Menjaga Lisan Bagi Orang Yang Berpuasa

Menjaga Lisan Bagi Orang Yang Berpuasa

Oleh : Nurwalad

Alumni Mahasiswa Islamic Center Al-Islam – Bekasi

حدثني زهير بن حرب، حدّثنا سفيان بن عيينة عن أبي الزّناد، عن الأعرج، عن أبي هريرة رضي الله عنه، روايةً، قال : (( إذا أصبح أحدكم يوماً صائماً، فلا يرفث ولا يجهل، فان امرؤ شاتمه أو قاتله، فليقل : إني صائم، إني صائم)).

“Telah diceritakan kepadaku Zuhair bin Harb, telah diceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari Abi Zinad dari al-A’raj dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari satu riwayat, ia berkata : “Apabila salah seorang diantara kalian berpuasa sehari penuh, maka janganlah ia berkata kotor dan jangan berbuat kejahilan, maka apabila ada seseorang yang akan mencacinya atau menghardiknya, maka katakanlah : “Aku sedang puasa…, aku sedang puasa…” [ HR. Muslim ].[1]

Takhrij Hadits

            Zuhair bin Harb beliau adalah Zuhair bin Harb bin Syaddad al-Harsyi, beliau disebut Abu Khaitsamah an-Nasa’i, tuan dari Bani al-Harsyi bin Ka’ab bin ‘Amir bin Sha’sha’ah, yang bertempat di Baghdad. Beliau seorang tabi’uttabi’in, yang lahir pada tahun 160 H dan wafat pada tahun 234 H.

            Yang meriwayatkan ke beliau adalah : Bukhari, Muslim, Abu Daud, an-Nasa’i dan Ibnu Majah. Ibnu Hajar mengatakan, beliau orangnya tsiqah dan tsabat. Dan Imam adz-Dzahabi mengatakan, beliau adalah al-Hafizh, sedangkan Ya’qub bin Syaibah mengatakan, ia orang yang lebih tsabat dibandingkan dengan Abu Bakar bin Abi Syaibah.

            Kemudian Sufyan bin ‘Uyainah, beliau adalah Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi Imran. Lahir pada tahun 107 H, wafat 198 di kota Mekah. Beliau pertengahan dari atba’uttabi’in. Yang meriwayatkan ke beliau adalah : Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah.

            Pandangan Ibnu Hajar ke beliau, bahwa ia orang yang tsiqah, hafizh, faqih, seorang imam hujjah. Pernah sewaktu beliau mengalami perubahan pada hafalannya yang cacat, dikarenakan beliau sudah tua. Akan tetapi beliau tetap dibilang tsiqah. Dan pada masa Amru bin Dinar beliau adalah orang yang paling tsabat.

            Disamping Imam adz-Dzahabi juga mengatakan bahwa, beliau adalah orang yang banyak ilmunya, tsiqah, tsabat, hafizh dan juga seorang imam.

            Kemudian Abu Zinad, nama beliau adalah Abdullah bin Dzakwan al-Qurasyi Abu Abdirrahman al-Madini. Beliau lebih dikenal dengan Abu Zinad, beliau adalah tuan daripada Ramlah binti Syaibah bin Rabi’ah. Beliau tingkat kelima dari shigharuttabi’in. Beliau wafat pada tahun 130 H. Yang meriwayatkan ke beliau adalah : Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah.

            Beliau dipandang oleh Ibnu Hajar adalah orang yang tsiqah dan faqih. Menurut Imam adz-Dzahabi beliau adalah seorang imam yang tsiqah dan tsabat.

            Kemudian al-A’raj, nama beliau Tsabit bin ‘Iyadh al-Ahnaf, biasa dipanggil al-A’raj. Beliau tuan dari Abdurrahman bin Zaid bin al-Khathab. Beliau tingkatan ketiga dari pertengahan kalangan tabi’in. Yang meriwayatkan ke beliau adalah : al-Bukhari, Muslim, Abu Daud dan an-Nasa’i.

            Ibnu Hajar mengatakan, beliau orangnya tsiqah. Dan Imam adz-Dzahabi mengatakan, beliau orang yang jujur.

            Kemudian Abu Hurairah ad-Duusi al-Yamani radhiyallahu ‘anhu. Beliau salah seorang sahabat yang hafizh. Mengenai namanya terdapat perbedaan pendapat, begitu pula dengan nama ayahnya, banyak perbedaan pendapat pula. Beliau wafat pada tahun 57 H, ada yang mengatakan 85 H dan ada juga yang mengatakan 59 H.

            Yang mengambil riwayat dari beliau adalah : Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah.

            Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, beliau adalah sahabat Nabi sahllallahu ‘alaihi wa sallam. Imam adz-Dzahabi mengatakan, beliau sahabat Nabi sahllallahu ‘alaihi wa sallam yang hafizh, tsabat, cerdas dan seorang mufti. Beliau adalah orang yang selalu menjalankan amalan ibadah puasa dan selalu mengerjakan qiyamullail.[2]

Penjelasan Hadits

            Defenisi puasa menurut bahasa ialah menahan. Sedangkan menurut syari’at ialah menahan dengan niat ibadah dari makanan, minuman, hubungan suami dan istri dan semua hal-hal yang membatalkan puasa, sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.[3]

            Kata ar-Rafats maknanya adalah suatu perkataan seorang lelaki setiap apa yang ia inginkan dari seorang wanita, dan pada dasar dari ar-Rafats adalah perkataan yang keji. Kemudian al-Jahlu maknanya adalah perkataan buruk dan keji.[4]

            Pada hakekatnya puasa adalah ada yang mengatakan benteng dari api neraka dan ada pula yang mengatakan benteng dari maksiat, kedua-duanya itu bisa diterima, maka puasa adalah sebab seseorang itu selamat dari azab api neraka dan juga selamat dari melakukan hal maksiat, karena seseorang yang sedang berpuasa itu ia tau akibat yang akan ia tinggalkan nantinya, oleh karena itu ia terhalang dari perbuatan yang diharamkan. Dan sebaliknya, jika ia sedang puasa, lemas, tidak bisa menahan syahwatnya, berarti itu disebabkan perbuatan maksiat yang ia lakukan.

Apabila seseorang itu sedang menjalankan ibadah puasa, maka ia harus menghindarkan diri dari perkataan yang keji dan menjauhkan diri dari melakukan kerusakan. Adapun puasa dalam syari’at maknanya adalah menahan diri dari makan, minum dan meninggalkan hubungan badan antara suami dan istri di siang hari. Dan apabila ia sudah meninggalkan semua larangan itu dan hendak meraih ridha Allah Ta’ala semata dan bersungguh-sungguh berniat ikhlas untuk melakukannya, maka inilah yang dinamakan puasa dalam syari’at yang telah disepakati oleh para ulama.[5]

Ketika seseorang itu berpuasa, kemudian ada orang yang akan mengganggunya, maka katakanlah “Aku sedang puasa”, karena kalimat “Aku sedang puasa”[6] mengandung dua sisi, sisi pertama yaitu, ia berbicara kepadanya dan yang kedua adalah ia berkata kepada dirinya sendiri (dalam hati), maksudnya adalah agar ia berfikir bahwa ia sedang menjalankan ibadah puasa dan janganlah melawannya, karena melakukan hal itu akan menyebabkan terhapusnya pahala amalanmu dan yang mendapatkan pahala adalah orang yang tidak melakukan hal itu.[7]

Sebenarnya bau mulut orang yang sedang berpuasa itu wangi disisi Allah Ta’ala. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فوالذي نفس محمد بيده ! لخلفة فم الصائم أطيب عنده، من ريح المسك.

                        “Sungguh, demi jiwa Muhammad berada di tangan-Ku ! Bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi disisi Allah Ta’ala daripada wangi minyak kesturi.” [ HR. Muslim ].[8]

Dan jika mulutnya itu ia lakukan untuk perbuatan keji dan kotor pada saat puasa, maka ia termasuk orang yang merugi.

Ibnu Juraij mengatakan, aku berkata kepada Atha’ : “Aku menyampaikan kepadamu bahwa jika seseorang itu  diajak untuk makan, hendaklah ia mengatakan “Aku sedang puasa?”, ia berkata : “Kami mendengar Abu Hurairah mengatakan, “Apabila kamu lagi puasa, maka janganlah kamu mencaci orang dan melakukan hal buruk pada orang lain, karena kejahilan itu bisa jadi akan menimpamu, dengan demikian, maka katakanlah, “Aku sedang puasa.” Inilah yang dikatakan beberapa ulama, yaitu Qatadah dan az-Zuhri. Jadi makna “Aku sedang berpuasa.” Maksudnya adalah menyebutkan di dalam hatinya dan tidak dijelaskan dengan ucapan.

Orang yang sedang menjalankan ibadah puasa harus mengatakan pada dirinya sendiri bahwa “Aku sedang puasa” dan tidak menjelaskannya kepada orang lain, jika seseorang itu sedang puasa, maka bisa jadi bukanlah pahala yang didapatkannya, namun lapar dan dahaga disiang hari dan tidak mendapatkan pahala dikarenakan riya’, karena puasa adalah amalan yang tidak dijelaskan dengan ucapan, karena Allah Ta’ala lah yang akan memberikan ganjarannya.

Kewajiban orang yang sedang berpuasa adalah menjaga lisannya dari perkataan kotor dan juga menjauhkan dari perkataan bohong.[9] Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda :

من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

                        “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan ia masih melakukannya, maka Allah Ta’ala tidak memperdulikan baginya meninggalkan makan dan minumnya (disiang hari). [ HR. Bukhari dan Abu Daud selafazh dengannya ].[10]

                        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa yang dimaksud puasa adalah meniggalkan segala apa-apa yang dilarang oleh Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, dan bukan hanya sekedar menahan dari makan dan minum di siang hari saja.

                        Perlu diketahui, bahwa yang dimaksud puasa adalah benteng untuk tidak melakukan perbuatan maksiat dan juga menjadi benteng dari api neraka. Makna puasa lain adalah untuk meraih keridhaan Allah subhanahu wata’ala, dan barangsaiapa yang mencari keridhaan-Nya, maka antara ia dengan Allah tidak ada hijab (batas atau penghalang), hijab disini ada tiga, yaitu : akhlaknya, dunia dan keperibadiannya. Dunia dan akhlak kedua ini adalah yang cenderung kepada kepribadian. Dan jika ia dapat menolak keperibadiannya itu untuk meraih ridha Allah, maka ia dapat menolak yang lainnya.[11]

                        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallami mengatakan “Hendaklah memperbanyak kedermawanannya di bulan Ramadahan untuk meraih keutamaannya dan bersyukur dibulan tersebut, karena Malaikat turun dimalam lailatul yang penuh dengan keberkahan dan ramhat dari Rabb-nya.[12]

 

Referensi

 

  1. Al-Maktabah asy-Syamilah :

a. “Al-Jarhu wa at-Ta’diil.” Ibnu Hajar al-Asqalani.

b. “Bahrul Fawaaid.” Muhammad bin Abi Ishaq bin Ibrahim bin Ya’qub al-Kilabadzi.

c. “At-Tamhiid lima fiel Muwatha’ minal Ma’aani wal Asaaniid.” Abu Umar bin Yusuf bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Barr bin ‘Aashim.

d. “Asy-Syarh al-Mukhtashar ‘ala Buluughil Maraam.”

e. “Hasyiyah as-Sanadi ‘ala shahihil Bukhari.” Muhammad bin Abdul Hadi as-Sanadi al-Madini, al-Hanaf dan Abu al-Husain.

  1. “Al-Minhaaj Shahih Muslim.” Al-Imam Muhyiddin an-Nawawi. Hal : 270. Daarul Ma’rifah-Beirut-Lebanon.
  2. “Minhajul Muslim.” Abu Bakar Jabir al-Jazairi.
  3. “Al-Minhaaj Shahih Muslim.” Al-Imam Muhyiddin an-Nawawi. Daarul Ma’rifah-Beirut-Lebanon.

“Syarhu as-Sunnah.”Abi Muhammad al-Husain bin Mas’ud an-Nawawi. Hal : 453. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah-Beirut.


[1] “Al-Minhaaj Shahih Muslim.” Al-Imam Muhyiddin an-Nawawi. Hal : 270. Daarul Ma’rifah-Beirut-Lebanon.

[2] “Al-Jarhu wa at-Ta’diil.” Ibnu Hajar al-Asqalani.

[3] “Minhajul Muslim.” Abu Bakar Jabir al-Jazairi. Hal :

[4] “Bahrul Fawaaid.” Muhammad bin Abi Ishaq bin Ibrahim bin Ya’qub al-Kilabadzi.

[5] “At-Tamhiid lima fiel Muwatha’ minal Ma’aani wal Asaaniid.” Abu Umar bin Yusuf bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Barr bin ‘Aashim.

[6] “Al-Minhaaj Shahih Muslim.” Al-Imam Muhyiddin an-Nawawi. Hal : 270. Daarul Ma’rifah-Beirut-Lebanon.

[7] “Syarhu as-Sunnah.” Abi Muhammad al-Husain bin Mas’ud an-Nawawi. Hal : 453. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah-Beirut.

[8] “Al-Minhaaj Shahih Muslim.” Al-Imam Muhyiddin an-Nawawi. Hal : 271. Daarul Ma’rifah-Beirut-Lebanon.

[9] “At-Tamhiid lima fiel Muwatha’ minal Ma’aani wal Asaaniid.” Abu Umar bin Yusuf bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Barr bin ‘Aashim.

[10] “Asy-Syarh al-Mukhtashar ‘ala Buluughil Maraam.”

[11] “Bahrul Fawaa’id.” Muhammad bin Abi Ishaq bin Ibrahim bin Ya’qub al-Kilabadzi.

[12] “Hasyiyah as-Sanadi ‘ala shahihil Bukhari.” Muhammad bin Abdul Hadi as-Sanadi al-Madini, al-Hanaf dan Abu al-Husain.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: