Perintah Mengikuti Sunnah dan Jama’ah

PERINTAH MENGIKUTI SUNNAH DAN JAMA’AH

SERTA MENINGGALKAN SYUDZUDZ (penyimpangan) dan FIROQ (perpecahan)

Oleh : Muhammad Singgih

 

Definisi Sunnah

Secara bahasa

Secara bahasa Sunnah bermakna jalan, baik jalan yang terpuji maupun yang tercela[1]. Yang mana makna seperti ini telah digunakan dalam Al Qur’an dan Sunnah.

Diantaranya firman Allah ta’ala:

ُقل لِلَّذِينَ كَفَرُواْ إِن يَنتَهُواْ يُغَفَرْ لَهُم مَّا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُواْ فَقَدْ مَضَتْ سُنَّةُ الأَوَّلِينِ

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu : “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah tenhadap) orang-orang dahulu “.(Al  Anfal: 38)

Kemudian sabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak pun kalian pasti kalian akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka.”[2]

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“’Barang siapa dapat memberikan suri tauladan yang baik dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut dapat diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat untuknya pahala sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang mereka peroleh. Sebaliknya, barang siapa memberikan suri tauladan yang buruk dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa yang mereka peroleh sedikitpun.[3]

Secara Syar’i

Adapun secara syar’I makna Sunnah berbeda beda tergantung disiplin ilmunya.

  1. Dalam Ilmu Aqidah: Sunnah adalah apa yang ada diatasnya Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Khulafaur Rosyidain serta para Salafus Sholih berupa I’tiqod (keyakinan) sebelum munculnya bid’ah bid’ah serta penyimpangan penyimpangan.
  2. Menurut Ahli Ushul: Sunnah adalah apa yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam selain Qur’an berupa perkataan, perbuatan dan penetapan.
  3. Menurut Ulama Hadits: Sunnah bermakna Hadits, yaitu apa yang berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dari perkataan, perbuatan, penetapan, sifat, ataupun siroh.
  4. Menurut Fuqoha: Sunnah adalah apa yang dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak mendapat apa apa.
  5. Sunnah digunakan sebagai lawan dari kata bid’ah.
  6. Sunnah juga digunakan sebagai lawan dari syi’ah.

Dan Sunnah dalam pembahasan ini adalah Sunnah menurut  ilmu Aqidah.

Definisi jama’ah[4]

Jama’ah secara bahasa bermakna mengumpulkan dan menggabungkan sesuatu dengan mendekatkan sebagiannya kepada sebagian yang lain.

Yang mana pengertian ini juga digunakan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beberapa haditsnya, diantaanya:

صلاة الجماعة  تفضل صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة

“Sholat Jama’ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada Sholat sendirian”[5]

Adapun secara syar’I para ulama berbeda pendapat, yang pada dasarnya kembali kepada dua makna:

  1. Jama’ah adalah kebenaran dan agama yang benar (Al Haqq, Al Islam)

Jama’ah adalah kebenaran yang berdasarkan  Al Qur’an dan As Sunnah, yang diikuti oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, generasi sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, dan generasi generasi umat islam setelahnya sampai hari kiamat. Makna ini dijelaskan dalam Hadits Mutawatir tentang Iftiroqul Ummah

Jadi jama’ah adalah Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat serta mereka yang mengikutinya, yang mana mereka berkumpul dalam mengamalkan Al qur’an dan Sunnah serta taat kepada para pemimpin mereka dengan cara yang benar (ma’ruf)[6]

Ibnu Mas’ud Rhodhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya mayoritas Jama’ah (baca: masyarakat Muslim) adalah orang orang yang menyelisihi jama’ah. Karena Jama’ah (yang sebenarnya) adalah apa yang sesuai dengan kebenaran, sekalipun engkau sendirian”

  1. Jama’ah adalah Jama’atul Muslimin, yaitu Imamah (Khilafah) yang dipimpin oleh seorang Imam (Khalifah, sulthan, atau Amirul Mua’minin) yang sah dan menegakkan syariat Allah ta’ala. Makna ini depergunakan dalam hadits hadits berikut:

من فارق الجماعة شبرا فكانما خلع ربقة الاسلام من راسه

“Barangsiapa memisahkan diri dari jama’ah walau hanya satu jengkal , maka ia seakan akan telah mencampakan ikatan islam dari kepalanya”[7]

من خارج من الطاعة وفارق الجماعة ثم مات ميتة جاهلية

“Barangsiapa keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari jama’ah, niscaya akan mati seperti cara mati orang jahiliyah”[8]

Definisi Syadz dan Firoq[9]

Syad bermakna: “menyendirinya seseorang dari jama’ah”

Ibnu Hazm Rahimahullah berkata: “yaitu menyelisihi Sunnah, setiap yang menyelisihi yang benar dalam suatu masalah, maka didalamnya terdapat syadz

Maka seseorang yang menyelisihi Sunnah dan Jama’ah dinamakan syadz, dan setiap yang mendatangi sesuatu yang tidak bersandar kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya  maka dia telah syadz dan menyendiri

Adapun Firqoh bermakna: “perpecahan dan permusuhan yang dengannya seseorang keluar dari Sunnah dan Jama’ah dalam salah satu atau lebih pokok pokok keyakinan dan memisahkan diri dari imam dan jama’ah kaum Muslimin, yang dengannya (pula) seseorang keluar dari manhaj Ahlu sunnah dan jama’ah disebabkan hawa nafsu dan kejahilan.

Ibnu Atsir Rohimahullah mendefinisikan dengan: “meninggalkan sunnah dan mengikuti bid’ah”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah berkata: “dan Bid’ah selalu berdampingan dengan perpecahan, sebagaimana sunnah selalu bergandengan dengan jama’ah, maka dikatakan: “Ahlu Sunnah dan Jama’ah”, sebagaimana juga dikatakan: “Ahlu Bid’ah dan Firqoh”

Perintah untuk mengikuti sunnah

  1. a. Al Qur’an.

Banyak sekali ayat yang menerangkan perintah untuk mengikuti sunnah.

Allah ta’ala berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (An Nur: 63)

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al Imron: 31)

َوإِنِّي لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً ثُمَّ اهْتَدَى

”Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (Toha: 82)

Sa’id bin Jubair  Rohimahullah (menafsirkan ayat di atas) berkata: “kemudian mereka beristiqomah, yaitu dalam sunnah”[10]

  1. Hadits.

Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِمَا عَرَفْتُمْ مِنْ سُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَعَلَيْكُمْ بِالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا

“Aku telah tinggalkan untuk kalian petunjuk yang terang, malamnya seperti siang. Tidak ada yang berpaling darinya setelahku melainkan ia akan binasa. Barangsiapa di antara kalian hidup, maka ia akan melihat banyaknya perselisihan. Maka kalian wajib berpegang teguh dengan apa yang kalian ketahui dari sunnahku, dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjukk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham. Hendaklah kalian taat meski kepada seorang budak Habasyi.”[11]

فمن رغب عن سنتى فليس منى

“Barangsiapa yang benci terhadap sunnahku maka bukan golonganku[12]

إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ فَمَنْ كَانَتْ شِرَّتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ

Sesungguhnya setiap amalan itu ada waktu semangatnya, dan setiap masa semangat ada masa jenuhnya, maka barangsiapa semangatnya cenderung kepada sunahku dia beruntung, dan barangsiapa masa jenuhnya cenderung kepada selain itu maka ia celaka.”[13]

Perkataan ulama salaf[14]

Abdullah bin Umar Rodhiyallahu ‘anhuma berkata: “setiap bid’ah adalah sesat, meskipun manusia melihatnya baik”

Umar Bin Abdul Aziz Rohimahullah berkata: “Sunnah Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pemimpin setelahnya, mengambilnya adalah membenarkan kitabullah, dan kesempurnaan dalam ketaatan kepada Allah, kekuatan atas agama Allah, siapa yang beramal dengannya telah diberi petunjuk, dan siapa yang menolongnya teertolong, dan yang menyelisihinya serta jalan orang orang mu’min, Allah akan berpaling darinya”

Muhammad bin Sirin Rohimahullah berkata: “mereka (para salafus solih) mengatakan: jika seseorang bersama atsar maka dia diatas jalan

Imam Syafi’I Rohimahullah berkata: “jika sampai kepadamu dari Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam suatu hadits, maka jangan mengira selainnya, karena Muhammad adalah penyampai dari Tuhannya”

Imam Al Auza’I Rohimahullah berkata: “Sabarkanlah dirimu diatas sunnah, berhentilah di tempat keum dahulu itu berhenti, katakanlah apa yang mereka katakan, tahanlah apa yang mereka tahan, karena sesungguhnya itu akan melapangkan jalanmu sebagaimana telah melapangkan jalan mereka”

Perintah untuk mengikuti jama’ah dan menjauhi perpecahan

Imam Al Ajurri Rohimahullah berkata: “sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla dengan nikmat keutamaan dari Nya telah mengabarkan kepada kita dalam kitab Nya tentang umat umat terdahulu dari ahli kitab Yahudi dan Nashroni, yang mana mereka binasa karena berpecah belah dalam agama mereka, dan Allah telah mengajarkan kepada kita bahwa yang membawa kepada perpecahan dari jama’ah, cndong kepada kebathilan, yang mana kita dilarang darinya, adalah kedurhakaan dan kedengkian, setelah Allah mengajari mereka apa yang tidak diajarkan kepada selain mereka, maka disebabkan karena kedurhakaan dan kedengkian yang sangat menjadikan mereka berpecah belah sehingga mereka binasa, maka Allah memperingatkan kita dari nya yang akan membuat kita binasa sebagaimana mereka binasa, dan Allah memerintahkan kita untuk melazimi Jama’ah, dan melarang dari berpecah belah, begitu juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para ulama ulama kita salafus solih seluruhnya memperingatkan kita dari perpecahan dan memerintahkan untuk berjama’ah.”[15]

Dalil dari Al Qur’an.[16]

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُواْ فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلاَّ الَّذِينَ أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَا جَاءتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْياً بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ لِمَا اخْتَلَفُواْ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (Al Baqoroh: 213)

ان اقيموا الدين ولا تتفرقوا فيه

“Agar mereka mendirikan agama dan tidak berpecah belah didalamnya” (As Syuaro: 13)

ولا تتبع السبل فتفرق بكم عن سبيله

“dan janganlah kalian mengikuti jalan jalan yang akan menyebabkan kalian terpecah pecah dari jalan Nya” (Al An’am: 153)

ان الذين فرقوا دينهم وكانو شيعا

“dan orang orang yang memecah belah agamanya dan mereka berkelompok kelompok” (Al An’am : 159)

Dalil dari Sunnah[17]

Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من اراد بحبوة الجنة فليلزم الجماعة, فان الشيطان مع الواحد, وهو من الاثنين ابعد

Barangsiapa yang menginginkan mencium bau syurga maka hendaklah berpegang teguh dengan jama’ah, karena syaiton bersama orang yang sendirian, dan sedangkan dari dua orang dia akan menjauh”[18]

من خرج من الطاعة و فارق الجماعة فمات ميتة جاهلية

“siapa yangkeluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari jama’ah maka dia mati dalam keadaan jahiliyah[19]

Perkataan salafus sholih[20]

Dari Tsabit bin ‘Ajlani Rohimahullah, dia berkata: “Aku mengetahui Anas bin Malik, Ibnu Musayyib, Hasan Al Bashri, Sa’id bin Jubair, As Sya’bi, Abrahim An Nakha’I, Atho bin Abi Rabah, Thawus, Mujahid, Abdullah bin Abi Mulaikah, Az Zuhri, Ma’khul, Qosim bin Abdurrohman, Atho Al Kharosani, Tsabit Albani, Hikam bin Uyainah, Ayub As Sakhtiyani, Hamad, Muhammad bin Sirin, Abu Amir -yang mana dia telah bertemu Abu Bakar As Siddiq-, Yazid Ar Ruqosi, dan Sulaiman bin Musa, mereka semua memerintahkanku untuk melazimi jama’ah dan melarangku dari para pengikut hawa nafsu”

Imam Al Auza’I Rahimahullah berkata: “bahwasanya dikatakan: “lima hal diatasnya para sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya yang baik: Menetapi Jama’ah, mengikuti Sunnah, memakmurkan masjid, membaca Al Qur’an, dan berjihad di jalan Allah.”

Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan

Talah Muatawati Hadits hadits yang menyebutkan bahwasanya umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ان اهل الكتابين افترقوا فى دينهم على ثنتين وسبعين ملة, وانّ هذه الامة ستفترق على ثلاثين وسبعين ملة كلها فى النار الا واحدة, وهى الجماعة

sesungguhnya dua Ahli Kitab (Yahudi dan Nashroni) terpecah menjadi 72 golongan, dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali satu, yaitu Al Jama’ah[21]

Dan dalam riwayat lain, disebutkan ketika Para Sahabat Rodhiyallahu ‘anhum bertanya siapakah mereka wahai Rosulullah? Maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ما انا عليه واصحابى

mereka yang mngikutiku dan sahabatku[22]

Penyimpangan dari keyakinan Ahlu Sunnah wal Jama’ah[23]

Penyimpangan dari keyakinan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah tidak lepas dari 2 keadaan:

  1. Penyimpangan terjadi dalam masalah pokok keyakinan, seperti Iman, Qodar, dan Sifat. Maka dalam hal ini mereka telah keluar dari Ahlu Sunnah Wal Jama’ah dan masuk ke dalam kelompok Bid’ah dan Sesat seperti Khowarij, Murji’ah, Jahmiyah, Mu’tazilah dsb.
  2. Penyimpangan terjadi dalam cabang pokok keyakinan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah dalam menta’wil dan berijtihad, maka dalam hal ini tidaklah seseorang keluar dari Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, akan tetapi mereka hanya salah, dan menyelisihi mereka (Ahlu Sunnah) dalam masalah furu’ (cabang).

Ikhtilaf (perbedaan)[24]

Allah ta’ala berfirman:

وَلاَ يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ  إِلاَّ مَن رَّحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ

“ Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.” (Hud: 118-119)

Umar bin Abdul Aziz Rohimahullah berkata:” Allah telah menciptakan orang orang yang dirahmatinya, agar supaya mereka tidak berselisih” dan inilah maksud firman Allah ta’ala: “ولذالك خلقهم”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah berkata: “Ahlu Rohmah adalah para pengikut para Nabi dalam perkataan dan perbuatan, mereka adalah Ahlu Qur’an dan Hadits dari umat ini, barang siapa yang menyelisihi mereka dalam sesuatu maka akan dijauhkan dari rahmat sesuai kadar (perselisihan)nya.

Allah ta’ala berfirman:

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَـئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (Al Imron: 115)

Imam Al Mazanni Rohimahullah berkata: “maka Allah mencela perselisihan, dan memerintahkan untuk kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah, kalau sekiranya perselisihan dalam agama  tidak tercela maka Allah tidak akan memerintahkan untuk kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah.

Dan ikhtilaf terbagi menjadi dua macam[25]:

  1. Ikhtilaf Tanawwu’: yaitu perbedaan yang tidak bertentangan, atau tidak saling menafikan, maka dua duanya adalah benar,dan tidak dilebihkan salah satunya kecuali dengan dalil. Yang ini terdapat beberapa bentuk:
    1. Perkataan atau perbuatan berbeda secara syar’I seperti perbedaan dalam sifat adzan, iqomat, doa doa iftitah dsb.
    2. Seluruh perkataan sesuai baik makna maupun hakikatnya, meskipun berbeda dalam pengibaratan seperti perbedaan penafsiran para ulama.
    3. Berubahnya makna perkataan yang tidak menafikan makna yang pertama, akan tetapi semuanya benar, seperti perbedaan dalam membaca Al Qur’an. (Qiro’ah Asyroh)
    4. Ikhtilaf Tadhodh: yaitu perbedaan yang saling meniadakan, karena adanya pertentangan, yang mengharuskan salah satunya yang benar. Hal ini terbagi menjadi 2 macam:
      1. Perbedaan dalam masalh aqidah dan ilmiyaat, inipun terbagi menjadi dua:
        1. Siapa yang sesuai dengan kebanaran, dan berhenti seseuai dengan Al  Qur’an dan Sunnah serta Ijam Salaful Ummah, juga akal yang jelas dan fithrah yang selamat, maka mereka adalah ahlu sunnah wal jama’ah.
        2. Siapa yang menyelisihi yang benar, maka ada dua macam :
          1. Siapa yang menentang kebenaran setelah dia mengetahuinya, dengan cara tidak meyakini maupun mengamalkannya, maka orang tersebut bisa jadi ahlu bid’ah atau bahkan kafir, sesuai dengan penyimpangannya.
          2. Siapa yang berijtihad dan mencurahkan segenap kemampuan untuk mencapai kebenaran akan tetapi dia tergelincir dan tidak tercapai dalam kebenaran seluruhnya maka dia mendapat udzur di dunia maupun akhirat.

Ibnu Taimiyah Rohimahullah berkata: “kesalahan yang diampuni ketika berijtihad adalah dalam masalah Khobariyah dan Amaliyah”

Kemudian beliau melanjutkan: “adapun takfir, maka yang benar bahwa orang yang berijtihan dari umat Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan maksud mencari kebenaran kemudian dia berbuat salah, maka dia tidak dikafirkan, akan tetapi dimaafkan kesalahannya, dan siapa yang jelas baginya apa yang datang dari Rosul, lalu dia menentang Rosul dan mengikuti selain jalannya orang beriman maka dia kafir, dan siapa yang mengikuti hawa nafsunya, dan tidak sungguh sungguh dalam mencari kebenaran, berbicara tanpa ilmu, maka dia adalah seorang yang beerbuat maksiat dan berdosa, terkadang fasiq, terkadang kebaikan baginya melebihi keburukannya”

Maka fonis kafir bagi seseorang berbeda beda tergantung perbedaan keadaan orang tersebut, tidak semuanya yang salah, berbuat bid’ah, bodoh, ataupun sesat menjadi kafir, tidak juga langsung difonis Fasik ataupun Ahli Maksiat.

  1. Perbedaan dalam masalah fiqih dan amaliyah, inipun terbagi menjadi dua macam:
    1. Perbedaan yang tidak diperbolehkan, yaitu perbedaan dalam masalah yang telah ditetapkan secara jelas oleh nash Al Qur’an dan Sunnah yang tidak ada pertentangan didalamnya, maka siapa yang menyelisihi nash perkataanya ditolak diingkari dan tidak diambil pelajaran bagi yang menyelisihi dalil.
    2. Perbedaan pendapat yang diperbolehkan, yaitu perbedaan yang tidak ada nash maupun ijma di dalamnya, maka kaum muslimin dalam hal ini terbagi menjadi 3 keadaan:
      1. Seorang Muslim yang awam, maka wajib baginya bertanya kepada seorang Ulama yang mengetahui Al Qur’an dan Sunnah yang terpercaya agamanya, tanpa disertai Taqlid buta.
      2. Seorang Tholibul Ilmi yang bisa memahami dalil dan paham pengambilan dalil ketika dijelaskan kepadanya, maka dia tidak boleh mengambil kecuali pendapat yang dia tahu dalilnya.
      3. Seorang ulama mujtahid, maka baginya melihat masalah dan mengutamakan yang ada hujjah atasnya baginya dan mengikutinya.

Dan kita diharuskan untuk mencurahkan segenap kemampuan untuk menjauhi segala bentuk perbedaan, karena syariat tidak datang untuk itu, bahkan melarang dan mencelanya. Allah ta’ala berfirman:

وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

“dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu” (Al Anfal: 64)

Maka itu merupakan sebab lemahnya umat.

Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu berkata: “dan perselisihan adalah buruk”

Wallahu ‘alam

 


[1] Irsyadul fuhul ila tahqiqul haq 1/95, tarikh tasyri’ hal. 71, Al Intishor Hal. 22

[2] HR Muslim No. 4822

[3] Hr Muslim No. 4830

[4] Lihat penjelasan lengkapnya dalam Mizanul Muslim Hal. 558-573)

[5] HR Bukhori (645) dan Muslim (650)

[6] Al Intishor Hal. 303

[7] Hr Bazzar dan At Thabrani

[8] HR Muslim (1848), Ahmad, Al Lalikai dan Abdur Rozaq.

[9] Lihat Al Intishor Hal. 306 dan 313

[10] Syarh Ushuli I’tiqodi Ahlu Sunnah wal Jama’ah (1/56)

[11] Dikeluarkan oleh Ahmad (4/126), Abu Dawud (4607), Tirmidzi (2676), Ibnu Majah (43) dll

[12] Dikeluarkan oleh Bukhori (5063) dan Muslim (1401)

[13] Dikeluarkan oleh Ahmad (2/188, 210) dan Ibnu Hibban (653)

[14] Al Intishor hal. 301

[15] As Syari’ah Hal. 9

[16] Imam Al Ajurri menyebutkan 19 tempat dalam Al Qur’an yang memerintahkan kita untk melazimi jama’ah dan menjauhi perpecahan.

[17] Imam Al Ajurri meyebutkan 31 hadits berkenaan dengan hal ini. (As Syari’ah Hal. 19)

[18] HR Ibnu Majah (2363) dan Al Hakim (1/114)

[19] HR Muslim (1848), Ahmad (2/296), Hakim (2/318), dan Ibnu Hibban hal. 6.

[20] Al Intishor Hal. 305

[21] Dikeluarkan oleh Ahmad (4/102),Abu Dawud (4586) dan yang lainnya.

[22] Dikeluarkan oleh Tirmidzi (2641) dan Al Hakim (1/128-129)

[23] Al Intishor Hal. 309-310

[24] Lihat penjelasannya dalam Al Intishor Hal. 306-307

[25] Intishor 309-312

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: