Larangan Keluar Dari Penguasa

LARANGAN UNTUK KELUAR DARI PENGUASA SERTA KEWAJIBAN UNTUK MENTAATINYA DENGAN BAIK

Oleh : Muhammad Amirul Hakim


Kewajiban Menegakkan Imamah

Kewajiban untuk menegakkan imamah dan mengangkat Imam telah ditegaskan oleh Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma’. Diantaranya :

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah : 30)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan ayat ini dengan menulis : ”Ayat ini menjadi landasan dalam mengangkat Imam atau khalifah yang didengar dan ditaatiuntuk menyatukan kalimat dan menegakkan hukum-hukum sebagai khalifah. Tidak ada perbedaan pendapat tentang wajibnya pengangkatan dikalangan umat Islam dan para Imamnya.”

Tujuan Pengangkatan Imam

Sebagaimana telah banyak didefinisikan oleh para ulama’ bahwa tujuan dari Iimamah ada dua “

  • Menegakkan agama Islam.

Yang dalam hal ini dilakukan dengan dua cara :

  • Menjaga kemurnian agama. Yaitu menjaga kemurnian pemahaman agama Islam dari segala bid’ah, khurafat, dan pemikiran-pemikiran sesat yang dapat mengotori aqidah umat.
  • Melaksanakan ajaran agama dalam semua aspek kehidupan. Yaitu seperti menegakkan hukum hudud, mengelola harta zakat, fa’I, ghanimah, jizyah, dan lain sebagainya.
  • Mengatur dunia berdasar syariat Islam.

Dalam hal ini semuanya wajib diatur dengan landasan Al-Qur’an dan Sunnah. Karena keduanya telah memberikan petunjuk yang jelas bagi umat manusia baik secara global maupun terperinci

Cara Pemilihan dan Pengangkatan Imam

Ahlus Sunnah seluruhnya bersepakat bahwa Imam diangkat melalui tiga cara :

  • Al-Ikhtiyar (pemilihan).

Yaitu pemilihan dan pengangkatan oleh Ahlul Halli wal ‘Aqdi.

  • Al-Istikhlaf (penunjukan).

Yaitu penunjukan oleh Imam yang sah saat ia merasakan telah dekat kematiannya. Yang kemudaian ia menunjuk seseorang sebagai calon penggantinya.

  • Al-Qohru wal Gholabah (perebutan kekuasaan, kudeta)

Yaitu perebutan kekuasaan dengan kekuatan senjata. Cara ini dilakukan oleh pemberontak atau pejuang muslim dalam masa-masa kekacauan.

“Dan kita berpendapat tidak bolehnya keluar dari pemerintahan, berperang pada saat terjadi fitnah, kita dengar dan kita taat kepada orang yang memegang urusan kita, serta kita tidak berlepas tangan dari mentaatinya.”

Klasifikasi Imam Yang Diberontak

Sebelumnya, imam yang diberontak itu terbagi dalam tiga keadaan :

  1. Imam yang adil

Yaitu Imam yang sah secara syariat, dotinjau dari segala aspeknya. Maka terhadap Imam yang ini, umat Islamwajib mentaatinya serta memberikan loyalitas secara utuh. Haram hukumnya memberontak kepada Imam yang adil.

  1. Imam yang kafir atau murtad

Yaitu Imam yang mengucapkan perbuatan kufur atau melakukan perbuatan kufur. Seperti menerapkan sistem demokrasi-sekuleris, menerapkan undang-undang sekuler, menolak penerapan syariat Islamdalam seluruh aspek kehidupan, membantu orang-orang kafir dalam memerangi umat Islam, tidak sholat wajib, dan lain-lain. Maka Imam yang seperti ini wajib dilengserkan berdasar nash Al-Qur’an dan Sunnah serta ijma’ ulama’. Namun apabila umat Islam tidak mampu untuk melengserkan Imam dengan jihad atau dengan cara damai, maka kewajiban umat Islam adalah :

  • Mempersiapkan kekuatan, baik materi maupun mental.
  • Memboikot pemerintahannya secara total dengan tidak terlibat dengan segala aktifitas yang dapat memperkuat pemerintahannya.
  • Tidak memberikan wala’ kepadanya.
  • Berbaro’ terhadapnya.
  1. Imam yang dholim, fasiq, atau ahli bid’ah

Inilah kriteria Imam yang akan kita bahas di bawah ini.

Termasuk dari perkara besar yang diatasnya dibangun aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan barangsiapa yang menyelisihinya berarti menyelisihi mereka adalah : larangan untuk keluar dari penguasa serta berkewajiban untuk mentaatinya dengan cara yang baik.

Seseorang itu dikatakan orang yang keluar (khoriji) jika ia memiliki salah satu dari dua sifat dibawah ini :

  1. Jika ia berkeyakinan wajibnya untuk keluar dari Imam dan ia mengkafirkannya atau ia membenarkan hal ini meskipun ia tidak keluar maka ia adalah khoriji.
  2. Jika ia telah keluar dari Imam dengan cara mengangkat pedang (memeranginya) dan ia berusaha untuk memerangi atau mengkudetanya, maka ia adalah khoriji.

Telah banyak sekali riwayat-riwayat mutawatir yang menjelaskan akan kehinaan bagi kaum khawarij ini. Tidak diperbolehkan untuk keluar dari penguasa kecuali jika penguasa itu telah benar-benar melakukan kekufuran yang terang-terangan dan memiliki alasan yang jelas di sisi Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :

إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

“Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang terang-terangan, yang pada kalian mempunyai alasan yang jelas dari Allah.”[1]

Maka jika Imam telah dalam keadaan seperti ini, diperbolehkan untuk keluar darinya, serta tidak perlu melihat maslahat dan mafsadat yang akan muncul karenanya. Jadi yang dimaksud bukanlah kelaliman, kefasikan, kedholiman, dan kemaksiatan Imam. Hal ini  sebagai bantahan terhadap aqidah dari golongan Khowarij dan Mu’tazilah serta yang menyerupai mereka yaitu untuk keluar dari Imam jika tampak kefasikan, kemaksiatan, dan kedholimannya.

Dalam hal ini, para ulama berpendapat :

  • Pendapat pertama mengatakan jika telah tampak pada Imam kekufuran yang nyata, maka wajib hukumnya untuk keluar dari pemerintahan itu.
  • Pendapat kedua mengatakan boleh untuk keluar namun tidak wajib. Dan bersabar terhadapnya lebih utama. Terlebih jika dikhawatirkan akan timbul fitnah dan kerusakan. Namun jika mencabutnya dari kekuasaannya diperkirakan tidak menimbulkan fitnah, maka harus dicabut.[2]

Dan tidak boleh sekelompok orang keluar dari penguasa kecuali karena memang jika tetap bertahan akan menimbulkan kerusakan dan keburukan yang lebih besar dibandingkan jika ingin mengkudetanya. Sedangkan melakukan kerusakan yang lebih ringan dari yang lebih besar adalah termasuk dari kaidah-kaidah dalam din ini.

Imam Ibnu Taimiyyah berkata, “Apa yang ada pada diri mereka dari kelaliman dan kedholiman dari sisi diizinkan atau tidaknya, maka tidak diperbolehkan mengkudetanya. Karena hal itu memang telah ada pada diri kebanyakan manusia. Kejahatan itu akan hilang dengan kejahatan yang lebih buruk darinya, dan permusuhan itu akan hilang dengan permusuhan yang lebih buruk darinya. Adapun jika keluar dari mereka akan menyebabkan kedholiman dan kerusakan yang lebih besar dari kedholiman dan kemaksiatan mereka sendiri. Maka bersabar terhadap mereka seperti bersabar dalam dalam menjalankan amar ma’ruf nahyi munkar .”[3]

Imam Hasan Al-Bashri berkata, “Mereka menjalankan urusan-urusan kita dalam lima hal :sholat Jum’at, sholat jama’ah, ‘id, perang, dan hudud. Demi Allah tidaklah din ini tegak kecuali dengan mereka. Adapun jika mereka dholim dan lalim, demi Allah sesungguhnya kemaslahatan yang mereka lakukan lebih banyak dan besar dari kerusakan yang mereka timbulkan. Dan demi Allah taat kepada mereka adalah hal yang berat, namun keluar dari mereka adalah bentuk kekufuran.”

Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Dan barangsiapa yang keluar dari Pemimpin kaum muslimin, sedangkan manusia telah bersama-sama mengangkat dan menetapkannya dengan kekhilafahan, baik dalam keadaan ridho atau tidak, maka sungguh orang ini telah memecah-belah umat Islam, dan  menyelisihi sunnah Rasulullah. Jika ia mati dalam keadaan seperti itu, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah. Tidak dihalalkan untuk memerangi penguasa juga tidak keluar darinya seorang pun dari manusia. Barangsiapa yang melakukan hal itu , maka ia adalah seorang mubtadi’ yang menyelisihi sunnah dan jalan orang-orang yang berada di atasnya.”

Syaikhul Islam berkata, “Telah masyhur madzhab Ahlus Sunnah bahwasanya mereka tidak memperbolehkan untuk keluar dari para penguasa serta mengangkat senjata untuk memeranginya meskipun pada mereka terdapat kedholiman. Sebagaimana hal itu telah ditunjukkan dalam hadits-hadits Rasulullah. Hal itu karena kerusakan yang timbul karena peperangan dan fitnah lebih besar daripada kerusakan yang ada tanpa perang dan fitnah. Maka tidak boleh mempertahankan kerusakan yang lebih besar dari yang lebih kecil.”

Kemudian dinamakan dengan Imam karena dia diikuti oleh rakyatnya atas apa yang dia perintahkan dan apa yang dia larang.  Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik  Imam (pemimpin) kalian…”. Juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنْ اسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ الْآخَرِ

“Siapa yang baik dengan seorang pemimpin (penguasa) lalu dia memenuhi bai’atnya dengan sepenuh hati, hendaklah dia mematuhi pemimpin itu semampunya. Jika yang lain datang memberontak, penggallah lehernya.”[4]

Dan sabda beliau yang lain adalah :

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَعَدَلَ فَإِنَّ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرًا وَإِنْ قَالَ بِغَيْرِهِ فَإِنَّ عَلَيْهِ مِنْهُ

“Dan sesungguhnya imam (pemimpin) adalah laksana benteng, dimana orang-orang akan berperang mengikutinya dan berlindung dengannya. Maka jika dia memerintah dengan berlandaskan taqwa kepada Allah dan keadilan, maka dia akan mendapatkan pahala. Namun jika dia berkata sebaliknya maka dia akan menanggung dosa”.[5]

“Dan tidak melakukan peperangan saat terjadi fitnah”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَنْ يَزَالَ الْمُؤْمِنُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِينِهِ مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًا

“Seorang mukmin masih dalam kelonggaran agamanya selama dia tidak menumpahkan darah haram tanpa alasan yang dihalalkan.”[6]

 

مَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا فَاعْتَبَطَ بِقَتْلِهِ لَمْ يَقْبَلْ اللَّهُ مِنْهُ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا

“Barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan zhalim, maka Allah tidak akan menerima taubat atau ibadah sunahnya.”[7]

Kholid bin Dahqon berkata, “Aku bertanya kepada Yahya bin Yahya Al-Ghossany tentang makna dari ‘membunuh dengan sengaja’, beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang berperang saat terjadi fitnah, maka sebagian membunuh sebagian yang lain, dan yang sebagian merasa dirinya berada di atas kebenaran. Sehingga mereka tidak meminta ampun kepada Allah.”

“Dan kita mendengar serta taat kepada siapa yang diberikan kekuasaan oleh Allah untuk mengurus urusan kita, dan kita tidak berlepas tangan dari mentaatinya.”

Telah diketahui bersama di dalam din ini bahwa tiada din tanpa jama’ah, tiada jama’ah tanpa pemimpin, dan tiada pemimpin tanpa mendengar dan taat.

Allah berfirman tentang hal ini :

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”(An-Nisa’ :59)

Syaikhul Islam berkata mengenai ayat ini, “Taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kewajiban bagi siapa pun. Adapun taat kepada ulil amri adalah kewajiban  jika mereka memerintahkan taat kepada Allah.”

Ayat ini mengisyaratkan bahwa taat kepada ulil ‘amri mengikuti taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena Allah tidak berfirman ‘taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul, dan taatlah kepada ulil ‘amri.’ Oleh karena itu jika ulil ‘amri memerintahkan ketaatan kepada Allah, maka ditaati, namun jika tidak, maka jangan ditaati.

Allah berfirman dalam ayat yang lain :

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia Telah mentaati Allah. dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (An-Nisa’ : 80)

Termasuk dari taat kepada Rasul adalah taat kepada amir, sebagaimana beliau pernah bersabda :

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعْ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي

“Barang siapa yang taat kepadaku berarti dia telah taat kepada Allah dan barang siapa yang bermaksiat kepadaku berarti dia telah bermaksiat kepada Allah. Dan barang siapa yang taat kepada pemimpin berarti dia telah taat kepadaku dan barang siapa yang bermaksiat kepada pemimpin berarti dia telah bermaksiat kepadaku.”[8]

Sabda beliau lagi :

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

“Mendengar dan taat adalah wajib bagi setiap muslim, baik yang ia sukai maupun yang tidak ia sukai, selama ia tidak diperintahkan melakukan kemaksiatan, adapun jika ia diperintahkan melakukan maksiat, maka tidak ada hak mendengar dan menaati.”[9]

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata, “Dengar dan taat terhadap penguasa yang memegang urusan kaum muslimin terdapat kesejahteraan di dunia ini. Yang dengannya tercipta kemaslahatan-kemaslahatan bagi manusia dalam kehidupan mereka. Yang demikian juga akan membantu mereka dalam melaksanakan din mereka serta taat kepada Robb mereka.”

Sesungguhnya urusan (perintah) ulil ‘amri tidak luput dari tiga sisi :

  1. Dia memerintah kepada ketaatan kepada Allah, maka dalam hal ini wajib untuk mentaatinya berdasarkan kesepakatan seperti dia memerintahkan untuk sholat dan zakat.
  2. Dia memerintahkan sesuatu yang di dalamnya tiada perintah maupun larangan dari Allah dan Rasul-Nya, maka dalam hal ini juga wajib untuk mentaatinyaseperti dalam permasalahan ijtihad yang tiada menemukan nash dalamnya.
  3. Dia memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah, maka dalam hal ini haram mentaatinya karena tiada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Kholiq.

Dan sesungguhnya kedholiman tidak menafikan atau menghapuskan ketaatan kepadanya. Namun hendakalah untuk bersabar atasnya. Rasulullah telah bersabda tentang hal ini, “Hendaklah engkau tetap mendengar dan taat kepada amir, meskipun dia memukul punggungmu, dan mengambil hartamu. Hendaklah engkau tetap dengar dan taat.”[10]

Syaikhul Islam berkata, “Bersabar terhadap kelaliman pemimpin adalah termasuk hal yang pokok dari segala pokok Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”[11]

Pembahasan Seputar Ayat : 44 dari Surat Al-Maidah

و من لم يحكم بما أنزل الله فأولئكهم الكافرون

Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan selain hukum Allah, maka dia adalah termasuk dari golongan orang-orang kafir.”

Kata kufur yang ada di dalam Al-Qur’an tidak selalunya bermakna kufur yang mengeluarkan dari millah. Sebagaimana Rasulullah bersabda : “Mencaci maki seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah bentuk kekufuran.”[12] Namun membunuhnya dalam hal ini tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Jumhur ulama; dari kalangan dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang sesudah mereka berpendapat bahwa siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah karena pengingkaran dan menilai halal, yakni ia meyakini bahwa tidak berhukum dengan hukum Allah itu adalah halal dan diperbolehkan, maka ia telah kafir (keluar dari Islam). Inilah yang disebut sebagai kafir i’tiqod. Adapun orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah karena karena kelemahan imannya atau karena mengikuti hawa nafsunya dan sebagainya, dan ia tidak menilai halal berhukum dengan selain hukum Allah, artinya ia tidak meyakini bahwa hal itu halal, maka ia adalah pelaku dosa besar, kafir dengan kufur ‘amali yang tidak mengeluarkannya dari Islam.

Imam Ath-Thobari meriwayatkan, bahwa Atha’ menjelaskan tenatang ayat ini maksudnya adalah : “Kufur yang dibawah kufur, kefasikan yang dibawah kefasikan, dan kedholiman yang di bawah kedholiman.”[13]

Al-Qosimi berkata, “Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah dinilai kafir dengan syarat ia menganggapnya remeh dan mengingkarinya. Ini pendapat yang ditempuh oleh banyak ulama dan mereka meriwayatkan atsar dari Ikrimah dan Ibnu Abbas.”[14]

Ibnu Abbas berkata tentang ayat ini : “Barangsiapa yang menentang apa yang telah Allah turunkan, maka ia adalah kafir, namun jika ia meyakini kewajibannya, namun tidak melaksanakannya, maka ia adalah orang yang fasik dan dholim.”[15]

Dalm riwayat yang lain beliau juga berkata tentang hal ini : “Ia menyebabkan mereka kafir, tapi tidak seperti orang-orang yang kafir kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, Rasul-Nya. Ia adalah kekafiran yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam.”

Thawus berkata, “Ia bukan kufur yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.”

Jadi intinya kufur itu ada dua, kefasikan itu ada dua, dan kedholiman itu ada dua. Demikian juga kejahilan ada dua. Pertama adalah kejahilan kufur (QS. Al-A’raf : 199). Dan kedua adalah kejahilan yang tidak kufur (QS. An-Nisa’ : 17).

Demikian pula kesyirikan tiu ada dua. Syirik yang mengeluarkan pelakunya dari Islam, yaitu syirik akbar, dan syirik yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, seperti riya’, dan bersumpah dengan selain Allah.

Terakhir, Syaikh Bin Baz pernah ditanya tentang hal ini. Apakah penguasa yang berhukum dengan selain hukum Allah bisa dianggap kafir?

Maka beliau menjawab :

“Penguasa yang berhukum dengan selain hukum Allah ada beberapa macam. Hukum mereka berbeda-beda tergantung keyakinan dan perbuatannya. Barangsiapa berhukum dengan selain hukum Allah dengan meyakini bahwa hal itu lebih baik dibanding syariat Allah, maka ia telah kafir menurut ijma’. Demikian juga siapa yang berhukum dengan undang-undang buatan manusia sebagai ganti dari dari syariat Allah karena meyakini hal itu adalah boleh, meskipun ia mengatakan berhukum dengan huum Allah lebih baik, maka ia juga kafir, karena ia telah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah.

Adapun siapa yang berhukum dengan selain hukum Allah karena mengikuti hawa nafsunya, suap, karena permusuhan antara dirinya dengan yang lain, atau sebab-sebab lainnya, sementara ia tahu bahwa ia bermaksiat kepada Allah dan kewajibannya adalah berhukum dengan hukum Allah, mak ia termasuk pelaku maksiat dan dosa besar. Ia juga dianggap telah melakukan kufur kecil, kefasikan kecil, dan kedholiman kecil. Sebagaimana pengertian ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Thawus, dan segolongan salafush sholih. Hal ini sudah dikenal di kalangan ahlul ilmi. Wallahu a’lam.”[16]


[1] HR. Bukhory (6532), Muslim (3427)

[2] Syarh Aqidah Thohawiyah, Sholih Alu Syaikh, juz I, hal. 480.

[3] Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, juz 28, hal. 179.

[4] Muslim (1844)

[5] Bukhory (2957)

[6] Ibid (6722)

[7] Abu Dawud (4270)

[8] Bukhory (7137)

[9] Ibid (7144)

[10] Muslim (1847)

[11] Majmu’ Fatawa, juz 28, hal. 179.

[12] Buykhory (7076)

[13] Tafsir Ath-Thobari.

[14] Mahasin At-Ta’wil (3/129)

[15] Tafsir Ibnu Katsir.

[16] Kaset ke-670 dari Silsilah Al-Hadi wan Nur, yang diedarkan oleh surat kabar Al-Muslimun, edisi ke-556. Lihat juga Al-Kawasyif Al-Jaliyyah, hal. 314-323.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: