Penetapan Sifat ‘Uluw Dan Istiwa’ Allah Ta’ala

Penetapan Sifat ‘Uluw dan Istiwa` Allah Ta’ala

Oleh : Muhammad Arbi

(Mahasiswa Ma’had ‘Aly Al-Islam – Bekasi)

Merupakan bagian dari kesempurnaan aqidah seorang Muslim adalah mempercayai dan mengimani apa-apa yang diturunkan Allah Ta’ala dan dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Salah satu perkara pokok dalam masalah aqidah islam yang telah menjadi kontroversial sejak dulu hingga sekarang adalah sifat ‘Uluw dan Istiwa’ Allah Ta’ala. Mulai dari kelompok Jahmiyah di zaman dulu, sampai kelompok-kelompok lain zaman sekarang yang tak jauh beda keyakinan mereka dalam mengingkari sifat Allah Ta’ala ini.  Maka dalam kesempatan ini akan kita bahas sekilas tentang masalah ini.

I. Definisi ‘Uluw, Istiwa’ dan ‘Arsy

A. ‘Uluw

Secara bahasa kata ‘Uluw ( عُلُوّ ) berasal dari kata علا, أي علو كل شيء و علوه, أي أرفعه . Yang artinya meninggikan atau menaikkan sesuatu. Dan ‘uluw berarti yang tinggi.[1]

Sedangkan secara istilah syar’i, ‘Uluw terdiri dari tiga segi, yaitu:[2]

  1. ‘Uluw ad-Dzat : yaitu, ‘Uluw (Ketinggian) Dzat Allah Ta’ala atas segala makhluk-Nya, dan sifat ini bersifat umum. Juga sifat ‘Uluw Allah Ta’ala, yaitu Istiwa’-Nya Allah Ta’ala di atas ‘Arsy-Nya, dan ini secara khusus. Dan inilah istilah yang dimaksudkan disini.
  2. ‘Uluw al-Qadr wa al-Manzilah : yaitu, Allah Ta’ala Yang Maha Mempunyai Kemampuan atas segala sesuatu, dan mempunyai kedudukan yang Maha Tinnggi atas segala sesuatu yang tidak ada satu makhluk pun yang dapat menyamai-Nya.
  3. ‘Uluw al-Qahr : yaitu, Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa atas sekalian hamba-Nya dan Makhluk-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang ada di langit dan bumi ini, melainkan dengan Kuasa-Nya. Sebagaimana firman-Nya,

سُبْحَانَهُ هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

“Maha Suci Allah. Dialah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan” (QS. Az-Zumar: 4)

B. Istiwa’

Secara bahasa, Istiwa’ berasal dari kata Istawa ( استوى ), yang memiliki empat arti yang kesemuanya bersumber dari salaf, yaitu: علا, و ارتفع, و صعد, و استقر . Dan keempat arti ini memiliki satu makna yaitu naik/menuju ke atas. Kecuali استقر yang merupakan tambahan yang artinya menetap di atas.[3]

Sedangkan secara istilah dalam tafsiran kata Istawa yang terdapat di dalam Al-Qur’an, sebagaimana riwayat dari Abu al-‘Aliyah ar-Royahiy dan Mujahid bin Jubair dalam menafsiri lafadz  ( إستوى ). Yaitu : ( علا و ارتفع ) “tinggi dan naik”.[4]

Dan Allah Ta’ala mempunyai sifat Istiwa’. Allah Ta’ala beristiwa’ di atas ‘Arsy-Nya setelah menciptakan langit dan bumi ini. Sebagaimana yang ditegaskan dalam firman-Nya,

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Al-A’raf: 54, Yunus: 3)

Akan tetapi bukan berarti sebelum Allah Ta’ala beristiwa’ di atas ‘Arsy-Nya sebelum diciptakan seluruh makhluk Allah tidak Maha Tinggi. Allah adalah Dzat Yang Maha tinggi sebelum dan sesudah diciptakannya makhluk.[5]

C. ‘Arsy.

Pengertian ‘Arsy secara bahasa adalah : singgasana raja. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ

“…serta mempunyai singgasana yang besar”. (QS. An-Naml: 23)

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ

“Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana”. (QS. Yusuf: 100)

Sedangkan pengertian ‘Arsy Allah Ta’ala yang Dia beristiwa’ di atasnya adalah: Singgasana yang sangat agung yang mempunyai penyangga-penyangga. ‘Arsy juga sebagai atap dari surga firdaus, bahkan atap seluruh makhluk. ‘Arsy adalah tempat yang paling tinggi, paling luas, paling besar, dan yang tidak ada yang mengetahui kadarnya secara pasti kecuali Allah I.[6] ‘Arsy ibarat kubah bagi alam semesta yang Allah memerintahkan sebagian malaikat untuk menjunjung ‘Arsy-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَائِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ

“Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” (QS. Al-Haqqoh: 17)

D. Perbedaan antara ‘Uluw dan Istiwa’.

Perbedaan antara dua sifat ini terdiri dari tiga segi, yaitu :

  1. ‘Uluw adalah sifat Allah Ta’ala yang berarti Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya secara umum dan keseluruhan. Sedangkan Istiwa’ adalah sifat khusus Allah Ta’ala, yaitu Allah beristiwa’ di atas Arsy-Nya.
  2. ‘Uluw adalah sifat dzatiyah. Sedangkan Istiwa’ adalah sifat fi’liyah ikhtiyariyah. Yaitu Allah berkehendak mengerjakannya sesuai kehendak-Nya.
  3. ‘Uluw adalah sifat Allah yang ditunjukkan oleh dalil-dalil naqli dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan juga dapat dicerna oleh akal dan fitrah manusia. Sedangkan Istiwa’ adalah sifat Allah Ta’ala yang dijelaskan hanya oleh dalil naqli, yaitu wahyu dari Allah Ta’ala, baik dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah.

II. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah I berada di atas.

Sangat banyak dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sahihah yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy, di atas langit, di atas seluruh makhluk-Nya. Demikian banyaknya dalil itu sehingga tidak terhitung jumlahnya. Imam al-Alusi menjelaskan di dalam tafsirnya, “Dan engkau mengetahui bahwa mazhab Salaf menetapkan ketinggian Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan oleh Imam At-Thahawi dan yang selainnya, mereka berdalil dengan sekitar 1000 dalil”.[7]

Karena demikian banyaknya dalil tersebut, tidak mungkin dapat dikemukakan semua. Pada tulisan ini hanya sedikit dalil yang dapat dikemukakan. Kami kutipkan beberapa yang diambil dari kitab Al-Intishor[8], serta beberapa keterangan dari kitab-kitab lain.

  • Dalil-dalil dari Al-Qur’an.

Dalil-dalil tentang ketinggian Dzat Allah di atas ‘Arsy, di atas langit, di atas seluruh makhluk-Nya terbagi dalam berbagai sudut pendalilan. Pada tiap sudut pendalilan terdapat banyak dalil. Sudut-sudut pendalilan tersebut di antaranya:

Penjelasan tentang Ketinggian (al-‘Uluw) Allah Ta’ala secara mutlak di atas makhluk-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung” (QS. Al-Baqarah: 255)

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” (QS. Saba’: 28)

Penjelasan tentang Ketinggian (al-Fauqiyyah) Allah Ta’ala di atas seluruh makhluk-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).” (QS. An-Nahl: 50)

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِه

“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-An’am: 18)

Penjelasan bahwa Allah I berada di atas langit. Sebagaimana firman-Nya:

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS. Al-Mulk: 16)

Perlu dipahami dalam bahasa Arab bahwa lafadz في tidak hanya berarti di ‘dalam’, tapi juga bisa bermakna ‘di atas’. Hal ini sebagaimana penggunaan lafadz tersebut dalam ayat:

فَسِيحُوا فِي الْأَرْضِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ

“Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di atas bumi selama empat bulan…”(QS.  At-Taubah: 2)

Penjelasan bahwa Al-Qur’an ‘diturunkan’ dari Allah Ta’ala. Ini jelas menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berada di atas, sehingga Dia menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dari-Nya. Dan tidaklah diucapkan kata ‘diturunkan’ kecuali berasal dari yang di atas.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, di antaranya:

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

“Kitab (Al-Quran ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Az-Zumar: 1).

تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَانِ الرَّحِيمِ

“(AlQur’an) diturunkan dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Fusshilaat: 2)

تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

“(Al Qur’an) diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (QS. Fusshilat: 42).

Penjelasan tentang adanya sesuatu yang naik menuju Allah Ta’ala. Lafaz “naik” yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan al-Hadits bisa berupa al-‘Uruuj atau as-Shu’uud. Sebagaimana firman-Nya:

مِنَ اللَّهِ ذِي الْمَعَارِجِ * تَعْرُجُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ

(yang datang) dari Allah, Yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada-Nya(QS. Al-Ma’aarij: 3-4)

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

“Kepada-Nyalah naik ucapan yang baik dan amal soleh dinaikkannya” (QS. Fathir: 10)

Penjelasan bahwa Allah Ta’ala ber-istiwa’ di atas ‘Arsy. Lafaz istiwa’ diikuti dengan penghubung على sehingga bermakna ‘tinggi di atas’ ‘Arsy. Sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Qur’an di 7 tempat. Di antaranya yaitu:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy” (QS. Thoha: 5)

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy” (QS. Al-Hadid: 4)

  • Dalil-dalil dari As-Sunnah

Ketinggian Allah Ta’ala di atas langit juga ditegaskan dalam banyak sekali hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan beberapa versi, baik berupa perkataan, perbuatan, dan taqrir (persetujuan). Seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ اللهَ لَمَّا قَضَى الْخَلْقَ كَتَبَ عِنْدَهُ فَوْقَ عَرْشِهِ إِنَّ رَحْمَتِيْ سَبَقَتْ غَضَبِي

Sesungguhnya Allah tatkala menetapkan penciptaan, Dia menulis di sisi-Nya di atas ‘arsy: “Rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.”[9]

Dan juga sabda Nabi r :

أَلاَ تَأْمَنُوْنِيْ وَأَنَا أَمِيْنُ مَنْ فيِ السَّمَاءِ

Tidakkah kalian mempercayaiku padahal aku dipercaya oleh Dzat yang di atas langit.[10]

Dan telah tetap pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangannyake atas langit pada saat khutbah di Arafah ketika mereka mengatakan,

“Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan dan menunaikan serta menasehati.” Di saat itu beliau r menjawab, “Ya Allah saksikanlah.”[11]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menetapkan sifat ini untuk Allah dalam beberapa hadits, diantaranya:

Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya (Abu Hurairah) dan berkata :

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، إِنَّ اللهَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرَضِيْنَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada diantara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).”[12]

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ رضي الله عنه قَالَ: …وَكَانَتْ لِيْ جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِيْ قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ, فَإِذَا بِالذِّئْبِ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا, وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ آدَمَ, آسَفُ كَمَا يَأْسَفُوْنَ, لَكِنِّيْ صَكَكْتُهَا صَكَّةً, فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم عليه و سلم فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ, قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ, أَفَلاَ أُعْتِقُهَا؟ قَالَ: ائْتِنِيْ بِهَا, فَقَالَ لَهَا: أَيْنَ اللهُ؟ قَالَتْ: فِيْ السَّمَاءِ, قَالَ: مَنْ أَنَا؟ قَالَتْ: أَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ, قَالَ: فَأَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

Dari Muawiyah bin Hakam As-Sulami -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “…Saya memiliki seorang budak wanita yang bekerja sebagai pengembala kambing di gunung Uhud dan Al-Jawwaniyyah (tempat dekat gunung Uhud). Suatu saat saya pernah memergoki seekor serigala telah memakan seekor dombanya. Saya termasuk dari bani Adam, saya juga marah sebagaimana mereka juga marah, sehingga saya menamparnya, kemudian saya datang pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata beliau menganggap besar masalah itu. Saya berkata: “Wahai Rasulullah, apakah saya merdekakan budak itu?” Jawab beliau: “Bawalah budak itu padaku”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Dimana Allah?” Jawab budak tersebut: “Di atas langit”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi: “Siapa saya?”. Jawab budak tersebut: “Engkau adalah Rasulullah”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Merdekakanlah budak ini karena dia seorang wanita mukminah”.[13]

Dan masih banyak lagi hadit-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan dan menjelaskan sejelas-jelasnya bahwa Allah Ta’ala mempunyai sifat beristiwa’ di atas ‘Arsy-Nya yang tidak mungkin kami tuliskan seluruhnya.

  • Dalil-dalil dari Ijma’ (kesepakatan ulama)

v  Imam al-Auza’i berkata, “Kami dan seluruh tabi’in bersepakat mengatakan, Allah berada di atas ‘arsy-Nya. Dan kami semua mengimani sifat-sifat yang dijelaskan dalam as-Sunnah.”[14]

v  Imam Abdullah Ibnu Mubarak berkata, “Kami mengetahui Rabb kami, Dia bersemayam di atas ‘arsy berpisah dari makhluk-Nya. Dan kami tidak mengatakan sebagaimana kaum Jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah ada di sini (beliau menunjuk ke bumi).”[15]

v  Imamul Aimmah Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata,

من لم يقر بأن الله على عرشه استوى فوق سبع سمواته بائن من خلقه فهو كافر يستتاب فإن تاب وإلا ضربت عنقه وألقي على مزبلة لئلا يتأذى بريحته أهل القبلة وأهل الذمة

“Barang siapa yang tidak menetapkan bahwa Allah Ta’ala beristiwa’ di atas ‘Arsy-Nya, di atas langit ke tujuh dan terpisah dari makhluk-Nya, maka dia telah kafir. Jika dia bertaubat maka diterima taubatnya. Jika tidak bertaubat maka dipukul tengkuknya (dibunuh) kemudian dibuang ke tempat sampah agar bau busuknya tidak membahayakan ahli kiblat dan ahli dzimmah.”[16]

v  Imam Abul Hasan Al-Asy’ari berkata dalam Al-Ibanah an Ushul ad-Diyanah menceritakan aqidahnya: “Dan bahwasanya Allah di atas arsy-Nya sebagaimana firman-Nya: ‘Ar-Rahman tinggi di atas arsy’”.[17]

Beliau juga memaparkan dalil-dalil yang banyak sekali tentang keberadaan Allah di atas ‘Arsy. Di antara perkataan beliau:

“Dan kita melihat seluruh kaum muslimin apabila mereka berdo’a, mereka mengangkat tangannya ke arah langit, karena memang Allah tinggi di atas ‘Arsy dan ‘Arsy di atas langit. Seandainya Allah tidak berada di atas ‘Arsy, tentu mereka tidak akan mengangkat tangannya ke arah ‘Arsy”.[18]

“Dan kaum Mu’tazilah, Haruriyyah dan Jahmiyyah beranggapan bahwa Allah berada di setiap tempat. Hal ini melazimkan mereka bahwa Allah berada di perut Maryam, tempat sampah dan WC. Faham ini menyelisihi agama. Maha suci Allah dari ucapan mereka.”[19]

Sebenarnya masih sangat banyak lagi dalil-dalil dalam masalah ini, semua ini telah dijelaskan oleh para ulama kita dalam kitab-kitab mereka. Bahkan di antara mereka ada yang membahas masalah ini dalam kitab tersendiri seperi Imam Dzahabi dalam bukunya al-‘Uluw lil Aliyyil Azhim.

Semoga Allah merahmati Imam Ibnu Abil Izzi al-Hanafi yang telah mengatakan –setelah menyebutkan 18 segi dalil–, “Dan jenis-jenis dalil-dalil ini, seandainya dibukukan tersendiri, maka akan tertulis kurang lebih seribu dalil. Oleh karena itu, kepada para penentang masalah ini, hendaknya menjawab dalil-dalil ini. Tapi sungguh sangatlah mustahil mereka mampu menjawabnya dengan jawaban yang benar.”[20]

Maka, seharusnya orang yang mempunyai akal yang sehat dan tidak mengikuti hawa nafsunya, akan mengakui hal ini. Terlebih setelah jelas dengan berbagai dalil-dalil shahih.

III. Allah I berada di atas ‘Arsy berlepas dari makhluk-Nya tanpa kaifiyyah.

Allah Ta’ala baa’in (terlepas) dari makhluk-Nya dengan artian bahwa, Allah Ta’ala terpisah dari makhluk-Nya, tidak ada sesuatu pun dari makhluk-Nya yang terdapat pada Dzat-Nya dan sebaliknya.

Lafadz baa’in min kholqihi belum dikenal pada masa sahabat. Adapun ulama’ salaf mereka meletakkan lafadz ini untuk membantah paham al-khaluliyah. Paham ini berkeyakinan bahwa ada masanya dimana Dzat Allah Ta’ala menyatu dengan manusia.

Juga paham Al-Mu’atthilah yang menetapkan bahwa Allah Ta’ala beristiwa’ di atas ‘Asry. Akan tetapi mereka mengartiakan istiwa’ disini dengan istila’( استيلاء ) . Atau mereka meyakini yang tahu makna istiwa’ hanyalah Allah, lalu merka melimpahkan sepenuhnya pada Allah Ta’ala.

Oleh karenanya ulama’ Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjadikan lafadz ini sebagai kaidah dalam masalah Istiwa’. Sangat banyak perkataan para ulama yang menegaskan masalah ini sebagaimana yang tercantum di atas. Dan perkataan lain mereka di antaranya:

ü  Imam Ishaq bin Rohawaih[21] ketika ditanya tentang firman Allah Ta’ala surat Al-Mujadilah ayat 7, “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya.” Beliau berkata, “Dimanapun engkau berada, maka Allah Ta’ala lebih dekat kepadamu dari pada urat lehermu, dia berlepas dari makhluk-Nya.” Kemudian beliau menyebutkan perkataan Imam Ibnul Mubarok[22], “Dia berada di atas ‘Arsy-Nya dan berlepas dari makhluk-Nya”.[23]

ü  Suatu ketika Imam Ahmad ditanya, “Apakah Allah I berada di atas langit ke tujuh di atas ‘Arsy-Nya, berlepas dari makhluk-Nya. Lalu Kekuasaan dan Ilmu-Nya di setiap tempat?” Imam Ahmad berkata, “Ya, Dia berada di atas ‘Arsy, dan tidak ada sesuatupun yang terlepas dari ilmu-Nya”.[24]

Dan beberapa keterangan lainnya dari ulama’-ulama’ Ahlus sunnah wal Jama’ah berkenaan dengan ini.

Sifat Tinggi dan Istiwa’ Allah Ta’ala di atas ‘Arsy-Nya wajib kita imani. Sedangkan kaifiyyahnya (bagaimananya) tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran manusia. Karena hanya Allah sendirilah yang mengetahuinya. Manusia tidak dapat mengetahui hakikat dari Dzat Allah, maka juga tidak dapat mengetahui kaifiyyah sifat Allah Ta’ala.

Banyak sekali atsar yang melarang kita bertanya tentang kaifiyyah Allah Ta’ala. di antaranya kisah Imam Malik ketika ditanya oleh seseorang tentang kaifiyyah (bagaimana) Allah Ta’ala beristiwa’ di atas ‘Arsy. Maka seketika Imam Malik marah, kepalanya tertunduk, wajahnya memerah, dan keluar keringat, lalu berkata perkataan yang sudah tak asing lagi,

” اْلاِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٌ, وَ اْلكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٌ, وَ اْلاِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ, وَ السُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ “

“Istiwa’ itu tidak majhul (diketahui), dan kaif (bagaimananya) tidak ma’qul (tidak dapat dicerna akal), sedangkan iman kepadanya (istiwa’) adalah wajib, dan bertanya tentangnya (kaifiyyah) adalah bid’ah.”[25]

Maksud dari Al-Istiwa’ ghairu majhul, yaitu ghairu majhul makna fil lughoh (arti bahasanya sudah tidak asing lagi). Dengan artian bahwa lafadz Istiwa’ tidak asing lagi artinya adalah: tinggi, naik, dan menetap.[26]

Maksud kaifiyyah ghoiru ma’qul, yaitu bagaimana bentuk, cara, dan gambaran Allah beristiwa’ tidak dapat diketahui akal manusia. Sedangkan Allah tidak memberikan khabar tentang hal itu, maka kewajiban kita adalah diam dan tidak bertanya tentang kaifiyyah istiwa’ Allah Ta’ala. Kaifiyyah tentang sifat Allah Ta’ala tidak diketahui oleh akal karena tiga hal, yaitu:

  1. Allah Ta’ala mengkhabarkan tentang Istiwa’, tapi tidak mengkhabarkan tentang kaifiyyahnya.
  2. Jika kita tidak mengetahui kaifiyyah Dzat Allah Ta’ala, maka kita juga tidak akan tahu kaifiyyah tentang sifat-Nya.
  3. Kita tidak dapat mengetahui kaifiyyah sesuatu kecuali dengan tiga hal, yaitu: menyaksikan secara langsung sesuatu tersebut, menyaksikan yang semisal dengannya, atau melalui khabar yang benar akan hal tersebut.[27]

Maksud as-su’alu ‘anhu bid’ah, yaitu bertanya tentang kaifiyyah istiwa’ Allah Ta’ala adalah suatu bid’ah karena tiga hal, yaitu:

  1. Bahwasanya tidak ada contoh dari sahabat y bahwa merka bertanya tentang hal itu. Padahal mereka adalah orang-orang yang gigih dalam menuntut ilmu tentang Rabb mereka. Padahal jika mereka mau bertannya, di sisi mereka ada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Penyebutan bid’ah sesuai dengan orang-orang yang terlalu dalam menceburkan diri dalam menggali tentang Allah Ta’ala dan sifat-Nya. Mereka juga disebut ahlul bid’ah.
  3. Bahwasannya tidak ada jalan lagi untuk mengetahui dan menjawab tentang kaifiyyah Allah dan sifat-Nya.[28]
  4. IV. Syubhat-syubhat Kelompok Menyimpang Dan Bantahannya

Sebenarnya, jika melihat penjelasan para ulama’ yang disertai dengan dalil-dalil naqli dan aqli yang kuat tentang masalah Istiwa’ ini seharusnya kita sudah lebih yakin lagi tentang kebenarannya. Akan tetapi ternyata masih banyak sekali syubhat-syubhat atau pemikiran dari berbagai kelompok yang berusaha mengingkari atau bahkan menentang permasalahan ini. Maka disini akan disebutkan beberapa contoh syubhat pemikiran mereka, serta bantahan terhdapnya.

Dakwaan ahli ta’thil (atheis) tentang arti Istiwa’. Mereka mengartikan Istiwa’ dengan artian Istiila’ ( الاستيلاء ), yaitu ‘berkuasa’. Pendapat ini juga banyak dilontarkan oleh kebanyakan Jahmiyah dan Mu’tazilah, serta kaum muta’akhirin kelompok Asy’ariyah dan Khowarij. Salah satu dalil yang mereka gunakan adalah perkataan Ibun Abbas t, ketika menafsirkan ayat:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Ibnu Abbas berkata, “artinya: berkuasa atas seluruh makhluk-Nya, dan tidak ada satu tempat pun yang kosong dari-Nya.”

Bantahan:

  1. Takwil seperti ini sama dengan tahrif yang menyelisihi tafsir salaf yang telah disepakati.
  2. Belum ada bukti dari salah satu ahli bahasa arab bahwa makna Istiwa’ adalah Istila’. Bahkan pengertian seperti ini diingkari para ahli bahasa arab.
  3. Menyelisihi dhahir lafadznya. Karena fi’il istiwa’ jika muta’addy dengan ( على ), maka tidak ada artian lain kecuali ‘tinggi, naik, dan menetap’. Dan fi’il istiwa’ dalam bahasa arab terletak pada empat segi, yaitu:
    1. Yang mujarrad (tidak bersambung dengan huruf apapun), maka diartikan : ‘sempurna, atau lengkap’. Contoh dalam Al-Qur’an:

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى

“Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya” (QS. Al-Qhasas: 14)

Yang terikat dengan huruf ( إلى ), maka artinya adalah : إرتفع و علا (naik dan tinggi) sebagaimana yang telah disepakati salaf. Sebagian ahlul ilmi mengartikan dengan قصد (menuju). Akan tetapi makna yang pertama (naik dan tinggi) lebih utama. Contoh dalam Al-Qur’an:

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap” (QS. Fushilat: 11)

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit” (QS. Al-Baqarah: 29)

Yang terikat dengan huruh ( على ), maka tidak ada artian lain kecuali :’naik, tinggi, menetap’. Contoh firman Allah I,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy” (QS. Thaha: 5)

لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ

“Supaya kamu duduk di atas punggungnya” (QS. Az-Zukhruf: 13)

فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ

“dan tegak lurus di atas pokoknya” (QS. Al-Fath: 29)

وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ

“dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi” (QS. Hud: 44)

  1. Yang terhubung dengan waw ma’iyah ( و ), maka artinya adalah ‘sama’. Sebagaimana perkataan, استوى الماء و الخشبة (air dan kayu adalah sama).
  2. Ditinjau dari segi dalil yang mereka gunakan di atas, maka itu adalah atsar yang di dustakan, periwayat-periwayatnya majhul (tidak diketahui) dan lemah.
  3. Kaum atheis ini mempunyai dua cara dalam kelompok mereka, yaitu dengan tahrif (menyimpangkan makna) atau tafwidh (melimpahkan makna) untuk melancarkan tujuan mereka dalam menta’thil (peniadaan) makna dari sifat istiwa’. Sedangkan madzhab Ahlus sunnah adalah tafwidhul kaifiyyah (melimpahkan pada Allah kaifiyyah-Nya) bukan maknanya.

Tuduhan kelompok-kelompok yang menafikan sifat-sifat Allah Ta’ala. Di antaranya kelompok Jahmiyah dan para filosof yang mengingkari kehidupan Rabb, Ilmu, Kemampuan, Pendengaran, Penglihatan, Perkataan, Istiwa’-Nya di atas ‘Arsy, dan lain-lainnya yang dikhabarkan oleh Rasul r tentang-Nya.[29] Hujjah mereka dalam menafikan sifat-sifat Allah Ta’ala adalah seperti dikatakan Imam as-Syahrastani[30] ketika membicarakan tentang Jahm bin Shafwan, “Di antara perkataannya, tidak boleh mensifati Allah Ta’ala dengan sifat yang disifatkan pada makhluk-Nya, karena itu berarti menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.

Bantahan:

Syaikh al-Utsaimin berkata,[31] tentang perbedaan yang sangat besar antara Pencipta dan makhluk dalam hal sifat-sifat dan perbuatan-Nya: “Tidak mungkin seseorang mengatakan bahwa saya memiliki tangan seperti tangan unta, saya memiliki tangan seperti semut kecil, atau saya memiliki tangan seperti tangan kucing. Di hadapan kita sekarang ada manusia, unta, semut kecil, dan kucing. Masing-masing memiliki tangan yang berbeda dari yang lainnya, padahal semuanya memiliki kesamaan nama (yaitu tangan). Jika boleh adanya perbedaan di antara nama-nama itu pada makhluk, maka terlebih lagi antara Khaliq dan makhluk. Bahkan, kita katakan: perbedaan antara Khaliq dan makhluk bukan hanya boleh tapi wajib.”

Kelompok yang menetapkan kaifiyyah Allah Ta’ala dan sifat-Nya yang mulia, serta menyerupakan (tasybih) terhadap makhluk-makluk. Di antaranya adalah:

  • Al-Hasyimiyyah, yaitu pengikut Hisyam bin al-Hakam ar-Rofidhi[32] yang mengatakan, “Allah Ta’ala menyentuh ‘Arsy, dan bahwa ‘Arsy itu sudah menghimpun Allah Ta’ala.” dan perkatan sebagian pengikutnya, “Sesunggunya Allah Ta’ala memenuhi ‘Arsy, dan Dia menyentuhnya.”[33]
  • Al-Jawaribiyah, yaitu pengikut Dawud Al-Jawaribiy yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala menyentuh ‘Arsy dan rata dengannya.”[34]
  • Al-Karamiyyah, yaitu pengikut Ibnu Karam[35] yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala menyentuh ‘Arsy pada permukaan tertinggi.” Dan perkataan, “Sesungguhnya perbuatan dan perkataan Allah Ta’ala, serta kehendak-Nya atas suatu kejadian, sama dengan perbuatan, perkataan, dan kehendak makhluk-Nya.[36] Ada juga perkataan mereka bahwa Allah Ta’ala beristiwa’ di sebagian ‘Arsy, dan ada yang mengatakan bahwa ‘Arsy terpenuhi dengan Allah Ta’ala.[37]

Bantahan untuk kelompok ini sudah jelas dengan penjelasan tentang kaifiyyah pada bab III di atas.

Dan masih banyak lagi lontaran-lontaran batil yang datang dari berbagai kelompok menyimpang, yang pada dasarnya tetap sama yaitu menyelisihi kaidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam memahami Allah Ta’ala dan sifat-Nya.

  1. V. Kedudukan orang yang tidak mengakui Istiwa’ Allah I di atas ‘Arsy.

Ada beberapa perkataan ulama’ tentang orang-orang maupun kelompok yang tidak mengakui dan mepercayai sifat Istiwa’ Allah Ta’ala, atau Ketinggian-Nya. Di antaranya yaitu:

–       Perkataan Abu Hanifah. Riwayat dari Syaikhul Islam Abu Ismail Al-Anshori dalam kitabnya Al-Faruq, dengan sanad sampai Abi Muthi’ Al-Balkhi: bahwasanya Abu Hanifah ditannya tentang orang yang mengatakan, “Aku tidak tahu Rabb-ku di atas langit atau di bumi.” Maka Abu Hanifah menjawab, “Dia telah kafir” lalu menyebutkan firman Allah surat Thoha ayat 5.[38]

–       Imam ‘Utsman bin Sa’id Ad-Darimiy berkata, “Di dalam hadits Rasulullah r ini (hadits ketika haji wada’ di Arafah di atas) merupakan dalil bahwa seseorang yang tidak mengetahui bahwa Allah Ta’ala di atas langit, bukan di bumi, maka dia bukan orang mukmin.[39]

–       Imamul Aimmah Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata, “Barang siapa yang tidak menetapkan bahwa Allah I beristiwa’ di atas ‘Arsy-Nya, di atas langit ke tujuh dan terpisah dari makhluk-Nya, maka dia telah kafir. Jika dia bertaubat maka diterima taubatnya. Jika tidak bertaubat maka dipukul tengkuknya (dibunuh) kemudian dibuang ke tempat sampah agar bau busuknya tidak membahayakan ahli kiblat dan ahli dzimmah.”[40]

Adapun kesimpulan hukum orang seperti ini, maka perlu dirinci bagaimana bentuk pengingkarannya, apakah dengan tahrif, ta’thil, tamtsil, tasybih, takyif, dan semacamnya. Maka hukum orang tersebut berkaitan erat dengan hal-hal tadi.

  1. VI. Kesimpulan dan Penutup

Dari penjelasan di atas kiranya sudah cukup jelas bagi orang yang mau mempergunakan akalnya dengan benar dan tidak menuruti hawa nafsunya bahwa Allah Ta’ala mempunyai Sifat-sifat yang mulia, Dia adalah Dzat Yang Maha Tinggi, Yang Berlepas dari Makhluk-Nya. Dia-lah Allah Ta’ala yang berisitiwa’ di atas ‘Arsy-Nya yang agung.

Sebagai orang yang mengaku Mukmin dan ber-aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah menurut ajaran Rasulullah r dan para sahabatnya y, sudah seharusnya mengimani segala khabar yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebenar-benar iman. Wallahu a’lam bis showab…

  1. VII. Daftar Pustaka

ü  Al-Intishor Syarh Aqidah Aimmatil Amsor/Qurrotul ‘Ainaini bi Syarhi ar-Roziyaini, Abu Zur’ah Ar-Rozi dan Abu Hatim Ar-Rozi. Syarh: Muhammad bin Musa alu Nashr.

ü  Syarh Aqidah At-Thohawiyah, Imam Ibnu Abil Izz al-Hanafi

ü  Ar-Raddu ‘Ala al-Jahmiyah, Utsman bin Sa’id ad-Darimy.

ü  Syarh Aqidah al-Wasithiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

ü  Lisanul Arob, Ibnu Mandzur

ü  Mukhtasor Al-‘Uluw lil ‘Aliyyil ‘Adzim, Muhammad Nasirudin Albany.

ü  Al-Ibanah an Ushul ad-Diyanah, Abu Hasan Al-‘Asy’ary.

ü  Fathul Bari syarh Shohih Al-Bukhari, Ibnu Hajar al-‘Asqalani.

ü  Tafsir Ruhul Ma’ani, Imam Al-Alusiy.

ü  Mukhtashar as-Shawa’iq al-Mursalah, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.

ü  Al-Milal wa an-Nihal, Muhammad bin Abdul Karim as-Syahrasytani.

ü  Naqdhu at-Ta’sis, Ibnu Taimiyyah.

ü  At-Tabshir fi ad-Diin, Dhahir bin Muhammad al-Isfiroyaniy.

Al-Qur’an Digital Terjemahan.


[1] Lisanul Arob, Ibnu Mandzur, Juz 15, hal. 83. Maktabah Syamilah.

[2] Al-Intishor Syarh Aqidah Aimmatil Amsor, Abu Zur’ah Ar-Rozi dan Abu Hatim Ar-Rozi. Syarh: Muhammad bin Musa alu Nashr, hal. 169.

[3] Ibid, hal. 170

[4] Shohih Al-Bukhari, Fathul Bari, Ibnu Hajar, Juz 13, hal. 403.

[5] Al-Intishor, hal. 170.

[6] Hal ini sebagaimana yang telah dishahihkan oleh Ibnu Abbas. Lihat Mukhtasor Al-‘Uluw lil ‘Aliyyil ‘Adzim, Nasirudin Albani, hal. 102.

[7] Lihat Tafsir Ruhul Ma’ani, Imam Al-Alusi, juz. 7, hal. 114, Maktabah Syamilah.

[8] Al-Intishor Syarh Aqidah Aimmatil Amsor, Abu Zur’ah Ar-Rozi dan Abu Hatim Ar-Rozi. Syarh: Muhammad bin Musa alu Nashr, yang disebut juga dengan kitab, Qurrotul ‘Ainaini bi Syarhi ar-Roziyaini.

[9] HR. Bukhari 7422 dan Muslim 2751

[10] HR. Bukhari 4351 dan Muslim 1064

[11] HR. Muslim 1218

[12] HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra, dishahihkan Al-Albani dalam Mukhtasharul ‘Uluw

[13] Ibnu Hajar berkarta tentang hadits ini, “Hadits shahih, diriwayatkan Muslim”. Fathul Bari (13/359)

[14] Shahih. Diriwayatkan Baihaqi dalam Asma’ wa Sifat 408, adz-Dzahabi dalam al-‘Uluw hal. 102 dan dishahihkan Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan al-Albani.

[15] Shahih. Dikeluarkan ash-Shabuni dalam Aqidah Salaf 28 dan ad-Darimi dalam ar-Radd ala Jahmiyyah hal. 47

[16] Dikeluarkan oleh Harowy (1245). Lihat Al-‘Uluw lil ‘Aliy al-Ghofar, Imam Ad-Dzahabi hal. 207(MS). Ibnu Taimiyah juga menyebutkan dalam Ad-Dar’Uluw (6/264), Ibnu Qoyyim dalam As-Showaiq (4/1303).

[17] Al-Ibanah am Ushul ad-Diyanah, Abu Hasan Al-‘Asyary, hal, 105(MS)

[18] Ibid

[19] Ibid, 108.

[20] Syarh Aqidah At-Thohawiyah, Imam Ibnu Abil Izzi al-Hanafi, juz 2, hal. 386.

[21] Guru dari Imam Bukhari, wafat tahun 238 H.

[22] Wafat tahun 181 H.

[23] Dikeluarkan oleh Al-Harowiy no. 1208. Disebutkan juga oleh Ibnu Battah dalam Al-Ibanah no. 118, Syaikhul Islam dalam Naqdhu at-Ta’sis (I/438), Adzahabi dalam Al-‘Uluw (446).

[24] Dikeluarkan oleh Ibnu Batthah (115), Imam Al-Lilka’I juga menyebutkannya (674), dan Ibnu Qudamah dalam Itsbat Sifatil ‘Uluw, no. 96.

[25] Dikeluarkan oleh Ad-Darimi dalam Ar-Raddu ‘alal Jahmiyyah (104). Al-Lilka’I (664). Baihaqi dalam Al-Asma’ wa As-Sifat (II/305-306). As-Shobuni (45-46). Abu Na’im dalam Al-Haliyyah (VI/326-325). Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (V/149).

[26] Al-Intishor, hal. 186.

[27] Ibid.

[28] Ibid, hal. 187.

[29] Mukhtashar as-Shawa’iq al-Mursalah, Ibnu Qayyim (175)

[30] Al-Milal wa an-Nihal (1/99)

[31] Syarh aqidah al-Wasithiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (1/91)

[32] Wafat tahun. 190 H.

[33] Sebagaimana yang diterakan Imam Dzahabi dalam Siyar A’laamu an-Nubala’ (18/283-284)

[34] Lihat Naqdhu at-Ta’sis, Syaikhul Islam (1/400-401)

[35] Wafat tahun. 255 H.

[36] Lihat at-Tabshir fi ad-Diin, hal. 112.

[37] Al-Intishor, hal. 191.

[38] Syarh Aqidah Thohawiyah, Ibnu Abil ‘Izz, hal. 386-387.

[39] Al-Intishor, hal. 184. Lihat juga ar-Raddu ala al-Jahmiyyah, hal. 17.

[40] Dikeluarkan oleh Harowy (1245). Lihat Al-‘Uluw lil ‘Aliy al-Ghofar, Imam Ad-Dzahabi hal. 207(MS). Ibnu Taimiyah juga menyebutkan dalam Ad-Dar’Uluw (6/264), Ibnu Qoyyim dalam As-Showaiq (4/1303).

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: