Allah Berbicara Kepada Penduduk Surga

MENETAPKAN BAHWASANYA ALLAH Ta’ala BERBICARA DENGAN PENDUDUK SURGA; SEBAGAIMANA DAN SESUAI KEHENDAK-NYA

Oleh : Muhammad Amirul Hakim


“Dan mereka (penduduk Surga) mendengarkan perkataan-Nya sebagaimana dan sesuai kehendak-Nya” .

Sebagaimana Allah Ta’ala menetapkan bahwasanya hamba-hamba-Nya nanti akan dapat melihat-Nya di syurga (dan ini adalah nikmat teragung yang mereka rasakan nantinya), maka Dia juga menetapkan bahwasanya Dia akan berbicara dengan mereka di syurga kelak sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman tentang hal ini :

“Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).  Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di syurga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai Ucapan selamat dari Tuhan yang Maha Penyayang.”(Yasin : 55-58).

Juga sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dala sebuah hadits :

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ لأَهْلِ الْجَنَّةِ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ . يَقُولُونَ لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ . فَيَقُولُ هَلْ رَضِيتُمْ فَيَقُولُونَ وَمَا لَنَا لاَ نَرْضَى وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ . فَيَقُولُ أَنَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ . قَالُوا يَا رَبِّ وَأَىُّ شَىْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ فَيَقُولُ أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِى فَلاَ أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا

“Sesungguhnya Allah Tabaaroka wa Ta’ala berseru kepada ahli jannah, “Wahai ahli jannah!” Kemudian mereka menjawab seruan Allah, “Labbaik wa sa’daik ya Robb kami.” Kemudian Dia berkata, “Apakah kalian telah ridho?” Mereka menjawab, “Bagaimana myngkin kami tidak ridho padahal Engkau telah memberikan kepada kamu sesuatu(syurga) yang belum pernah Kau berikan kepada siapa pun dari makhluk-Mu.” Kemudian Dia berkata lagi, “Aku akan berikan untuk kalian apa yang lebih baik dari itu semua.” Mereka bertanya, “Wahai Robb kami, apa yang lebih baik dari itu semua?” Maka Dia menjawab, “Aku meridhoi kalian dan tidak akan memurkai kalian setelahnya selamanya.” [1]

Sesungguhnya hal ini menunjukkan bahwasanya Allah berbicara dengan mereka (ahli syurga). Perkataan-Nya mudah dimengerti dengan menggunakan bahasa Arab (karena bahasa di syurga nanti adalah bahasa Arab). Namun dilarang untuk bertanya kaifiyyahnya. Yang wajib bagi kita adalah mengimaninya dan yakin akan hal itu.[2]

Penjelasan Hadits Ini

Ath-Thibi berkata, “Hadits ini bersinggungan dengan firman Allah yang berbunyi :

وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِنْ اللَّهِ أَكْبَرُ

“Allah berjanji kepada orang-orang beriman yang lelaki dan perempuan (akan memberikan kepada mereka) syurga-syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan bagi mereka rumah-rumah yang baik di dalam syurga ‘Adn. Dan keridhoan Allah lebih besar.” (At-Taubah:72). Dalam ayat ini ada isyarat yang menyatakan keridhoan Allah nantinya yang akan diberikan untuk penduduk syurga. Yaitu lafadz ‘wa ridlwaanun minall ahi akbaar’. Dikarenakan keridhoan-Nya adalah penyebab segala kemenangan dan kebahagiaan. Sebagaimana jika seorang budak mendapatkan keridhoan dari majikannya, tentulah ia akan sangat bahagia karena hal itu berarti pengagungan dan pemuliaan yang diberikan padanya.”[3]

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :

“Aku mengetahui bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’ala berbicara dengan golongan-Nya  (ahli jannah) di jannah adalah benar.

Dia berkata, “Apakah kalian telah ridho?”

Mereka pun menjawab, “Kami adalah orang-orang yang telah ridho. Bagaimana mungkin kami tidak ridho sedangkan Kau telah memberikan kepada kami apa yang belum pernah didapatkan oleh  seorang manusia pun. Apakah ada sesuatu yang lebih utama dari hal ini yang kemudian kami boleh memintanya dari Dia Dzat Yang Maha Pemurah?”

Maka Dia berkata, “Ada yang lebih utama darinya, yaitu keridhoan-Ku untuk kalian selamanya dan kalian tidak akan dimurkai oleh Ar-Rahman.”

Inilah perkataan dan pembicaraan Allah dengan ahli syurga yang juga tidak menafikan pembicaraan-Nya dengan seluruh hamba-Nya kelak di Hari Kiamat. Banyak hadits tentang melihat-Nya (ru’yatullah) yang mengisyaratkan pembicaraan dengan-Nya. Dan hal ini adalah sebagai pengingkaran terhadap Jahmiyah yang mereka mengingkari ru’yah (melihat-Nya) dan ‘uluw. Wallahu a’lam bish showab.

“Sebagaimana dan sesuai kehendak-Nya.”

Diantara sifat Allah yang ditetapkan oleh Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ ulama’ , dan para Imam adalah al-kalam. Sesungguhnya Allah berbicara sebagaimana yang Dia kehendaki, kapan Dia kehendaki dan dengan apa Dia kehendaki dengan kalam yang bisa didengar.[4] Dalil-dali yang menyatakan hal ini banyak sekali, diantaranya :

“ Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah Telah membuat suatu janji yang benar. dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?”(An-Nisa’ : 122)

“Dan (Kami Telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh Telah kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak kami kisahkan tentang mereka kepadamu. dan Allah Telah berbicara kepada Musa dengan langsung.”(An-Nisa’: 164)

“…di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia)..” (Al-Baqarah : 253)

Dan banyak lagi ayat-ayat yang lain. Yang intinya semua ayat-ayat ini menunjukkan sifat ­hadits (ucapan), qoul (perkataan), kalam (pembicaraan), nida’ (seruan). Semuanya adalah jenis kalam yang tetap bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya.

Sebagaimana yang telah kita pelajari, bahwasanya kalam Allah bersifat dzatiyah, karena terus menyertai Allah dan tidak pernah berpisah dari-Nya. Juga termasuk sifat fi’liyah, karena berkaitan dengan masyi’ah dan qudroh-Nya. Allah juga menyebutkan bahwa yang tidak bisa berbicara, maka tidak pantas untuk menjadi Tuhan. Allah berfirman :

“Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim.”(Al-A’raf : 148)

Allah mengingkari kesesatan Bani Israil (kaum Nabi Musa) berupa penyembahan mereka terhadap anak lembu dan kelengahan mereka terhadap Pencipta langit dan bumi, Rabb dan Pengusa segala sesuatu. Karena mereka mempersekutukan Allah dengan anak lembu yang bertubuh dan mempunyai suara, padahal sebenarnya anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan juga tidak dapat menunjukkan jalan kepada kebaikan. Tetapi pandangan kearifan mereka telah tertutup oleh kebodohan dan kesesatan.[5]

Namun golongan Mu’tazilah lebih buruk dari para penyembah sapi. Karena para penyembah sapi itu tidak mengatakan kepada Musa, “Robbmu tidak berbicara.”[6]

Allah berfirman tentang Hari Kiamat dalam surat Al-An’am, ayat 73 :

“ Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. dan benarlah perkataan-Nya di waktu dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. dan dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”

Juga dalam ayat yang lain :

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah Berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia.” (Yasin : 82)

Dan hal ini ditentang oleh kelompok-kelompok menyimpang dari golongan Mu’tazilah, Jahmiyah, dan Asy’ariyah yang mereka berkeyakinan bahwasanya Allah tidak berbicara jika Dia berkehendak.

Hujjah mereka dalam menafikan sifat-sifat Allah adalah seperti yang dikatakan oleh Imam Asy-Syahrastani ketika membicarakan tentang Jahm bin Shofwan, “Diantara perkataannya, adalah tidak boleh mensifati Allah dengan dengan sifat yang disifatkan pada makhlu-Nya,karena itu berarti menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.”[7]

Syaikhul Islam berkata, “ Golongan Mu’tazilah dan Jahmiyah sepakat atas perkataan mereka bahwa : Allah berbicara dengan sebuah pembicaraan yang tidak atas diri-Nya, keinginan-Nya, dan kekuasaan-Nya. Dan Dia tidak bersemayam di ‘arsy setelah menciptakan langit dan bumi, Dia tidak datang pada hari Kiamat, Dia tidak memanggil Musa ‘alaihi salam ketika Dia memanggilnya, kemaksiatan tidak akan membuat-Nya murka, ketaatan tidak akan menjadikan-Nya ridho, dan taubat orang-orang yang bertaubat tidak akan menjadikan-Nya senang.”[8]

Golongan Mu’tazilah juga berpendapat bahwa maksud dari mutakallim adalah pencipta kalam. Mereka juga menetapkan bahwa kalam Allah itu bersifat azali, yaitu tidak terkait dengan masyi’ah dan qudroh-Nya.

Kalam adalah sifat kesempurnaan, sedangkan bisu adalah sifat kekurangan. Sedangkan Allah adalah Yang Maha Sempurna dan terbebas dari segala kekurangan dan cacat.

Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya, “ Apakah Allah akan berbicara dengan hamba-Nya di hari kiamat?” Beliau menjawab, “Iya. Maka siapakah yang menghukumi di antara makhluk-Nya nanti di hari kiamat melainkan Dia? Maka Dia berbicara dengan hamba-Nya dan menanyakannya. Allah adalah mutakallim (memiliki sifat kalam). Allah senatiasa memerintahkan dengan kehendak-Nya dan menghukumi, namun tiada sesuatu yang menandingi dan menyerupai-Nya, sebagaimana dan sekehendak-Nya.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Telah berkata Imam Ahmad dan selainnya bahwa Allah akan senatiasa berbicara jika Dia berkehendak. Dan Dia berbicara dengan kenginan dan kekuasaan-Nya. Dia berbicara dengan sesuatu setelah sesuatu.”[9]

Para Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga telah sepakat bahwa Allah akan senantiasa berbicara kapan Dia berkehendak, jika Dia berkehendak, dan sebagaimana Dia berkehendak dengan suara yang bisa didengar. Dan ­kalam-Nya bersifat qodim (abadi).[10]

 

Referensi :

  • Al-Qur’anul Karim
  • Syarh Aqidah Thohawiyah, Imam Ibnu Abil ‘Iz Al-Hanafi
  • Al-Milal wa An-Nihal, Imam Asy-Syahrastani
  • Tafsir Ibnu Katsir, Imam Ibnu Katsier
  • Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
  • Fathul Baary Syarh Shohih Al-Bukhory, Ibnu Hajar Al-Asqolany
  • Tuhfatul Ahwadzy, Al-Alamah Abdurrahman bin Abdurrahim Al-Mubarokfury
  • Kitabut Tauhid, Dr. Sholih bin Fauzan
  • Maktabah Syamilah

[1] HR. Bukhory (6549), Muslim (2829), Ahmad (3/88) dan selainnya.

[2] Fathul Baary, juz 21, hal. 150.

[3] Tuhfatul Ahwadzy, juz 6, hal. 348.

[4] Kitabut Tauhid, Sholih Fauzan, hal 115.

[5] Tafsir Ibnu Katsir, hal.  148.

[6] Syarh Aqidah Thohawiyah IbnuAbil ‘Iz, juz 1, hal. 94.

[7] Al-Milal Wan Nihal, juz 1, hal. 99.

[8] Majmu’ Fatawa, juz 12, hal. 594.

[9] Majmu’ Fatawa, juz 12, hal 588.

[10] Syarh Aqidah Thohawiyah IbnuAbil ‘Iz, juz 1, hal. 93.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: