Tentang Orang Musyrik

Mendoakan Orang Musyrik Agar Diberi Petunjuk…!

Oleh : Nurwalad

(Alumni Ma’had ‘Aly Al-Islam – Bekasi)


حدثنا أبو اليمان قال : أخبرنا شعيب قال : قال أخبرنا أبو الزناد : أن عبد الرحمن قال : قال أبو هريرة رضي الله عنه : قدم طفيل بن عمرو الدّوسي. وأصحابه على النبي – صلّى الله عليه وسلّم – فقالوا : يا رسول الله إنّ دوساً عصت وأبت، فادع الله عليها، فقيل : هلكت دوس، قال : « اللًهمً اهد دوساً وائت بهم » { رواه البخاري }.

Abu Yaman telah menceritakan kepada kami, Syu’aib mengabarkan kepada kami : Abu Zanad telah mengabarkan kepada kami, Bahwa Abdurrahman berkata, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Thufail bin Amru ad-Dausi[1]dan para sahabat lainnya mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum Daus telah berbuat maksiat dan membangkang, maka berdoalah kepada Allah untuk mereka, maka katakanlah : “Celakalah kaum Daus” : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ya Allah berikanlah petunjuk kepada kaum Daus dan kembalilah kepada mereka ( untuk didakwahi ).” [HR. Bukhari].

Kedudukan Sanad Hadits

Pertama : Abu al-Yaman Ali bin ‘Iyasyi al-Hamsha.

Tingkatan

  • Beliau dari kalangan kibar tabi’ at-Tabi’in.

Wafat

  • Tahun 222 H

Tanggapan ulama

  • Ibnu Hajar mengatakan : dia tsiqah, dan dia paling banyak mengambil hadits dari Syu’aib.
  • Ad-Dzahabi tidak menyebutkannya.

Kedua : Syu’aib bin Abi Hamzah, sebutan nama beliau adalah Dinar al-Qurasyi al-Umawi.

Tingkatan

  • Ke-7 dari kibar at-Tabi’in

Wafat

Pada tahun 162 H atau setelahnya

Tanggapan ulama

  • Ibnu Hajar mengatakan : beliau tsiqah dan ‘abid. Ibnu Ma’in mengatakan, “beliau termasuk orang yang paling tsiqah.
  • Ad-Dzahabi mengatakan : beliau hafizh

Ketiga :    Abu az-Zanad Abdullah bin Dzakwan al-Qurasyi, beliau juga dipanggil dengan Abu Abdurrahman al-Madini, beliau dikenal dengan Abu Zanad.

Tingkatan

  • Ke-5 dari kalangan bawah tabi’in.

Wafat

  • Pada tahun 130 H, ada yang mengatakan setelahnya.

Tanggapan ulama

  • Ibnu Hajar mengatakan : beliau tsiqah dan faqih.
  • Ad-Dzahabi mengatakan : beliau seorang imam yang tsiqah dan tsabat.

Keempat :   Abdurrahman bin Hurmuz al-A’raji, nama beliau Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud al-Hadzali.

Tingkatan

  • Ke-3 dari kalangan pertengahan tabi’in

Wafat

  • Pada tahun 94 H, ada yang mengatakan 98 H dan yang lain mengatakan selain itu.

Tanggapan ulama

  • Ibnu Hajar mengatakan : beliau tsiqah, faqih dan tsabat.
  • Ad-Dzahabi mengatakan : beliau termasuk lautan ilmu.

Kelima : Abu Hurairah ad-Dausi al-Yamani (seorang sahabat yang hafizh)

Tingkatan

  • Ke-1 dari sahabat.

Wafat

  • Tahun 57 H (atau sekitar 58 dan 59 H)

Tanggapan ulama

  • Ibnu Hajar mengatakan : beliau sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
  • Ad-Dzahabi mengatakan : beliau sahabat Nabi yang hafizh, tsabat, cerdas sekaligus seorang mufti, beliau orang yang sering melakukan amalan ibadah puasa dan qiyamullail.

Perjalanan Kisah Thufail bin Amru ad-Dausi

Ath-Thufail mengisahkan bahwa pada suatu hari ia menginjakkan kaki di Mekah. Tidak seorang pun pemimpin Quraisy yang mengenalku hingga mereka menemuiku dan menyambut kedatanganku dengan meriah. Mereka memuliakanku sebagaimana mereka memuliakan para pemimpin mereka. Kemudian, para pemimpin dan pembesar Quraisy berkumpul bersamaku. Mereka berkata, “Ya Thufail, engkau telah datang ke negeri kami. Ada seorang laki-laki yang menyatakan dirinya adalah seorang Nabi. Ia telah menyusahkan urusan kami dan memecah belah kami. Kami amat takut hal ini juga terjadi di kaummu sebagaimana yang kami alami sekarang. Maka, janganlah engkau pernah berbicara dengannya. Janganlah engkau dengarkan perkataannya. Sesungguhnya, ia memiliki ucapan seperti sihir yang dapat memisahkan antara seorang anak dan bapaknya. Antara saudara dan saudaranya yang lain. Antara seorang istri dan suaminya.”

Maka ketika Thufail pergi ke masjid untuk thawaf di sekeliling Ka’bah dan meminta berkah dari berhala-berhala yang selalu digung-agungkan, Thufail berkata, “Aku menutup telingaku dengan kapas agar tidak mendengar ucapan Muhammad. Akan tetapi, tatkala aku memasuki masjid, aku melihat seseorang sedang shalat di sisi Ka’bah dengan shalat yang berbeda dengan tata cara shalat kami.

Pemandangan itu membuatku senang. Ibadahnya menakjubkanku dan aku merasa diriku lebih rendah daripadanya. Sedikit demi sedikit, tanpa kusadari, aku mendekatinya. Dan Allah menjadikan telingaku mendengar sebagian ucapannya. Aku pun mendengar suatu ucapan yang amat baik.

Kemudian Thufail tetap berada di sana hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi dari Baitullah. Ia pun membuntutinya sampai ke rumahnya. Ketika ia masuk rumah, ia pun ikut masuk, lalu berkata, “Ya Muhammad, kaummu telah menceritakan kepadaku tentangmu semuanya. Demi Allah, mereka selalu menakut-nakutiku dengan perbuatanmu sehingga aku menutup telingaku dengan kapas agar tidak mendengar perkataanmu. Tetapi Allah tetap memperdengarkan ucapanmu ke telingaku. Dan aku mendengar sesuatu yang baik, maka katakanlah semuanya kepadaku.”

Lalu Muhammad pun mengatakan semuanya, beliau membacakan surah al-Ikhlas dan al-Falaq. Demi Allah, Thufail telah mendengar perkataan yang lebih baik daripada perkataannya dan ia tidak melihat suatu urusan pun yang lebih adil daripada urusannya.

Masuk Islamnya Thufail

Ketika itu, ia membentangkan telapak tangan kepadanya dan bersaksi bahwa tiada ilah (tuhan) melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan ia pun memeluk Islam.

Kemudian ath-Thufail menetap di Mekah beberapa saat. Ia belajar darinya ajaran Islam dan menghafal ayat al-Qur’an yang mudah baginya. Tatkala ia berniat untuk kembali ke kaumnya, ia berkata, “Ya Rasulullah, aku adalah seorang yang ditaati dalam lingkunganku. Aku akan kembali kepada mereka dan mengajak mereka untuk memeluk Islam. Berdoalah kepada Allah agar menjadikan bagiku tanda yang akan membantuku mengajak mereka.”

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun langsung berdoa, “Ya Allah, jadikanlah baginya sebuah tanda.”

Lalu Thufail mendatangi kaumnya. Tatkala ia berdiri di hadapan mereka, terpancarlah cahaya di antara kedua matanya seperti lampu pelita. Ia berkata, “Ya Allah, jadikanlah pelita bukan pada wajahku, karena aku khawatir kaumku mengira terjadi sesuatu di wajahku karena meninggalkan agama mereka. Maka pindahkanlah pelita itu ke ujung cambukku, sehingga manusia berlomba-lomba melihat cahaya di cambukku itu seperti lampu yang tergantung.”

Mendakwahi Keluarganya

Kemudian ia menemui mereka di lembah. Tatkala ia turun, bapaknya yang sudah tua menemuinya. Lalu Thufail berkata, “Wahai Ayahku, menjauhlah dariku, aku tidak lagi berada dalam agamamu dan engkau tidak berada dalam agamaku.”

Lalu ayahnya berkata, “Ada apa wahai anakku tersayang?” Thufail menjawab, “Aku telah memeluk Islam dan mengikuti agama Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. “

Lalu ayahnya berkata lagi, “Wahai anakku, agamamu adalah agamaku juga.

Lalu Thufail berkata, “Sekarang pergilah, mandi dan bersihkanlah pakaianmu, kemudian datanglah kepadaku agar aku ajarkan apa yang aku ketahui.”

Kemudian ayahnya pun pergi mandi, dan membersihkan pakaiannya. Tidak lama kemudian, ia menemui Thufail dan ia mengajarkannya tentang Islam dan akhirnya, ayahnya pun memeluk Islam.

Setelah itu istrinya juga datang menemuinya, ia berkata, “Wahai istriku, menjauhlah dariku. Aku tidak dalam agamamu dan engkau tidak dalam agamaku.”

Lalu istrinya tersebut berkata, “Demi Bapak dan Ibumu, ada apa wahai suamiku?”

Thufail menjawab, “Islam telah memisahkan agama kita.

Aku telah memeluk Islam dan mengikuti agama Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. “

Lalu istrinya berkata, “Agamamu adalah agamaku juga.” Thufail berkata, “Sekarang pergilah dan bersihkan dirimu dari air Dzul Syaara.”

Istrinya pun berkata, “Demi Bapak dan Ibumu, apakah engkau takut kepada Dzul Syaara?

Lalu Thufail berkata, “Celaka engkau, wahai istriku, dan Dzul Syaara. Pergilah dan bersihkanlah dirimu di tempat yang jauh dari manusia. Aku akan melindungimu dari batu berhala itu.”

Kemudian istrinya pun pergi dan membersihkan dirinya. Kemudian ia datang menemui Thufail kembali dan ia mengajarkannya Islam dan akhirnya istrinya pun memeluk Islam.

Setelah itu, Thufail baru mengajak kaumnya, Bani Daus, untuk memeluk Islam. Akan tetapi, mereka amat lambat menerima ajakannya, kecuali Abu Hurairah. Ia merupakan orang yang paling cepat menerima ajakannya untuk memeluk Islam.

Setelah itu, Thufail bersama Abu Hurairah datang menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di Mekah. Dan Nabishalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Bagaimana dakwahmu, wahai Thufail?”

Ia menjawab, “Di hati mereka ada penyakit dan kekafiran yang mendalam. Mereka (Bani Daus) telah dikuasai oleh kefasikan dan kemaksiatan.”

Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berdiri, berwudhu, kemudian shalat dan berdoa kepada Allah. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sungguh, aku belum pernah melihat amal itu sebelumnya. Aku takut ia mendoakan kejelekan bagi kaumku hingga mereka semua binasa.”

Ath-Thufail berkata, “Jangan khawatir.”

Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mulai berdoa, “Ya Allah, berilah hidayah bagi kaum Daus. Ya Allah, berilah hidayah bagi kaum Daus. Ya Allah, berilah hidayah bagi kaum Daus.”

Kemudian beliau menoleh kepada Thufail dan berkata, “Kembalilah ke kaummu. Berlaku sopanlah kepada mereka, lalu ajak mereka kepada Islam.”

Setelah itu, Thufail selalu berada di bumi Daus dan mengajak kaumnya kepada Islam hingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, selesai Perang Badar, Uhud, dan Khandaq. Lalu Thufail menemui Rasul Sholallahu ‘alaihi wasalam setelah mengislamkan delapan puluh rumah dan mengajarkan mereka. Mendengar hal itu, Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat senang, sehingga beliau memberi bagian ghanimah hasil Perang Khaibar. Ath-Thufail berkata, “Ya Rasulullah, jadikanlah kami pasukanmu yang sebelah kanan dalam setiap perangmu, dan namailah kami dengan ‘Mabrur’.”[2]

Penjelasan Hadits

Hadits diatas tentang mendoakan orang musyrik agar diberikan hidayah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamsangat senang dengan mereka yang masuk Islam dan mengharapkan taubat kepada Allah Ta’ala. Dan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak tergesa-gesa dalam mendoakan orang yang seperti itu, dan jika ia tidak mengharapkannya tidak takut kepada Allah Ta’ala, tetap mendoakannya.[3]

Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang musyrik agar mereka diberikan petunjuk kepada jalan yang benar, yaitu agama Islam. Doa beliau ada dua keadaan, yaitu bahwa beliau mendoakan mereka apabila mereka terlepas dari berlebih-lebihan, kemudian mengharap hidayah, dan beliau mendoakan mereka apabila keadaan mereka sempit dan banyaknya gangguan-gangguan dan tidak aman dari keburukan.[4]

Ibnu Bathal mengatakan bahwa doa untuk orang musyrik agar diberi petunjuk adalah di nasakh kepada mereka, beliau berdalil dengan surat Ali Imran : 128, yang bunyinya :

“Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu[5] atau Allah menerima Taubat mereka, atau mengazab mereka Karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim.” [ QS. Ali Imran : 128 ].[6]

Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsir-nya, ia mengatakan bahwa Muhammad bin ‘AIjlan dari Nafi’ dari Ibnu Umarradhiyallahu ‘anhuma berkata, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan seorang laki-laki dari kaum musyrik agar diberi petunjuk.[7]

Kemudian Ibnu Bathal mengatakan lagi, “Dan kebanyakan pendapat yang benar bahwa tidak di nasakh, jadi doa kepada orang musyrik diperbolehkan.

Mengenai ayat diatas juga bahwa Allah Ta’ala melarang Rasul-Nya berdoa untuk melaknat agar tertolak dari rahmat-Nya, sesungguhnya utusan Allah Ta’ala agar memberikan petunjuk kepada kaumnya dan mengajarkan akhlak yang baik, dan semua itu adalah perintah dari Allah Ta’ala, dan nantinya Allah Ta’ala yang akan memberikan petunjuk bagi siapa yang Ia kehendaki dan juga menyesatkannya bagi siapa yang Ia kehendaki.

Tidak membiarkan mereka dalam kemusyrikan, akan tetapi mengajak mereka kepada Allah Ta’ala. Jika ia ingin bertaubat dan ingin untuk masuk Islam, maka kerjakanlah dan jika ia masih berpegang kepada kekafirannya, sesungguhnya mereka adalah termasuk orang-orang yang zhalim terhadap diri mereka sendiri.[8]

Pelajaran yang dapat diambil

Termasuk sifat seorang da’i yaitu :

  1. Lemah lembut

Dalam hadits ini telah nampak kelemah lembutan beliau ketika at-Thufail bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi, “Ya Rasulullah bahwa kaum Daus telah berbuat maksiat dan membangkang, maka doakanlah mereka.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan mereka agar mereka mendapat petunjuk.

Dan dari kelemah lembutan beliau juga bahwa ketika at-Tufail meminta doakan agar kaum Daus celaka, akan tetapi beliau tetap mendoakan mereka agar mereka dapat petunjuk yang benar dan beliau tidak marah.

  1. Sikap tenang, tidak tergesa-gesa dan teguh pendirian

Sewaktu beliau dimintai doa, beliau tenang dan tidak tergesa-gesa. ini merupakan kesempurnaan beliau. dan seharusnya seorang da’i harus mempunyai sifat tenang dan istiqamah, karena Allah Ta’ala memerintahkan agar menyikapi sesuatu dengan tenang dan teguh,

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [ QS. Al-Hujurat : 6 ].

Dan tidak diragukan bahwa sifat tenang adalah, tabayyun dan tegas dalam suatu perkara. seorang da’i harus tenang dalam setiap perkara dan tidak tergesa-gesa dalam setiap perkara dan jangan pula menjadi orang yang lambat dan malas.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

التأني من الله والعجلة من الشيطان

“Ketenangan itu dari Allah dan tergesa-gesa itu dari setan.”[9]

  1. Kasih sayang dan simpati kepada sang mad’u

Pada hadits ini juga menunjukkan kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan demikian bahwa beliau tidak menolak dari kabilah Daus yang meminta doa, dan ini termasuk kesempurnaan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rahmat-Nya bagi dimuka bumi.

Allah Ta’ala telah berfirman dalam surat al-Anbiya’ : 107,

“Dan tidaklah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [ QS. al-Anbiya’ : 107 ].

  1. Antusias terhadap hidayah manusia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menolak permintaan doa mereka kepada beliau, bahkan beliau malah senang, dan antusiasnya beliau yaitu menginginkan agar mereka masuk Islam. dengan demikian bagi seorang da’i harus mendorong mad’unya menuju agama Allah Ta’ala.

  1. Perhatian terhadap kejadian sekitar mad’unya

Dengan demikian bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat perhatian terhadap mad’unya, beliau sangat senang karena mereka masuk Islam.

  1. Berdoa dengan lemah lembut

Dari salah satu dari uslub-uslub da’wah mengajak kepada agama Allah Ta’ala adalah berdoa dengan lemah lembut agar hati mereka tertarik, maka Imam al-Bukhari mengambil istinbat pada hadits ini adalah bahwa doa adalah termasuk kelemah lembutan.

  1. Tauladan yang baik

Bahwa salah satu dari sifat seorang da’i yang harus diperhatikan adalah menjadi tauladan yang baik, karena ketika Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam dimintai doa agar kaum Daus celaka, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammendoakan mereka agar diberikan hidayah, bukan untuk celaka. Oleh karena itu seharusnya seorang da’i mengikuti tauladan beliau.

  1. Orang musyrik termasuk mad’u

Dalam hadits ini menunjukkan orang musyrik termasuk mad’u, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan mereka agar mendapat petunjuk, mereka dari kabilah kaum musyrikin. at-Thufail mengajak mereka kepada agama AllahTa’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakannya.

Para da’i harus mengajak mad’unya kepada agama Allah Ta’ala dan harus memperhatikan da’wahnya kepada kaum musyrik dan da’wah kepada mereka ada sembilan langkah, yaitu :

  1. Menetapkan uluhiyah Allah Ta’ala dengan dalil-dalil aqliyah dan naqliyah dan bahwa Allah Ta’ala lah yang berhak disembah.
  2. Menghilangkan seluruh sesembahan selain Allah Ta’ala
  3. Mengikrarkan tauhid
  4. Kesempurnaan yang mutlak dari seluruh perbuatan hanya karena Allah Ta’ala
  5. Tauhid adalah da’wah para rasul
  6. Berlebih-lebihan kepada orang shalih menyebabkan akan terjadinya kekufuran
  7. Menjelaskan syafaat yang pasti
  8. Ilah yang haq menundukkan seluruh apa yang ada dibumi ini yang disembah
  9. Dalil-dalil aqlidan naqli menetapkan hari kiamat dan tempat kembali (akhirat)
    1. Termasuk mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah doanya dikabulkan

Hadits diatas menunjukkan kemukjizatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bukti-bukti atas kenabian shallallahu ‘alaihi wa sallam doanya terkabulkan.

10.  Pada kisah Thufail yang dapat dipetik yaitu, bahwa seorang da’i harus mendakwahi keluarganya dahulu, kemudian baru kaumnya.

Referensi

  1. 1. “Al-Qur’aanul kariim.”
  2. “Syarh Shahih al-Bukhari.” Abu al-Hasan Ali bin Khalaf bin Abdul Malik bin Bathal al- Bakri al-Qurthubi. Daar an-Nasyr, Riyadh. Cet : II. Pentahqiq, Abu Tamim Yasir bin Ibrahim.
  3. “Tahdziib wa at-Tahdziib.” Ibnu Hajar al-Asqalani. Al-Maktabah asy-Syamilah.
  4. “Umdatul Qari’, Syarh Shahih al-Bukhari.” Badruddin al-‘Aini al-Hanafi.
  5. “Tafsir Qur’anil ‘azhim.” Ibnu Katsir. Maktabah Daar al-Faiha’ dan Daar as-Salam. Cet : II,  1418 H – 1998 M.
  6. “Taisiir Kariimirrahman fie at-Tafsiir Kalaamil Manan.” Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di. Daar Ibnu Hazm. Cet : II, thn 1424 H – 2003 M.
  7. “Shuwar Min Hayati ash-Shahaabah.” Abdurrahman Ra’fat al-Basya. Daar an-Nufasa’. Cet : I, thn 1412 H – 1992 M.

[1].Dia adalah ath-Thufail bin Amru bin Thuraif, ada yang mengatakan, “Dia adalah Ibnu Abdullah ad-Dausi, beliau dinisbatkan kepada Daus bin ‘Adstan bin Abdullah bin Zahran, ia merupakan pemimpin kabilah Daus pada masa Jahiliyah. la juga salah seorang yang terpandang di kalangan Arab dan salah seorang bangsawan yang berwibawa. Api dapurnya selalu mengepul dan jalan selalu terbuka untuk­nya. Ia senang memberi makan orang yang lapar, melindungi orang yang takut, dan memberi upah para pekerja. Beliau seorang yang sopan, cerdas, dan pintar, penyair yang halus perasaannya, jelas, dan manis perkataannya. Seolah-olah kalimat-­kalimat yang keluar dari mulutnya seperti sihir. Ia tinggal di Tihamah dan meninggalkan kampungnya menuju Mekah.

[2]“Shuwar Min Hayati ash-Shahaabah.” Abdurrahman Ra’fat al-Basya. Daar an-Nufasa’

[3] “Syarh Shahih al-Bukhari.” Ibnu Bathal. Pengarang :  Abu al-Hasan Ali bin Khalaf bin Abdul Malik bin Bathal al- Bakri al-Qurthubi. Bab : Kitabul Jihad. Juz : V, hal : 114.

[4]Umdatul qari, Syarh Shahih al-Bukhari.” Badruddin al-‘Aini al-Hanafi. Bab, Doa kepada orang musyrik agar diberikan hidayah.

[5] Menurut riwayat Bukhari mengenai Turunnya ayat ini, Karena nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.  berdoa kepada Allah agar menyelamatkan sebagian pemuka-pemuka musyrikin dan membinasakan sebagian lainnya.

[6] “Umdatul Qari’, Syarh Shahih al-Bukhari.” Badruddin al-‘Aini al-Hanafi. Bab, Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[7] “Tafsir Qur’anil ‘azhim.” Ibnu Katsir. Jillid : I, hal : 534.

[8]“Taisiir Kariimirrahman fie at-Tafsiir Kalaamil Manan.” Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di. Hal : 130.

[9]Dikeluarkan oleh Abu ya’la dalam musnadnya dan al-Baihaqi dalam sunan kubranya dan al-Bani mengatakan dalam silsilahnya, “Sanad ini hasan dan rijalnhya tsiqah.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: