Fiqih Sahur

Sahur

Oleh : Nurwalad

Alumni Mahasiswa Islamic Center Al-Islam – Bekasi

Hukum Sahur

            Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan dan menganjurkan kepada orang yang hendak berpuasa agar makan sahur,[1] sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من أراد أن يصوم فليتسحر بشئ.

            “Barangsiapa yang ingin berpuasa, maka hendaklah ia bersabar dengan sesuatu.” [ HR. Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Abu Ya’la al-Bazar ].

            Makan diwaktu sahur adalah barakah, walaupun ia hanya minum seteguk air saja, maksud disini bukan harus dengan makan, jika ia bangun sahur namun ia tidak makan, hanya sekedar minum saja, maka ia belum dinamakan sahur, perlu diperhatikan bahwa maksud hadits disini adalah bangun diwaktu sahur walaupun hanya sekedar minum seteguk air saja, maka ia sudah dibilang sahur, karena bangun diwaktu sahur adalah barakah. [2]

            Dalam hadits lain dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

تسحروا فإن في السحور بركة

            “Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya diwaktu sahur itu terdapat barakah.” [ HR. Bukhari dan Muslim ].

            Hadits ini menunjukkan bahwa keharusan untuk sahur, karena padanya terdapat banyak barakah dan barakah ini harus dibiasakan untuk melakukannya dalam perkara-perkara amalan akhirat dan ia akan mendapat pahala dan dalam perkara dunia sahur juga sangat berguna bagi sehatnya badan.[3]

Keutamaan Sahur

  1. 1.     Sahur adalah barakah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

البركة في ثلاثة الجماعة والسحور والثريد.

            “Berkah itu terdapat pada tiga hal : berjama’ah, ats-Tsariid dan sahur.” [ HR. Ahmad ].

            Sanad pada hadits ini adalah dha’if, tapi oleh Tahabrani mengangkat hadits ini dari hadits Salman, kontek haditsnya sama dengan diatas.[4]

            Dalam hadits lain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إنّ الله جعل البركة في السحور والكيل.

            “Sesungguhnya Allah Ta’ala memberikan keberkahan melalui sahur dan takaran (timbangan).” [ HR. Thabrani dan Abu Nu’aim ].

            Dari Abdullah bin Harits dari seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam waktu itu beliau sedang sahur seraya berucap, “Sesungguhnya sahur itu adalah berkah yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada kalian, karenanya janganlah kalian meninggalkannya.” [ HR. An-Nasa’i dan Ahmad ].

Sahur merupakan berkah yang sangat jelas, karena ia merupakan bentuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekaligus memperkuat diri dalam menjalankan puasa, menambah semangat untuk menjalankan puasa dan terus menambahnya karena ia terasa ringan. Selain itu, sahur merupakan pembeda antara puasa umat Islam dengan puasa ahlul kitab, karena mereka puasa tanpa sahur.

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai al-Ghada’ al-Mubarak (makanan yang penuh dengan berkah), sebagaimana disebutkan dalam dua hadits al-Irbadh bin Sariyyah dan Abu Darda :

هَلُمَّ إلى الغَداء المُبارك : يعني السحور.

“Mari makan makanan yang penuh dengan berkah, yakni sahur.” [ HR. Ahmad, Abu Daud, an-Nasa’i dan Ibnu Hibban ].[5]

Apabila seorang hendak sahur, maka sediakanlah kurma dan makanlah dengannya, karena dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نعم سحور المؤمن التمر.

“Ya, sahurnya orang mukmin itu adalah kurma.” [ HR. Abu Daud ].

Hadits ini menerangkan bahwa sahurnya orang mukmin dengan kurma, bukanlah keharusan atau sebagai patokan bahwa sahur harus dengan menggunakan kurma, tetapi makan diwaktu sahur dengan menggunakan kurma adalah suatu bentuk terpuji, karena kurma adalah untuk menguatkan stamina badan diwaktu siang. Ada hadits yang shahih mengatakan : بيت لا تمر فيه جياع أهله , artinya  adalah “Sebuah rumah yang di dalamnya tidak ada sediaan kurma, maka pemilik rumah itu akan kelaparan.” Pada masa arab dahulu mereka menjadikan kurma itu sebagai bahan pokok makanan bagi mereka. Ini menunjukkan bahwa sahur dengan kurma adalah suatu bentuk  perbuatan terpuji, karena bentuk dari kata (نعم  ) adalah terpuji.[6]

  1. 2.     Allah Ta’ala dan Para Malaikat Bershalawat Kepada Orang-Orang Yang Makan Diwaktu Sahur

Berkah yang paling agung adalah bahwa Allah Ta’ala telah melimpahkan ampunan kepada orang-orang yang makan sahur serta menuangkan rahmat-Nya kepada mereka, disisi lain, para malaikat juga memohonkan ampunan bagi mereka seraya berdoa agar Allah Ta’ala mengampuni mereka, sehingga mereka termasuk dalam golongan orang-orang yang dibebaskan dari api neraka oleh Allah Ta’ala.

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

السحور أكلة بركة فلا تدعوه، ولو أن تجرع أحدكم جرعة من ماء فإن الله وملائكته يصلون على المتسحرين.

             “Sahur adalah makanan yang penuh dengan berkah, maka jangan kalian meninggalkannya sekalipun salah seorang diantara kalian hanya minum dengan seteguk air, karena sesungguhnya Allah dan para malikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.” [ HR. Ahmad ].

             Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang muslim tidak kehilangan pahala yang besar dari sisi Rabb-nya, dan sebaik-baik makan sahur seorang mukmin adalah kurma.[7]

Mengakhirkan Waktu Sahur

            Disunnahkan untuk mengakhirkan waktu makan sahur sampai menjelang terbit fajar, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Zaid bin Tsabit pernah makan sahur, setelah keduanya selesai makan sahur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat menunaikan shalat dalam durasi seseorang membaca lima puluh ayat al-Qur’an.

            Telah diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu dari Zaid bin Tsabit bahwa dia pernah berkata, “Kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berangkat shalat, maka saya berkata, “Berapa lama antara adzan dan shalat dan sahur ?, Beliau menjawab, “Kira-kira sama seperti mambaca lima puluh ayat.” [ HR. Bukhari dan Muslim ].

Hikmah Sahur

            Allah subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan kita semua untuk berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kita dari golongan Ahli Kitab. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya :

            “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [ QS. Al-Baqarah : 183 ].

            Pada awalnya waktu dan hukumnya sama dengan apa yang ditetapkan bagi Ahlul Kitab, yaitu tidak boleh makan, minum dan berhubungan badan, jika salah seorang diantara mereka tertidur, maka ia tidak makan sampai malam berikutnya.

            Kemudian hukum ini dihapuskan dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan sahur untuk membedakan antara puasa kita (umat Islam) dengan puasanya Ahlul Kitab.

            Dari Amru bion ‘Ash radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdabda :

فصل ما بين صيامنا وصيام أهل الكتاب أكلة السحر

            “Perbedaan antara puasa kita dengan puasa Ahlul Kitab adalah dari sisi sahurnya.” [ HR. Ahmad, Muslim, ad-Darimi dan an-Nasa’i ].

            Kemudian yang membedakan kita dengan mereka adalah dari sisi ifthar-nya (buka puasanya). Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdabda :

لا يزال الدين ظاهراً ما عجل الناس الفطر لأن اليهود والنصارى يؤخرون

            “Agama Islam akan selalu nampak, selagi seorang hamba itu menyegerakan berbuka puasa, karena orang-orang Yahudi dan Nashrani mereka mengakhirkannya.” [ HR. Abu Daud ].[8]

 

 

Referensi :

  1. Al-Maktabah asy-Syamilah :
  2. “At-Taisiir bisyarhi al-Jaami’ ash-Shaghiir.” Al-Imam al-Hafizh Zainuddien Abdurra’uf al-Munawi.
  3. “Ihkaamul Ahkaam Syarh ‘Umdatul Ahkaam.” Taqiyyuddin Abul Fath Muhammad bin ‘Ali din Wahb bin Muthii’ al-Qusyairi.
  4. “Fathul Baari.” Ibnu Hajar al-Asqalani.
  5. “Syarhu sunan Abu Daud.” Abdul Muhsin al-‘Abbad.
  6. “Al-Ushuul ats-Tsalatsah.” Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab.

“Puasa Bersama Nabi.”Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dan Syaikh al-Hasan Abdul Hamid. Hal : 89. Darus Sunnah.


[1] “Puasa Bersama Nabi.” Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dan Syaikh al-Hasan Abdul Hamid. Hal : 92. Darus Sunnah.

[2] “At-Taisiir Bisyarhi al-Jaami’ ash-Shaghiir.” Al-Imam al-Hafizh Zainuddien Abdurra’uf al-Munawi.

[3] “Ihkaam al-Ahkaam Syarh ‘Umdatul Ahkaam.” Taqiyyuddin Abul Fath Muhammad bin ‘Ali din Wahb bin Muthii’ al-Qusyairi.

[4] “Fathul Baari.” Ibnu Hajar al-Asqalani.

[5] “Puasa Bersama Nabi.” Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dan Syaikh al-Hasan Abdul Hamid. Hal : 88. Darus Sunnah.

[6] “Syarhu Sunan Abu Daud.” Abdul Muhsin al-‘Abbad.

[7] “Puasa Bersama Nabi.” Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dan Syaikh al-Hasan Abdul Hamid. Hal : 89. Darus Sunnah.

[8] “Al-Ushuul ats-Tsalatsah.” Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: