Para Penggenggam Bara

HADITS TENTANG

PARA PENGGENGGAM BARA

( Oleh: Jumal Ahmad bin Hanbal )

 

حَدَّثَنَا أَبُوْ الرَّبِيْعِ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْعَتَكِيُّ, حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ, عَنْ عُتْبَةَ بْنِ أَبِي حَكِيْمٍ, قَالَ: حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ

جَارِيَةَ اللَّخْمِيُّ, حَدَّثَنِي أَبُوْ أُمَيَّةَ الشَّعْبَانِيُّ, قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيَّ, فَقُلْتُ: يَاأَبَا ثَعْلَبَةَ, كَيْفَ تَقُوْلُ فِيْ هَذِهِ الآيَةِ: عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ [المائدة: 105] قَالَ: أَمَا وَاللهِ لَقَدْ سَألْتَ عَنْهَا خَبِيْرًا, سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُوْلَ اللهِ r, فَقَالَ: ((بَلْ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوْفِ, وَتَنَاهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ, حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّ مُطَاعًا, وَهَوًى مُتَّبَعًا, وَدُنْيَا مُؤْثِرَةً, وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِيْ رَأْيٍ بِرَأْيِهِ, فَعَلَيْكَ)) –يعني- ((بِنَفْسِكَ, وَدَعْ عَنْكَ الْعَوَّامَ, فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ, الصَّبْرُ فِيْهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ, لِلْعَامِلِ فِيْهِمِ مِثْلُ أَجْرٍ خَمْسِيْنَ رَجُلاً يَعْمَلُوْنَ مِثْلُ عَمَلِهِ)) وَزَادَنِي غَيْرُهُ, قَالَ: يَارَسُوْلَاللهِ, أَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنْهُمْ؟ قَالَ:(( أَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنْكُمْ))[1]

Terjemahan Hadits:

Dari Abu Rabi’ Sulaiman bin Dawud al ‘ataky, telah menceritakan kepada kami Ibnu Mubarak, dari Utbah bin Abi Hakim telah menceritakan kepadaku Amru bin Jariyah Al Lakhmy, telah menceritakan kepadaku Umayah Asy Sya’bani: Aku mendatangi Abu Tsa’labah al-Khusyaniy, lalu aku katakan kepanya, “Apa yang anda perbuat terhadap ayat ini? “Ayat yang mana? Tanyanya kepadaku. Aku katakan padanya, “عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُم ” Demi Alloh! sungguh engkau telah menanyakan khabar yang aku telah menanyakannya kepada Rasulullah r .” Maka beliau bersabda, “Bahkan perintahkanlah oleh kamu sekalian untuk berbuat ma’ruf nahi mungkar, sehingga jika engkau telah melihat manusia mentaati sifat kikir, hawa nafsu telah liar diumbar, dunia diutamakan, dan setiap orang yang mempunyai pendapat (pemikiran) telah bangga dengan pendapatnya sendiri, maka hendaklah kalian menjaga diri kalian sendiri dan meninggalkan orang-orang awwam, karena sungguh setelah itu akan ada hari-hari (yang sulit dan berat) (sehingga karena sulit dan beratnya) orang yang sabar (di dalam memegang kesepakatan atas kebenaran)bak menggenggam bara api. Orang yang beramal (pada zaman itu, mendapatkan pahala) seperti pahala lima puluh kalinya orang yang beramal diantara kamu sekalian.” Dalam riwaya tlain ada tambahan, Para sahabat ketika itu bertanya kepada Rasulullah, “lima puluh kalinya kami atau mereka?” Rasulullah menegaskan, “Bahkan lima puluh kalinya kamu sekalian (yakni para sahabat).”

Hadits ini diriwayatkan Imam Abu Dawud dalam musnadnya no 4333 dalam kitab Al Fitan wal Malahim Sanad Hadits ini Dhoif karena Utbah bin Abi Hakim dinilai banyak salahnya oleh Ibnu Hajar dan diperseselisihkan ketsiiqahannya oleh Imam Az-Zahabi (Wafat 140 H), Ibnu Mubarak adalah orang yang Tsiqah, Alim dan Mujahid terkumpul padanya perangai-perangai yang baik (Wafat 118 H). Amru bin Jariyah Al lakhmy As Sami adalah orang yang maqbul, Abu Umayyah Asy Sya’bani dikatakan bahwa beliau adalah Abdullah bin Akhamir termasuk orang yang tsiqah dan maqbul, Abu Tsa’labah yang namanya banyak diperselisihkan diantaranya: Jurtsumah, Jurtuum bin Lasir bin Wabrah, Jurtsum, Laasir bin Jurtsum (Wafat 75 H), begitu juga nama Bapaknya banyak diperselisihkan diantaranya: Nasir, Nasib, Jurhum.

juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi no 73 dalam kitab al-Fitan dengan redaksi yang berbeda, at-Tirmidzi berkata: Hadits ini Hasan Gharib dari jalan Ismail bin Musa Al-Fazary al-Kufiyyu dari Umar bin Syakir dari Anas bin Malik. Ismail bin Musa adalah orang yang shaduq tetapi beliau berfaham si’ah (Wafat 245 H), Umar bin Syakir di dhoifkan oleh Ibnu Hajar dan Abu Hatim tetapi di tsiqahkan oleh Ibnu Hibban.Syaikh Nasiruddien Al-Bani menshahihkan hadits tersebut dalam Shahih Sunan At Tirmidzi..

Kandungan Hadits

Hadits ini mengandung beberapa perkara-perkara berikut diantaranya:

Pertama. Perintah melazimi Musyawarah

Rasulullah telah mengisyaratkan bahwa ada keadaan dimana Amar Ma’ruf Nahi Mungkar tidak lagi berarti. Keadaan dimana manusia tidak lagi mempan terhadap seruan peringatan, nasihat dan pelurusan, mereka telah menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhan-nya yang baru, dunia begitu diutamakan dan meyedot seluruh perhatian mereka, hasilnya pun benar-benar mereka nikmati di dunia tanpa ada yang mereka simpan dan sisakan untuk akhirat sehingga membuat mati sistem musyawarah yang sangat  ditekankan oleh Alloh U  padahal  musyawarah adalah perkara yang sangat  penting untuk memperkecil dan menghindari jalan-jalan syaithan yang  selalu menghalangi maka hendaknya seorang pemimpin tidak memutuskan suatu perkara sendiri saja sepanjang masih bisa mengajak musyawarah para bawahannya.

Jika musyawarah sudah tidak bisa dijadikan tradisi lagi dan orang-orang lebih suka dengan pendapat dan pemikirannya sendiri, maka Nabi r menganggap hal itu sebagai aafat mujtama’ (bencana suatu masyarakat), sehingga menjaga diri sendiri itu lebih baik dari pada berada pada masyarakat yang berkharasteristik seperti itu.

Kedua. Perintah untuk Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Amar Ma’ruf Nahi Mungkar termasuk perkara yang agung dan hendaknya maslahat yang didapat lebih baik dari pada madharatnya. Alloh memuji orang-orang yang selalu berbuat kebaikan dan mencela orang-orang yang selalu berbuat rusak bukan pada tempatnya sehingga mafsadah dari Amar Ma’ruf Nahi Mungkar lebih besar dari pada maslahatnya Alloh U berfirman:

يَأيها الذين آمنوا عليكم أنفسكم لا يضركم من ضل إذا هتديتم

Dan hidayah akan menjadi sempurna dengan melaksanakan kewajiban, apabila seorang mukmin telah menunaikan kewaajiban Amar Ma’ruf Nahi Mungkar maka tidak akan berpengaruh baginya kesesatan.

Dalam hal ini ada dua golongan manusia yang berlebih–lebihan:

  1. segolongan orang yang meniggalkan kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Mungkar karena salah menafsirkan ayat diatas. Abu bakar berkata dalam khutbahnya; seseungguhnya kalian membaca ayat ini:

يَأيها الذين آمنوا عليكم أنفسكم لا يضركم من ضل إذا هتديتم1[2]

Tetapi kalian tidak meletakkannya pada tempatnya, sunggh aku telah mendengar Nabi bersabda:

إنّ الناس إذا رأو المنكر فلم يغيروه او شك أن يعمهم الله بعقاب منه [3]

2. golongan keduia orang yang ingin berAmar Ma’ruf Nahi Mungkar dengan lisan atau tangan secara mutlaq tanpa dasar ilmu, hilm dan kesabaran serta observasi mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang mampu dilaksanakan dan mana yang tidak mampu dilaksanakan. Mereka ber Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dengan meyakkini bahwa mereka telah melakukan ketaatan pada Alloh dan Rasul-Nya padahal; mereka telah melampaui batas, seperti yang dilakukan oleh para Ahli Bid’ah dan Hawa Nafsu seperti Khawarij, Mu’tazilah dan Rafidhah sehinngga kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada maslahatnya, oleh karena itu Nabi memerintahkan untuk bersabar menghadapi pemimpin yang jahat, dan melarang dari membunuh mereka selama mereka masih melaksanakan shalat.[4]

Hukum Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Hukum Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Fardhu Kifayah. Jika sudah ada orang yang melaksanakannya secara  memadai maka yang lainnya sudah gugur kewajibannya. Namun, jika semua meninggalkannya maka setiap orang yang memungkinkan untuk melakukannya mendapat dosa, kecuali orang yang memiliki udzur. Selanjutnya, ia bisa berubah hukumnya menjadi Fardhu ‘Ain, misalnya jika kemungkaran itu terjadi di suatu tempat yang hanya diketahui oleh satu orang saja (maka hal itu menjadi Fardhu ‘Ain baginya), atau jika tidak mungkin ada yang bisa menghilangkannya kecuali dia. Misalnya seseorang yang melihat istrinya atau anaknya atau budaknya melakukan kemungkaran.[5]

Aqwal Ulama’ tentang Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Para ulama mengatakan “kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Mungkar ini tidak bisa gugur karena anggapan bahwa peringatan yang diberikan seseorang tidak akan di terima. Sekalipun seseorang itu menyangka demikian, dia tetap memiliki  kewajiban untuk melakukan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Alloh berfirman :

Dan tetaplah memberi peringatan, Karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman [6].

Para ulama mengatakan “seseorang yang melakukan Amar Ma’ruf  Nahi Mungkar tidak disyaratkan harus sempurna keadaannya; yaitu harus telah melaksanakan apa yang di perintahkan dan menjauhi apa yang dilarang. Dia tetap memiliki kewajiban untuk memerintahkan perbuatan ma’ruf sekalipun dia masih melakukan hal yang sebaliknya. Sebab, dalam hal ini terdapat dua bentuk kewajiban yang harus dia lakukan; memerintahkan diri sendiri untuk berbuat ma’ruf dan mencegah diri sendiri untuk berbuat mungkar; serta memerintahkan dan mencegah hal yang sama terhadap orang lain. Jika salah satunya sudah dia kerjakan, tidak berarti bahwa yang satunya sudah gugur darinya”[7]

Para ulama juga mengatakan “kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Mungkar ini tidak hanya berlaku bagi para penguasa atau aparat pemerintah, akan tetapi ia menjadi tugas setiap individu muslim. Orang yang mengetahui apa yang diperintahkan dan mengetahui apa yang dilarang adalah yang memiliki kewajiban untuk memerintah dan melarang. Jika berkenaan dengan hal-hal yang jelas,  seperti shalat, puasa, zina, minum khamar, dan sebagainya maka sudah tentu setiap Muslim tahu   akan sesuatu itu berkenaan dengan perbuatan atau perkataan yang rumit serta hal-hal yang berkaitan dengan ijtihad, dimana orang awam tidak mengetahui persoalan-persoalan seperti ini maka mereka tidak memiliki hak mengingkari hal-hal seperti itu. Hak itu hanyalah dimiliki para ulama.”[8]

Sudah seyogyanya bagi orang yang menginginkan akhirat dan selalu berusaha mencari ridha Alloh U, untuk benar-bemar memperhatikan masalah ini, sebab, manfaatnya sangatlah besar, apalagi sebagian besar dari persoalan ini sudah diabaikan. Orang yang mencegah kemungkaran tidak perlu merasa khawatir terhadap ketinggian martabatnya di sisi Alloh U.

Metode-metode Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

  1. dengan cara lembut, sebagaimana kisah ketika seorang Badui datang ke masjid Rasul kemudian ia kencing didalamnya, para sahabat marah dan hampir memukulnya tetapi Nabi menahan  mereka dan mengatakan  “ini adalah  rumah Alloh tidak sepantasnya engkau kencing disini.” Kemudian Badui tadi mengatakan : “Ya Alloh rahmatilah aku dan Muhammad dan jangan rahmati yang lain.”
  2. dengan cara keras, sebagaimana yang dilakukan Nabi ketika melihat seseorang memakai cincin dari emas beliau langsung melepasnya.
  3. dengan cara melihat madharat yang lebih, seperti yang dinasihatkan Ibnu Taimiyah kepada murid-murid beliau ketika mereka ingin melarang kaum Tartar yang sedang mabuk, beliau mengatakan “mabuk mereka lebih baik daripada sadar mereka, karena jika mereka sadar akan banyak korban dari kaum muslimin.”[9]

Ketiga. tasyji’ (dorongan, motivasi) untuk tetap beramal dan bersabar

Jika manusia sudah ber-akhlaq seperti yang disebutkan dalam hadits diatas, maka Rasulullah telah memberikan solusi atau jalan keluarnya, sekaligus memberikan tasyji’ (dorongan, motivasi) untuk tetap beramal dan bersabar, sampai tasyji’ beliau menjadikan para sahabat heran dan konfirmasi ulang kepada Beliau.

Keempat. Maksud seperti Pengenggam Bara

Berkata At Thibi: ” Maknanya sebagaimana seseorang yang memegang bara tidak bisa sabar karena tangannya akan terbakar, begitu juga Ahlu Dien pada hari itu tidak mampu untuk berteguh terhadap agamanya karena merebaknya ma’siat dan tersebarnya kefasikan dan lemahnya iman.” Berkata Al Qaari: “Maknanya adalah tidak mungkin seseorang mampu memegang bara kecuali dengan kesabaran prima dan ia akan merasa sangat sakit (ketika memegangnya) begitu juga orang-orang pada masa itu tidak tergambar keteguhan mereka pada ad dien dan sinar cahaya iman mereka kecuali dengan kesabaran yang besar,” [10]

Kelima Maksud mendapat pahala 50 Sahabat

Yusuf Qardhawi menjelaskan mengapa orang-orang yang hidup dan beramal pada zaman itu mendapatkan pahala hingga lima puluh kali pahala para Sahabat, karena sulitnya untuk beramal dan bersabar terhadap ujian di dalam mengamalkan dien ketika itu, beliau mensitir sebuah hadits:

تَجِدُوْنَ لِلْخَيْرِ أَعْوَانًا وَلاَ يَجِدُوْنَ لِلخَيْرِ أَعْوَانَــاً

“Kamu sekalian (wahai para Sahabat-ku) mendapatkan penolong-penolong untuk berbuat kebajikan, (sedang mereka) tidak mendapatkan penolong dalam melaksanakan kebajikan.”

Para Sahabat beramal ketika Rasulullah r ada di tengah-tengah mereka, ayat turun memberi penilaian, sanjungan dan teguran kepada mereka, suasana untuk berbuat kebajikan marak di setiap sudut, sedang generasi belakangan yang mendapatkan lima puluh kali pahala mereka itu beramal di saat Nabi tinggal didapati dalam sirah dan sunnah. Al Quran sudah tidak turun lagi, itupun penafsiran manusia terhadapnya bermaca-macam, dan suasana tidak mendukung untuk berbuat kebajikan, bahkan kemaksiatan merata menggerogoti ketahanan iman dan akhlaq mereka.

Mengomentari pahala 50 sahabat di dalam kitab Fathul Wadud dikatakan bahwa yang dimaksud seperti pahala 50 saahbat adalah untuk amal-amal yang berat untuk menunaikannya ketika itu dan tidak secara mutlaq karena dalam suatu hadits disebutkan

لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مد أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ

“Sekiranya kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud maka tidak akan sampai (pahalanya) seseorang dari mereka dan tidak pula setengahnya.”

Karena para Sahabat mempunyai keutamaan dari yang lainnya secara mutlaq.

Berkata Syaikh Izzuddien bin Abdus Salam: hal ini tidak disebukan secara mutlaq tetapi di dasari atas dua kaedah, pertama bahwa sebuah amal menjadi mulia dengan buah dari amal tersebut, kedua keterasingan di akhir-akhir Islam sama seperti keterasingannya di awal-awal Islam atau sebaliknya. Nabi  besabda:

لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مد أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ

“Sekiranya kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud maka tidak akan sampai (pahalanya) seseorang dari mereka dan tidak pula setengahnya.”

Hal itu disebabkan infaq ketika awal-awal Islam buahnya adalah kemenangan Islam dan tingginya kalimat Alloh yang buahnya berbeda dengan Infaq setelah masa itu, demikian juga dalam berjihad dengan jiwa orang-orang belakangan tidak akan sampai pada keutamaan yang telah dicapai orang-orang terdahulu karena sedikitnya personel serta penolong mereka, begitu juga orang yang berjihad dengan mengorbankan dirinya dan ia tidak punya kesempatan meminta bantuan dari orang lain tidak sama ketika ia tidak ada masaqqah seperti itu.Karena itu Nabi bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهــَادِ كَــــلِمَةُ الْحَقِّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad yang paling  utama adalah mengatakan yang haq kepada penguasa yang jahat.”

Nabi menjadikannya jihad yang lebih Afdhol karena prediksi ia tetap hidup kecil, adapun Nahi mungkar diantara kaum muslimin dan menerapkan si’ar-si’ar Islam berat untuk orang-orang mutaakhirin karena tidak adanya penolong dan banyaknya kemungkaran diantara mereka seperti kemungkaran penguasa yang jahat dan merebaknya kemaksiatan karena itu Nabi bersabda:

يَكُوْنُ الْقَــــابِضُ عَلَى دِيْنِهِمْ كَــــالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

Mereka tidak bisa beristiqamah karena kesusahan dan kepayahan  selalu bertambah demikian juga yang dihadapi mutaakhirin dalam menjaga diennya, yang hal ini tidak dihadapi orang-orang terdahulu karena mereka mempunyai banyak  penolong dan tidak ada kemungkaran dimasa mereka.[11]

Beruntunglah orang-orang yang tetap sabar dan istiqamah menapaki jalan para salaf ash-sholih dan tetap berpegang teguh padanya sekalipun ia harus mengigitnya dengan gigi geraham dan ia harus bersabar ibarat menggenggam bara.

 

Referensi:

  1. Majmu’ Fatawa, Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, Dar Wafa’ 1419 H
  2. Syarah Hadits Ar Ba’in, kompilasi empat ulama besar, Pustaka Arafah, 2007 M
  3. Aunul Ma’bud syarah Musnad Imam Dawud, Syaikh Abu Thayyib Muhammad Syamsul Haq Al ‘Azim Abady, Dar Hadits, 1422 H
  4. Tuhfatl Ahwadzi syarah musnad imam at Tirmidzi, Syaikh Abil Ula Muhammad Abdurrahman bin Abdur Rahim Al Mubarakfuri
  5. Tafsir Al Quran Al Azim, Abu Fida’ Ismail bin Katsir, Maktabah Dar As-Salam, 1418 H
  6. Shahih Sunan At Tirmidzi, Muhammad Nasiruddien Al Banie, Maktabah Al Ma’arief, 1420 H
  7. Tahzibu Tahzib, Ibnu hajar, Majlis Dairah Al Ma’arif An Nidhamiyah Al Kainah di Hindia
  8. Tahzib Al Kamal, Al Mazzi
  9. Para Penggenggam Bara, Abdullah Hazim, Pustaka Ats Tsabat, Januari 2005 M
  10. Kultum tentang Ramadhan, Pustaka Arafah.

[1] HR Abu Dawud dalam kitab al-Fitan wal malahim no 4333

[2] QS Al Maidah:105

[3] HR Ibnu Majah dalam al Fitan: 4005 dan Ahmad 1/5

[4] Majmu’ fatawa 28/74

[5] Syarah Hadits Ar ba’in, kompilasi empat Ulama’ besar,hal: 362

[6] QS Az Zariyat: 55

[7] Syarah Hadits Ar ba’in, kompilasi empat Ulama’ besar,hal: 362

[8] Syarah Hadits Ar ba’in, kompilasi empat Ulama’ besar,hal: 362

[9] Kultum tentang Ramadhan

[10] Tuhfatu Ahwadzi Sarh Sunan At Tirmidzi, 6/156

[11] Aunul Ma’bud Sarh Sunan Abu Dawud, kitab Fitan Wal Malahim, 7/421

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: