Beriman Kepada Malaikat Pencatat Amal

Beriman Kepada Malaikat Pencatat Amal

Oleh : Muhammad Arbi

(Mahasiswa Ma’had ‘Aly Al-Islam – Bekasi)


Merupakan suatu pokok di dalam Islam adalah rukun Iman yang enam. Yang mana setiap individu yang mengikrarkan dirinya sebagai orang Islam mempunyai kewajiban untuk mempercayai dan mengimani keenam rukun iman itu tanpa terkecuali.

Salah satu dari enam rukun itu adalah Iman kepada malaikat Allah U. Sedangkan yang akan menjadi pembahasan kusus pada tulisan ini adalah cabang dari rukun iman yang ke dua ini, yaitu beriman kepada malaikat pencatat amal, atau yang sering disebut dengan al-kiram al-katibin.

I. Definisi

Secara bahasa, kata الملائكة merupakan jama’ dari الملك yang berasal dari kata المألوكة yang berarti الرسالة yaitu: utusan.[1]

Malaikat adalah hamba Allah dan makhluk-Nya yang diciptakan dari cahaya, yang wujudnya ada (bukan maknawi), yang bertempat tiggal di langit. Malaikat merupakan tentara Allah yang paling agung, yang mampu untuk menyerupakan diri seperti makhluk yang lain –dengan izin Allah U-, yang tidak disifat laki-laki atau perempuan. Mereka tidak menikah, tidak beranak, tidak lapar dan haus. Malaikat mempunyai berbagai sifat mulia, karena mereka berbeda dengan manusia, malaikat tidak mempunyai hawa nafsu.[2]

Malaikat adalah makhluk Allah U yang ditugaskan oleh-Nya untuk mengurusi tugas-tugas yang diberikan Allah U pada setiap malaikat –Allah Maha Mampu melakukan segalanya- di langit dan di bumi. Allah U menugaskan para malaikat dengan tugasnya masing-masing kepada setiap makhluk.[3]

Sedangkan yang dimaksud dengan al-kiram al-katibin adalah, malaikat-malaikat yang ditugaskan Allah U untuk mencatat amal perbuatan manusia, amalan baik maupun buruk. Yang ditugaskan untuk menjaga hamba Allah U.

II. Hakikat al-Kiram al-Katibin

Perlu diketahui, jika disebutkan tentang malaikat penjaga ( الحفظة ) , maka malaikat penjaga ada dua macam, yaitu:[4]

Penjaga para hamba dalam setiap keadaannya. Mereka adalah al-Mu’aqibat sebagaimana yang Allah U firmankan dalam  Al-Qur’an,

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (QS. Ar-Ra’ad: 11)

Mujahid berkata mengenai ayat di atas, “Tidak satupun seorang hamba melainkan bersamanya ada malaikat yang ditugaskan untuk menjaganya pada waktu tidur maupun terjaganya dari manusia, jin, dan binatang buas. Dan tidak ada sesuatu yang datang kepada hamba tersebut kecuali malaikat akan berkata, “Pergilah kamu”. Kecuali sesuatu yang dikehendaki Allah maka akan terjadi.”[5]

Juga firman Allah U,

قُلْ مَنْ يَكْلَؤُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مِنَ الرَّحْمَنِ

“Katakanlah: ‘Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari dari (azab Allah) Yang Maha Pemurah?’”(QS. Al-Anbiya’: 42)

Macam yang pertama ini bukan pembahasan utama dalam tulisan ini.

Penjaga para hamba sebagai pencatat amal mereka. Mereka itulah al-Kiram al-Katibin (Pencatat yang mulia) yang mencatat seluruh amalan hamba yang baik maupun yang buruk. Malaikat yang berada di kanan bertugas untuk mencatat amalan baik, sedangkan malaikat yang di kiri bertugas mencatat amalan buruk. Dan inilah pembahasan utama pada tulisan ini.

III. Dalil-dalil tentang Adanya Malaikat Pencatat Amal

A. Dalil dari  Al-Qur’an

أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ بَلَى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ

“Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 80)

Ibnu Katsir berkata mengenai ayat ini, “Yaitu, Kami (Allah) mengetahui apa yang kamu lakukan baik tersembunyi atau terang-terangan, dan para malaikat juga menuliskannya, baik besar atau kecil.”[6]

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (18)

“(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 17-18)

Imam at-Thobari meriwayatkan, bahwa mujahid berkata mengenai ayat di atas, “Setiap manusia bersamanya ada malaikat-malaikat, malaikat yang berada di kanannya yang mencatat kebaikan, dan malaikat yang ada di kirinya yang mencatat keburukan.”[7]

Ibnu Juraij menambahkan, “Jika seorang hamba duduk, maka salah satu dari malaikat tersebut berada di sebelah kanannya, dan yang lainnya di sebelah kiri.   Jika hamba tersebut berjalan, maka salah satu malaikat berada di depannya, yang lain di belakangnya. Jika hamba tersebut tidur, maka salah satu malaikat di atas kepalanya, dan yang lainnya di kakinya.[8]

إِنَّ رُسُلَنَا يَكْتُبُونَ مَا تَمْكُرُونَ

“Sesungguhnya malaikat-malaikat Kami menuliskan tipu dayamu.” (QS. Yunus: 21)

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (10) كِرَامًا كَاتِبِينَ (11) يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ (12)

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu),. yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu),. mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10-12)

Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan ayat di atas dalam tafsirnya, “Hendaklah kamu sekalian bermuhasabah atas amalan kalian, karena Allah U telah menugaskan atas kalian malaikat mulia yang mencatat perkataan, perbuatan kalian. Baik amalan hati atau amalan badan. Sepantasnya bagi kalian untuk memuliakan, dan mengormati mereka (para malaikat).”[9]

B. Dalil dari  As-Sunnah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ

“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Para Malaikat malam dan Malaikat siang silih berganti mendatangi kalian. Dan mereka berkumpul saat shalat Fajar (Subuh) dan ‘Ashar. Kemudian Malaikat yang menjaga kalian naik ke atas hingga Allah Ta’ala bertanya kepada mereka, dan Allah lebih mengetahui keadaan mereka (para hamba-Nya), ‘Dalam keadaan bagaimana kalian tinggalkan hamba-hambaKu? ‘ Para Malaikat menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan sedang mendirikan shalat. Begitu juga saat kami mendatangi mereka, mereka sedang mendirikan shalat’.”[10]

Ibnu Abdul Barr berkata mengenai hadits ini, “Yang dimaksud dengan ta’aqub adalah pergantian antara seseorang, atau sekelompok dengan kelompok lainnya, sebagaimana tentara yang yang diutus oleh pemimpin diizinkan untuk pulang setelah datang kelompok tentara lainnya yang menggantikan tentara sebelumnya.”[11]

Sedangkan yang dimaksud malaikat yang turun dan naik bergantian tersebut ada perbedaan ulama’ apakah itu malaikat penjaga apakah bukan. Pendapat yang mengatakan malaikat itu adalah malaikat penjaga dinaql dari al-Qadhi Iyadh dan lainnya dari Jumhur. Sedangkan imam al-Qurtubi berkata, “Yang lebih kuat menurutku adalah bukan dari malaikat penjaga.”[12]

عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنْ الْجِنِّ قَالُوا وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَإِيَّايَ إِلَّا أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلَا يَأْمُرُنِي إِلَّا بِخَيْرٍ

“Dari Abdullah bin Mas’ud berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidaklah seorang pun dari kalian melainkan dikuasai pendamping dari kalangan jin.” Mereka bertanya: Tuan juga, wahai Rasulullah? beliau menjawab: “Aku juga, hanya saja Allah membantuku mengalahkannya lalu ia masuk Islam, ia hanya memerintahkan kebaikan padaku.” [13]

Ada perbedaan di kalangan ulama’ tentang lafadz أسلم, apakah berharokat fathah atau dhommah. Ulama’ yang meyakini lafadz itu berharokat dhommah maka mengartikan bahwa Rasulullah r mengatakan, “Aku selamat dari keburukan dan fitnah mereka.” Dan ulama’ yang meyakini harokat fathah, maka mereka mengartikan bahwa syaitan telah masuk islam dan beriman. Tetapi al-Qadhi Iyadh merajihkan pendapat yang mengatakan fathah. [14]

حَدِيُثِ إِبْنُ عُمَر أَنّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” { إِيَّاكُمْ وَ التَّعَرِّي ؟ فإنَّ مَعَكُمْ مَنْ لَا يُفَارِقُكُمْ فِي نَوْمٍ وَلَا يَقِظَةٍ ، إلَّا حِينَ يَأْتِي أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ، أَوْ حِينَ يَأْتِي خَلَاهُ ، أَلَا فَاسْتَحْيُوهُمَا ، أَلَا فَأَكْرِمُوهُمَا }

“Hadits Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian telanjang (tanpa busana), karena kalian selalu bersama golongan (Malaikat) yang tidak berpisah dengan kalian, kecuali ketika buang air besar dan ketika seorang lelaki bersetubuh dengan istrinya, karena itu, malulah kepada mereka dan muliakanlah mereka.” (HR. Tirmidzi 2724)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَة رَفَعَهُ قَالَ : ” قَالَتْ الْمَلَائِكَةُ : رَبِّ ذَاكَ عَبْدُك يُرِيدُ أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً ، وَهُوَ أَبْصَرُ بِهِ ، فَقَالَ : اُرْقُبُوهُ فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا “[15] وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ الْمَلَائِكَةُ رَبِّ ذَاكَ عَبْدُكَ يُرِيدُ أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً وَهُوَ أَبْصَرُ بِهِ فَقَالَ ارْقُبُوهُ فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِمِثْلِهَا وَإِنْ تَرَكَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً إِنَّمَا تَرَكَهَا مِنْ جَرَّايَ

“Dari Abu Hurairah; Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda: “Para malaikat berkata; ‘Wahai Rabb, hamba-Mu itu ingin mengerjakan kemaksiatan” -dan Allah lebih melihat dengan hal itu-, lalu Allah berfirman: ‘Awasilah, jika ia mengerjakannya maka tulislah sebagaimana adanya, dan jika ia meninggalkannya maka tulislah untuknya satu kebaikkan, sebab dia meninggalkan hal itu karena rasa takutnya kepada-Ku” (HR. Ahmad 7872)

C. Perkataan Ulama’ Salaf

قال عبد الله ابن مسعود: “إن للملك لمة، وللشيطان لمة. فلمة الملك إيعاد بالخير وتصديق بالحق، فمن وجدها فليحمد الله؛ ولمة الشيطان: إيعاد بالشر وتكذيب بالحق، فمن وجدها فليستعذ بالله

“Sesunguhnya setan memiliki bisikan was-was kepada anak cucu Adam, dan Malaikatpun memiliki bisikan, adapun bisikan setan selalu menjanjikan kejahatan dan mendustakan kebenaran, sedangkan bisikan para Malaikat selalu menjanjikan kebaikan dan membenarkan kebenaran, barangsiapa mendapatkan demikian (bisikan malaikat) maka ketahuilah, sesungguhnya itu dari Allah dan memujilah kepada Allah, namun barangsiapa mendapatkan yang lainnya (bisikan syetan), maka berlindunglah kepada Allah.” [16]

Syaikh Syakir rahimahullah berkata, “Atsar ini lafadznya mauquf (dari sahabat) tapi hukumnya marfu’ (sampai pada Nabi r).[17]

IV. Syubhat-syubhat serta Bantahannya

  • Keyakinan bahwa malaikat dan syaitan itu tidak ada wujudnya, golongan ini meyakini bahwa yang dimaksud dengan malaikat adalah akal dan jiwa yang baik (sholih), sedangkan syaitan adalah akal dan jiwa serta hasrat yang buruk.[18] Keyakinan seperti ini banyak di miliki oleh kalangan ahlul kalam (filosofi) yang lebih mengedepankan akal mereka.

Keyakinan seperti ini sebenarnya tidak perlu dibantah lagi, karena sudah terbantahkan langsung dengan nash-nash syar’i, baik dari  Al-Qur’an maupun dari As-Sunnah. Keyakinan seperti ini timbul diantaranya karena ta’wil batil mereka yang menggunakan akal dan hawa nafsu semata.

  • Keyakinan kaum kufar dan musyrikin bodoh yang mengatakan bahwa malaikat adalah anakanak perempuan dari Allah U.[19] Bahkan kaum musyrikin arab bodoh dahulu mengatakan bahwa Allah U menjalin hubungan dengan jin, lalu mempunyai anak malaikat.[20] Maha Suci Allah U dari tuduhan keji ini. Allah U menyebutkan keyakinan mereka ini dalam firmannya,

وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ الْبَنَاتِ سُبْحَانَهُ وَلَهُمْ مَا يَشْتَهُونَ

Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan . Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). (QS. An-Nahl: 57)

Dan juga dalam firman-Nya,

أَفَأَصْفَاكُمْ رَبُّكُمْ بِالْبَنِينَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِنَاثًا إِنَّكُمْ لَتَقُولُونَ قَوْلًا عَظِيمًا

Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya). (QS. Al-Isra’: 40)

Maka pernyataan mereka ini sudah terbantahkan oleh firman Allah U dalam banyak ayat yang menegaskan bahwasannya Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dalam surat Al-Ikhlas: 3, 4; As-Soffat: 151-157; Al-An’am: 100; Al-Anbiya’: 26-27, dan masih banyak lagi ayat yang menegaskan tentang hal ini.

Ibnu Taimiyah juga membantah hal ini panjang lebar di dalam kitabnya Majmu’ Fatawa yang pada intinya adalah bagaimana mungkin Allah U Yang Satu yang tidak memiliki pasangan dapat memiliki anak? Imam Mujahid juga berkata, “Sesungguhnya yang berpasangan itu makhluk, dan setia, maka setiap makhluk mempunyai pasangannya, dan yang ganjil (satu) itu adalah Allah U tidak ada yang menyerupainya.”[21]

  • Perbuatan kaum As-Shabi’un (penyembah bintang) yang mereka juga menyembah malaikat, bahkan menganggap malaikat sebagai “Tuhan Kecil” sebagaimana mereka juga menyembah bintang-bintang.[22]

Hal ini sangat bertentangan dengan nash-nash syar’i. Di antaranya Allah U berfirman,

وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?”.(QS. Al-Imran: 80)

Bahkan jika dinalar dengan akal sangat tidak masuk akal, bagaimana mungkin mereka menyembah malaikat, sedangkan malaikat sendiri setiap harinya menyembah Allah U, mereka ada yang selalu bersujud dan selalu rukuk pada Allah U. Mereka selalu bertasbih dan memuji Allah U. Mengapa mereka tidak mengikuti malaikat dengan meng-Esakan Allah U?

V. Penutup

Dengan banyaknya dalil-dalil tentang adanya malaikat, terutama dalam pembahasan ini adalah malaikat pencatat amal (kiraman katibin), baik dari  Al-Qur’an, As-Sunnah, maupun perkataan salaf di atas, maka seharusnya sebagai orang yang berakal, apalagi yang mengaku islam mengimaninya dengan pasti.

Sebenarnya dalil yang berkenaan dengan hal ini sangat banyak, sehingga tidak mugnkin dicantumkan seluruhnya di sisni. Akan tetapi sebagai orang Islam dan beriman, seberapa pun banyaknya dalil yang ada, jika itu datangnya jelas dari Allah U dan Rasulullah r tentang suatu masalah, kita tetap harus dan wajib mengimaninya dengan sebenar-benar iman.


VI. Referensi

    1. Al-Intishor bi Syarh Aqidah A’immatil Amsor, Abu Zur’ah ar-Rozi dan Abu Hatim ar-Rozi. Syarih Muhammad bin Musa, 263, Dar al-Atsriyah
    2. Al-Wajiz fi Aqidah as-Salaf, Abdullah bin Abdul Hamid al-Atsari.
    3. Fathul Bari syarh Shahih al-Bukhari, Ibnu Hajar, Dar Kutub al-Ilmiyah, cet ke-1, 1410 H, Beirut
    4. Fathul Bari syarh Shahih al-Bukhari, Ibnu Rajab.
    5. Jami’ul Bayan ‘an Ta’wil ayi Al-Qur’an, Ibnu Jarir at-Thobari, Dar as-Salam, cet ke-2, 1428 H, Kairo.
    6. Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm, cet ke-2, 1419 H,Riyadh
    7. Sohih Muslim bi Syarhi Imam an-Nawawi, Darul Ma’rifah, 1420 H, Beirut
    8. Syarh al-Aqidah al-Wasitiyah, Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin, Dar Ibnul Jauzi, cet ke-4, 1427 H, Riyadh.
    9. Syarh al-Aqidah at-Thohawiyah, Ibnu Abil Izz. Tahqih: Abdul Muhsin at-Turki, Syu’aib al-Arna’ut. Mu’assasah ar-Risalah, cet ke-13, 1421 H, Beirut.

10.  Tafsir al-Qur’anu al-‘Adzim, Ibnu Katsir. Maktabah Darul Fiha’, Damaskus; Maktabah Dar as-Salam, Riyadh. cet ke-2, 1418.

11.  Taisir al-Karim ar-Rahman, Abdurrahman bin Nasir as-Sa’di, Mu’assasah ar-Risalah, cet ke-1, Beirut, 1423 H.


[1] Syarh al-Aqidah al-Wasitiyah, Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin, hal. 39, Dar Ibnul Jauzi, cet ke-4, 1427 H, Riyadh.

[2] Al-Wajiz fi Aqidah as-Salaf, Abdullah bin Abdul Hamid al-Atsari, 53-55.

[3] Syarh al-Aqidah at-Thohawiyah, Ibnu Abil Izz, 405-406.

[4] Al-Intishor bi Syarh Aqidah A’immatil Amsor, Abu Zur’ah ar-Rozi dan Abu Hatim ar-Rozi. Syarih Muhammad bin Musa, 263, Dar al-Atsriyah.

[5] Jami’ul Bayan, Ibnu Jarir at-Thobari, VI/4700.

[6] Tafsir al-Qur’anu al-‘Adzim, Ibnu Katsir, IV/173.

[7] Jami’ul Bayan, Ibnu Jarir at-Thobari, IX/7568, Dar as-Salam, cet ke-2, 1428 H, Kairo.

[8] Fathul Bari, Ibnu Rajab, III/163.

[9] Taisir al-Karim ar-Rahman, Abdurrahman as-Sa’di, 914. Mu’assasah ar-Risalah, cet ke-1, Beirut, 1423 H.

[10] HR. Bukhari no. 555.

[11] Lihat Fathul Bari syarh Shahih al-Bukhari, Ibnu Hajar, II/42, Dar Kutub al-Ilmiyah, cet ke-1, 1410 H, Beirut.

[12] Ibid

[13] HR. Muslim no. 7039. Imam Albani mensahihkannya dalam Shahih wa Dhaif al-Jami’ as-Saghir, XXII/239.

[14] Sohih Muslim bi Syarhi Imam an-Nawawi, XVII/155, Darul Ma’rifah, 1420 H, Beirut.

[15] HR. Muslim dari jalan Hamam.

[16] Jami’ul Bayan, Ibnu Jarir at-Thobari, II/1579, Dar as-Salam, cet ke-2, 1428 H, Kairo.

[17] Ibid

[18] Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, II/78, Darul Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm, cet ke-2, 1419 H,Riyadh.

[19] Jami’ul Bayan, hal. VI/4996

[20] Majmu’ Fatawa, hal. 83 (QS. As-Shoffat: 158)

[21] Ibid, HR. Bukhari dalam ad-Da’awat

[22] Ibid, hal. 81

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: