sebuah hadits dari Ayub dari Nafi’ dan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا رأيتم الهلال فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا فإن غم عليكم فاقدروا له

“Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah dan jika kalian melihatnya, maka berbukalah, namun jika kalian tidak melihatnya, maka hitunglah.”[32]

Maka Imam Ahmad rahimahullah tidak mengatakan yaumu syak dan kemudian beliau mewajibkan puasa pada hari ini, karena hari itu termasuk bulan Ramadhan. Sedangkan Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Tidak diperbolehkan berpuasa pada hari ini (yaumu syak), baik yang wajib maupun yang sunnah secara mutlak, dan diperbolehkan bagi yang menunaikan kafarah atau nadzar, adapun yang sunnah seperti biasanya, seperti melakukan puasa Senin dan Kamis. Imam Malik dan Abu Hanifah mengatakan, “Tidak diperbolehkan melakukan puasa pada hari ini, yaitu puasa Ramadhan dan diperbolehkan puasa selainnya, seperti puasa-puasa sunnah.

Ibnu Qudamah mengatakan, “Seharusnya bagi semua orang diharuskan agar melihat hilal pada malam ketigapuluh pada bulan Sya’ban agar tidak terjadi ikhtilaf. Jika hilal sudah terlihat, maka wajib bagi mereka berpuasa secara keseluruhan dan jika mereka belum melihat hilal, sedangkan langit dalam kondisi cerah, maka puasa belum boleh dilaksanakan. Dan dalam kondisi tersebut dilarang melakukan puasa sehari atau dua hari,[33] sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ

“Janganlah seorang dari kalian mendahului bulan Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari, kecuali apabila seseorang sudah biasa melaksanakan puasa (sunnah) maka pada hari itu dia dipersilahkan untuk melaksanakannya”.[34]

Ibnu al-Mundzir menukil dari kesepakatan ijma’, bahwa melakukan puasa pada hari ketigapuluh dari Sya’ban, walaupun hilal itu belum terlihat atau langit itu kelihatan cerah, maka tidak diwajibkan melaksanakan puasa, ini adalah pendapat ijama’ al-Ummah. Dan sebagian besar para sahabat dan tabi’in memakruhkannya. [35]

Kemudian juga dari kalangan ahlul ilmi berpendapat bahwa makruh hukumnya melakukan puasa sebelum masuk bulan Ramadhan, kecuali ia melakukan puasa pada hari Senin dan Kamis, maka tidak mengapa untuk meneruskannya.[36]

Fatwa dari lajnah ad-Da`imah memutuskan bahwa barangsiapa yang melaksanakan puasa pada hari ketigaluluh Sya’ban tanpa keputusan dari ru`yah yang disyari’atkan dan puasa yang ia lakukan itu sesuai pada hari awal masuknya bulan Ramadhan, maka puasanya tidak sah dan diharamkan, dikarenakan ia melakukan puasa tersebut tidak berdasarkan pada syari’at dan ia harus mengqadha`nya.[37]

  1. 4. Pelajaran yang dapat diambil dari ketetapan hukum yang berbeda-berbeda.
  1. Dari riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang permisalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jari-jemari tangannya adalah diperbolehkan, karena agar orang-orang yang mendengarkannya itu paham. Dan diperbolehkan juga melakukannya walaupun kepada selain orang bisu, selain orang arab dan yang tidak paham berbicara.
  2. Mengikat waktu-waktu ibadah dengan ru`yah adalah diperbolehkan, karena supaya mempermudah pembebanan terhadap syari’at, karena Agama Islam itu adalah mudah.

Firman Allah Ta’ala:

$tBur Ÿ@yèy_ ö/ä3ø‹n=tæ ’Îû ÈûïÏd‰9$# ô`ÏB 8ltym 4

“…Dia Telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…”[38]

  1. Berdasarkan dalil-dalil hadits yang ada bahwa pahala itu tidak bergantung dengan kadar kesulitan yang ia hadapi, akan tetapi ia melakukannya itu karena Allah Ta’ala atau tidak?. Maka setiap pahala yang dijanjikan kepada yang melakukan ibadah puasa Ramadhan dan mendirikan shalat pada malam harinya, ia akan mendapatkan hasilnya, baik ia melaksanakan tigapuluh hari maupun duapuluh sembilan hari.
  2. Imam Malik rahimahullah beristidlal bahwa cukup bagi yang malaksanakan puasa Ramadhan itu dengan sekali niat saja dalam satu bulan Ramadhan penuh. Karena dijadikannya bulan Ramadhan itu sesuai dengan jumlah satu ibadah, yaitu niat puasanya, maka cukup baginya itu dengan meniatkan diri saja.
  3. Jika ada seseorang yang tidak mengetahui masuknya bulan Ramadhan dan ia belum berniat untuk melakukannya, akan tetapi pada siang harinya ia baru menyadari bahwa bulan Ramadhan sudah masuk, maka baginya wajib imasak (menahan) pada sisa harinya, karena ia belum berniat pada malam harinya. Maka ada hadits yang menyebutkan, “لا صيام لمن لم يجمع النية من الليل”, (tidak sah puasa bagi yang tidak menghimpunkan niat pada malam harinya)[39]. Maksud puasa disini adalah puasa wajib.[40]
  4. Catatan penting : Imam an-Nawawi membagi beberapa bagian mengenai hadits-hadits yang telah diterangkan pada pembahasan sebelumnya, beliau menyebutkan, diantaranya:
    1. Jika ada seseorang yang telah melihat hilal Ramadhan kemudian perkataan dan persaksiannya itu tidak diterima, maka ia wajib berpuasa, walaupun orang-orang belum melakukannya.
    2. Dan jika ada seseorang yang telah melihat hilal Syawal dan persaksiannya itu tidak diterima lalu ia berbuka dengan diam-diam, semoga ia tidak mendapatkan tuduhan.
    3. Sekiranya puasa telah disyari’atkan pada suatu negeri yang telah ditetapkan ru`yah, kemudian ia bepergian ke negeri lain yang belum ditetapkan ru`yah, maka ia tidak boleh berbuka, jika ia berbuka, maka ia harus menyempurnakannya sampai tigapuluh hari, semenjak hari ia berpuasa yang kemudian berbuka dengan diam-diam, kalau memang mereka itu berpuasa selama tigapuluh hari.
    4. Apabila negerinya itu belum melaksanakan puasa dan belum ditetapkan bulan Ramadhan, kemudian ia pergi ke negeri lain yang sudah ditetapkan puasa bulan Ramadhan, maka ia wajib imsak (menahan), jika ia melakukan puasa Ramadhan dengan sempurna, maka ketika tiba datangnya hari ‘ied lalu ia berbuka bersama mereka, maka setelah ‘ied ia harus mengqadha`nya sehari, baik dia itu telah melaksanakan puasa selama tigapuluh hari atau duapuluh sembilan hari. Dan jika ia kembali ke negerinya, sedangkan masih bulan Ramadhan, maka ketetapan hukum baginya itu mengikuti hukum penduduk negerinya.
    5. Apabila ada orang yang dipercayai mengabarkan bahwa ia melihat hilal, maka jika ia itu yakin dan benar, maka ia wajib berpuasa, sebagaimana dirinya melihat hilal.[41]

Referensi:

  1. Ruwaat at-Tahdzibiin.
  1. Fathul Mun’im Syarh Shahih Muslim. Dr. Musa Syahin Lasyin. Mesir: Daar asy-Syuruq, 2008 M – 1429 H.
  1. At-Tamhiid Lima fie al-Muwatha` Min al-Ma’aani wal Asaaniid. Abu Umar Yusuf bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Barr bin ‘Ashim an-Numri al-Qurthubi, (wafat: 463 H). Pentahqiq: Mushthafa bin Ahmad al-‘Alwi dan Muhammad Abdul Kabir al-Bakri.
  1. Sunan al-Baihaqi. Ahmad bin al-Husain bin Ali bin Musa Abu Bakar al-Baihaqi. Pentahqiq: Muhammad Abdul Qadir ‘Atha`. Makkah al-Mukaramah: Daar al-Baz, 1994 M – 1414 H.
  1. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Imam Muhyiddin an-Nawawi (wafat: 676 H). Beirut: Daar al-Ma’rifah, 1999 M – 1420 H. Cet.VI.
  1. Al-Muntaqa Min Fatawa Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan. Riyadh: Daar al-‘Asal, 1999 M – 1419 H. Cet.3.
  1. Fatawa al-Lajnah ad-Daa`imah Lil Buhuuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta`. Penyusun: Ahmad bin Abdurrazaq ad-Duwaisy. Riyadh: Daar al-‘Ashimah, 1996 M – 1416 H. Cet.1.
  1. Taudhiih al-Ahkaam min Buluugh al-Maraam. Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam. Makkah al-Mukarramah, 2003 M – 1423 H.
  1. Fiqhu an-Nawazil. Dr. Muhammad Husain al-Jizani. Riyadh: Daar Ibnu al-Jauzi, 2005 M – 1426 H.
  1. Al-Mughni. Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah al-Maqdisi ad-Dimasyqi al-Hanbali. Pentahqiq: Dr. Muhammad Syarafuddin Khathab dan Dr. as-Sayyid Muhammad as-Sayyid. Cairo: Daar al-Hadits, 2004 M – 1425 H.
  1. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab. Imam Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi (wafat: 676 H). Beirut: Daar al-Fikr, 2005 M – 1426 H.
  1. Tuhfah al-Awadzi Bisyarh Jaami’ at-Tirmidzi. Abu al-‘Ula Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfuri. Cairo: Daar al-Hadits, 2001 M – 1421 H.

Al-Wajiz (Ensiklopedi Fiqih Islam dalam al-Qur`an dan as-Sunnah ash-Shahihah. Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi. Jakarta: Pustaka as-Sunnah, 2007 M – 1428 H.


[1] HR. Muslim. No: 2176.

[2] Ruwaat at-Tahdziibiin.

[3] QS. Yunus: 5.

[4] QS. Al-Isra`: 12.

[5] QS. Al-Baqarah: 233.

[6] HR. Muslim. No: 1799.

[7] Pertama: beliau membentangkan kedua tangannya dengan mengisyaratkan kepada seluruh jarinya, kedua: beliau membentangkan kembali seperti yang pertama, dan yang ketiga beliau membentangkan kembali seperti yang pertama dan yang kedua, kemudian pada yang ketiganya beliau menekukkan ibu jarinya, maka menjadi sembilan.

[8] HR. Muslim. No: 1796.

[9] Fathu al-Mun’im. Dr. Musa Syahin Lasyin (IV/496).

[10] Fatawa al-Lajnah ad-Da`imah Lil Buhuuts al-‘Ilmiyah wal Ifta`, (X/94).

[11] HR. Abu Daud, Daruquthni dan al-Baihaqi dengan isnad shahih sesuai syarat Muslim.

[12] Fiqhu an-Nawazil. Dr. Muhammad Husain al-Jizani. Riyadh: Daar Ibnu al-Jauzi, 2005 M – 1426 H. Cet.1. jilid: II, hal: 260.

[13] Fathu al-Mun’im. Dr. Musa Syahin Lasyin. (IV/505).

[14] Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Imam Muhyiddin an-Nawawi (wafat: 676 H). Beirut: Daar al-Ma’rifah, 1999 M – 1420 H. Cet.VI. juz: VII, hal: 189.

[15] HR. Bukhari. No: 1780.

[16] Sebenarnya alat-alat bantu dalam melihat hilal dan menentukan bulan pada waktunya hal ini tidak dilarang, sama halnya dengan mendengarkan suara-suara dengan menggunakan alat pendengar. Adapun yang menjadi permasalahannya bahwa tidak boleh bersandar dengan hisab dalam menentukan hilal, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan hukum tersebut dengan ru`yah atau menyempurnakan bilangannya dan beliau tidak memerintahkan untuk melakukan hisab. (Fiqhu an-Nawazil. Dr. Muhammad Husain al-Jizani. jilid: II, hal: 260).

[17] QS. Yunus: 5.

[18] QS. Al-Hajj: 78.

[19] Al-Mughni. Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah al-Maqdisi ad-Dimasyqi al-Hanbali. Cairo: Daar al-Hadits, 2004 M – 1425 H. Juz: IV, hal: 118.

[20] Al-Wajiz (Ensiklopedi Fiqih Islam dalam al-Qur`an dan as-Sunnah ash-Shahihah. Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi. Jakarta: Pustaka as-Sunnah, 2007 M – 1428 H. Cet. 4, 390.

[21] HR. Muslim. No: 1819.

[22] Yang dimaksud Madinah adalah Imam Malik, dan yang dimaksud dengan Kuffah adalah Abu Hanifah.

[23] Pengarang kitab Fathu al-Mun’im.

[24] HR. Muslim. No: 1812.

[25] Dalam kitab Fatawa al-Lajnah ad-Da`imah Lil Buhuuts al-‘Ilmiyah wal Ifta`, jilid: X, hal: 92. Dinyatakan bahwa tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim melakukan ibadah puasa pada hari ketigapuluh dari bulan Sya’ban kalau ru`yah hilal belum ditetapkan pada malam ketigapuluh dari bulan Sya’ban tersebut.

[26] HR. Abu Daud. No: 1990.

[27] Tudhiih al-Ahkaam min Buluugh al-Maraam. Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam. Makkah al-Mukarramah, 2003 M – 1423 H. Cet.5, juz: III, hal: 442.

[28] HR. Muslim. No: 2176.

[29] Yang dimaksud dengan Abu Qasim disini ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[30] Dan yang meriwayatkan sama dengan hadits ini adalah Aisyah dan Asma` binti Abu Bakar.

[31] At-Tamhiid Lima fie al-Muwatha` Min al-Ma’aani wal Asaaniid. Abu Umar Yusuf bin Abdillah bin Muhammad  bin Abdil Barr bin ‘Ashim an-Numri al-Qurthubi. (XIV/348).

[32] HR. Ibnu Majah, an-Nasa`i, Ahmad dan al-Baihaqi. Dalam Sunan al-Baihaqi, hadits no: 7713, disebutkan pada bab: Puasa bagi yang melihat hilal, (IV/204), bahwa hadits ini dekeluarkan oleh al-Bukhari dari hadits ‘Uqail dari az-Zuhri dan juga diriwayatkan oleh Muslim dari Harmalah dari Ibnu Wahab.

[33] Al-Mughni. Ibnu Qudamah. Juz: IV, hal: 118.

[34] HR. Bukhari. No: 1781.

[35]Fathu al-Mun’im”. Dr. Musa Syahin Lasyin. (IV/509).

[36]Tuhfah al-Awadzi Bisyarh Jaami’ at-Tirmidzi”. Abu al-‘Ula Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfuri. Cairo: Daar al-Hadits, 2001 M – 1421 H. Cet. 1, juz: III, hal: 96.

[37]Fatawa al-Lajnah ad-Da`imah Lil Buhuuts al-‘Ilmiyah wal Ifta”, jilid: X, hal: 117.

[38] QS. Al-Hajj: 78.

[39] HR. Imam Malik, Imam Ahmad dalam kitab Musnad, Abu Daud dalam kitab Sunan, an-Nasa`i dalam kitab Sunan, Ibnu Majah dalam kitab Sunan, ad-Darimi dalam kitab Sunan, al-Baihaqi dalam kitab as-Sunan al-Kubra, Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya, Ibnu Abi Syaibah dalam mushannifnya, Ibnu Hazm dalam kitabnya al-Muhalla, kemudian diriwayatkan dari al-Khathib al-Baghdadi dan juga disebutkan oleh az-Zaila’i dalam kitabnya Nashbu ar-Rayah. Keseluruhan  riwayat ini bersumber dari hadits Hafshah radhiyallahu ‘anha.

[40]Al-Muntaqa Min Fatawa”. Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan. Riyadh: Daar al-‘Asal, 1999 M – 1419 H. Cet. 3. juz: V. Hal: 109.

[41] Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab. Imam Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi (wafat: 676 H). Beirut: Daar al-Fikr, 2005 M – 1426 H. Juz: VI, hal: 274.

Categories: FIQIH NAZILAH
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: