November 28, 2010 Leave a comment Go to comments

Keutamaan Orang Beriman

Oleh : Fauzan Alwi (Walad)

 Redaksi Hadits

72. حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ كُلُّهُمْ عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيبٍ الْحَارِثِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ عَنْ إِسْمَعِيلَ قَالَ سَمِعْتُ قَيْسًا يَرْوِي عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ قَالَ : أَشَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْيَمَنِ فَقَالَ أَلَا إِنَّ الْإِيمَانَ هَهُنَا وَإِنَّ الْقَسْوَةَ وَغِلَظَ الْقُلُوبِ فِي الْفَدَّادِينَ عِنْدَ أُصُولِ أَذْنَابِ الْإِبِلِ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنَا الشَّيْطَانِ فِي رَبِيعَةَ وَمُضَرَ.

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Usamah. (dalam riwayat lain disebutkan) dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami bapakku. (dalam riwayat lain disebutkan) dan telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris semuanya dari Ismail bin Abu Khalid. (dalam riwayat lain disebutkan) dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Habib al-Haritsi dan lafazh tersebut darinya, telah menceritakan kepada kami Mu’tamir dari Ismail dia berkata, saya mendengar Qais meriwayatkan dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat dengan tangan ke arah Yaman, seraya bersabda: “Ingatlah, sesungguhnya iman ada di sini (Yaman), sedangkan kekerasan dan kekakuan hati ada pada penggembala yang bersuara keras di dekat pangkal ekor unta ketika muncul sepasang tanduk setan pada Bani Rabi’ah dan Bani Mudhar.” [HR. Muslim].[1]

Rawi A’la

Beliau adalah ‘Uqbah bin ‘Amru bin Tsa’labah bin ‘Amru Asirah bin ‘Asirah al-Anshari, beliau dipanggil dengan Abu Mas’ud al-Badri, bisa juga dengan Abu Mas’ud al-Anshari. Beliau dari kalangan sahabat, wafat sebelum tahun 40 H, ada yang mengatakan sesudahnya, beliau wafat di Kufah dan ada yang mengatakan wafatnya beliau di Madinah. Yang meriwayatkan ke beliau adalah : Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa`i dan Ibnu Majah. Ibnu Hajar dan adz-Dzahabi mengatakan, “Beliau adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Makna secara umum

Perumpamaan hati itu bagaikan perak, jernih, lembut, bersih dan jika hati itu terjaga dari kerusakan dan selalu dalam kebaikan dan keelokan.

Kemudian hati itu juga bisa berkarat, mengeras, mati dan menghitam dan juga nantinya akan lemah dalam beramal, kemudian tujuannya tidak akan tercapai dan juga tidak bermanfaat, yang nantinya malah menimbulkan bahaya dan ketelantaran dalam pekerjaan, sehingga ia akan mendapatkan kerugian.

Hati Yang Bersih

Hati itu memiliki warna seperti warna perak dan halus seperti halusnya emas. Maka warna itu diibaratkan sebagai tadabbur terhadap kitabullah (al-Qur`an) dan merenungkan segala penciptaan Allah Ta’ala, dan itu semua menjadikan sebab keselamatan bagi hati maksudnya adalah aman dari kebencian dan kedengkian dan ini termasuk dalam katagori pokok-pokok ahlu sunnah para sahabat yaitu selamatnya hati dan lisan mereka,[2] sebagaimana Allah Ta’ala menyifati dalam firman-Nya:

šúïÏ%©!$#ur râä!%y` .`ÏB öNÏdω÷èt/ šcqä9qà)tƒ $uZ­/u‘ öÏÿøî$# $oYs9 $oYÏRºuq÷z\}ur šúïÏ%©!$# $tRqà)t7y™ Ç`»yJƒM}$$Î/ Ÿwur ö@yèøgrB ’Îû $uZÎ/qè=è% yxÏî tûïÏ%©#Ïj9 (#qãZtB#uä !$oY­/u‘ y7¨RÎ) Ô$râäu‘ îLìÏm§‘ ÇÊÉÈ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”[3]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Maksud daripada keselamatan bagi hati adalah terhindar dari sifat riya`, sombong dan ‘ujub.[4] Kemudian sebab lainnya adalah menjadikan ketawadhu’an, kelemah lembutan, keramahan, kemudian mendatangkan rahmat dan rasa takut kepada Allah Ta’ala.

Penyebab Hati Itu Bersih

Allah Ta’ala menyifati dalam firman-Nya:

$yJ¯RÎ) šcqãZÏB÷sßJø9$# tûïÏ%©!$# #sŒÎ) tÏ.èŒ ª!$# ôMn=Å_ur öNåkæ5qè=è% #sŒÎ)ur ôMu‹Î=è? öNÍköŽn=tã ¼çmçG»tƒ#uä öNåkøEyŠ#y— $YZ»yJƒÎ) 4’n?tãur óOÎgÎn/u‘ tbqè=©.uqtGtƒ ÇËÈ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”[5]

Ali bin Abi Thalhah  berkata dari Ibnu ‘Abbas            radhiyallahu ‘anhuma berkata mengenai firman Allah Ta’ala diatas, bahwa hati orang-orang munafik itu tidak mengingat Allah Ta’ala, tidak beriman terhadap ayat-ayat Allah Ta’ala, tidak bertawakkal, tidak shalat dan tidak menunaikan zakat dari harta-harta yang mereka miliki, maka Allah Ta’ala mengabarkan bahwa mereka bukanlah termasuk dari orang beriman, yang kemudian Allah Ta’ala menyifati orang-orang yang beriman, yaitu “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka…”, mereka ini selalu mengerjakan kewajiban-kewajiban, kemudian apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka bertambahlah imannya[6], dalam artian bertambahnya keteguhan pada iman, ketenangan yang kuat dan giat dalam beramal shalih, oleh karena itu jumhur ulama menjadikan dalil dengan ayat ini dan ayat-ayat semisalnya yang berkenaan bertambahnya iman, maka iman itu bisa bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan[7]. Dan mereka selalu bertawakkal kepada Allah Ta’ala, ia tidak mengharapkan sesuatu dari apapun selain tawakkal kepada-Nya. Dan inilah sifat orang beriman yang sebenar-benar iman.[8]

Kemudian dalam firman lainnya Allah Ta’ala berfirman:

tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä ’ûÈõuKôÜs?ur Oßgç/qè=è% ̍ø.ɋÎ/ «!$# 3 Ÿwr& ̍ò2ɋÎ/ «!$# ’ûÈõyJôÜs? Ü>qè=à)ø9$# ÇËÑÈ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.”[9]

Muqatil mengatakan, “Maksud daripada mengingat Allah Ta’ala adalah dengan al-Qur`an sedangkan ketenangan itu adalah keyakinan dan kekacauan adalah keraguan. Dengan demikian bahwa hati orang yang beriman itu tenang dan tetap yakin. Ibnu Abbas mengatakan, “Ini mengenai sumpah, jika seorang muslim bersumpah, “Demi Allah”, maka berarti hatinya itu telah yakin.[10]

Dalam ayat  lain Allah Ta’ala berfirman:

tûïÏ%©!$#ur tbqè?÷sム!$tB (#qs?#uä öNåkæ5qè=è%¨r î’s#Å_ur öNåk¨Xr& 4’n<Î) öNÍkÍh5u‘ tbqãèÅ_ºu‘ ÇÏÉÈ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”[11]

Dalam ayat lainnya Allah Ta’ala berfirman:

ª!$# tA¨“tR z`|¡ômr& Ï]ƒÏ‰ptø:$# $Y6»tGÏ. $YgÎ6»t±tF•B u’ÎT$sW¨B ”Ïèt±ø)s? çm÷ZÏB ߊqè=ã_ tûïÏ%©!$# šcöqt±øƒs† öNåk®5u‘ §NèO ßû,Î#s? öNèdߊqè=ã_ öNßgç/qè=è%ur 4’n<Î) ̍ø.ό «!$# 4

“Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah…”[12]

Dengan demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyifatinya dalam redaksi haditsnya:

جَاءَ أَهْلُ الْيَمَنِ هُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً وَأَضْعَفُ قُلُوبًا الْإِيمَانُ يَمَانٍ وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَةٌ. وَالسَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ فِي أَصْحَابِ الشَّاءِ.

“Telah datang penduduk Yaman, mereka adalah kaum yang paling lembut hatinya, dan paling lemah hatinya. Iman itu ada di Negri Yaman dan hikmah itu ada pada orang Yaman.” “Sedangkan ketenangan ada pada penggembala kambing.”

Hati Yang Rusak

Dalam hati itu juga terdapat karat seperti karatnya besi, hitam dan buram, ia akan menebal seperti menebalnya asap, dalam artian hati itu diliputi oleh kebohongan-kebohongan, ketamakan terhadap dunia dan sibuk dengan perlengkapan-perlengkapan yang serba ada. Maka jika hati itu rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah sesungguhnya didalam jasad terdapat segumpal darah, jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rusak, maka rusak pulalah seluruh jasadnya, ketahuilah itu adalah hati.”[13]

Jika hati itu rusak, maka seluruh anggota badannya ikut menjadi rusak dan kebalikannya juga bahwa jika hati itu baik, maka seluruh anggotanya akan menjadi baik pula.[14] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seseorang yang sedang shalat yang ketika itu ia bermain-main tanah yang ada di depannya, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Sekiranya hati ini khusyu’, maka seluruh anggota badannya juga khusyu’ (tunduk)”. Hati itu akan menngendalikan seluruh anggota badan dan jika hatinya itu penuh dengan ketakwaan, maka seluruh anggotanya akan ikut padanya. Jadi hati itu adalah raja yang memerintahkan anggota badanya, jika hatinya itu bersih, maka seluruh tubuhnya akan bersih pula.

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan, “Muslim sesama  saudara Muslim lainnya tidak boleh berkhianat, berbohong dan menghina, maka setiap Muslim dengan Muslim lainnya dari kehormatan, harta dan darahnya adalah haram, kemudian beliau mengatakan tiga kali dengan mengisyaratkan tangan ke dadanya[15] :

التقوى ها هنا، التقوى ها هنا، التقوى ها هنا

“Takwa itu adalah disini (dihati), takwa itu adalah disini, takwa itu adalah disini.”[16]

Penyebab Hati Itu Rusak

Allah Ta’ala menyifatinya dalam firmannya, yaitu :

…( Ÿwur ôìÏÜè? ô`tB $uZù=xÿøîr&، çmt7ù=s% `tã $tR̍ø.ό …

“…dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya Telah Kami lalaikan dari mengingati Kami…”.[17]

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, bahwa ayat ini diturunkan mengenai kasus Umayah bin Khalaf ketika itu ia menyuruh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar melakukan suatu perkara yang dibenci oleh Allah Ta’ala, yaitu ia menyuruh agar menyingkirkan orang-orang miskin darinya dan mendekatkan diri kepada para tentara kota Makkah, maka Allah Ta’ala menurunkan ayat tersebut, yaitu Allah telah menutup hati mereka dari tauhid.[18]

Allah Ta’ala mengatakan kepada RasulNya, “Wahai Muhammad janganlah kamu mengikuti orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari kekufuran, yang mana mereka meminta kepadamu agar menyingkirkan sebagian kelompok yang berdoa kepada Allah di waktu pagi dan sore.[19] Allah Ta’ala telah melalaikan hatinya ketika ia sibuk dengan dirinya, hartanya, anak-anaknya, kesenangan- kesenangannya, kenikmatan-kenikmatannya dan syahwatnya, di dalam hatinya tidak ada rasa lapang untuk Allah Ta’ala dan inilah hati yang selalu sibuk dengan kelalaian-kelalaian, ia menjadikan kesibukan itu sebagai tujuan hidup.[20]

Dalam firman lainnya:

§NèO ôM|¡s% Nä3ç/qè=è% .`ÏiB ω÷èt/ šÏ9ºsŒ }‘Îgsù Íou‘$yÚÏtø:$$x. ÷rr& ‘‰x©r& Zouqó¡s%

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi…”[21]

Yaitu hatinya mengeras seperti batu dan tidak akan lunak selamanya, dengan demikian Allah Ta’ala melarang kepada orang-orang beriman dari keadaan mereka[22], sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

öNs9r& Èbù’tƒ tûïÏ%©#Ï9 (#þqãZtB#uä br& yìt±øƒrB öNåkæ5qè=è% ̍ò2Ï%Î! «!$# $tBur tAt“tR z`ÏB Èd,ptø:$# Ÿwur (#qçRqä3tƒ tûïÏ%©!$%x. (#qè?ré& |=»tGÅ3ø9$# `ÏB ã@ö6s% tA$sÜsù ãNÍköŽn=tã ߉tBF{$# ôM|¡s)sù öNåkæ5qè=è% ( ׎ÏWx.ur öNåk÷]ÏiB šcqà)Å¡»sù ÇÊÏÈ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang Telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya Telah diturunkan Al Kitab kepadanya, Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”[23]

Dengan demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

غِلَظَ الْقُلُوبِ. وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ فِي أَهْلِ الْخَيْلِ وَالْإِبِلِ الْفَدَّادِينَ أَهْلِ الْوَبَرِ..

“Kekakuan hati, dan kebanggaan, kesombongan ada pada pemilik kuda dan unta yang menggembala, yaitu kaum Badui.”

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan perbedaan hati menurut hak masing-masing dari yang terpuji dan yang tercela.  Beliau menyifati dengan orang-orang Yaman yang mana mereka bersegera dalam keimanan dan menghiasi akhlak dengan akhlak-akhlak Islam sesuai menurut hak mereka.

Adapun maksud daripada pemberian kepada Bani Rabi’ah dan Bani Mudhar dan penggembala yang bersuara keras di dekat pangkal ekor unta yang mana hati mereka sudah mengeras dan mereka menentang terhadap keimanan, maka hak bagi mereka adalah tercela, bahwasanya mereka adalah pemimpin orang kafir dan sumber fitnah, dan juga orang yang bangga dan sombong disifati dengan sifat-sifat tercela juga, yang mana mereka tidak menerima Agama Islam yang lurus.

Pembahasan Bahasa

{ ألا إنّ الإيمان ههنا }

(ألا), sebagai adat istiftah (pembukaan) dan tanbih (peringatan).

{ وإنّ القسوة وغلظ القلوب }

Imam al-Qurthubi mengatakan: “Watak dan kerasnya hati adalah sama.” Jadi maksud daripada al-Jafa` dan al-Qiswah adalah buruknya akhlak secara zhahir dari perkataan dan perbuatan, kemudian juga maksud daripada kalimat ghilazhal qulub adalah jeleknya akhlak dalam hal perkara-perkara bathin.

{ فى الفدّادين عند أصول أذانيب الإبل }

Al-fadadiin adalah jama’ dari fadad yaitu suara yang keras, kemudian maksud daripada ushuul adzaniib al-Ibil adalah yang lengket pada ujung pangkal ekor unta.

{ حيث يطلع قرنا الشيطان }

Qarnan asy-Syaithan yaitu yang terletak pada samping kepala, maksudnya adalah sebutan arah sebelah timur, maka ada ungkapkan dalam hadits bahwa matahari terbit antara dua tanduk setan dikarenakan orang timur mereka menyembah matahari dan penyembahan terhadap matahari termasuk kedalam katagori setan. Makanya dikatakan dalam makna qarnan asy-Syayathiin.

{ فى ربيعة ومضر }

Bahwa hati yang keras dan suara yang keras berasal dari Rabi’ah dan Mudhar, yang mana mereka adalah mayoritas dari penduduk timur.

{ جاء أهل اليمن، هم أرق أفئدة }

Maksudnya adalah mereka yang memiliki hati yang lembut dan mereka juga berasal dari penduduk sebelah timur. Dan yang lebih dikenal dari kata al-Fu`ad adalah al-Qalbu.

{ الإيمان يمان }

Bahwa pada asal katanya dari {يمنى} dengan meringankan huruf ya` dan menambahkan alif akhirnya, ada yang mengatakan {اليماني} dan {يمانية} dengan meringankan huruf ya`. Jadi bahwa الإيمان يمان itu berada di daerah penduduk Yaman.

{ والفقه يمان }

Al-Fiqhu dalam arti bahasa adalah al-Fahmu (paham) dan al-Fathanah (pandai, cerdas). Yang secara pasti adalah paham tentang Agama Islam. Dan secara istilah menurut para fuqaha` dan yang lainnya dari kalangan fiqih adalah memperoleh hukum-hukum syar’i yang amaliyah.

{ والحكمة يمانية }

Al-Hikmah dalam istilah kamus adalah al-‘Adlu, al-‘Ilmu dan al-Hilm. Abu Bakar bin Duraid mengatakan, “Setiap kata  yang mengandung nasehat atau seruan kepada yang mulia atau sebuah larangan dari perbuatan jelek, maka itu namanya hikmah.” Dan maksud daripada al-Hikmah dalam hadits adalah ilmu yang mencakup tentang pengetahuan Allah Ta’ala.

{ رأس الكفر نحو المشرق }

Maksudnya adalah petingginya yang keras dan kejam yang berada di penduduk timur.

{ والفخر والخيلاء فى أهل الخيل والإبل }

Al-Fakhru adalah kebanggaan yang diagungkan dan kebanggaan itu pula dijadikan sebagai keajaiban terhadap dirinya. Sedangkan al-Khuyala` adalah  sombong terhadap manusia.

{ الفدّادين أهل الوبر }

Ini adalah maksud daripada  أهل الخيل والإبل, maka والفخر والخيلاء فى الفدّادين termasuk dari أهل الخيل والإبل, adapun الوبر adalah bulu onta.

{ والسّكينة فى أهل الغنم }

Maknanya adalah thuma`ninah (ketenangan), jadi as-Sukun, al-Wiqar dan at-Tawadhu’ adalah kebalikan dari kata al-Fakhru dan al-Khuyala`.

{ قِبَل مطلِع الشمس }

Maksudnya adalah arah tempat keluarnya matahari.

{ والسّكينة والوقار فى أصحاب الشتاء}

As-Sakinah adalah mengikut kepada penafsiran dari kata al-Wiqar. Adapun أصحاب الشتاء adalah penggembala kambing.

Fiqih Hadits

Sebagian ulama menolak tentang penisbatan iman kepada penduduk Yaman dari zhahirnya, karena iman itu berawal dari Makkah kemudian dari Madinah. Terkadang mereka membebani penolakan ini dengan mempersulit yang berkepanjangan, diantaranya bahwa maksud daripada Yaman adalah Makkah, maka dikatakan bahwa Makkah itu berasal dari Tihamah dan Tihamah itu berasal dari bumi Yaman. Secara jelasnya sebagai berikut :

Pertama : bahwa maksud daripada Yaman adalah Makkah dan Madinah, karena terdapat riwayat dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, perkataan ini sewaktu di Tabuk, dan Makkah, Madinah ketika itu berada diantara beliau dan Yaman, maka ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan kearah Yaman, beliau ingin pergi ke Makkah dan ke Madinah, beliau bersabda: “Iman itu ada pada Yaman.” Dan beliau menisbatkan Makkah dan Madinah itu ke arah Yaman, menjadikan kedua-duanya dari posisi Yaman, sebagaimana kebanyakan orang mengatakan, “Rukun yamani itu berada di Makkah, jadi memposisiskannya ke arah Yaman.

Kedua : ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah al-Anshar, karena mereka adalah orang Yaman asli, maka al-Iman itu dinisbatkan kepada mereka. Dan yang jelas bahwa permasalahan ini jauh dari kebenaran dan juga jauh dari lafazh-lafazh hadits yang terkumpul dengan berbagai jalur-jalur periwayatannya.

Dilihat dari sisi lafazh-lafazhnya bahwa kalimat “أتاكم أهل اليمن” dan “جاء أهل اليمن”, adalah perkataan dari pihak penduduk Makkah dari kalangan muhajirin dan dari pihak Madinah dari kalangan anshar, maka berarti yang datang adalah selain mereka. Kemudian maksud daripada isyarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengarah ke Yaman maksudnya adalah menunjukkan kepada penduduknya ketika itu.

Yang kemudian oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam menyifatinya dengan sifat-sifat iman, seperti lunaknya hati, lemahnya hati dan lembutnya hati. Dan susunan sifat-sifat ini disebut dengan “الإيمان يمان”.

Kemudian hal tersebut pada dasarnya tidak ada larangan dari sisi ucapan secara zhahirnya dan perkataan itu mengarah kepada penduduk Yaman adalah benar adanya, maka penduduk Yaman mereka bersegera kepada siraman iman. Dan mereka memberikan kabar gembira kepada Bani Tamim yang belum menerimanya. Maka ada riwayat dari Bukhari pada kitab awal mula penciptaan, bahwa ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Telah datang seseorang dari Bani Tamim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Bani Tamim.. berilah kabar gembira (maksudnya adalah dengan Surga apabila kamu telah masuk Islam), mereka berkata, “Berilah kepada kami kabar gembira.”

Ini adalah merupakan utusan dari Yaman yang pada waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup yang merupakan keselamatan bagi hati, kekuatan iman, makanya penisbatan itu dinisbatkan kepada mereka dengan kesempurnaan iman.

Pelajaran Yang Dapat Diambil Dari Hadits

  1. Kebaikan bagi orang mukmin itu berasal dari penduduk Yaman.
  2. Keutamaan orang yang beriman dan bahwa orang beriman itu seperti kabilah sebagian mereka meninggikan iman pada sebagian yang lainnya.
  3. Terpujinya kesakinahan dan kewibawahan, kemudian lunak dan lembutnya hati.
  4. Menjauhkan dari sifat bangga dan sombong.

Bibliografi :

  1. “Fathul Mun’im Syarh Shahih Muslim.” Prof. Dr. Musa Syahin Lasyin. Beirut: Daar asy-Syuruq, 1423 H – 2002 M. Cet. Ke-I.
  2. “Syarh al-Aqidah al-Wasithiyyah.” Abdullah bin Muhammad al-Ghaniman.
  3. “Syarh Manzhumah al-Iman.” ‘Isham al-Basyir al-Marakisyi.
  4. “Tafsiir al-Qur`aan al-‘Azhiim.” ‘Imaduddin Abu Fida` Isma’il bin Katsir al-Qurasyi ad-Dimasyqi (wafat: 774 H). Riyadh: Daar as-Salam, 1418 H – 1998 M. Cet. Ke-2.
  5. “Ad-Durr al-Mantsuur fie at-Tafsiir al-Ma`tsuur.” Abdurrahman Jalaluddin as-Suyuti. Beirut: Daar al-Fikr, 1414 H – 1993 M.
  6. “Tafsiir Ayatul Ahkaam Minal Qur`aan .” Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni. Cairo: Daar ash-Shabuni , 1420 H – 1999 M.
  7. “Ma’aalim at-Tanziil.” Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawai (wafat: 510 H). Daar Tahaibah, 1417 H – 1997 M.
  8. “Dalil al-Faalihiin lithuruq Riyadhusholihiin.” Muhammad Ali bin Muhammad ‘Ilan bin Ibrahim al-Bakri ash-Shiddiqi  asy-Syafi’i. Bab: Tauqiiru bil-Qaaf minal-Wiqaar.
  9. “Syarh al-Arba’iin an-Nawawiyyah.” ‘Athiyah bin Muhammad Salim.
  10. “Jaami’ al-Bayaan fie Ta`wiil al-Qur`aan.” Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Aamili, Abu  Ja’far  ath-Thabari.

“Fie Zhilal al-Qur`aan.” Sayyid Quthb Ibrahim Husain asy-Syaribi (wafat: 1385 H). Beirut: Daar asy-Syuruq, 1408 H – 1988 M.


[1] Dalam riwayat Muslim ada perberbeda pada redaksi hadits no: 73 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang berbunyi: جَاءَ أَهْلُ الْيَمَنِ هُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً الْإِيمَانُ يَمَانٍ وَالْفِقْهُ يَمَانٍ وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَةٌ “Telah datang penduduk Yaman, mereka adalah kaum yang paling lembut hatinya. Iman ada pada Yaman. Fiqh juga ada pada Yaman. Hikmah juga ada pada orang Yaman.” Kemudian pada hadits no: 75 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu رَأْسُ الْكُفْرِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ فِي أَهْلِ الْخَيْلِ وَالْإِبِلِ الْفَدَّادِينَ أَهْلِ الْوَبَرِ وَالسَّكِينَةُ فِي أَهْلِ الْغَنَمِ “Puncak kekafiran berada pada arah timur (daerah kaum majusi), dan kebanggaan dan kesombongan ada pada pemilik kuda dan unta yang menggembala, yaitu kaum Badui, sedangkan ketenangan ada pada penggembala kambing (maksudnya penduduk Yaman).” Pada hadits no: 79 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu أَتَاكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ هُمْ أَلْيَنُ قُلُوبًا وَأَرَقُّ أَفْئِدَةً الْإِيمَانُ يَمَانٍ وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَةٌ رَأْسُ الْكُفْرِ قِبَلَ الْمَشْرِقِ, “Telah datang penduduk Yaman kepada kalian, mereka adalah orang yang paling halus hatinya, dan paling lembut hatinya. Iman ada pada orang Yaman dan hikmah ada pada orang Yaman, sementara pokok kekufuran ada pada arah timur (kaum Majusi).” Kemudian hadits no: 79 dari al-A’masy dengan sanad ini seperti hadits Jarir, yaitu: وَزَادَ وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ فِي أَصْحَابِ الْإِبِلِ وَالسَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ فِي أَصْحَابِ الشَّاءِ dan dia menambahkan, ‘Kebanggaan dan kesombongan ada pada penggembala unta, sedangkan ketenangan ada pada penggembala kambing.”

[2] “Syarh al-Aqidah al-Wasithiyyah.” Abdullah bin Muhammad al-Ghaniman. (28/5).

[3] QS. Al-Hasyr: 10.

[4] “Syarh Manzhumah al-Iman.” ‘Isham al-Basyir al-Marakisyi. Hal: 76.

[5] QS. Al-Anfal: 2.

[6] “Tafsiir al-Qur`aan al-‘Azhiim.” ‘Imaduddin Abu Fida` Isma’il bin Katsir al-Qurasyi ad-Dimasyqi (wafat: 774 H). Riyadh: Daar as-Salam, 1418 H – 1998 M. Cet. Ke-2. Hal: 379. “ad-Durr al-Mantsuur fie at-Tafsiir al-Ma`tsuur.” Abdurrahman Jalaluddin as-Suyuti. Beirut: Daar al-Fikr, 1414 H – 1993 M. Hal: 11.

[7] “Tafsiir Ayatul Ahkaam Minal Qur`aan .” Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni. Cairo: Daar ash-Shabuni , 1420 H – 1999 M. Cet. Ke-1. Hal: 420.

[8] “Tafsiir al-Qur`aan al-‘Azhiim.” Hal: 379.

[9] QS. Ar-Ra’du: 28.

[10] “Ma’aalim at-Tanziil.” Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawai (wafat: 510 H). Daar Tahaibah, 1417 H – 1997 M. Cet. Ke-4.

[11] QS. Al-Mukminun: 60.

[12] QS. Az-Zumar: 23.

[13] HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan ad-Darimi.

[14] “Dalil al-Faalihiin lithuruq Riyadhusholihiin.” Muhammad Ali bin Muhammad ‘Ilan bin Ibrahim al-Bakri ash-Shiddiqi  asy-Syafi’i. Bab: Tauqiiru bil-Qaaf minal-Wiqaar. IV/16.

[15] “Syarh al-Arba’iin an-Nawawiyyah.” ‘Athiyah bin Muhammad Salim (wafat pada tahun: 1420).

[16] HR. Tirmidzi dan Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu Ta’ala ‘anhu. Syu’aib al-Arnauth mengatakan, “Sanad  pada hadits ini adalah baik sesuai dengan syarat Muslim.

[17] QS. Al-Kahfi: 28.

[18] “Addurr al-Mantsuur fie at-Ta`wil bil-Ma`tsuur.” Abdurrahman bin Abi Bakar, Jalaluddin as-Suyuthi. Beirut: Daar al-Fikr, 1414 H – 1993 M. Juz: V, hal: 382.

[19] “Jaami’ al-Bayaan fie Ta`wiil al-Qur`aan.” Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Aamili, Abu  Ja’far  ath-Thabari. Jilid: IX, hal: 5339.

[20] “Fie Zhilal al-Qur`aan.” Sayyid Quthb Ibrahim Husain asy-Syaribi (wafat: 1385 H). Beirut: Daar asy-Syuruq, 1408 H – 1988 M. Juz: 12-18, hal: 2269.

[21] QS. Al-Baqarah: 74.

[22] “Tafsiir al-Qur`aan al-‘Azhiim.” Ibnu Katsir. Jilid: I, hal: 160.

[23] QS. Al-Hadid: 16.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s