Tafsir al-Quran Surat Al-Hijr: 9. Penjagaan Allah Ta’ala Terhadap Al-Qur`an

Tafsir al-Quran Surat Al-Hijr: 9. Penjagaan Allah Ta’ala Terhadap Al-Qur`an

Oleh : Jumal Ahmad

Alumni Mahasiswa Islamic Center Al-Islam – Bekasi

إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون (الحجر : 9

Tahlil Lafdz:

نحن : ada dua tafsiran yaitu Allah saja dan yang kedua Allah beserta para Malaikat

الذكر : al-Quran sebagaimana perkataan al-Hasan dan ad-Dhahaq

حافظون: Dalam Kitab Tafsir al-Bahr disebutkan bahwa makna dari al-Hifz ada tiga: pertama, Allah menjaganya dari syetan. Kedua, Allah menjaganya dengan cara mengekalkan syariat Islam sampai hari kiamat, hal ini sebagai mana disinggung oleh Imam Hasan al-Bashri dan Ketiga, Allah menjaganya di dalam hati orang-orang yang menginginkan kebaikan dari al-Quran sehingga jika ada satu huruf saja yang berubah dari al-Quran, maka seorang anak kecil akan mengatakan “engkau telah berdusta dan yang benar adalah demikian.” Selanjutnya dalam kitab tersebut juga disebutkan bahwa kata “Lahu” itu kembali kepada az-Zikr atau al-Quran dan hal ini adalah perkataan Qatadah, Mujahid yang selain keduanya.

Dan dalam kitab Tafsir al-Mawardi disebutkan bahwa ada tiga perkataan tentang maksud dari penjagaan ini pertama, Kami menjaga al-Quran sampai terjadi hari kiamat, ini adalah perkataan dari Ibnu Jarir. Kedua, Kami menjaga al-Quran dari syetan yang ingin menambah kebatilan atau menghilangkan kebenaran, sebagaimana tafsiran dari Qatadah dan yang Ketiga, menjaganya pada hati orang yang mengingnkan kebaikan dan menghilangkannya dari orang yang ingin kejelekan. Dalam tafsir al-Ajibah disebutkan juga bahwa makna al-Hifz bahwa Allah akan menjaga al-Quran dan salah satu caranya adalah melalaui para Qurra’, dan hati para Qurra’ adalah tempat simpanan dari kitabullah.

I’rab Ayat

Dalam kitab I’rabul Quran al-Karim disebutkan demikian:

إن وإسمها, ونحن تأكيد لاسم إن, أو ضمير فصل لا محل له, وجملة نزلنا خبر إن, وإنا عطف, وله متعلقتان بحافظون, واللام المزحلقة, وحافظون خبر إن[1]

Penjagaan Allah SWT Terhadap Al-Quran

Pertama, Allah SWT memuji keagungan al-Quran dengan menyebutkan pemeliharaannnya sebelum ia diturunkan dalam beberapa ayat, di antaranya (QS Abasa: 11-16)

Kedua, Allah menjaga terhadap al-Quran ketika ia diturunkan. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT (QS al-Jin: 26-27)

Ketiga, Allah menjaga terhadap al-Quran setelah diturunkan, seperti disebutkan dalam firman-Nya (QS al-Hijr: 9). Karena penjagaan ini semua, maka al-Quran tetap dalam keasliannya. Ia tetap kokoh berdiri, kemuliannya tak terkontaminasi oleh segala cela.[2]

Skenario Allah SWT dalam menjaga al-Quran

Pertama, Allah telah menyiapkan suatu umat yang kuat dalam ingatan dan hafalannya. Yang demikian itu karena bangsa arab pada masa Jahiliyah terkenal dengan kekuatn hafalannya. Dimana mereka meriwayatkan beribu-ribu bait syair yang tidak dibukukan. Karena sesunnguhnya mereka bertumpu pada hafalan mereka.

Kedua, Allah memudahkan bagi manusia untuk menghafal al-Quran sebagaimana firman Allah: “Dan sesungguhnya Kami mudahkan al-Quran untuk pelajaran, maka adalah orang yang mau mengambil pelajaran.” (QS al-Qamar: 17)

Ketiga, Allah menyediakan suatu generasi yang memiliki ketajaman hafalan, kefahaman dan amanah. Para Huffadz menghafalnya langsungdari Rasulullah SAW sehingga rekatlah hafalan mereka.

Keempat, Allah mengutus malaikat Jibril untuk memuraja’ah hafalan Nabi SAW sekali dalam setahun dan ditahun terakhirdari kehidupan beliau. Jibril mengoreksi hafalan beliau dua kali.

Kelima, dan setelah al-Quran dibukukan, para Huffaz mengoreksi lembar perlembar dari mushaf ketika akan dicetak oleh percetakan tertentu. Dengan metode seperi inilah Allah telah menepati janjinya bahwa al-Quran adalah terpelihara.[3]

Dan Sayid Qutb yang telah menulis kitab Tafsir fenomenal di abad ini, dalam kitab Tafsirnya Fi Dhilalil Quran menyebutkan bahwa al-Quran sejak kemunculannya telah mengalami banyak usaha perubahan dan talbis dan tahrif dan juga fitnah-fitnah dari kelompok-kelompok yang menyimpang, sebagian mereka seperti Yahudi dan penyeru Qaumiyah bisa melakukan penakwilan terhadap hadits dan ayat al-Quran atau untuk mendukung pendapat mereka, tetapi satu yang tidak dapat mereka lakukan yaitu mendatangkan satu ayat seperti dalam al-Quran, sehingga al-Quran tetap terjaga sebagaimana ia diturunkan oleh Allah[4]

Selanjutnya mari kita bandingkan pendapat para ilmuwan tentang al-Quran dan bibel, pendapat para ilmuwan terhadap al-Quran: Pertama, Harry Gaylord Dormandalam buku “Towards Understanding lslam”, New York, 1948, p.3, berkata: “Kitab Qur’an ini adalah benar-benar sabda Tuhan yang didiktekan oleh Jibril, sempurna setiap hurufnya, dan merupakan suatu mukjizat yang tetap aktual hingga kini, untuk membuktikan kebenarannya dan kebenaran Muhammad.” Kedua, Sir William Muir dalam buku “The Life of Mohamet”, London, 1907; p. VII berkata sebagai berikut: “Qur’an adalah karya dasar Agama Islam. Kekuasaannya mutlak dalam segala hal, etika dan ilmu pengetahuan…” Ketiga, DR. J. Shiddily dalam buku “The Lord Jesus in the Qur’an”, p. 111, berkata: “Qur’an adalah Bible kaum Muslimin dan lebih dimuliakan dari kitab suci yang manapun, lebih dari kitab Perjanjian Lama dan kitab perjanjian Baru.”

Dan Pendapat Toko-tokoh Non Muslim terhadap Kitab Bibel. Pertama, Dr. Mr. D. N. Mulder dalam bukunya “Pembimbing ke dalam Perjanjian Lama”, tahun 1963, pagina 12 dan 13, berkata sebagai berikut: “Buku ini dikarang pada waktu-waktu tertentu, dan pengarang-pengarangnya memang manusia juga, yang terpengaruh oleh keadaan waktunya dan oleh suasana di sekitarnya dan oleh pembawaan pengarang itu sendiri. Naskah-naskah asli dari Kitab Suci itu sudah tidak ada Iagi. Yang ada pada kita hanya turunan atau salinan. Dan salinan itu bukannya salinan langsung dari naskah asli, melainkan dari salinan dan seterusnya. Sering di dalam menyalin Kitab Suci itu terseliplah salah salin.” Kedua, Drs. M. E. Duyverman dalam bukunya “Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru”, tahun 1966, pagina 24 dan 25, berkata sebagai berikut: “Ada kalanya penyalin tersentuh pada kesalahan dalam naskah asli yang dipergunakannya, lalu kesalahan itu diperbaikinya, padahal perbaikan itu sering mengakibatkan perbedaan yang lebih besar dengan yang sungguh asli. Dan kira-kira pada abad keempat, di Antiochia diadakan penyelidikan dan penyesuaian salinan-salinan; agaknya terdorong oleh perbedaan yang sudah terlalu besar diantara salinan-salinan yang dipergunakan dengan resmi dalam Gereja.”[5]

Keutamaan menghafal al-Quran

Allah SWT telah memuliakan uamt ini, dimana Dia telah menjadikan hati orang-orang yang shalih sebagai tempat pemeliharaan firman-firman-Nya dan dada-dada mereka sebagai mushaf untuk menjaga ayat-ayat-Nya. Allah SWT berfirman dalam salah satu hadits Qudsi: “Sesungguhnya Aku mengutusmu untuk menguji dirimu dan Aku menguji denganmu. Dan aku telah menurunkan sebuah kitab kepadamu, yang tidak akan luntur karena air, engkau membacanya di kala tidur maupun terjaga.” (HR Muslim, 4/2197 no: 2865) yang maksudnya bahwa al-Quran ini terjaga di dalam hati kaum muslimin, tidak disapa oleh kepunahan. Bahkan ia abadi sepanjang masa.

Salah satu mukjizat dari al-Quran adalah mudah untuk dihafal dan Imam Abu Hasan al-Mawardi dalam kitab A’lam an-Nubuwah memasukkan hal ini sebagai pertanda kekhususan Ilahi, dimana Allah mengutamakannya dari kitab-kitab selainnya.

Kedudukan dan keutamaan al-Hafiz

Pertama, memiliki derajat dan kedudukan yag lebih tinggi dari yang lain ketika di akhirat, hal ini sebagaimana hadits Nabi SAW: “Dikatakan kepada ahli al-Quran: Bacalah dan naiklah dan tartilkanlah bacaanmu sebagaimana engkau dulu membacanya secara tartil di dunia, karena sesungguhnya temoatmu terketak di akhir ayat yang engkau baca.” (HR Abu Daud, 2/73 no: 1464) at-Thiby mengomentari hadits ini mengatakan: “Bacaan al-Quran bagi mereka seumpama tasbih bagi para malaikat, dimana mereka tidak disibukkan oleh berbagai macam kelezatan dunia, karena bacaan al-Quran bagi mereka merupakan kelezatan yang terbesar.”[6]

Kedua, al-Hafiz didahulukan urusannya, baik di dunia mauoun akhirat, di antaranya ia lebih berhak menjadi pemimpin, sebagai contoh Umar ra pernah menyetujui pilihan Nafi bin Abdul Harits yang mengangkat budaknya sebagai pemimpin karena ia adalah seorang hafiz, umar teringat sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya Allah SWT mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini dan menghinakan pula kaum yang lain.”(HR Muslim, 1/559 no: 817), al-Hafiz lebih berhak menjadi imam, pendapatnya lebih didahulukan dalam syura dan al-hafiz didahulukan penguburannya.

Ketiga, al-Hafiz adalah Ahlullah dan kekasih-Nya, Rasulullah SAW bersabda: “Seungguhnya Allah SWT memiliki kekasaih dari manusia, para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, siapakah mereka? Nabi menjawab: “Mereka adalah ahlu al-Quran, mereka menjadi Ahlullah dan kekasih-Nya.” (HR Ibnu Majah, 1/78 no: 215)

Keempat, Jasad seorang hafiz tidak dapat tersentuh api neraka, Rasulullah SAW bersabda: “Kalau sekiranya al-Quran itu berada di atas kulit, niscaya ia tidak akan termakan api.” (HR Ahmad, 4/155) maksud dari api dalam hadits ini adalah api neraka dan orang yang selalu menghafal dan membaca al-Quran tidak akan dijlat oleh api neraka.

Setelah mengetahui keutamaan-keutamaan ini maka hendaknya seorang muslim berkeinginan kuat untuk bisa menghafal al-Quran, dan berikut ini kami sampaikan pesan zahabi (pesan emas) yang diriwayatkan dari Imam az-Zahabi di dalam kitab Siyaru ‘Alam an-Nubala dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata: “Hendaklah kalian bertaqwa kepada Allah, karena ia merupakan pangkal dari segala sesuatu. Berjihadlah, karena ia merupalan dalil-dalil ke-Islam-an. Dan hendaklah kalian mengingat Allah dan membaca al-Quran, karena ia merupakan Ruh-mu di Ahli langit dan zikirmu di Ahli bumi.” (Nuzhatul Uqala’ Tahzib Siyaru ‘Alam an-Nubala: 2/247)[7]

Referensi:

  1. Terjemah al-Quranul Karim
  2. Adhamah al-Quranul Karim, Syaikh Mahmud bin Ahmad bin Shalih al-Dosari, Darus Salam, Riyadh, Jeddah dan dicetak dalam bahasa Indonesia dengan judul: Kegungan al-Quran al-Karim.
  3. Cara Mudah Menghafal al-Quran, Ali Shalih Muhammad bin Ali Jaber.
  4. Aunul Ma’bud Sarh Sunan Abu Dawud,
  5. Tafsir Fi Dhilalil Quran, Sayid Qutb
  6. I’rabul Quran al-Karim wa Bayanuhu, Muhyiddin ad-Durwais
    1. Pendapat Non Muslim terhadap al-Quran dan Bibel

[1] I’rabul Quran al-Karim wa Bayanuhu, Muhyiddin ad-Durwais, 4/173

[2] Keagungan al-Quran al-Karim, Syaikh Mahmud bin Ahmad bin Shalih al-Dosari: 53

[3] Ibid: 57

[4] Tafsir Fi Dhilalil Quran, Sayid Qutb:

[5] Pendapat Non Muslim terhadap al-Quran dan Bibel

[6] Aunul Ma’bud Sarh Sunan Abu Dawud, 4/237-238

[7] Cara Mudah Menghafala al-Quran, Khadimul Quran: Ali Slaeh Muhammad bin Ali Jaber: 46

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: