Qoul=1

[1]

اَلْمُخْلِصُ مَنْ يَكْتُمُ حَسَنََتَهُ كَمَا يَكْتُمُ السَّيِّئَةَ

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Orang yang ikhlas adalah yang menyembunyikan kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan keburukannya.” (Tazkiyatun Nafs, 17).

[2]

( قال فضيل بن عياض  : من أحب أن يذكر لم يذكر ومن كره أن يذكر ذكر ( سير الأعلام  432 )

Fudail bin ‘Iyadh berkata : Barang siapa yang suka untuk disebut – sebut namanya maka ia tidak akan terkenal, dan barang siapa yang tidak suka untuk disebut – sebut namanya, maka ia akan terkenal. ( Siyarul A’lam : 432 ).

[3]

كَفَى بِكَ مِنَ اْلِكْبِر أَنْ تَرَكَ لَكَ فَضْلاً عَلَى مَنَْ هُوَ دُوْنَكَ

Aun bin Abdulloh berkata : “Cukuplah kesombongan itu menghilangkan keutamaanmu dihadapan orang-orang dibawahmu.” ( Sifatu Sofwa hlm juz 3 halaman 201 ).

[4]

إِنَّكُمْ سَتَجِدُوْنَ أَقْوَامًا يَزْعُمُوْنَ أَنَّهُمْ يَدْعُوْنَكُمْ إِلَى كَتَابِ اللهِ وَقَدْ نَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّبَدُّعَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّنَطُّعَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّعَمُّقَ وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيْقِ (رواه اللالكائي في شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة 1/97)

Abdullah bin Mas’ud berkata : “Kalian akan menemui golongan-golongan yang mengaku mengajak kalian kepada kitabullah, padahal mereka menaruhnya dibelakang punggung mereka. Maka kalian harus berilmu dan janganlah berbuat bid’ah, janganlah berlebih-lebihan dalam beramal ataupun perkataan dan berpeganglah kepada para pendahulu (salaf) (HR. Al-Lalika’iy, Syarhu Ushuli I’tiqodi Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/97).

[5]

الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيْسَ مِنَ اْلمَعْصِيَّةِ. اْلمَعْصِيَّةُ يُتَابُ مِنْهَا وَاْلبِدْعَةُ لاَيُتَابُ مِنْهَا (شرح أصول الإعتقاد أهل السنة والجماعة للكائي 1/132)

Sufyan ats-Tsauri mengatakan : “Perbuatan bid’ah itu lebih disukai iblis dari pada perbuatan maksiat, karena yang melakukan maksiat akan bertaubat dari kemaksiatannya sementara orang yang melakukan bid’ah tidak akan bertaubat dari kebid’ahannya.” (Syarh Ushulil I’tiqadi Ahli Sunnah wal Jama’ah, Al-Lalikaiy 1/132).

[6]

مَازْدَادُ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اجْتِهَادًا إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْدًا (الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع، للإمام السيوطي : 66)

Ayub as-Sakhtiyani mengatakan : “Tidaklah seorang yang melakukan bid’ah semakin bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kebid’ahannya melainkan ia akan semakin jauh dari Allah.” (Al-Amru bil Ittiba’ wan Nahyu ‘Anil Ibtida’, Imam As-Suyuti, hal. 66).

[7]

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً (المدخل إلى السنن الكبرى للبيهقي رفم : 191)

Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata : “Setiap bid’a itu adalah sesat, sekalipun orang-orang memandang hal itu tampak baik.” (Al-Madkhol ilas Sunanil Kubra, Al-Baihaqi, no. 191).

[8]

مَنِ ابْتَدَعَ فِيْ اِلإِسْلاَمِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعِمَ أَنَّ مُحَمَّدًا خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ: (الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا) فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا فَلاَيَكُنِ اْليَوْمَ دِيْنًا

Imam Malik mengatakan : “Barangsiapa mengada-adakan dalam Islam suatu bid’ah dia melihatnya sebagai suatu kebaikan maka dia telah menuduh Muhammad menghianari risalah, karena Allah telah berfirman: “Pada  hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah kucupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Ku ridhoi Islam menjadi agamamu.” Maka sesuatu yang bukan termasuk ajaran agama pada hari itu (saat hidup Rasul), bukan pula termasuk ajaran agama pada hari ini.” (Dakwatul Kholaf Ila Thoriqis Salaf, Muhammad bin Ali bin Ahmad Bafadhl, hal.).

[9]

قال ابن القيم : “كلام المتقدمين قليل كثير البركة , و كلام المتأخرين كثير قليل البراكة

Ibnu Qoyim berkata : “Perkataan para pendahulu sedikit tapi banyak barokah, sedangkan perkataan para mutakhkhirin banyak tapi sedikit barokah”. ( Hilyatu tholibil ilmi, Syeikh bakar Abu Zaid).

[10]

لاَيَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ إِلاَّ بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلهُاَ

Imam Malik mengatakan : “Generasi akhir ummat ini tidak akan baik kecuali dengan (jalan hidup) yang telah menjadikan baik generasi pendahulunya.” (Dikutip dari buku Khutbatul Jum’at Pilihan hal. 197).

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: