Perang Ahzab

Perang Ahzab

Oleh : Muhammad Singgih Pamungkas

(Mahasiswa Ma’had ‘Aly Al-Islam – Bekasi)

Pendahuluan

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Ta’ala, Shalawat dan Salam semoga tercurah atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam, sebagai pendidik dan pembimbing bagi seluruh makhluk.

Sepanjang perjalanan siroh Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sejarah telah mencatat banyaknya peperangan yang terjadi pada saat itu, baik peperangan yang langsung dipimpin oleh Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maupun yang tanpa keikut sertaan beliau.

Dan apabila kita memperhatikan peperangan yang dilakukan oleh Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melawan kaum musyrikin Quraisy, niscaya kita akan melihat silih bergantinya kemenangan dan kekalahan di antara mereka. Realitas tersebut adalah seperti yang dituturkan oleh Abu Sufyan kepada Kaisar Heraklius sebelum keislamannya, “Dia mengalahkan kami dalam satu peperangan dan kami mengalahkannya pada peperangan yang lain.”[1]

Peperangan besar dimulai dari Perang Badar Kubro[2], yang dinamai Allah dengan “Hari Pemisah”[3]. Kendati ia bukanlah Perang Dunia, dan tidak setara pula bobot kwantitas militernya dengan perang-perang Islam besar lain seperti perang Yarmuk, perang Qadisiyah, dan perang-perang yang lain. Di samping itu ia bukanlah pula peperangan yang berhasil melumpuhkan kaum Musyrikin Quraisy secara total, bahkan mereka keluar untuk melakukan peperangan kembali setahun setelah itu, dan mereka berhasil meraih kemenangan militer dalam perang Uhud.

Perang Uhud[4] terjadi setelah perang Badar, di situ 70 orang sahabat menemui kesyahidan, dan Kaum Muslimin mengalami kerugian sejumlah tokoh-tokoh besarnya. Demikianlah, kemenangan dan kekalahan datang silih berganti, dan akhirnya terjadi tragedi pembantaian di Bi`ru Ma`unah[5] pada tahun keempat Hijriyah, dalam tragedi ini terbunuh puluhan sahabat pilihan, yang terbilang sebagai sahabat-sahabat penghafal dan pengajar Al Qur`an Rhodhiyallahu ‘Anhum Ajma’in.

Peperangan yang berlangsung antara kaum Muslimin dan kaum Musyrikin telah mengambil dan memberi pada masing-masing pihak, kemenangan dan musibah, sehingga sampai pada klimaknya pada perang Ahzab, di mana kaum kafir Quraisy memutuskan akan melancarkan serangan pamungkas dan mengangkhiri serangkaian peperangan yang mereka lancarkan sebelumnya, untuk meraih kemenangan akhir. Allah mengabadikan kisah perang ini dalam Al Qur’an. Bahkan salah satu nama surat dalam Al Qur’an diambil dari nama perang ini, dikarenakan merupakan pokok pembahasan dalam surat tersebut.[6] Hal ini menunjukan urgensi dan banyaknya pelajaran yang bisa diambil dari kisah perang Ahzab.

Dan sungguh, betapa banyak sejarah yang telah terulang. Kisah kisah yang terjadi pada masa lampau, ternyata terulang kembali dalam masa berikutnya. Jika kita menelaah kembali apa yang dialami Rosulullah  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat beliau Radhiyallahu ‘Anhum pada perang Ahzab, kita akan mendapati situasi yang sama dengan apa yang dialami oleh kaum Muslimin pada saat ini. Hanya pemerannya saja yang berbeda.

Kalau dahulu kaum Muslimin dalam perang Ahzab dikepung oleh musuh-musuh mereka dari segala penjuru. Berbagai suku dan kabilah kaum Musrikin ditambah kaum Yahudi berkumpul bekerja sama untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin, maka pada saat ini pun keadaannya tidak jauh berbeda. Orang orang Yahudi, Nashroni, sekuler, Atheis, Syi’ah, dan orang-orang kafir lainnya bersatu untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Mereka menyerang Islam dari segala sisi. Hingga, kalau bukan karena rahmat Allah, tentu agama Islam sudah musnah dari muka bumi ini.

Maka, mudah mudahan dengan kembali menelaah kisah perang Ahzab, -meskipun tidak mendalam-, akan banyak pelajaran dan manfaat yang bisa diambil. Sehingga menjadi koreksi bagi perjuangan kaum Muslimin, dan mudah mudahan bisa menambah keyakinan kita kepada Allah, bahwa pertolongan Allah semakin dekat.

Waktu dan sebab terjadinya perang Ahzab

Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai waktu terjadinya perang Ahzab. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa perang Ahzab terjadi pada tahun ke empat Hijriyah, akan tetapi mayoritas mengatakan bahwa perang Ahzab terjadi pada bulan Syawal tahun ke lima Hijriyah[7]. Dan inilah yang dirojihkan oleh Ibnu Katsir Rohimahullah.[8]

Adapun penyebab berlangsungnya peperangan ini adalah kedengkian Yahudi Bani Nadhir terhadap kaum Muslimin. Pasca kekalahan kaum Muslimin dalam perang Uhud, yang diteruskan dengan pertempuran pertempuran dan manuver militer kecil kecilan selama lebih dari satu tahun, ketenangan dan kedamaian kembali normal. Hanya saja kaum Yahudi yang menerima pelecehan dan kehinaan karena ulah mereka sendiri yang berkhianat, berkonspirasi dan melakukan makar, tidak mau terima begitu saja. Apalagi semakin bertambahnya hari membawa keuntungan bagi kaum Muslimin, dan pamor kekuasaan mereka semakin baik. Hal demikian membuat kaum Yahudi semakin amarah.

Mereka pun kembali merancang konspirasi baru terhadap orang orang Muslim dengan menghimpun pasukan, sebagai persiapan untuk menyerang mereka secara totalitas, hingga tidak tersisa lagi satupun kaum Muslimin.

Sekitar dua puluh pemimpin dan pemuka Yahudi Bani Nadhir[9] mendatangi berbagai kabilah. Orang orang Quraisy, Ghathafan, dan kabilah kabilah lain mereka ajak untuk menyerang kaum Muslimin secara bersamaan. Mereka mangatakan kepada orang Quraisy, “Sesungguhnya agama kalian lebih baik dari agama Muhammad dan kalian lebih berhak atasnya….”. Mereka pun menyambut gembira ajakan tersebut.  Maka secara serentak bergabunglah pasukan perang yang terdiri dari Quraisy, Kinanah, Ghathafan dan kabilah kabilah lainnya, hingga terkumpul jumlah pasukan mencapai sepuluh ribu prajurit. Mereka berkumpul untuk satu tujuan, yaitu menyerang kaum Muslimin yang berada di Madinah. Inilah penyebab berlangsungnya perang Ahzab. Yang dimulai dari kedengkian kaum Yahudi terhadap kaum Muslimin.

Persiapan kaum Muslimin menghadapi peperangan

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendengar berita tentang rencana kaum Kufar yang telah berkumpul untuk menyerang kaum Muslimin, maka beliau segera berkumpul bersama para sahabatnya untuk bermusyawarah. Setelah berdiskusi panjang lebar, mereka sepakat melaksanakan usulan Salman Al Farisy Rodhiyallahu ‘anhu, yaitu untuk menggali parit. Maka mulailah kaum Muslimin bersungguh sungguh menggali parit. Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terjun ke lapangan ikut menggali parit bersama para sahabatnya. Hingga debu banyak yang menempel diperut beliau.

Beberapa kejadian penting dalam penggalian parit

Ketika kaum Muslimin dalam pekerjaannya menggali parit, banyak terjadi peristiwa yang ajaib. Yang mana ini merupakan tanda kenabian Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Diantaranya adalah apa yang terjadi pada Jabir bin Abdullah Rodhiyallahu ‘anhu. Dia melihat Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang dalam keadaan tersiksa karena rasa lapar yang sangat. Maka dia menyembelih seekor hewan dan istrinya menanak satu sha’ tepung gandum. Setelah masak, Jabir membisiki Rosulullah secara pelan pelan agar datang ke rumahnya bersama beberapa sahabat saja. Tapi beliau justru berdiri dihadapan semua orang yang sedang menggali parit yang berjumlah seribu orang, lalu mereka melahap makanan yang tak seberapa banyak hingga semua kenyang. Bahkan masih ada sisa dagingnya, begitu pula adoanan tepung roti.[10]

Ada yang lebih menakjubkan dari kisah di atas, yaitu apa yang dikisahkan oleh Al Barra Rodhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Saat menggali parit, dibeberapa tempat kami terhalang oleh tanah yang sangat keras dan tidak bisa digali dengan cangkul. Kami melaporkan hal ini kepada Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau datang mengambil cangkul dan bersabda, “Bismillah…” Kemudian menghantam yang keras itu dengan sekali hantaman. Beliau bersabda, “Allah maha besar. Aku diberi kunci kunci Syam. Demi Allah aku benar benar bisa melihat istana istananya yang bercat merah pada saat ini” Lalu beliau menghantam untuk yang kedua kalinya bagian tanah yang lain. Beliau bersabda lagi, “Allah maha besar, aku diberi tanah Persi. Demi Allah saat inipun aku bisa melihat istana Mada’in yang bercat putih.” Kemudian beliau menghantam untuk yang ketiga kalinya, dan bersabda, “Bismillah….” Maka hancurlah tanah atau batu yang masih menyisa. Kemudian beliau beliau bersabda: “Allah maha besar, aku diberi kunci kunci Yaman. Demi Allah, dari tempatku ini aku bisa melihat pintu pintu gerbang Shan’a.[11]

Itulah diantara peristiwa menakjubkan yang terjadi ketika penggalian parit. Hal ini menunjukan kenabian beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sehingga menambah keyakinan orang orang beriman, dan harapan mereka kepada Allah ta’ala, berbeda dengan orang orang yang berpenyakit di dalam hatinya. Mereka justru mengolok ngolok Rosulullah Shallallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka mengatakan kepada yang lain, “lihatlah apa yang dikatakan oleh Muhammad, dia menjanjikan kepada kalian kunci-kunci Yaman, Istana Madain, dan pintu pintu gerbang Shan’a, padahal saat ini, menghancurkan satu batu besar saja tidak bisa, sungguh ini adalah penipuan”. Inilah sikap orang Munafik sepanjang zaman terhadap janji Allah.

Bagaimana peperangan berlangsung?[12]

Ketika orang orang Musyrik hendak melancarkan serbuan ke arah orang orang Mu’min dan menyerang Madinah, ternyata mereka harus berhadapan dengan parit. Karena itu mereka memutuskan untuk mengepung orang orang Muslim di Madinah. Padahal tatkala keluar dari rumah, mereka tidak siap untuk melakukan pengepungan. Karena mereka sama sekali tidak mengenal siasat perang yang dilakukan oleh kaum Muslimin pada saat itu, dan mereka sama sekali tidak memperhitungkannya.

Akhirnya pasukan Ahzab mendirikan kemah di luar parit. Beberapa kali pasukan berkuda Ahzab berusaha menyeberang parit, namun usaha mereka selalu gagal setelah pasukan Muslimin menghalau mereka dengan hujan anak panah.

Di saat seperti itu, Yahudi bani Quraidhah yang tinggal di Madinah merobek isi perjanjian damai dengan Rasulullah. Tidak hanya itu, mereka juga bersiap-siap melakukan pengkhianatan dan membantu pasukan Ahzab untuk menghabisi kaum Muslimin. Akibatnya, umat Islam menghadapi musuh yang besar di luar dan musuh di dalam.

Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahakan seorang sahabatnya yang baru masuk Islam dari Ghothofan yang bernama Nu’aim bin Mas’ud untuk membuat tipu muslihat diantara kaum kufar. Maka seketika itu juga dia mendatangi Bani Quroidhoh, yang menjadi teman karibnya semasa jahiliyah, dan mendatangi Ghothofan untuk memecah belah mereka.

Rencana ini pun berhasil. Nu’aim mampu memperdayai kedua belah pihak dan menciptakan perpecahan di barisan musuh, sehingga semangat mereka menurun drastis.

Sementara orang orang Muslim selalu berdoa kepada Allah, “Ya Allah tutupilah kelemahan kami dan amankanlah kegundahan kami”

Dan Rosulullah Shalalllahu ‘alaihi wasallam juga berdoa untuk kemalangan musuh:

اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ سَرِيعَ الْحِسَابِ اللَّهُمَّ اهْزِمْ الْأَحْزَابَ اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ

“Ya Allah yang menurunkan Al Kitab, yang cepat hisab Nya, kalahkanlah pasukan musuh. Ya Allah, kalahkanlah dan goncangkanlah mereka”[13]

Allah mendengar doa Rosul Nya dan kaum Muslimin. Setelah muncul perpecahan di barisan pasukan Ahzab, dan mereka bisa diperdayai, Allah ta’ala mengirimkan pasukan berupa angin taufan[14] kepada mereka sehingga kemah mereka porak poranda. Allah juga mengirim pasukan yang terdiri dari Malaikat yang membuat mereka menjadi gentar dan kacau, menyusupkan ketakutan di dalam hati mereka.

Al Qur’an berbicara tentang perang Khondak

Dalam surat Al Ahzab, Allah ta’ala telah mengingatkan kaum Muslimin tentang salah satu  nikmat terbesar yang telah Allah berikan; yaitu nikmat pertolongan atas musuh musuh mereka dalam peperangan yang terbesar dan ujian yang terberat, pada perang Ahzab. Yaitu ketika sekumpulan kaum kafir dari kaum Musyrikin Makkah, Yahudi, dan Munafiqin berkumpul –meskipun keyakinan mereka berbeda beda-  dalam satu bendera untuk satu tujuan; mengubur da’wah tauhid dan menghabisi para pejuangnya, serta mengambil tanah dan harta mereka.[15]  Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan ni’mat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya . Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan” (Al Ahzab: 9)

Imam As Sa’di Rohimahullah berkata, “Allah ta’ala telah menyebutkan nikmatnya kepada kaum Mu’minin, dan memerintahkan mereka untuk mensyukurinya, yaitu ketika datang kepada mereka para penduduk Makkah dan Hijaz dari atas mereka dan para penduduk Najd dari bawah mereka”[16]

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, “Allah ta’ala telah mengabarkan nikmat, karunia, dan kebaikan Nya kepada kaum Muslimin, yaitu ketika Dia mengusir, menghancurkan dan mengalahkan musuh mereka, yang mana mereka berkumpul (untuk menyerang kaum muslimin) sehingga hal itu menyusahkan mereka, yang mana ini terjadi dalam perang Khondak”.[17]

Imam At Thobari Rahimahullah berkata, “Dan tentara yang dimaksud adalah tentara Quraisy, Ghothofan, dan Bani Quroidhoh. Adapun tentara yang dikirim kepada mereka bersama angin adalah Malaikat”[18]

Imam Abu Hayyan Rohimahullah berkata, “jumlah tentara mereka mencapai 10 ribu pasukan, Quroisy dan perkumpulannya mencapai 4 ribu, yang dipimpin oleh Abu Sufyan, Bani Asad dipimpin oleh Thulaihah, Ghothofan dipimpin oleh Uyainah, Bani Amir dipimpin oleh Amir bin Thufail, Bani Salim dipimpin oleh Abul A’war, dan Yahudi: Bani Nadhir, dipimpin oleh Huyyay bin Akhthob dan Ibnu Abil Haqiq, dan Bani Quroidhoh yang dipimpin oleh Ka’ab bin Asad, padahal mereka telah mengadakan perjanjian dengan Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun mereka melanggarnya karena ulah Huyyay bin Akhthob”[19]

Kemudian Allah ta’ala melanjutkan:

إِذْ جَاؤُوكُم مِّن فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنكُمْ وَإِذْ زَاغَتْ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَ

“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (Qs. Al Ahzab: 10)

Kaum Muslimin dikepung dari segala penjuru, dari atas yaitu penduduk Makkah dan Hijaz, dari bawah yaitu penduduk Najd, dan sekutu sekutu lainnya, mereka berkumpul dalam tujuan yang sama; menyerang kaum Muslimin, belum lagi kaum Munafikin yang menyerang dari dalam, mereka menggunting dalam lipatan, padahal mereka telah mengadakan perjanjian dengan kaum Muslimin.

 Al Qur’an menggambarkan dahsyatnya situasi ketika itu, ketika pengepungan terjadi dalam waktu yang relatif lama, sementara tidak ada kepastian yang nyata, dan situasi semakin genting, semakin memanas, hingga hal tersebut membuat penglihatan tidak tetap lagi, hati naik menyesak sampai tenggorokan, hingga mereka menyangka terhadap Allah dengan berbagai prasangka buruk, mereka menyangka bahwa Allah tidak menolong agamanya, dan tidak menyempurnakan kalimatnya.

Sayyid Quthb Rohimahullah berkata, “Ayat itu menggambarkan ketakutan yang menyelimuti Madinah dan kesusahan yang menimpa penduduknya, tidak ada seorangpun kecuali mereka merasakan ketakutan dan kegelisahan. Kaum Musyrikin Quraisy, Ghothofan dan Yahudi Bani Quroidhoh telah mengepung mereka dari segala penjuru. Dari atas dan dari bawah mereka. Tidak ada perbedaan rasa takut diantara hati mereka. Yang membedakan hanyalah sambutan hati tersebut, prasangka mereka kepada Allah, dan prilaku mereka dalam keadaan genting, serta gambaran mereka yang lurus dan sebab akibat, hal itu dikarenakan ujian yang sangat sempurna dan mendalam. Yaitu sebagai pembeda antara orang yang beriman dan orang Munafiqin.”[20]

Maka dalam situasi seperti ini, keimanan kaum Muslimin di uji. Allah ta’ala berfirman:

هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدً

”Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat” (Al Ahzab: 11)

Allah ta’ala menguji mereka dengan ujian yang besar, menggoncang hati mereka dengan rasa takut, kelaparan, dan kegelisahan. Hingga dengan adanya ujian ini, menjadi jelaslah orang orang yang benar dengan keimanannya, dan orang yang hanya bermain main dengan keimanannya. Dengan ujian ini tersingkaplah kemunafikan orang Munafik, dan keimanan orang yang beriman.

Ketika urusan mencapai klimaksnya, maka Allah ta’ala menjadikan keyakinan dalam hati orang orang beriman, Allah ta’ala berfirman:

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَاناً وَتَسْلِيماً

“Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (Al Ahzab: 33)

Berbeda dengan orang Munafik, Allah ta’ala berfirman tentang mereka:

وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُوراً

“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata :”Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”.(Al Ahzab: 12)

Ayat ini berkenaan dengan seorang lelaki dari kaum Anshor yang dipanggil Qusyair bin Mu’tab, dia mengatakan kepada para sahabat, “Apakah Muhammad menjanjikan kepada kita kunci kunci Yaman, Istana Mada’in dan istana Romawi?! Padahal tidak ada seorangpun dari kita yang sanggup memenuhi kebutuhannya kecuali dia akan terbunuh, demi Allah ini adalah penipuan.[21]

Inilah keadaan kaum Munafikin ketika datang ujian, tidak tetap keimanannya, mereka hanya melihat dari akalnya yang cendek, tidak melihat ke depan, kecuali hanya mengikuti prasangka dan pikiran mereka saja.

Perang Ahzab telah merubah neraca kekuatan bangsa arab.

Setelah perang Ahzab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْآنَ نَغْزُوهُمْ وَلَا يَغْزُونَنَا نَحْنُ نَسِيرُ إِلَيْهِمْ

“Sekarang kita yang akan menyerang mereka, dan mereka tidak akan menyerang kita, kita akan bergerak menyerbu mereka.”[22]

Abu Qotadah Al Falisthin Hafidhohullah dalam bukunya Al Jihad Wal Ijtihad mengatakan, “Ini sesudah neraca kekuatan berubah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memprediksikan dengan petunjuk dan bimbingan yang dikaruniakan Allah padanya, bahwa Quraisy telah mengerahkan seluruh kekuatannya dalam perang Ahzab, tak sebatang anak panahpun yang tersisa di tempat anak panahnya melainkan mereka telah membidikkannya, dan tak ada sebatang pedangpun yang mereka punya melainkan mereka telah menghunus dan menyabetkannya. Tak tersisa lagi kekuatan yang dapat mereka gunakan untuk melancarkan serangan baru di luar  wilayah negerinya. Karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan perkataan demikian, saat beliau hendak melakukan `umrah:

وَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ نَهِكَتْهُمْ الْحَرْبُ وَأَضَرَّتْ بِهِمْ

 “Sesungguhnya peperangan telah menggerogoti kekuatan Quraisy dan melemahkan mereka”.[23]

Setelah perang Ahzab berlalu kita melihat bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak melakukan penyerangan terhadap Quraisy, tapi pergi ke Mekkah untuk ber`umrah bukan untuk berperang. Bahkan, seperti dituturkan Imam Al Bukhari bahwa beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّا لَمْ نَجِئْ لِقِتَالِ أَحَدٍ وَلَكِنَّا جِئْنَا مُعْتَمِرِينَ

“Sesungguhnya kami datang bukan untuk memerangi seorang, akan tetapi kami datang untuk ber`umrah.”[24]

Adapun maksud tujuan beliau melakukan `umrah adalah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam hendak menyulitkan posisi Quraisy di mata bangsa Arab, sehingga mereka kehilangan keabsahannya sebagai pelindung Ka`bah. Persoalan ini sangat penting, oleh karena ia merupakan langkah antisipasi yang sangat diperlukan untuk melemahkan koalisi Quraisy dan memecah-belah mereka; di samping itu juga untuk memberikan alasan pembenar kepada kabilah-kabilah lain bahwa bukan hanya kaum musyrikin Quraisy saja yang punya hak untuk melindungi Baitullah.[25]

Beberapa pelajaran yang bisa diambil dari kisah perang Ahzab

Banyak hal penting yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dalam perang Ahzab, diantaranya:

   1. Yahudi dan Kejahatannya

Sejarah perang Ahzab adalah dari Yahudi bani Nadhir yang terusir dari Madinah, kedengkian dan konspirasi merekalah yang menjadi penyebab terjadinya perang Ahzab. Mereka yang memprovokasi kabilah kabilah untuk bersatu, bersama sama menyerang kaum Muslimin. Kaum Yahudi juga yang telah berkhianat terhadap perjanjian yang mereka buat dengan Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan begitulah, sepanjang sejarah kehidupan Yahudi, -hingga seterusnya- Yahudi akan selalu berkhianat dan berkonspirasi membuat kerusakan di muka bumi ini. Oleh karena itu, ummat Islam harus berhati-hati terhadap kaum Yahudi.

   1. Koalisi Kebathilan

Koalisi dalam perang ahzab muncul akibat dari kesombongan dan dan kedengkian terhadap Islam dan ajarannya. Para pengikut kebatilan akan berkumpul, saling bekerjasama dan tolong menolong untuk menghancurkan kebenaran. Dan begitulah, kekufuran –meskipun keyakinan mereka berbeda beda- adalah Millah yang satu. Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذينَ كَفَرُواْ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ

“orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain” (Al Anfal: 73)

   1.  Perintah untuk Senantiasa Waspada

Selama ada yang memproklamasikan diri sebagai pihak yang berjuang di jalur yang benar, baik sebagai pribadi ataupun institusi, maka harus siap menghadapi segala risiko yang ada, termasuk risiko yang paling berat sekalipun. Ummat Islam diharuskan waspada terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika kaum Muslimin ketika akan terjadi perang Ahzab tidak dalam keadaan siaga, mungkin kota Madinah dan para penduduknya sudah hancur dikuasai oleh koalisi Ahzab yang berjumlah sepuluh ribu personil.

   1.  Urgensi Musyawarah dan Keberkahannya

Kedudukan musyawarah dalam amal Islami adalah sebuah keniscayaan. Musyawarah adalah cara terbaik melibatkan seluruh asset internal yang dimiliki oleh kaum Muslimin, yakni berupa akal. Dalam musyawarah di perang Ahzab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bisa mengukur tingkat keterlibatan sahabat dan perasaan sahabat, bahasa tubuh para sahabat dan variabel sekunder lainnya yang ada pada para sahabat Rodhiyallahu ‘anhum. Musyawarah juga mengajarkan semangat kolektivitas dan kebersamaan.

   1.  Pentingnya Keteladanan di Jalan Dakwah

   2. Tawadhu’, semua pasukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari bermacam latar belakang dan usia dapat berkomunikasi dengan baik kepada Rasulullah karena ketawadhu’an beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Berlaku dalam musyawarah, bahwa karena katawadhuannya, maka musyawarah tidak dimonopoli oleh pemimpin, tetapi justru para sahabat lah yang memberikan usulan dan ususlan sahabat lah yang menjadi keputusan musyawarah.

   3. Turun ke lapangan, sebagai pemimpin, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan teladan, yakni juga turun bersama para sahabat membangun parit untukmenghadang musuh.

   4. Cinta dan simpati yang dalam, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam merupakan sosok pemimpin yang tidak hanya disegani akan tetapi juga sangat dicintai oleh para sahabatnya. Dan beliaupun mencintai para sahabatnya. Hal ini merupakan salah satu faktor timbulnya ketaatan dan keikhlasan dalam melakukan pekerjaan.

   5. Urgensi kekuatan fisik bagi seorang pemimpin, usia rasul saat itu adalah 58 tahun, dan masih memiliki kekuatan yang prima untuk memecah batu yang sempat menghalangi pembangunan parit hanya dengan tiga kali pukulan martil.

   6. Optimis dengan pandangan visioner, di dalam perang ahzab dengan musuh yang banyak justru Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan sebuah mimpi, kelak Romawi, Syam, Yaman dan Persia akan jatuh ke tangan kaum Muslimin.

   7. Allah ta’ala menjadikan ujian sebagai pembeda. Dengan adanya ujian akan terlihat antara orang yang beriman dan orang Munafik. Perang Ahzab merupakan ujian yang sangat berat bagi orang beriman. Sehingga tersingkaplah dengan perilaku mereka ketika diuji, mana orang beriman dan mana orang Munafik.

   8. Semakin dahsyat ujian yang dialami kaum Muslimin, itu pertanda semakin dekatnya pertolongan Allah. Ketika kondisi dalam perang Ahzab semakin genting, maka disitulah datang pertolongan Allah berupa angin dan Malaikat yang memporak porandakan pasukan Ahzab.

Penutup

Alhamdulillah. Dengan izin Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Telah selesailah makalah ini. Semoga makalah ini berguna bagi saya pribadi secara khusus dan bagi kaum Muslimin pada umumnya. Wallahu ‘alam bis Showab

Daftar Pustaka

   1. Al Qur’anul Karim

   2. Rohiqul Makhtum, Shafiur Rahman Al Mubarakfuri, Dar Ibnu Hazm, cet ke I, 1423 H, Beirut.

   3. Tafsir Qur’anil Adhim, Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir (wafat 774 H), Darul Faiha (Beirut) dan Darus Salam (Riyadh) cet ke II, 1418 H Juz III.

   4. Jami’ul Bayan ‘An Ta’wilil Qur’an, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At Thobari (wafat 317 H), Darus Salam, cet ke II, 1428 H, Riyadh.

   5. Fie Dhilalil Qur’an, Sayyid Quthb, Cet I, Dar Ihyail Kutub Al Arobiyah Jilid V.

   6. Taisirul Karimir Rohman Fie Tafsiril Kalamil Manan, Abdur Rohman Nashir As Sa’di, (wafat  1307 H), Cet ke I, Markaz Fajr Lit Thiba’ah, Qohiroh.

   7. Dur Al Mantsur Fie Tafsiril Ma’tsur, Imam Abdur Rohman Jalaluddin As Syuyuthi (911 H), Darul Fikr, cet ke I, 1414 H, Beirut.

   8. Siroh Nabawiyah, terjemahan Rohiqul Makhtum,  Shafiur Rahman Al Mubarakfuri, Pustaka Al Kautsar, Cet ke 12, 2002 M, Jakarta.

   9. Siroh Nabawiyah ‘ardhun Waqoo’i wa Tahlilu Ahdats, Ali Muhammad As Sholabi, Maktabah Syamilah.

  10. Tafsir Bahrul Muhith, Abu Hayyan Muhammad Bin Yusuf bin Ali Bin Yusuf bin Hayyan An Nahwi Al Andalusi (wafat 745 H) Maktabah Syamilah.

  11. Jami’ul Ahadits, Jalaludin As Syuyuthi, Maktabah Syamilah.

  12. Al Jihad Wal Ijtihad, Abu Qotadah Al Falistin, Microsoft Word.

—————————————————————————————-

 [1] Dinukil dalam Al Jihad Wal Ijtihad Hal. 180

[2] Lihat kisah perang Badar dalam Rohiqul Makhtum Hal 196-222

[3] Lihat Jamiul Bayan Hal. 3858

 [4] Lihat kisah perang Uhud dalam Rohiqul Makhtum Hal 238-279

 [5] Lihat kisah selengkapnya dalam Rohiqul Makhtum Hal 283-284

 [6] Tautsiqul Qur’ani Lie Ghozwati Khondak, I/12 Maktabah Syamilah

 [7] Siroh Nabawiyah ‘ardhun Waqoo’i wa Tahlilu Ahdats III/317 Maktabah Syamilah

 [8] Tafsir Qur’anul Adhim III/620

 [9] Diantara mereka Salam bin Abi Huqoiq, Salam bin Misykam, dan Kinayah bin Rabi’. Lihat Tafsir Ibnu Katsir III/620 dan Fie Dhilalil Qur’an V/134

 [10] HR Bukhori No. 3793

 [11] Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (IV/303) No. 18716. Al Haitsami (VI/131) berkata: didalamnya ada Maimun Abu Abdullah distiqohkan oleh Ibnu Hibban dan di lemahkan oleh Jama’ah dan perawi lainnya terpercaya dikeluarkan juga oleh Imam An Nasa’i dalam Al Kubro (V/269) No. 8858 dan yang lainnya. Lihat Jami’ul Ahadits, Imam As Syuyuthi (VI/86) Maktabah Syamilah

 [12] Diringkas dari Siroh Nabawiyah Hal. 390-403 dengan sedikit perubahan.

 [13] HR Bukhori No. 2716

 [14]Imam Muslim meriwayatkan dalam sohihnya, dari Jabir Rodhiyallahu ‘anhu, bahwa suatu ketika Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam datang dari perjalanan. Tatkala beliau ke pinggiran kota Madinah, mendadak angin berhembus kencang dan hampir hampir (pasir yang diterbangkan angin) menimbun pengendara onta. Maka berujarlah Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Angin ini dikirim untuk menyaksikan kematian orang Munafik, benarlah apa yang beliau katakan, sesampainya beliau di Madinah, salah seorang gembong Munafik telah mati. Maha suci Allah, orang orang kafir tidak ditebas dengan pedang dalam perang Ahzab, tidak pula dibidik dengan panah, akan tetapi dibinasakan dengan angin topan (angin timur). Dinukil Dalam Al Jihad wal Ijtihad Hal. 171

 [15] Tautsiqul Qur’ani Lie Ghozwati Khondak I/13

 [16] Taisirul karimir Rohman Fie Tafsiri Kalamil Manan, I/659

 [17] Tafsir Qur’anul Adhim, III/620

 [18] Jami’ul Bayan, VIII/6621

[19] Bahrul Muhith tafsir surat Al Ahzab 18-20 (IX/143) Maktabah Syamilah

 [20] Fie Dhilalil Qur’an V/140

 [21] Dur Al Mantsur Hal VI/577

 [22] HR Bukhori No. 3801

 [23] HR Bukhori No. 2529

 [24] HR Bukhori No. 2529

 [25] Al Jihad Wal Ijtihad, Hal. 181

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: